Warna Pelangi Cinta

Alam yang Membisu

Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui. 

Hari-hari menyemai imannya dilaluinya dengan penuh perjuangan. Sungguh berat, tapi dia mampu bertahan di antara duri-duri kecil yang menghadang. Zulfa si mata  lazuardi begitu teduh mengajarinya bacaan Iqra’, Ratih yang mesti juga masih belajar selalu mengajarinya bacaan shalat meskipun sesuai dengan pemahaman yang dimiliki. Dan..., Azizah yang selalu memberinya motivasi dan dukungan. Teman-teman yang baik, mereka adalah karunia Allah.

Salwa menatap wajahnya di cermin, diperhatikannya semua keindahan yang tampak di pantulan itu. Mata coklat indahnya menyilaukan bercahaya, hidungnya tampak begitu lentik, bibirnya yang memukau, alisnya yang lembut terukir bagaikan bentangan pohon anggur yang terjajar indah di pegunungan. Halus. Lesung pipi yang indah ketika Salwa mencoba tersenyum di depan cermin itu. Rambut sebahunya yang nampak berkilauan, sedikit bergerak saja menciptakan gelombang lembut. Tapi... apakah manusia akan terpukau dengan apa yang dimilikinya di dunia? Yang seyogianya adalah fana.

Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia. 

Salwa tersenyum dan berdiri, diambilnya kain taplak meja di meja belajarnya, setelah sebelumnya menyingkirkan beberapa benda di atasnya diturunkan di lantai keramik. Wajahnya nampak sumringah, kain itu dibentangkan melebar di atas kepalanya, ditungkupkannya menempel di atas rambutnya yang lembut. Salwa menarik kedua sisi ujungnya ke bawah, sempurna kini rambutnya tak terlihat sehelaipun.

Wajah di dalam cermin itu menyiratkan senyuman terindah yang pernah dilihatnya selama ini. Wajah itu kini seolah permata yang terbungkus dalam sutera, walau kain penutup itu hanyalah kain taplak. Pantaskah? Tiba-tiba Salwa meneteskan airmatanya. Aku sungguh belum pantas. Aku dahulu adalah orang yang lalai, mennggalkan shalat wajib, aku bahkan sering berbuat dzolim pada banyak orang, aku sering menyakiti dan meremehkan orang lain. Aku sombong ya Allah. Pelan kedua tangan itu mengangkat kembali kain itu, wajah itu kembali muram dalam pantulan cermin.

Hp-nya berdering. Salwa meraihnya.

“Apa! Bi Murni? Baik. Baik,” Salwa merasa seolah hanya satu tujuannya kini. Sesegara mungkin, bahkan jika bisa dia akan menaiki kilat, diterbangkan angin. Satu tujuannya yang memenuhi seluruh isi di kepalanya. Pulang. Dia harus segera pulang. Airmatanya menetes, disambarnya tas dan langkahnya segera dipercepat, tak dipedulikannya beberapa teman di sebelah kamar-kamarnya yang memerhatikannya. Karena dia harus segera pulang.

Pagi itu menjadi saksi sejarah dalam catatan kehidupan Salwa, sejarah yang akan merubah dirinya.

          

Pukul 16.00, terminal Kota Metro.

Sore itu tidak mendung, namun wajah cantik yang baru saja turun dari mikrolet merah jalur 16C – Metro tampak muram. Langkahnya seolah berat dan seolah diseret, wajah itu sempurna kuyu.

Seorang kernet menawarinya ke Kampus, tanpa banyak pertimbangan kakinya segera masuk dan duduk di badan mobil itu. Hanya ada seorang Ibu berjilbab duduk di pojok belakang, Salwa duduk di sebelahnya. Wajah wanita itu begitu mengingatkannya pada Ibunya, bi Murni?

Semuanya seolah bagai roda yang diputar paksa dengan cepat. Hanya dalam hitungan jam saja, semua yang terjadi di seluruh hidupnya seolah berubah drastis. Quickly. 

“Kau punya masalah anakku?” wanita paruh baya di sebelahnya menyentuh pundaknya, mobil itu masih menunggu penumpang lainnya.

“Aku merasa tak siap menerima segala ujian yang tiba-tiba datang, apakah memang semua karena dosa-dosaku yang terlalu banyak?” Salwa berbicara seolah melantur.

Wanita paruh baya itu memerhatikan pandangan mata Salwa yang kosong, “Siapa namamu gadis cantik?”

Salwa menoleh wanita kearah wanita itu, “Salwa Salsabila.”

“Nama yang bagus. Madu yang begitu manis dan sangat bermanfaat bagi manusia dan kesehatan, tidak sembarang madu melainkan madu dari mata air di surga.”

Salwa menatap wanita itu, “Tapi, aku telah mengecewakan orang yang telah menyematkan nama ini padaku. Aku telah menyakitinya, aku telah sering membuatnya sakit, bahkan akulah yang telah menyebabkan kematiannyal,” ada bening yang menetes di pipinya yang bersih.

“Kau sudah minta maaf padanya?”

“Sudah, namun setelah itu dia pergi meninggalkan dunia ini.”

“Dia sudah memaafkanmu?”

“Jauh sebelum aku meminta maaf, dia telah memaafkanku.”

“Itu lebih mudah bukan?” wanita berjilbab itu tersenyum.

“Maksud Ibu?” Salwa meneliti wajah keibuan yang selalu tersenyum.

“Kau tinggal melaksanakan amanahnya saja, melaksanakan amanah nama yang telah disematkan padamu.”

“Apakah dia masih bisa melihatku di sisi Allah?”

“Tentu saja. Jika dia kini diberikan kenikmatan oleh Allah, maka sebenarnya dia ingin bertemu denganmu dan mengatakan kabar gembira dengan rahmat Allah yang luasnya seluas langit dan bumi namun Allah menahannya. Sebenarnya dia sangat ingin berkata padamu, Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa; tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati . Dia akan sangat bahagia jika engkau mau memaknai namamu menjadi yang terbaik dan bermanfaat bagi agamamu.”

“Dia adalah Ibuku, aku telah durhaka padanya. aku baru tahu ketika dia hendak meninggal dunia, dan sepanjang hidupku aku selalu mencaci dan menghinanya.”

“Bukankah kau bilang tadi bahwa dia telah memaafkanmu?”

Salwa mengangguk.

“Sekarang kau tidak punya alasan lagi untuk benar-benar mengemban amanah dari Ibumu itu. Kau tidak ingin lagi mengecawakannya kan?”

“Iya. Saya ingin melihatnya tersenyum dari sana.”

Wanita berjilbab itu tersenyum.

Mobil akhirnya melaju karena penumpang sepi, hanya bertambah dua orang ibu-ibu yang baru pulang dari belanja di pasar Cendrawasih. Salwa lebih tenang, dilihatnya wanita berjilbab itu. Wanita itu sedang menatap jendela, menatap langit yang menghampar luas, seluas itulah juga ampunan Allah, bahkan jauh lebih luas.

Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan RasulNya sesudah mereka mendapat luka. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. 

          

Salwa turun tidak langsung ke kost-nya. Dia ingin mampir ke rumah Azizah. Hari ini hari minggu. Banyak para Mahasiswa dan Pelajar yang pulang ke kampungnya atau ke rumahnya masing-masing, namun Salwa yakin Azizah tidak pulang.  Azizah pernah cerita bahwa dia tidak punya rumah lagi kecuali milik saudara saja, masih banyak yang belum diketahui Salwa tentang Azizah.

Salwa mempercepat langkah kakinya, dia ingin menceritakan semua musibah yang baru saja dialaminya hari ini. Tentang bi Murni? Yang baru diketahuinya bahwa dia adalah Ibunya, tentang kedua orangtua yang selama ini memeliharanya ternyata hanya sebagai orangtua asuh karena memang tak memiliki anak. Kini..., semua terasa kacau dalam benaknya. Dia ingin mencurahkan seluruh cerita hidupnya, dia merasa Azizah adalah orang yang tepat. Tiba-tiba gerimis menjatuhi bumi.

Tunggu aku Azizah, sebentar lagi.

Azizah melewati ujung gang, tinggal satu rumah lagi. Saat kakinya hendak memasuki pagar rumah, langkahnya benar-benar terhenti. Bergetar, tyrant. Matanya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Salwa berusaha mengucek kedua matanya. Pedih. Dia mencubit pipinya, sakit. Allah...

Di depan ruang jahit Azizah itu, dua orang sedang berpelukan.

Langkahnya tak kuat lagi bertahan, Salwa berbalik dan menghambur pulang menuju kost-nya. Dunia serasa tak lagi bersahabat dengannya, semua terasa asing. Kenapa? Kenapa Kau beri aku cobaan bertubi-tubi Allah. Apakah kau tak mau menerima taubatku? Apakah aku sudah tak pantas lagi menjadi orang baik? Apakah...

Baru pertama kali ini Salwa merasakan hati yang menyayat, ada rasa cemburu yang luar biasa membakar hatinya.

Airmatanya bercucuran bersama gerimis pelan yang turun dari langit, hatinya benar-benar hancur. Langkahnya berjalan cepat, terseok. Tak dipedulikannya siapapun yang melihatnya, tak peduli bahkan jika seandainya ada gunung salju di hadapannya. Pasti akan diterjangnya.

Sebuah mobil berhenti, membunyikan klakson di sebelahnya. Menyamai langkahnya.

“Salwa, kau tidak apa-apa? Ayo naik, lihatlah langit amat mendung. Lihatlah, rambutmu mulai membasah” wajah lelaki itu menyembul dari lubang kaca pintu mobil Avanza.

Romi? Kegelisahannya membawa kakinya memasuki mobil itu. Romi tersenyum padanya, namun Salwa tak berkata apa-apa. Dia naik di belakang.

“Kau sedang ada masalah Salwa?” Romi baru saja pulang dari Merak Belatung bersama teman-temannya, namun teman-temannya sudah diantarnya pulang.

“Antar saja aku pulang Rom,” Salwa menatap langit yang membentang melalui kaca pintu mobil di sampingnya.

Romi menatap spion, dilihatnya wajah cantik yang sedang menatap kaca di sampingnya. Ada senyum tipis aneh yang tiba-tiba terukir di wajahnya yang kokoh. Dan Avanza itu melaju menuju kost Salwa. Gerimis bertahan menyisa.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!