Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Kesepakatan

Reza menghela napas panjang. Ia masih menatap ponsel di tangannya. Pesan dari Rini itu belum dibalas.

Bukan karena nggak peduli. Tapi karena takut salah kata dan makin nggak ada energi buat menjelaskan.

“Kenapa lagi?” ulang ibunya, lebih pelan.

Reza mengusap wajah. Duduk lesu di kursi dekat meja makan. 

“Orang tuanya Rini minta jawaban,” kata Reza akhirnya. “Minggu ini.”

Ibunya diam sebentar. Lalu mengangguk. “Terus?”

“Mereka pengen kepastian soal lamaran,” lanjut Reza. “Tanggal, biaya, semuanya.”

Ibunya menarik napas. Duduk di seberang Reza. Tidak memotong kalimat putranya. “Terus kamunya gimana?” tanyanya.

Reza menatap lantai. “Aku mau nikah, Ma. Sama Rini.”

Ibunya mengangguk lagi. “Mama tau.”

“Tapi aku belum apa-apa udah banyak takutnya,” sambung Reza lirih. “Takut ngejar dunia dan jenuh, capek karena ngerasa kurang terus.”

Ibunya menyilangkan tangan di dada, bukan menuduh tapi memastikan tabiat calon menantunya . “Kamu ngerasa Rini nuntut?”

Reza menggeleng cepat. “Enggak… dia gak maksa. Tapi kebiasaannya beda sama aku.”

“Beda itu wajar,” kata ibunya. “Yang bahaya itu kalau kamu diam-diam tersiksa sama wataknya dia.”

Reza menelan ludah. “Aku takut, Ma. Takut nanti tiap kali gak bisa ngikutin kemauan Rini, aku jadi merasa gagal.”

Ibunya menatap wajah Reza lama. Seperti sedang menimbang kata-kata untuk menasehati secara halus. 

“Za,” katanya pelan. “Nikah itu bukan soal mampu dan nggak mampu... tapi semuanya tentang ngobrol."

Reza mengangkat kepala.

“Kalau dari sekarang kamu udah gak berani ngomong ke Rini soal batas, soal prioritas, nanti setelah nikah kamu lebih susah.”

Reza terdiam.

Ibunya melanjutkan, masih dengan nada yang sama. “Mama bukan nyuruh kamu putus, juga bukan maksa lanjut. Mama cuma mau kamu terus-terusan diem iya iya aja."

Reza menarik napas, dadanya terasa sesak. “Terus aku harus gimana, Maa?”

Ibunya tersenyum tipis. “Ngobrol, Zaa... bukan soal nominalnya, tapi kemampuan kamu sampai batas mana.”

Reza menunduk. Ponselnya masih di tangan. Layarnya retak, seperti hidupnya yang lagi berantakan.

“Apa kalau aku jujur, dia pergi?” tanyanya pelan.

Ibunya diam sebentar. Lalu menjawab, “Kalau dia pergi karena kejujuran, berarti kamu diselamatkan dari penderitaan yang lebih panjang.”

Reza memejamkan mata. Kepalanya kembali berdenyut. Tapi kali ini bukan cuma sakit, ada rasa lega yang masih berat dilakukannya.

Ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Rini masuk lagi.

[“Za, aku gak mau maksa. Tapi aku butuh kepastian.”]

Reza membuka mata. Membaca pesan itu lama. Ibunya lantas berdiri. Menepuk bahu Reza pelan.

“Jawab kalau kamu sudah siap. Mama dan Bapak dukung kamu.”

Ibunya masuk ke dapur. Menyisakan Reza sendirian di ruang tengah yang masih menatap layar ponsel. Jarinya mulai mengetik.

Berhenti. Menarik napas. Mengetik lagi. Lalu… layar ponsel menggelap karena baterai habis.

Reza terdiam.

Entah ini kebetulan, atau memang hidup lagi ngasih jeda sebelum keputusan terbesar itu diucapkan.

*

Malam itu, mereka akhirnya ketemu di Warung kecil dekat rumah Rini. Bangkunya plastik. Lampunya kuning temaram tapi suasana tenangnya, cocok untuk membicarakan hal penting di antara mereka.

Reza datang duluan. Sikunya masih dibalut perban tipis. Rini datang menyusul tak lama kemudian, wajahnya lelah tapi masih ada senyum tipis untuk calon suaminya itu.

Mereka duduk berhadapan. Memesan makanan serba dua porsi.

Sunyi sebentar.

“Aku langsung aja ya, Za,” kata Rini pelan. “Kepalaku penuh banget sejak kemarin.” 

Reza mengangguk. “Aku juga.”

Rini mengusap tangannya di atas pangkuan. Kepalanya sedikit menunduk saat berkata, “Aku mau nikah sama kamu. Itu dulu yang paling penting.”

Reza menatapnya. “Aku juga mau.”

Rini mengangguk kecil. “Tapi jangan sampai kita berantem terus.”

Reza tersenyum tipis. “Iya.”

“Aku jujur ya,” lanjut Rini. “Aku pengen nikah yang layak itu bukan buat pamer. Tapi biar orang tuaku tenang. Biar aku juga ngerasa… dihargai.”

Reza mengangguk pelan. “Aku ngerti itu wedding dream kamu, Rin.”

“Tapi,” suara Rini menurun, “aku juga gak mau kamu terbebani sampai sakit, kecelakaan kek kemarin, atau stres cuma buat ngejar itu.”

Reza menarik napas. “Aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu, Rin."

Rini menatapnya.

“Aku sanggup biayain nikahan kita. Tapi aku gak mau pura-pura punya banyak uang tapi dapat ngutang,” kata Reza pelan. “Aku bisa kejar lembur atau apalah. Cuma nggak bisa langsung bayarin semua.”

Rini diam.

“Kalau ada yang harus ditunda,” lanjut Reza, “aku pengen kamu ngerti ... bukan ngerasanya aku kok pelit atau gak usahain wedding dream kamu.”

Rini menunduk. Tangannya memegang gelas teh. “Aku mungkin yang kelihatan ribet.”

“Bukan ribet,” potong Reza cepat. “Kamu cuma terbiasa terpenuhi segala kebutuhanmu. Entah dari ayah atau uangmu sendiri.”

Rini tersenyum pahit. “Iya. Dan aku juga harus belajar hidup cukup.”

Sunyi sebentar.

“Kalau kita cari jalan tengah,” kata Rini akhirnya. “Nikah sederhana dulu. Resepsi kecil. Sisanya nyusul pelan-pelan.”

Reza menatapnya lama. “Kamu yakin?”

Rini mengangguk. “Dengan catatan… kita rencanakan semua ini sama-sama. Kalau nggak mampu, bilang dan cari ganti lainnya."

Reza mengangguk. “Deal.”

Rini menghembuskan napas. “Terus soal orang tua?”

Reza tersenyum tipis. “Kita harus satu suara.”

“Bilang apa?” Tanga Rini, wajahnya terlihat lebih santai sekarang.

“Bilang kita mau nikah sederhana. Tanpa maksain biaya. Kalau belum sanggup, ditunda bukan dibatalin.” 

Rini mengangguk. “Dan kita sepakat, gak ada yang saling nyalahin.”

Reza mengulurkan tangan. Rini menyambutnya. Tautan itu sederhana. Tapi lebih tenang dari janji manis apa pun.

“Za,” kata Rini pelan, “kalau nanti hidup susah?”

Reza tersenyum kecil. “Nggak akan, in sya Allah. Asal sesuai kemampuan," ucapnya yakin.

Rini mengangguk. Matanya berkaca-kaca, tapi kali ini bukan karena tertekan. Ada perasaan tenang dan lega setelah kesepakatan barusan.

Mereka berdiri. Bayar makanan dan pulang. Meski pikirannya masih semrawut, setidaknya salah satu akar masalah sudah ditimbang ulang dan terselesaikan.

***

Keesokan harinya.

Reza duduk di ruang tengah, meletakkan kunci motornya pelan. Ibunya di dapur, dan Ayahnya baru saja pulang kerja, hanya beda sepuluh menit darinya. 

“Ma,” panggil Reza pelan.

Ibunya menoleh. “Kenapa?”

Reza duduk bersebelahan dengan sang ayah. Tangannya masih kelihatan lebam.

“Aku sama Rini udah ngobrol.”

Ibunya langsung berhenti ngupas bawang. “Terus?”

“Kami sepakat nikah sederhana dulu,” kata Reza. “Gak maksain kudu ada biayanya. Kalau belum sanggup, ya ditunda.”

Ayahnya melepas kaus kaki. “Itu keputusan kamu?”

“Iya, Pak. Keputusan kami berdua.”

Ibunya duduk. Menatap Reza lama. “Kamu yakin?”

Reza mengangguk. “Iya."

Ibunya menghela napas. Panjang. “Kalau gitu, Mama sama Bapak di belakang kamu.”

Ayahnya mengangguk. “Yang penting kamu sehat, kerja tenang, rumah tangga jalan.”

Reza menunduk. Dadanya menghangat, mendapat dukungan kedua orang tuanya.

“Iya, Yah. Itu juga maunya aku.”

Ibunya menepuk pahanya pelan. “Yang ngurusin tetek bengeknya biar orang tua. Kamu fokus jadi laki-laki yang bertanggung jawab aja.”

Reza mengangguk, senyumnya muncul sebab dia merasa tidak sendirian.

Malam itu, Reza dan Rini saling kirim pesan singkat. 

[“Udah.”]

“Aku juga.”

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!