Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Jam Setengah Enam

Jam dinding di warung itu selalu lebih cepat lima menit. Bukan rusak, hanya sengaja.

Hartati pernah bilang, kalau jamnya tepat, orang-orang akan datang tepat waktu lalu pergi terlalu cepat. Tapi kalau menitnya sedikit maju, mereka merasa punya waktu lebih lama untuk duduk sebentar.

Jam setengah enam pagi, pintu lipat warung kopi itu dibuka setengah. Udara masih dingin, sisa hujan semalam belum benar-benar hilang dari aspal. Bau tanah basah bercampur dengan aroma kopi bubuk yang baru saja dibuka dari kaleng.

Hartati menggulung lengan bajunya, menyalakan kompor kecil, lalu menuang air ke dalam ketel. Gerakannya pelan dan berulang, seperti ritual yang sudah dihafal tubuhnya tanpa perlu diingatkan kepala.

Warungnya kecil. Dua meja panjang dari kayu, beberapa kursi plastik, satu etalase berisi gorengan yang belum semuanya matang. Tidak ada musik. Tidak ada spanduk promo. Hanya suara air mulai mendidih.

Tak lama kemudian, langkah sepatu terdengar dari arah gerbang perumahan.

“Pagi, Bu,” suara itu datang lebih dulu sebelum orangnya terlihat.

“Pagi, Pak,” jawab Hartati tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang.

Pak Slamet, satpam kompleks, berdiri di depan warung dengan seragam hijau tua yang sudah agak pudar. Topinya dilepas, diletakkan di meja, seperti kebiasaannya. Ia menarik kursi paling ujung—kursi yang entah sejak kapan jadi miliknya.

“Seperti biasa?” tanya Hartati.

“Iya. Yang pahit,” jawabnya singkat.

Hartati menyendok kopi, menuang air panas, mengaduk sebentar. Tidak ada gula yang ikut masuk. Ia mendorong gelas ke arah Pak Slamet.

Pak Slamet meniup pelan, menyeruput, lalu mengangguk kecil. “Pas.”

Mereka duduk dalam diam. Tidak perlu obrolan panjang. Pagi terlalu dini untuk banyak kata.

Beberapa menit kemudian, suara motor lewat pelan. Lalu satu lagi. Matahari mulai naik, tapi belum benar-benar hangat. Warung masih setengah siap menyambut pelanggan.

“Anak sekolah masuk jam tujuh sekarang,” kata Pak Slamet tiba-tiba.

“Masa?” Hartati menoleh.

“Iya. Katanya biar nggak buru-buru di jalan.” Ia tersenyum tipis. “Padahal tetap aja banyak yang telat, Bu.”

Hartati ikut tersenyum. “Namanya juga aturan manusia, dibuat ya untuk dilanggar.”

Pak Slamet menghabiskan kopinya. Ia tidak buru-buru bangkit. Seolah waktu di warung ini berjalan sedikit lebih lambat dari di pos jaga.

Tak lama, seorang pria dengan jaket ojek online berhenti sebentar. Helmnya tidak dilepas. Ia melirik jam di ponselnya.

“Kopi satu, Bu. Cepat ya.”

Hartati mengangguk. Tangannya kembali bekerja. Pria itu berdiri, tidak duduk. Menunggu sambil memeriksa layar ponsel yang terus menyala. Kopi diserahkan. Uang berpindah tangan.

“Terima kasih,” katanya cepat, lalu pergi. Kursi kembali kosong.

Pak Slamet berdiri, mengenakan topinya. “Saya ke depan dulu, Bu.”

“Iya, Pak. Hati-hati.”

Setelah ia pergi, warung kembali sunyi. Seolah siap menunggu siapapun yang masuk ke sana.

Hartati merapikan meja, menambah gorengan di etalase. Ia melirik jam dinding. Jam setengah tujuh.

Sebentar lagi, akan ada ibu-ibu yang mampir setelah mengantar anak. Pegawai kantor yang hanya punya waktu menyesap kopi sambil berdiri. Mungkin pria pendiam yang belakangan sering duduk lama tanpa banyak bicara.

Semua akan datang dengan cerita masing-masing. Dan warung kecil ini akan mendengarkan, tanpa menyela.

Hartati lalu menuang kopi untuk dirinya sendiri. Pagi baru saja dimulai.

Dia belum sempat menyesap kopinya ketika kursi plastik di dekat pintu digeser pelan.

Seorang perempuan berhenti di ambang warung. Rambutnya diikat seadanya, tas kain tergantung di bahu. Ia menghela napas pendek sebelum duduk, seperti baru saja menyelesaikan sesuatu yang melelahkan.

“Kopinya satu, Bu. Manis dikit aja,” katanya.

Hartati menoleh. “Anaknya sudah berangkat sekolah?”

Perempuan itu mengangguk. “Baru saja. Hari ini rewel.”

Hartati tersenyum kecil. “Emang, hari apa yang nggak rewel?”

"Rewel saban hari," tawanya muncul.

Kopi disuguhkan. Perempuan itu—Sophia—mengaduk perlahan, lalu menyesap sedikit. Matanya terpejam sesaat. Bukan menikmati rasa, tapi menikmati jeda. 

“Sebentar aja,” katanya, seperti memberi kompensasi pada dirinya. “Habis ini langsung pulang. Cucian numpuk.”

“Warung nggak ke mana-mana,” jawab Bu Ratna. “Duduk aja dulu.”

Sophia tidak membalas. Tapi tangannya berhenti mengaduk.

Tak lama kemudian, suara langkah cepat terdengar. Seorang pria berkemeja, tas kerja diselempangkan rapi, berhenti sambil melihat jam tangannya.

“Kopi hitam, Bu. Bawa aja,” katanya terburu-buru.

“Pagi Mas Hima?” Hartati menyebut namanya.

“Pagi, Bu,” jawabnya sambil tersenyum singkat. “Meeting jam tujuh lewat.”

“Kursi kosong," kata Hartati menunjuk dengan matanya.

Himawan melirik jam lagi, ragu sepersekian detik, lalu duduk. “Lima menit aja.”

Hartati menuangkan kopi. Hitam, tanpa gula. Himawan menyeruput cepat, tapi bahunya turun sedikit setelah itu, seperti ada beban yang longgar sebentar.

Di pojok warung, Sophia memperhatikan tanpa sengaja. Bukan karena tertarik—lebih karena tak ada hal lain yang perlu dilihat.

Motor lain berhenti. Kali ini lebih pelan. Seorang pria turun, membuka helm, menggantungnya di setang. Wajahnya rapi, kemeja disetrika licin. Ia tidak langsung bicara. Hanya berdiri sebentar, memandang etalase gorengan.

“Kopi satu, Bu,” katanya akhirnya. “Saya duduk dulu.”

Hartati mengangguk. “Biasa?”

Pria itu tersenyum kecil. “Iya.” Ia duduk agak terpisah. Tangannya membuka ponsel, membaca sesuatu di sana. Jarinya berhenti di satu layar. Ia menghela napas pelan.

Di meja lain, Himawan berdiri. “Saya duluan ya, Bu.”

“Hati-hati,” kata Hartati.

Sophia ikut bangkit. “Saya juga, Bu.”

Warung perlahan kosong lagi. Tapi tidak sepenuhnya sepi. Pria tadi masih duduk. Kopinya belum disentuh.

Hartati jarang ikut campur urusan orang. Ia percaya, setiap orang datang ke warungnya membawa beban masing-masing, dan tugasnya bukan meringankan dengan nasihat, tapi menyediakan tempat agar beban itu bisa diletakkan sebentar. Selebihnya, biarlah Tuhan yang bekerja.

Hartati lantas menyeka meja, lalu meliriknya. “Nggak diminum?”

Pria itu tersentak kecil, seperti baru sadar sedang tidak sendirian. “Oh. Iya.” Ia menyeruput sedikit. “Maaf, lagi kepikiran nganu.”

Hartati tidak bertanya. Ia hanya mengangguk. Sudah terlalu sering mendengar dan melihat orang melamun sebelum sadar dirinya ditegur.

Jam dinding berdetak pelan. Lima menit lebih cepat dari waktu sebenarnya. Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi. Pagi bergerak maju, pelan tapi pasti.

Dan di warung kecil itu, satu demi satu orang akan datang, bukan untuk makan sampai kenyang, bukan juga sekadar minum kopi. 

Sebagian hanya ingin diingatkan bahwa hidup masih berjalan dalam kendali Yang Maha Mengatur, meski hari-hari terasa berat dan doa belum juga terkabul.

Ada orang-orang yang tidak pandai berdoa dengan kata-kata. Mereka datang, duduk, menatap diam. Hartati menganggap itu pun doa, dalam versi berbeda. Dan tempat ini, memberi waktu sebentar pada diri sendiri, sebelum kembali menjadi seseorang yang dipaksa tegar.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!