Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Nikah itu Mudah
Reza mampir ke warung Hartati keesokan sorenya.
Cuma pengin ngopi, duduk sebentar, nenangin kepala. Dia masuk, menyapa pemilik warung, lalu memesan segelas kopi.
“Lho, Udah lama gak keliatan,” sapa Bu Hartati sambil nyiapin gelas.
Reza tersenyum kecil. “Iya, Bu.”
Bu Hartati melirik dahi Reza yang masih ditempeli plester tipis..“Itu kenapa? Sakit?”
“Kecelakaan kemarin, Bu,” jawab Reza singkat.
Bu Hartati mendengus pelan. “Astaga. Pantesan lama nggak mampir. Kecelakaan dimana?”
"Di deket klinik sebelum jembatan." Sambil tertawa ketawa kecil. Reza duduk dan menunggu kopinya datang.
Tak lama, Bu Hartati naruh gelas di depannya. “Kok bisa… mikirin apa?” tanyanya sambil menatap Reza.
"Nasib, Bu," jawabnya. "Ya banyak..." sambung Reza.
“Yang kemarin itu?”
Reza gak langsung jawab. Cuma senyum tipis, lalu mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Bu Hartati ikut duduk. “Pusing, ya?” katanya pelan. “Mau nikah, kan?”
Reza menghela napas sambil mengangguk. “Ribet.”
Belum sempat lanjutkan obrolannya dengan Bu Hartati, seorang perempuan datang. Kerudungnya ikut ketarik saat melepas helm. Ia duduk di meja seberang Reza, meletakkan helm di bangku.
“Bu Hartati, kopi satu,” katanya. Lalu matanya melirik ke arah Reza, yang sedang menunduk.
Hartati kembali ke balik etalase, menyiapkan pesanan salah satu pelanggannya. "Jangan nemen dipikirin, Mas. Nanti juga bisa dilewati," kata Hartati pelan. "Namanya mau naik fase, salah satu ujiannya ya ini ... pusing sebelum hari H."
Tanpa basa-basi, perempuan itu nyamber obrolan, setengah bercanda. “Mau nikah?" tanyanya melihat bergantian ke arah Reza dan Hartati. "sebenernya gak ribet, Mas.”
Reza refleks menoleh.
Perempuan itu tersenyum tipis. “Yang ribet tuh… setelahnya.”
Bu Hartati terkekeh saat mengantar kopi ke meja. “Nah kan.”
Perempuan itu melanjutkan sambil meniup kopi panasnya. "Mumet iya," katanya sambil tertawa.
Reza tersenyum kecil. “Ibu udah nikah, ya?”
“Udah punya anak dua,” jawabnya santai. “Makanya tau.” Ia melirik dahi Reza. “Masnya habis jatuh atau dianiayai kehidupan?”
Reza tersenyum kecut, mengangguk pelan. “Lagi banyak pertimbangan.”
Perempuan itu mengangkat bahu. “Wajar. Tapi ... Nikah itu bukan soal beres hari H doang. Tapi siap bangun hidup bareng setelahnya.”
Bu Hartati menimpali, “Makanya ... semua butuh diobrolin matang. Inti hidup itu ya ngobrol, sih.”
Perempuan itu mengangguk.
“Betul. Sekarang apa-apa mahal, Mas. Kalau mau jor-joran, mampu sih gak apa," jujurnya. "Kalau nggak? .... bayarnya pakai tenaga, waktu dan air mata.”
Reza mengaduk kopinya lagi. Kali ini lebih pelan. “Iya, Bu.”
Perempuan itu berdiri, mengambil kopinya.
“Santai aja. Semua orang mau nikah pasti kaget. Bedanya, ada yang mau nanggung sama-sama ada yang nggak.”
Ia tersenyum tipis ke arah Reza. “Kalau udah diobrolin semua juga nanti lega.”
Dia membayar kopinya dan pamit, menjemput putrinya pulang les.
Reza menatap punggungnya sebentar saat perempuan itu keluar dari warung.
Bu Hartati menoleh ke Reza. “Itu Bu Sophia,” bisiknya. “Orangnya ceplas-ceplos, tapi bener.”
Reza mengangguk. “Iya, Bu.” Kopinya tinggal setengah. Kepalanya masih ruwet, tapi dadanya agak lebih ringan.
Kadang, nasihat gak datang dari orang terdekat. Tapi dari obrolan warung, yang nyelip begitu aja tanpa niat menggurui.
Warung Hartati sore itu lumayan ramai. Beberapa bangku plastik terisi. Asap gorengan mengepul dari wajan, bercampur aroma kopi hitam dan teh manis.
Reza masih duduk di pojok. Lengan kemeja kerjanya digulung sedikit. Perban tipis di jidatnya sudah nggak terlalu mencolok, tapi cukup bikin orang yang lihat menoleh heran.
Di depannya, segelas kopi hitam sudah tinggal setengah. Hartati mondar-mandir sambil lap tangan. Reza masih merenung diselingi nyeruput kopi pelan.
Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki masuk ke warung. Memakai kemeja putih bersih, celana bahan, sepatu hitamnya masih mengkilap, berdiri sambil menyampirkan tas di bahunya.
Dia pesan teh hangat, lalu duduk di bangku seberang Reza karena meja lain penuh. “Mas,” sapanya sopan.
“Silakan, Mas,” jawab Reza.
“Hima,” katanya sambil ngulurin tangan. “Sering ke sini juga kan ya?"
“Reza," balasnya menyambut uluran tangan Hima.
Hima melirik perban di jidat Reza sekilas, tapi nggak komentar. Dia duduk tegak, tasnya ditaruh rapi di samping kursi. Dari caranya duduk aja kelihatan beda sama pengunjung lain.
“Baru pulang kerja?” tanya Reza, basa-basi.
“Iya,” jawab Hima. “Macet, mampir sini bentar.”
Reza terkekeh. "Sama. Dan lagi malas balik."
“Oh,” Hima mengangguk. “Pantesan santai."
Reza senyum kecil. Angin dari kipas warung nyapu meja mereka. Plastik pembungkus kerupuk ikut bergetar kena angin.
“Mas udah lama nongkrong di sini?” tanya Hima lagi.
“Kalau lagi pengen tenang aja,” jawab Reza. “Dekat rumah soalnya.”
Hima mengangguk. “Saya juga. Kadang nyampe ke rumah itu kudu sudah tenang.”
Reza melirik. “Bener. Tapi, nggak dicariin anaknya?”
“Belum,” jawab Hima. “Istri aja palingan rewel nanya mulu,” kekehnya
Reza ketawa pelan. “Istri Mas orangnya rapi banget,” lanjutnya dengan nada santai.
"Apa-apa kudu pas. Kalau ada yang miring dikit, dibenerin.” Kali ini Himawan ikut tertawa.
“Perfeksionis?” tebak Reza.
“Iya,” jawab Hima tanpa ragu. “Saya mah tim ngikut aja.”
Reza nyengir. “Capek nggak kayak gitu?”
“Kadang,” jawab Hima jujur. “Tapi ya… hidup.”
Mereka diam sebentar. Hartati naruh teh hangat di meja Hima. Asapnya menguarkan bau wangi melati.
“Mas Reza?” Hima melirik ke arah Reza. “Maaf… lagi banyak pikiran?”
Reza menggeser gelas kopinya sedikit. “Lagi banyak urusan.”
“Kerjaan?”
“Sebagian.”
Hima mengangguk. “Istri Mas gimana orangnya?”
Reza terdiam sebentar. “Baru mau nikah, Mas.”
Hima langsung senyum. “Wuih, lagi puyeng bangett itu pasti."
Reza ikut ketawa. Kali ini lebih lepas. “Gitu daaaahh,” lanjut Reza.
Hima nyeruput teh. “Saya baru nikah beberapa tahun. Masih belajar."
“Belajar apa?”
“Belajar nggak semua hal harus diberesin hari itu juga,” jawab Hima. “Ada yang cukup didengerin. Soal moody, bawelnya, semua lah.”
Reza mengangguk pelan. Kata-kata itu kena, tapi nggak terasa menggurui. Suasana warung makin sore. Matahari condong, cahaya masuk dari sela terpal.
“Mas Reza orangnya kelihatan mikir panjang,” kata Hima tiba-tiba.
Reza tersenyum tipis. “Keliatan ya?”
“Sedikit,” Hima berdiri sambil ambil tas. “Kalau gitu, semoga urusannya beres.”
“Makasih, Mas.”
Hima mengangguk, lalu pamit ke Hartati. Reza duduk sendiri lagi. Kopinya tinggal ampas. Kadang, obrolan nggak perlu solusi. Cukup tahu, ada orang lain yang juga punya masalah dan mencoba bertahan sampai selesai.
Jalanan mulai lengang. Lampu-lampu toko sudah banyak yang menyala. Angin petang nyentuh jidatnya yang masih diperban tipis. Nyut-nyutan dikit, tapi nggak separah pikirannya.
Reza jadi pelanggan Hartati terakhir yang keluar sebelum warung tutup.
Sampai rumah, ayahnya masih duduk di ruang tamu. TV nyala, volumenya kecil. Ibunya sudah tidur.
Reza cuma salim lalu masuk kamar. Ia rebahan tanpa ganti baju. Ponsel di tangan, layar nyala tapi senyap. Baru kali ini Reza ngerasa capek mikirin semuanya.
Pesan dari Rini masih ada. Belum dibalas sejak siang tadi. Reza narik napas pelan. Ngetik, hapus. Ngetik lagi. Akhirnya terkirim.
“Rin, kita ketemu lagi ya. Aku mau ngobrol soal kemampuanku.”
Ponsel ditaruh di samping bantal. Reza menatap langit-langit kamar.
Di warung Hartati, suasana mulai sepi.
Bangku panjang kosong. Gelas kopi berjejer, sebagian sudah dingin.
Hartati duduk di balik meja, ngitung uang receh sambil menghela napas kecil.
“Anak muda sekarang, nikah aja dipikir kayak mau bangun rumah,” gumamnya.
Hartati terkekeh pelan. “Resepsi sunnah, gengsi yang mahal.” Dia duduk sebentar, nyender. Teringat saat dirinya di lamar dulu.
“Kalau nggak kuat, ya mundur. Tapi kalau niat, masa iya berhenti gara-gara omongan orang.”
Hartati mengusap cincin di jari manisnya. Tiba-tiba ingat mendiang suaminya. “Yang penting rukun dan syarat nikahnya terpenuhi. Aku masih ingat kata-katamu.”
Dia menghela napas, melihat warungnya sebelum tutup.
.
.