Warna Pelangi Cinta

Perjuangan Cinta

Seekor kupu-kupu berwarna pelangi tiba-tiba mendekatinya dari balik gumpalan awan putih. Kupu dengan sempurna warna pelangi itu menari-nari di depan wajahnya, seolah mengajaknya berdzikir bersama mengagungkan Rabb Semesta Alam. Dimana aku? Faza memperhatikan dengan seksama sekelilingnya, dia baru menyadari bahwa dia berada di taman yang begitu indah, pepohonannya semuanya aneh belum pernah ditemuinya. Ilalang yang merdu bergoyang, bukan! Itu bukan ilalang, lihatlah, daunnya penuh warna seperti pelangi.

Dari balik pepohonan di seberang sungai, Masyaallah! Air itu sungguh jernih, bahkan ikan yang menari-nari di bawahnya terlihat hingga dasarnya yang dalam. Ikan-ikan itupun menari dengan sangat indah, mereka saling tersenyum dan membuat gerakan-gerakan yang sinkron indah. Dari balik pepohonan itu keluar beberapa kupu-kupu yang warnanya indah-indah, mereka terbang berputar dan membentuk konfigurasi indah di atas kepala Faza. Faza ikut melompat dan bernyanyi bersama kupu-kupu itu. Hatinya buncah seolah di dalamnya hanya ada keindahan dan ketenangan.

Faza berlari kearah tepi sungai itu. Diambilnya air itu dengan kedua perpaduan telapak tangannya dan dibentuknya mirip mangkuk. Air itu cemerlang lagi jernih, sangat jernih. Faza meminumnya, Bismillah. Tenggorokannya terasa segar, dan seluruh sarafnya seolah terasa nyaman. Sungguh air yang aneh.

Angin yang sangat sejuk bertiup menerpanya dari arah timur, semilirnya terasa indah membelai jiwanya. Faza berdiri untuk melihat ada apa dari arah timur, dua sosok bayangan manusia sedang berjalan menujunya. Pakaian mereka teramat indah, karena semuanya terlihat warna pelangi. Salah satunya adalah wanita, dan jilbabnya menjuntai serupa pelangi yang melengkung.

Kedua sosok itu semakin mendekatinya, wajah mereka tampak bersih dan bercahaya. Wajah mereka tampak sangat muda, tapi rasanya Faza pernah bertemu dengan mereka. Seolah aku kenal dengan mereka?

“Assalamu’alaikum Anakku?” lelaki tampan itu membuka tangannya lebar ketika jarak mereka hanya dua meter.

Faza keheranan, “Wa’alaikumsalam warahmatullah, siapa kalian berdua?”

“Kau tidak mengenal kami anakku?” Wanita muda di sampingnya tersenyum teduh, kecantikannya tak bisa digambarkan maupun dilukiskan. Tapi... sauranya

”Ibu?” Faza menatap wanita itu tak percaya. Dan wanita itu mengangguk, Faza menoleh kearah lelaki yang masih membuka lebar kedua tangannya, “Bapak?” Faza tak percaya. Tapi, suara mereka tak mungkin bisa dilupakannya sebagai suara yang dulu teramat dekat dengannya.

“Aku memang Bapakmu Nak,” lelaki itu menitikkan airmatanya, airmatanya teramat jernih.

Faza memeluk lelaki itu, “Terlalu banyak yang ingin kuceritakan pada Bapak dan Ibu, aku teramat rindu Pak.”

Lelaki itu melepaskan pelukannya. Wanita di sebelahnya mengusap airmata Faza dengan kain yang menutupi tangannya, terasa lembut.

“Ibu, Faza ingin bercerita,” Faza tak bisa menahan airmatanya.

“Belum saatnya anakku, suatu saat ini Insyaallah,” wanita itu tersenyum.

“Kau harus kembali, banyak yang masih membutuhkanmu. Tapi ingatlah satu pesan kami. Kau harus bersabar, bersabarlah karena itulah ciri-ciri orang yang beriman. Sekarang kita harus berpisah.”

“Tapi Bu, aku ingin bercerita sekarang.”

“Tidak anakku, Ibumu benar. Kita harus berpisah.”

“Tidak! Kumohon jangan tinggalkan aku. Bapak! Ibu! Kumohon, dengarlah ceritaku, banyak yang harus kuceritakan! Aku ingin ikut!” semua serba gelap. Faza membuka matanya, namun terasa berat. Airamatanya menetes.

Dalam ketidakberdayaan itu, Faza teringat penggal syair yang pernah ditulisnya.

Mulailah dengan menatap langkah.

Mentari bernyanyi merdu

Mengalunkan lagu cahayanya

Indah

Bersama kicauan burung

Menyatu

Membungkus dunia dalam keindahan

Matanya akan terkagum melihatnya

Dipaksanya matanya membuka. Ruangan serba putih itu dalam pandangannya meremang. Bukan karena semakin memburam melainkan semakin jelas, perlahan. Matanya sangat susah digerakkan, tapi keyakinannya kokoh untuk kembali melihat keagungan Rabbnya. Rabb, ijinkan hamba kembali menghirup udara kesyukuran, menikmati bermain bersama angin dan semilirnya dedaunan yang melambai, mencipaknya suara air yang tertimpa batu kerikil. Jernih. Allah, perjalanan ini masih panjang bukan? Yakinkan itu dalam hati hambaMu ini.

Mata sipit itu semakin lama semakin terbuka, butuh waktu lama untuk bisa sempurna terbuka dan kembali menikmati segala kesempurnaan penciptaanNya. 

Airmatanya menetes karena ketidakberdayaannya, Allah..., alangkahi sombongnya diriku selama ini..., merasa sempurna? Merasa serba bisa? Kini, Kau telah membuktikan kekuatanMu padaku.

Setelah satu jam berusaha, mata itu belum terbuka sempurna. Ada bening hangat yang menetes perlahan di kelopak matanya dan jatuh di daun telinganya. Sungguh manusia itu lemah, kenapa begitu sombongnya berjalan di muka bumi ini. Kenapa begitu angkuh, hanyalah Allah yang layak diagungkan. Allah..., kuatkanlah.

Lelaki itu memaksakan tangannya bergerak pelan, semula sebelah kanan. Pelan terangkat keatas, satu centi. Dua centi. Tiga centi. Empat centi. Ada senyum menghias bibirnya. Tiba-tiba persendian di siku dan engsel pundaknya nyeri. Sangat nyeri. Gerakan tangannya terjatuh.

Allah..., inikah manusia yang selalu menyombongkan dirinya? hambaMu ini sangat lemah. Kenapa sombong? Airmatanya kembali menetes, meresap ke bantal. Menyatu dengan kesombongan yang luntur, tak menyisa.

Airmatanya terus menetes. Tapi kali ini tak jatuh meresap ke bantal. Ada sentuhan yang mengusapnya hingga tak terjatuh. Kain yang teramat halus bergerak, menghapus airmatanya yang berjatuhan. Siapa? Malaikatkah? Atau bidadarikah? Oh.., tidak mungkin, Siapakah aku ini.

Ia tak menyerah.

Dipaksakannya matanya untuk sempurna melihat keindahan dunia. Satu, dua, tiga. Walau semburat matanya mulai nampak melihat ruangan itu. Kamar Rumah Sakit. Di dada dan tangan kanannya terdapat perban yang melilit.

Dia tersadar untuk melihat sesosok pertama yang duduk di sebelahnya. Pandangannya masih memburam, dilamatkannya. Sosok itu semakin terlihat jelas, bidadari? Beginikah wajah bidadari? Benarkah aku sudah berada di surga? Sosok di sampingnya, terduduk itu begitu anggun berjilbab biru. Airmatanya membasah, menetes setelah melewati dagunya.

“Maafkan aku Kak,” suara itu sangat lembut.

Faza menatap langit-langit ruangan itu. Matanya terpejam. Dia telah menguasai keadaan. Semua kelebatan ingatan seolah menyesaki dan masuk kembali ke dalam kesadarannya. Kesabaran? Semua seolah memburam, matanya terasa berat kembali dan tertutup. Namun kesadaran masih menyisa.

“Dokter!” walau suara itu keras namun ada serak di dalamnya.

Seseorang masuk ke ruangan itu. Azizah.

“Ada apa Salwa?”

“Kak Faza sudah siuman.”

“Subhanallah! Kak Faza!” Azizah mendekati Faza, meraih tangannya dan menyentuhkannya di pipi dan matanya, mata itu telah sempurna basah, “Kau adalah hidupku Kak, aku berdoa pada Allah agar Kakak jangan diambilNya dulu. Karena aku masih membutuhkanmu Kak, kau akan sembuh Kak! Kau tahu kenapa?” suara Azizah memelan.

Faza berusaha keras menggerakkan tangan kirinya. Bisa. Tangan itu menyentuh jilbab Azizah seolah seolah berkata, ‘Kenapa kau begitu yakin adikku?’ bibirnya tak kuasa bergerak. Hanya getar namun tak menghasilkan suara.

Azizah mengusap airmatanya dengan tangan kanan. Tangan kirinya masih sempurna memengang tangan kanan kakaknya, “Karena kakak tak pernah terlambat dalam menyayangiku. Kakak selalu hadir dalam setiap potongan hidup Azizah, semangat Kakak ada di hatiku. Azizah tak punya siapa-siapa di dunia ini, Allah belum akan mengambil Kakak karena Azizah masih membutuhkan Kakak. Bukankah Kakak juga berjanji akan mencarikan suami untuk Azizah?” ada senyum yang menghias bibir Azizah, Faza pun demikian. Dan matanya meredup untuk menutup kembali.

“Kak Faza!” hanya suara lembut Azizah yang tersisa.

          

Semua seolah berantakan dalam pandangannya. Menetapi keimanan adalah sama saja memegang bara panas, siapa bertahan dialah yang dikatakan Allah sebagai orang yang bertakwa. Allah..., apa yang terjadi denganku? Kenapa denganku ini? Kenapa aku tega menyakiti Faza? Hati kecil Zilul terus berontak akan kekerdilan jiwanya yang telah menghasut Lutfi, inikah mental seorang pengecut wahai Zilullah? Kau sungguh kerdil!

“Tidaak!”

Merekalah yang telah membuatku seperti ini! Semua biadab!

Zilullah memegang kepalanya, terasa seperti ditusuk-tusuk. Udara panas di taman Metro itu membuatnya semakin meranggas, beberapa orang di sekitarnya yang tengah menikmati keindahan taman menatapnya aneh. Namun, Zilul lebih tajam menatap mereka satu-persatu. Mereka akhirnya sibuk dengan urusannya masing-masing kembali, mungkin mereka berpikir bahwa Zilul adalah orang stress, berteriak-teriak saja dari tadi.

Sudah dua jam, Zilul mendudukkan dirinya di atas gundukan batu di bawah pohon Akasia.

Sebuah motor berhenti di dekat Zilul, sepasang orang turun dari motor itu dan duduk di batu yang bersebelahan dengan batu yang diduduki Zilul. Zilul mau tidak mau ikut mendengarkan pembicaraan sepasang kekasih itu, walau Zilul sudah berupaya menutupi kedua telinganya.

“Sayang, apakah engkau akan setia dengan janji kita?” lelaki berjaket jeans itu menyentuh dagu kekasihnya.

“Bukankah dunia ini hanya milik kita berdua, aku akan setia kekasihku.”

“Sungguh?”

“Aku berjanji.”

Telinga Zilullah panas, “Hentikan bualan kalian!” kedua orang yang tengah dimabuk cinta itu terperanjat. Mereka berdua menatap Zilullah yang telah tajam menatap mereka.

“Hei! Kau jangan mengganggu!” lelaki berjaket jeans biru itu menyalak balas.

“Kau sungguh bodoh!” mata Zilul seolah menyala-nyala.

“Apa maksudmu?” lelaki itu tidak terima, wanita di sebelahnya mengelus-elus dada kekasihnya agar tak terbawa emosi.

“Semua wanita itu sama, bisanya membual! Dan kau tertipu begitu saja dengan bualan wanita. Dasar bodoh!”

“Kurang ajar!” lelaki itu berdiri dan mendekati Zilul.

Saat lelaki itu hampir mencengkeram kerah baju Zilul, ternyata sebuah pukulan kuat telah bersarang di pipi kanannya dan membuatnya terjengkang. Mata Zilul semakin liar, dia menemukan kepuasan untuk melampiaskan kekesalannya. Syetan telah memperdayanya.

Lelaki berjaket jeans itu terhuyung kembali berdiri dan menyerang Zilul, namun untuk kedua kalinya sebuah tendangan kembali bersarang di dadanya, dia terjungkal ke belakang. Punggungnya terasa remuk.

“Masih mau maju?” Zilul merasa di atas angin.

Lelaki berjaket itu berdiri bukan untuk menyerang melainkan bertepuk tangan kuat beberapa kali dan melambaikan tangannya kearah utara dan dua orang telah berlari kearahnya. Beberapa orang hanya berani melihat tanpa berani ikut campur.

Dua orang itu datang, “Ada apa Bro?”

“Mampusin dia!”

Kedua orang yang baru datang segera mengangkat kepalanya kearah Zilul.

“Main keroyokan? Maju kalian semua!”

Si lelaki tinggi menyerang dengan tendangan namun Zilul dapat menangkapnya dan memukul perut lelaki itu, vital. Bagian ginjal. Suara lelaki itu tercekat menyayat. Seorang lagi menyerang dari belakang, Zilul pun dapat menepisnya dan pukulan kuat menghantam tengkuk si penyerang. Dua orang telah terkulai jatuh di bawah Zilul. 

Namun ayal, tanpa diperkirakannya lelaki berjaket jeans menyerang dari samping kanannya. Dan..., sebuah benda berkilau cepat telah menghunjam bagian belakang perutnya. Pisau itu menghunjam kembali, dan lagi.

Lelaki itu meninggalkan Zilul yang bersimbah darah, dia berlari menggapai motornya dan melaju. Nafas Zilul tercekat, matanya memburam, seluruh tubuhnya gemetaran. Allah..., yang terakhir dari pandangannya adalah beberapa orang berteriak histeris di sekitarnya. Dan semua menghilang.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!