Warna Pelangi Cinta

Dimulainya Lomba yang Aneh

”Hey nona Putri! Kami datang,” Rini yang menggunakan baju agak ketat masuk ke kamar Salwa, Ratih yang berada di belakang Rini juga masuk.

”Mengagetkan saja! Darimana kalian?”

”Dari warung makan tempat Mbak Uci,” Rini duduk di sebelah Salwa.

Ratih menaruh bukunya di atas monitor komputer Salwa, buku itu sedari tadi berada di dekapannya, buku Hukum Indonesia. Dia Fakultas Hukum di Universitas Muhammadiyah semester empat. Dia ikut duduk di pinggir ranjang, ”Aku barusan dari perpustakaan, tapi diusir sama penjaga. Katanya udah tutup,” bibirnya sedikit monyong, membuat Salwa terkekeh pelan.

”Makan tuh buku, biar kenyang!” Salwa menatap sahabatnya itu. Semakin sewot, kamar mereka berdekatan. Rini dan Ratih satu kamar di sebelah kiri kamar Salwa, mereka patungan untuk satu kamar.

”Serajin apapun engkau belajar IP-mu tidak akan bisa menyaingin Salwa,” Rini menatap Ratih meremehkan. Salwa diam saja, Rini memang selalu menyanjung-nyanjungnya. Hingga Salwa sering mentraktirnya makan, atau membiayai Rini dan Ratih untuk refreshing ke pantai pas hari minggu yang tidak ada acara.

”Sudahlah Rin, kau tak boleh mematahkan semangatnya. Aku yakin suatu saat dia akan melebihiku jika dia terus rajin belajar. Iya kan Rat?”

”Iiyaa!” Ratih kaget, gelagapan. Sejak kapan Salwa membelanya, baru terjadi dalam sejarah pertemanan mereka, Rini pun kaget dibuatnya. Benar-benar lebih dahsyat dari gempa bumi. Ada apa dengan Salwa? Orang yang selalu ingin dipuji tanpa memedulikan orang lain itu kini pertama kalinya memberikan empatinya. Seperti itulah kehidupan? Seperti itukah angin? Seperti itukah hati? Seperti itukah kekuatan? Berubah-ubah. Bahkan, dalam sekejap.

”What? Aku tidak salah dengar Salwa?” mata Rini menatap heran. Hatinya bertanya-tanya. Lalu, ada sesuatu yang disimpannya. Sebuah misi yang telah dipersiapkannya, hanya dia dan Ratih yang tahu. Tapi Rini tak tahu, bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui segalanya.

Salwa menatap mata Rini yang keheranan menghunjam bola matanya, ”Memangnya aku tadi bilang apa Fren? Aku benar-benar tidak sadar.”

”Lupakan saja, tidak ada yang penting kok,” Ratih sigap menengahi.

Mereka bertiga terdiam sejenak, akhir-akhir ini hubungan mereka mulai renggang. Entah apa yang terjadi? Bagi Salwa tidak masalah, karena Rini dan Ratih yang selalu menyanjungnya selalu dibayarinya makan di kafe untuk menemaninya makan. Akhir-akhir ini, Rini tidak sering menggelayutinya setiap saat seperti dulu. Entahlah, Salwa tidak mau ambil pusing. Dari dulu hidupnya yang dimanja keluarganya, tak terlalu suka menyelami perasaan orang lain. Hatinya sebenarnya bening, tapi dia malas mengasahnya. Pernah dia melihat anak kecil berjualan koran di pasar Cendrawasih, langsung diajaknya ke sekolah dan dibiayainya masuk sekolah. Dibelikannya seragam sekolah dan keperluan lain hingga kini dia masih menjadi ibu asuhnya.

”O... ya, itu tidak penting. Aku punya suatu tantangan untuk kita bertiga, apakah kamu mengambil tantangan ini?” ditatapnya wajah Salwa. Dia paling tahu kalau Salwa adalah tipe pencari tantangan. Dia pasti ikutan, lihat saja.

”Apa itu? Aku pasti ikut. Ngerjain cowok? Balapan dapetin belut? Atau naik gunung? Ayo katakan Rin!” mata bulat Salwa berbinar semangat.

”Bukan.”

”Lalu?” Salwa semakin penasaran.

”Tantangan ini membutuhkan kerja extra. Kita bertiga akan menulis sebuah nomor, tidak usah jauh-jauh. Nomor Lampung. Kartunya bebas, setelah itu kita undi. Jika dapat segera hubungi nomor itu, jika perempuan maka kita akan mengundi lagi. Pokoknya sampai ketiga nomor itu semuanya lelaki. Siapa yang bisa jalan sehari saja dengan pemilik nomor itu, dialah pemenangnya. Untuk berhubungan dengan nomor bagiannya, kita dilarang menggunakan suara. Maksudku hanya SMS, kecuali kita yang ditelepon. Bagaimana?”

”Tunggu! Tunggu! Kamu serius? Kamu yakin bisa  menang dariku Rin?”

”Aku yakin!” Rini menjawab mantap.

”Aku ikut,” Ratih menimpali.

”Lalu?” Salwa menatap kedua temannya, ”Apa yang akan didapatkan sang pemenang? Bukankah aku tak bisa mendapatkan apa-apa dari kalian, selama ini jika kita berlomba dan aku menang. Kalian hanya memijitku,” kesombongan itu muncul lagi. Dulu pernah mereka mengerjai Mahasiswa yang terkenal pendiam, siapa yang bisa membuatnya jatuh cinta dialah pemenangnya. Ratih dan Rini kewalahan, tapi Salwa berhasil hingga lelaki itu tergila-gila dan pulang ke Kampung karena cintanya lalu ditolak Salwa. Atau ketika mereka berlomba untuk mengerjai ketua BEM STAIN. Salwa pemenangnya yang meneror ketua BEM dengan telpon. Seminggu setelah terornya, ketua BEM itu mengundurkan diri. Itulah Salwa, dan hadiah kemenangannya adalah pijitan sebulan penuh. Bergiliran satu malam Ratih dan semalam Rini.

”Kau boleh meminta apapun jika kau memang menang.”

”Apapun?” Salwa menatap gembira kearah Rini, ”Termasuk jika aku minta dipijit selama kita kuliah?”

”Iya, bahkan lebih dari itupun!” tak ada keraguan dalam nada suara Rini.

”Langsung saja. Kita mulai lomba ini sekarang juga,” Salwa antusias.

Salwa mengambil kertas dalam binder, satu kertas dipotongnya menjadi tiga bagian. Dua bagian yang telah dipotong diserahkan pada Rini dan Ratih. Rini sigap menerimanya, Ratih agak ragu-ragu tetapi akhirnya diambilnya juga kertas itu.

Mereka menuliskan nomor asal. Lalu ketiga kertas itu digulung melingkar oleh Rini.

”Undilah untuk kami Rat,” Rini menyerahkan kertas sambil mengedipkan sebelah mata kanannya tanpa diketahui Salwa, karena salwa di sebelah kirinya.

Ratih menggenggam ketiga kertas itu dan dikocoknya. Memutar-mutarnya seperti acara haulnya orang India saat memberikan manisan. Memutarnya seperti putaran jarum jam. Putaran yang besar karena lurus di perutya dan berputar hingga di atas kepalanya. Saat putaran ke tujuh, saat tepat di pinggang kanannya, Ratih membuang selembar kertas ke belakangnya. Dan putaran selanjutnya tangan kirinya menjatuhkan sebuah kertas di depannya.

”Maaf, kertasnya terjatuh,” Ratih memungut kertas yang terlempar di depannya.

”Kelamaan sih Rat, pake acara jampi-jampian kayak dukun aja,” Salwa menatapnya cemberut, ”Buruan, muternya sekali aja.”

Ratih memutarnya lagi. Kali ini Cuma sekali. Lalu menyerahkan salah satu kertas kepada Rini. Lalu sebuah kertas gulungan yang terselip di antara jari tengah dan telunjuk diberikannya kepada Salwa.

”Yang tersisa pasti untukku,” mereka membuka masing-masing nomor Handphone yang tertera dalam kertas yang mereka dapatkan.

”Sekarang, kita telepon. Cukup untuk mengetahui suara di seberang. Jika semuanya laki-laki kita teruskan tapi jika ada perempuan maka kita akan menulis nomor acak lagi,” Rini memberi usul.

”Setuju!” Salwa dan Ratih menjawab hampir bersamaan.

Mereka memencet nomor berulang kali, lalu menempelkan handphone masing-masing di telinganya. Menunggu suara dari seberang. Ratih mematikan hubungan, dia tersenyum mengangguk. Berarti suara salam dari seberang adalah laki-laki. Setengah menit kemudian Rini juga mengangguk tersenyum.

Dua menit selanjutnya amat mendebarkan. Wajah ayu Salwa terlihat kesal, suara dari seberang hanya tut...tut...tut..., tidak diangkat-angkat. Sudah empat kali dihubungi terus. Ditariknya Hp ke bawah.

”Bagaimana ini? Atau kita acak lagi, sudah empat kali tapi tidak diangkat-angkat?”

”Saya yakin dia sedang shalat Ashar,” Rini berargumen.

”Shalat? Darimana kamu tahu?” Salwa menatap wajah temannya itu.

”Mungkin..., bukankah penduduk kita dari data BPS 84% Muslim?” Rini memberi alasan. Wajahnya sedikit gugup. 

Salwa manggut-manggut, ”Benar, inikan waktunya ashar. Baiklah kucoba sekali lagi. Mudah-mudahan kini diangkat.”

Salwa kembali memencet nomor yang tertera di kertas bagiannya. Sambungan bunyi panggilan kedua. Suara dari seberang terdengar, telpon diangkat.

”Assalamu’alaikum.”

”Wa..., wa’alaikumsalam,” Salwa segera menutup teleponnya karena Rini memberi isyarat dengan mengipaskan jemari tangan kanannya ke atas bawah. Cukup mendengarkan suaranya saja, lalu dimatikan. Itu peraturannya.

”Dia laki-laki,” suara Salwa pelan.

Mereka bertiga tersenyum, saatnya petualangan dimulai. Rini dan Ratih pamitan untuk memulai misinya. Start telah dimulai.

”Tunggu,” Rini dan Ratih berbalik. mereka sudah di pintu keluar, ”Kalian jujur kan padaku? Kalian tidak mengerjaiku?” Salwa menatap mereka lekat.

Rini dan Ratih berpandangan, bergantian.

”Kalian tertipu,” Salwa tersenyum, ”Kalian kan temanku, mana mungkin kalian mengerjaiku. Sudahlah, mari kita mulai petualangan ini.”

Sepergi kedua temannya, hati Salwa berdebar. Suara dari seberang telpon tadi, begitu lembut dan teduh. Siapa lelaki itu? Salwa mengetik beberapa kata dalam Handphonenya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!