Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Ketakutan dan Keluhan
Glek.
Hima menelan ludah. Kopinya akhirnya disentuh, meski sudah dingin.
Kalimat Hartati terasa menetap di otaknya. Seperti debu halus yang enggan pergi meski sudah di lap berkali.
~Yang dulu dikejar mati-matian.
Hima teringat Anggun, bertahun-tahun lalu. Doa yang lirih setiap selesai sholat. Tangis kerinduan yang tiba-tiba muncul. Senyum yang selalu terlukis setiap ada kabar tentang kehamilan orang lain—meski setelahnya kadang menangis.
Dan sekarang… keinginan itu tumbuh besar dari sebelumnya. Ia menghela napas pelan. Apakah menjaga itu selalu berarti memberi apa yang diminta? Atau justru berani menahan, meski yang ditahan adalah mimpi bersama?
Motor melintas di depan warung. Suaranya membuyarkan lamunan Hima. Hartati kembali ke etalase, mengelap gelas. “Mas,” katanya ringan, seolah baru teringat. “Kopi pahit tetep ngalahin pahitnya hidup.”
Hima tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
“Kadang,” lanjut Hartati tanpa menoleh, “hidup juga gitu. Kalau kita lengah dikit, rasanya semua pengen dikeluhkan, padahal bisa dilewati.”
Hima mengangguk. Ia berdiri, meletakkan uang di meja. “Terima kasih, Bu.”
Hartati menatapnya sekilas. “Hati-hati di jalan."
Di luar, langit mulai berwarna jingga tua. Hima menyalakan motor, tapi tidak langsung jalan. Tangannya berhenti di kunci kontak. Ia bukan takut gagal punya anak tapi kuatir kenyamanan yang ada saat ini, tidak dapat dia nikmati lagi.
Malam itu, di rumah, Anggun sedang melipat pakaian. Hima berdiri di ambang pintu kamar. Tidak langsung masuk. “Dek,” panggilnya pelan.
Anggun menoleh. “Iya, Mas?”
Hima berjalan mendekat. Duduk di tepi ranjang. Diam sebentar. “Aku ketemu seseorang hari ini,” katanya akhirnya. “Ibu-ibu. Punya anak.”
Anggun berhenti melipat baju. Mendengarkan.
“Dia ngeluh capek,” lanjut Hima. “Tapi tetap harus bangun tiap pagi, ngurusin rumah, marah, kesel, lalu ngulang lagi keesokan harinya.”
Anggun menunduk. “Terus?”
Hima menatap lantai. “Aku cuma kepikiran… jangan sampai nanti, kita punya apa yang kita kejar mati-matian… tapi lupa caranya bahagia di dalamnya.”
Sunyi.
Anggun menelan ludah. Tangannya meremas kain di pangkuannya. “Mas takut aku berubah?”
Hima menggeleng cepat. “Aku takut kita berdua berubah tanpa sadar. Dulu punya waktu buat sendiri, sekarang ada anak, repot.”
Anggun memejamkan mata. Napasnya bergetar, tapi ia tidak menangis. “Aku nggak mau kehilangan kamu, tenangnya rumah ini,” katanya lirih.
Hima meraih tangannya. “Aku juga.”
***
Pagi tetap datang membawa udara segar meski aktivitas manusia masih sama setiap harinya.
Warung Hartati sudah buka selepas subuh. Bau gorengan bercampur kopi hitam memenuhi udara. Kursi-kursi plastik belum semua terisi, tapi suara di warungnya mulai ramai.
Pak Slamet datang pertama kali, disusul Ujang yang mampir cuma buat nuker receh untuk kembalian pelanggannya.
Sophia datang kemudian, kerudungnya sedikit miring, wajahnya tampak lelah tapi mulutnya tak berhenti.
“Bu, pagi itu ribetnya minta ampun,” katanya begitu masuk dan memesan teh hangat. “Ngurus suami, ngurus anak. Rasanya kayak nggak punya waktu, bahkan buat mandi lama.”
Hartati tersenyum sambil menata gorengan. “Pagi memang bukan jam ramah buat ibu-ibu.”
Sophia mengangguk cepat. “Abis antar anak sekolah, pulang itu langsung nyuci, ngepel. Belum ini-itu. Kerjaan IRT tuh kayak nggak kelihatan, Bu. Tau-tau udah siang aja.”
"Padahal sudah bangun pagi-pagi ya," kekeh Hartati.
Ia tertawa pendek. “Siang masak. Baru mau istirahat bentar, pegang HP dikit, langsung dibilang… hape teruuuuussss.”
Pak Slamet yang sejak tadi duduk sambil menyeruput kopi ikut terkekeh. “Hehehe… iya juga ya.”
“Iya loh, Pak,” sahut Sophia cepat. “Suami tuh nggak liat gedebegannya istri. Yang diliat cuma, kok capek? Kok ngeluh? Padahal nggak ngapa-ngapain, katanya.”
Pak Slamet mengangguk sambil tertawa kecil. “Hehe, iya iya.”
Sophia lanjut tanpa jeda. “Anak udah tidur anteng, kita nonton drakor sebentar, dibilangnya… drakooorrr terooosss.”
Hartati menoleh, senyum simpul di bibirnya. Sophia memang selalu semangat bila bicara, mungkin sebagai pengalihan dan caranya mengurangi lelah.
“Kalau aku balas,” Sophia mengangkat alis, “game teruuuuussss, jawabannya enteng : healing murah, biar nggak stres.” Ia mendengus. “Lah, kenapa kita nggak boleh?”
Pak Slamet tertawa lebih keras. “Hehehe… bener juga, Bu.”
Saat itu Hima masuk ke warung. Ia langsung duduk di bangku dekat tiang, memesan kopi, lalu diam.
Sophia masih ngoceh, seolah tak ada capeknya ngomong daritadi. “Katanya mau jagain anak bareng. Eh, gendong bentar. Rewel dikit, langsung dikasihin balik. Alasannya klasik—nyusu lah, bobok lah.”
Pak Slamet mengangguk sambil terkekeh. “Iya iya iya, Bu. Emang begitu. Merasanya gini, suami ya kerja, ngasih duit, nyukupi biar rumah hepi…”
Sophia mengangkat bahu. “Tapi nyatanya…”
“Nyatanya semua butuh perhatian, kan?” sela Hartati tenang.
“Nah!” seru Sophia. “Itu tuh yang suka lupa. Giliran kita ngeluh capek ke orang lain, dibilang buka aib.”
Hima mendengarkan. Tidak ikut tertawa. Kata-kata itu menumpuk di kepalanya. Bukan sebagai keluhan orang lain lagi, tapi seperti potongan masa depan yang sedang diputar untuknya.
Serepot itu ya punya anak? Apa Anggun sadar akan lelah yang seperti ini? Atau nanti, justru Anggun yang memikul semuanya sendirian?
Cangkir kopi di depannya mengepul tipis. Hima tidak segera meminumnya.
Apakah dirinya benar-benar siap menjadi ayah—bukan cuma lelaki yang pulang membawa lelah dan keluhan?
Di warung kecil itu, pagi berjalan seperti biasa. Orang-orang tertawa. Keluhan dilontarkan sambil bercanda.
Tapi bagi Hima, pagi itu meninggalkan satu pertanyaan yang tidak ringan: Apakah keinginannya nanti akan menjadi kebahagiaan bersama… atau hanya menambah beban yang tak pernah dia lihat sebelumnya?
***
Sepekan setelahnya.
Hima dan Anggun resmi memulai proses itu. Datang dan pulang dari klinik dengan wajah yang berusaha tenang, padahal masing-masing menyimpan doa yang tak terucap. Anggun mengikuti semua instruksi dokter dengan disiplin.
Suatu sore, Hima mendapati Anggun duduk di tepi ranjang, ponsel di tangannya. Layar menampilkan deretan baju bayi—kecil, berwarna lembut.
“Dek,” Hima memanggil pelan. “Jangan buru-buru.”
Anggun menoleh, hanya tersenyum kecil. “Aku cuma lihat-lihat, Mas,” katanya ringan.
“Tapi nanti kalau…” Hima menggantung kalimatnya.
Anggun mengangguk cepat, seolah paham arah pikiran suaminya. “Aku tahu risikonya.”
Ia menatap layar lagi. Sorot matanya bahagia. Seperti seseorang yang akhirnya berani membayangkan, meski tahu belum tentu terjadi.
Hima duduk di sampingnya. “Aku cuma takut kamu terlalu berharap.”
Anggun tersenyum lagi. “Mas, aku udah terlalu lama nahan berharap. Sekarang cuma pengin ngerasain bahagianya sebentar.”
Hima terdiam.
Malam itu, setelah makan, Hima akhirnya membuka topik yang sejak beberapa hari berputar di kepalanya.
“Kemarin aku denger obrolan di warung Hartati,” katanya pelan. “Ibu-ibu yang cerita soal capeknya punya anak.”
Anggun menoleh.
“Kurang tidur. Rewel. Drama pagi. Kadang ngerasa sendirian ngurus semuanya,” lanjut Hima jujur. “Aku kepikiran… apa kita bener-bener siap sama semua itu?”
Anggun tidak langsung menjawab. Ia menaruh ponselnya, lalu menatap Hima, tenang. “Mas,” katanya pelan, “capek itu pasti.”
Hima mengangguk.
“Kurang tidur, pasti,” lanjut Anggun. “Berantem, mungkin.” Ia tersenyum kecil. “Tapi aku siap lelah karena sesuatu yang selama ini aku doakan.”
Hima menelan ludah.
“Aku tahu jadi ibu itu nggak gampang,” sambung Anggun. “Aku juga tahu aku bisa kesal, dan jenuh. Tapi kali ini aku nggak mau mundur karena takut.”
Hima menarik napas panjang. “Aku cuma nggak mau kamu ngerasa sendirian.”
Anggun meraih tangan Hima. Digenggamnya erat. “Makanya, kita bisa siapin mental dulu,” katanya.
Hima menatap jemari mereka yang saling bertaut. Dadanya terasa penuh—bukan oleh ketakutan saja, tapi oleh tanggung jawab yang perlahan berubah bentuk.
Apa pun hasilnya nanti, mereka akan menanggungnya bersama. Harapannya bukan lagi sekadar soal punya anak, tapi menjadi pasangan yang tetap berdiri di sisi satu sama lain, bahkan saat lelah.
.
.