Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Dua Beban
Siang itu panas terasa menyengat. Entah karena terlalu terik atau memang badan Ujang yang sejak tadi pagi berasa sudah tak enak.
Baru setengah jam jalan, motornya mulai aneh. Tarikannya nggak enteng seperti biasa, bunyinya kasar tiap dipacu. Ujang menepi sebentar, mematikan mesin, lalu menyalakannya lagi. Motornya bisa jalan, tapi terasa seperti dipaksakan.
“Jangan sekarang lah…” gumamnya, menepuk setang motor pelan.
Untungnya orderan tetap masuk. Ujang ambil karena jaraknya dekat. Namun, di jalan, bunyi rantai makin jelas, gratak-gratak kering. Di lampu merah, ia menunduk, melihat oli yang mulai rembes tipis.
Selesai antar pelanggan, ia langsung ke bengkel kecil di ujung gang. Ujang antri, menunggu motornya di cek.
Selang belasan menit kemudian.
“Rantainya aus, kampas rem juga tipis,” kata montirnya sambil jongkok. “Masih bisa jalan, tapi jangan dipaksain ngebut dan jarak jauh, Kang.”
“Kalau dibenerin?” tanya Ujang, mengusap peluh di dahinya. Dalam hati ketar-ketir menebak jawabannya.
Montir menyebut jumlahnya. Nggak mahal buat orang lain. Tapi buat Ujang, itu angka yang langsung bikin dadanya sesak.
“Bisa ditunda?” tanyanya pelan.
“Bisa,” jawab montir jujur. “Tapi resikonya Mas tahu sendiri.”
Ujang mengangguk. Ia bayar biaya cek mesinnya saja hari itu, lalu pergi. Motornya tetap ia pakai, tapi pelan-pelan. Setiap tarikan gas, ada waswas ikut naik.
Sore itu ia pulang lebih cepat. Badannya capek, kepalanya penuh. Begitu masuk rumah, suara panci dari dapur menyambutnya. Ibunya sedang mengaduk sayur.
“Kok pulang cepat?” tanya ibunya tanpa menoleh.
“Motor aku agak rewel,” jawab Ujang singkat, sambil duduk di meja makan.
Ibunya berhenti mengaduk sup. Menoleh sebentar. “Kenapa lagi?”
“Rantai sama rem,” jawabnya. “Masih bisa jalan sih, tapi harus dibenerin.”
Ibunya mengangguk pelan. Perhatiannya kembali ke kompor.
Sunyi beberapa menit.
“Jang,” katanya kemudian, suaranya datar pelan. Dia menimbang, apakah ini waktu yang pas untuk bicara pada anak sulungnya.
Ujang diam menatap ibunya, menunggu meski dirinya ingin segera istirahat.
“Besok sekolah adikmu minta bayaran SPP sama buku. Naik dikit katanya.”
Ujang duduk kaku. Tangannya masih memegang helm. “Naiknya berapa, Bu?”
Ibunya menyebut angka. Lagi-lagi jumlahnya terasa menambah beban di dadanya.
“Ibu nggak maksa,” lanjut ibunya cepat, seolah takut membebani. “Kalau belum ada, nanti ibu bilang ke wali kelasnya. Ibu cuma bilang meski takut kamu kepikiran.”
Justru itu, batin Ujang. Kepikiran itu malah udah kurasakan sejak lama.
“Iya, Bu,” katanya akhirnya. “Ujang usahain.”
Ibunya menoleh, menatapnya lebih lama. “Kamu jangan maksain diri. Ibu takut kamu kenapa-kenapa.”
Ujang mengangguk. Ia masuk kamar tanpa banyak bicara. Di kamar sempit itu, ia duduk lama di tepi kasur. Helm ia letakkan di lantai. Ponsel ia taruh di samping, tak disentuh. Di kepalanya, dua hal berputar-putar : motor dan sekolah adik.
Kalau motornya dibenerin, uang sekolah bagaimana?
Kalau uang sekolah didahulukan, motornya bisa mogok di jalan.
Ujang mengusap wajahnya. Napasnya berat.
“Baru juga mau nabung pelan-pelan,” gumamnya. “Sudah ditarik kebutuhan dari dua arah. Duit tuh tau aja kebutuhan banyak.”
Ia menatap langit-langit. Kipas angin berputar lambat, bunyinya berdecit kecil. Dari luar, suara adiknya pulang sekolah terdengar samar. Ujang memejamkan mata. Bukan mau tidur. Cuma ingin diam sebentar.
Di titik itu, ia sadar. Manusia boleh berencana panjang, tapi realita sering datang tanpa izin.
***
Besok paginya, Ujang bangun lebih cepat. Badannya masih pegal, tapi kepalanya sudah keburu penuh rencana.
Ia keluar rumah sambil membawa map plastik tipis. Isinya kertas hitam-putih, hasil cetak murah di kios fotokopi semalam. Tulisannya sederhana:
OJEK ANTAR JEMPUT (Ujang)
Sekolah – Kerja – Belanja. Harian / Mingguan / Bulanan. Tarif Bisa Dibicarakan.
Nomor ponselnya tertera di bawah.
Motor masih terasa berat, tapi ia paksa jalan pelan. Ujang masuk ke komplek perumahan dekat warung Hartati, juga beberapa lainnya.
Banyak ibu-ibu keluar rumah, ada yang menyapu, ada yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ujang mendekat dengan senyum sopan. “Permisi, Bu. Saya ojek sekitar sini. Kalau butuh antar-jemput, ini brosurnya.”
Ada yang cuma mengangguk. Ada yang membaca sebentar. Ada juga yang bertanya. “Buat anak sekolah bisa?”
“Bisa, Bu.”
“Tarifnya berapa?”
“Tergantung jarak, Bu. Saya ikut pasaran sini saja.”
Salah satu ibu berhijab cokelat mengernyit. “Kalau bulanan?”
Ujang menyebut angka paling aman menurut hitungannya. Ibu itu terdiam, lalu tersenyum tipis.
“Nanti saya pikirin dulu ya, Mas. Anak saya jadwalnya nggak tentu.”
“Iya, Bu. Nggak apa-apa,” jawab Ujang cepat.
Mereka saling simpan nomor. Belum ada sepakat, tapi setidaknya pintu terbuka. Di komplek lain, hal yang sama terulang. Ada yang tertarik, ada yang ragu, ada yang bilang nanti.
Ujang nggak kecewa. Ia sudah siap dengan respon yang di luar kendalinya.
Siang menjelang, ia berhenti di pos ronda. Duduk di bangku kayu yang catnya mulai terkelupas. Dua ojol lain sudah ada di sana, wajahnya kusut dengan gelas kopi di tangan mereka.
“Sepi?” tanya Ujang.
“Sepi,” jawab yang satu, singkat.
“Sebelum gue di-PHK bulan lalu. Ojol ini cuma buat sampingan.”
“Lah, usaha kemarin gimana?” tanya yang lain.
Ojol itu tertawa pahit. “Usaha mah ada. Jualan kecil-kecilan. Tapi nggak bisa nutup kebutuhan hidup. Modal habis, tapi hidup kan kudu jalan terus.”
Ujang diam. Mendengarkan.
“Orang bilang buka usaha,” lanjutnya. “Tapi nggak semua usaha bisa langsung hidupin orang. Apalagi yang tabungannya tipis.”
Ujang mengangguk pelan. Kata-kata itu seperti cermin baginya. Kemarin sempat kepikiran jualan online, tapi di jaman ini tidak ada yang mudah jika tak paham ilmunya.
Tak jauh dari pos, ada tukang jualan gorengan. Gerobaknya reyot, tapi selalu ramai. Penjualnya santai, senyum terus, sesekali bercanda dengan pembeli.
Ujang mendekat, perutnya lapar, ada 5 ribu di tangan, cukup buat beli satu lontong dan 3 gorengan seribuan.
“Mas, bau gorengannya enak," ucap Ujang menyerahkan uang. "Lontong satu, gorengan campur."
"Semoga rasanya juga enak," balas si penjual.
"Kok kayak nggak ada beban?” celetuk salah satu ojol, ikut membeli.
Tukang gorengan itu tertawa lepas. “Beban mah ada. Modal habis ya ngutang. Besok jualan lagi. Hidup jangan dipikir berat-berat. Mau nggak mau kudu dijalani kan?”
Ujang memperhatikan dari jauh. Hidupnya kelihatan ringan. Tapi Ujang tahu, di balik santainya, ada utang yang dikejar-kejar. Ada hari-hari lelah yang ditutup dengan senyum.
“Enak ya, kelihatannya,” kata Ujang pelan saat balik ke pos.
Ojol di sampingnya nyengir. “Kelihatannya doang, Jang. Hidup mah sama aja. Pusingnya beda-beda.”
Ujang menatap jalan sambil makan gorengannya tadi. Motor lewat satu-satu. Ada yang ngebut, ada yang pelan seperti dirinya.
Ia menarik napas panjang. Setidaknya hari ini, ia sudah berusaha. Meski belum tentu berhasil.
Di ponselnya, ada beberapa nomor ibu-ibu komplek. Belum jadi rezeki, tapi sudah jadi harapan kecil.
.
.