Warna Pelangi Cinta
Dua Hati Menyatu (1)
Kabut pagi ini mulai hilang ditelan hari. Angin mulai bergerak mendesau-desau, menandai bibir pagi telah masuk waktu dhuha. Rasanya, roda kehidupan itu begitu cepat berputar, seperti gasing yang dimainkan anak kecil, dilontarkan kuat, terlepas dari tali karetnya dan berputar meliuk-liuk kian kemari.
“Kau gemetaran adikku?” Umar menatap adiknya yang duduk di sebelahnya, isterinya juga tersenyum kearahnya.
Naurah hanya menatap kakaknya sejenak dan menunduk malu, wajahnya sempurna merah merona. Umar tersenyum kembali.
“Lihatlah isteriku wajahnya yang merah, bagai buah strobery yang siap dipanen, aduhai ranumnya,” Umar masih menggoda adiknya dengan melibatkan isterinya.
Zainab mengangkat tangannya dan mengangkat dagu adik iparnya itu, sungguh betapa keindahan Allah tampak dari penciptaanNya yang sempurna. Siapapun lelaki yang melihatnya tidak akan pernah menduga ada wajah secantik ini di dunia ini. Selayak bidadari, selayak burung yang jernih berkicau, sungguh betapa setiap lekuk di wajahnya adalah kesempurnaan penciptaan.
“Kau sudah siap menerima segala kemingkinannya adikku?”
“Iya Mbak,” suara itu nampak bergetar.
“Mbak yakin, Allah pasti akan memberikan yang terbaik dalam setiap putusanNya. Allah tahu mana yang terbaik buat hambaNya dan mana yang buruk bagi hambaNya. Bukan berarti, jika tidak sesuai itu berarti Allah memutuskan itu buruk namun mungkin ada kemungkinan dari Allah yang jauh lebih baik dipersiapkanNya di sisiNya. Kau paham bukan?”
“Insyaallah Mbak,” Naurah mengangguk, setiap gerakannya sungguh anggun.
“Abi janjian pukul berapa dengan Faza?” Zainab kini yang tidak sabaran.
“Abi bilangnya pukul sembilan,” Umar hanya tersenyum.
“Jam sembilan Kak,” kini Naurah yang kaget. Sekarang saja masih pukul setengah sembilan, “Pantas saja. Faza orangnya tidak pernah telat waktu.”
Umar dan Isterinya saling pandang. Mereka lalu menatap Naurah yang belum menyadari akan kata-katanya, “Darimana kamu tahu Dik kalau Faza orangnya tepat waktu?”
“Aku..., aku hanya menebak saja Kak, Mbak. Bukankah kak Umar tidak mungkin main-main mencoba menjodohkan aku dengannya? Selain itu..., dia juga kadang menjadi perbincangan di teman-teman kost Naurah. Jadi, mau tidak mau kadang aku mengetahuinya juga.”
Masjid Babussalam nampak hening, hanya ada satu orang pelajar yang sedang menjalankan shalat dhuha. Masjid Babussalam didesain begitu indah dengan pintu yang lengkap dari segala sisi, angin dapat masuk dari setiap celah jendela namun terdapat saringan agar debu yang masuk tidaklah banyak. Di depan masjid beberapa pohon rapi menjulang, pohon palem yang menambah kesejukan dan keindahan bagi siapa saja yang memandangnya akan betah. Babussalam juga digunakan beberapa orang yang sekedar mampir dari lelahnya bekerja, kadang ada yang tiduran di sisi-sisi masjidnya.
Pukul 08.45. Dua orang lelaki masuk dari sisi belakang di dekat tempat wudhu, mereka berdua memakai jaket Ghuroba dan jaket Al-Ishlah. Faza dan Shafwan. Mereka masuk shaf depan dan melaksanakan shalat dua rekaat, shalat tahiyatul masjid. Bukankah kiamat tak akan terjadi kecuali jika ada orang yang melewati di dalam masjid tanpa melakukan shalat dua rekaat?
Selesai shalat Faza memberi isyarat kepada Shafwan untuk menemaninya menemui keluarga Umar. Shafwan sudah mengenal dengan baik siapa pak Umar, salah satu dosennya di prodi bahasa arab.
“Assalamu’alaikum,” Faza dan Shafwan mengucapkan salam hampir berbarengan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” Umar tersenyum, menjabat tangan Faza dan merangkulnya. Suara dua wanita lembut juga menimpali dari balik hijab kayu setinggi dua meter itu, ada lubang setinggi satu kilan di bawah sehingga dapat saling mendengar dengan jelas. Shafwan juga menyalami Dosennya itu.
“Kamu juga satu kontrakan dengan Faza Shaf?”
“Iya Pak,” Shafwan mengangguk, dunia memang serasa sempit saja. Ternyata salah satu Dosennya adalah teman Faza.
Perbincangan sebatas menghilangkan kekakuan berjalan agak lama, mulai dari perbincangan kegiatan kuliah hingga kegiatan mengajar Umar di kampus-kampus yang menjadi amanahnya.
Pukul 09.15 tepat. Suasana Babussalam hening. Mereka saling mengerti, pokok pembicaraan yang mereka tunggu memang seharusnya harus segera dimulai.
“Seperti yang pernah kita bicarakan Faz,” suasana benar-benar hening. Hanya suara Umar yang terdengar, “Hari ini aku bersama Isteri dan adikku Naurah Lathifah An-Nawwar. Bukankah sebagai Kakaknya aku juga berhak mencarikannya seorang yang dapat membimbingnya di dunia dan di akhiratnya. Sebagai manusia kita hanya bisa berikhtiyar, dan Allah jualah yang menentukan segala kepastian yang berlaku di bumiNya. Aku hanya sebatas perantara untuk mencoba menyatukan hatimu dan hati adikku Naurah. Jika nantinya ada kecocokan di antara kalian, kalian sendirilah yang menentukan.
Namun sekali lagi kuulangi, tidak ada paksaan dalam setiap hal yang kita akan bicarakan hari ini. Semuanya kita niatkan ibadah dan ikhtiyar kita dalam menggapai keimanan dan ridhaNya. Kau pasti sudah mempertimbangkannya baik-baik selama beberapa hari setelah pertemuan kita dahulu. Sekarang aku sudah selesai saudaraku, kini..., sebelum kita melangkah lebih jauh apakah engkau mempunyai keluhan atau ada hal lain yang ingin engkau sampaikan. Kami akan mendengarkannya.”
Faza menghirup udara sejuk di sekitarnya pelan. Terasa segar, “Bismillah, segala puji hanyalah milikNya, segala kekuatan hanyalah milikNya. Syukur padaNya yang telah mempertemukan kita dalam majlis ini. Allah-lah yang menentukan segalanya, dari mulai langkah kita menuju tempat ini. Alangkah indahnya jika semuanya bermula dari niat yang tulus dan kejujuran yang terbuka. Sebelum saya dapat menjawab semua yang telah kak Umar tuturkan, ada baiknya mendengarkan kisahku terlebih dahulu,” matanya terpejam sejenak. Agak berat rasanya menceritakannya.
“Ini semua bermula dari keraguan yang menyelinap di hatiku, seharusnya aku bisa berani jujur sedari awal,” mata Faza berkaca.
Shafwan yang melihatnya tak kuasa matanya pun berair, jika aku tahu semuanya akan menjadi begini, tentu aku tidak akan menambah pikirannya. Kenapa aku benar-benar egois? Shafwan teringat lamarannya yang ditujukan kepada Azizah.
Umar menyentuh pelan pundak kanan Faza, “Ceritakanlah, kami adalah saudara-saudaramu disini,” Umar mengangguk, tentu saja dua wanita di balik hijab kayu itu kebingungan namun mereka tak ada yang bersuara.
“Seorang sahabatku di Baitul’ilmi, Dia..., beberapa hari sebelum aku dan kak Umar bertemu telah menceritakan kepadaku tentang kondisi hatinya yang merasakan cinta pada seorang wanita. Cinta itu teramat kuat menerpa hatinya, dan dia memutuskan untuk melamar wanita itu. Aku mendorongnya untuk segera melamarnya sebelum didahului oleh saudara seiman yang lain. Dan, setelah itulah kita bertemu Kak,” Faza menatap lekat kedua mata Umar, mata itu meneteskan airmata, “Wanita yang dicintai sahabatku itu adalah Naurah, dan semua memang kelemahanku untuk menjelaskan segalanya pada kak Umar dan Sahabatku hingga kejadian itu terjadi.”
“Kejadian apa Saudaraku?” Umar dapat merasakan penyesalan yang dialami Faza.
“Lutfi marah dan memukul Faza...,”
“Hentikan Shaf..., kumohon, ini semua kesalahanku,” Faza menghentikan ujaran Shafwan. Shafwan langsung diam, dia merasa kak Faza akan susah menceritakan kejadian itu. Shafwan tertunduk, airmatanya telah menetes.
“Lutfi...,” terdengar suara pelan dari balik hijab kayu. Suara Naurah.
“Sungguh, aku belum bisa memutuskan apa-apa tentang semua yang kak Umar tawarkan kepadaku tempo hari. Sungguh, ada beberapa masalah yang sedang membelit kami saat ini di Baitul’ilmi. Biarlah aku dan Shafwan akan menjernihkan segalanya terlebih dahulu, setelah itu kami akan menghubungi kak Umar kembali untuk menjernihkan masalah ini.”
“Sungguh, ceritakanlah pada kami saat ini juga Akhi. Kami juga tidak akan tenang, karena kamilah yang semula telah menambah masalahmu,” Naurah tanpa pengantar memberanikan dirinya bicara dari balik hijab.
Hening.
“Adikku benar Faz, jika kau tak menceritakannya kau bahkan tidak menganggapku sebagai saudaramu,” Umar menimpali.
“Shaf, ceritakanlah. Aku belum siap menceritakannya, namun jangan kau lebih-lebihkan,” Faza mengangguk pada Shafwan.
Shafwan mengangguk, “Insyaallah Kak,” dia menatap kak Umar, “Ada seorang sahabat kami di Baitul’ilmi yang mengalami musibah. Dia didzolimi oleh orang yang ingin menghilangkan Al-Quran, sahabat kami menjadi stres karena dijebak dengan wanita. Bagi orang-orang dzalim itu, hanya satu kesalahan Hafidz, karena dia telah meletakkan Al-Quran di hatinya, dia telah menginfakkan seluruh jalan hidupnya untuk mengikuti Al-Quran. Kini dia telah melewati masa-masa kritisnya, dia...” Shafwan tak bisa meneruskan ceritanya. Airmatanya tumpah sudah.
Shafwan segera menghapus airmatanya. Dilihatnya Faza berdiri dan menuju ruang wudhu, Dia pasti tak kuat mendengarkan cerita ini, “Salah seorang sahabat kami, Zilullah namanya, dia...”
“Zilul ketua At-Taghyir?” Naurah kaget, “Kenapa dengannya?”
“Dia juga pergi dari Baitul’ilmi dan memarahi kak Faza karena dikiranya telah melamar duluan Anti dari Lutfi. Beliau marah karena yang mendorong Lutfi untuk melamar Anti adalah Faza, namun Faza tega menusuk sahabatnya sendiri dengan melamar duluan. Setelah itu, dia belum pernah kembali ke Baitul’ilmi. Dan betapa bodohnya aku..., aku telah...,” Shafwan menghentikan ceritanya, dilihatnya Faza telah kembali dan wajahnya sempurna basah karena basuhan air.
“Ayo lanjutkan Dik, kau telah melakukan kesalahan apa?” Umar penasaran.
“Dia tidak salah apa-apa, aku bahkan bangga padanya Kak,” Faza segera tahu pembicaraan itu, “Dia ingin menjaga kehormatan dirinya untuk segera menikah, dan dia melamar adikku Azizah. Bukankah ada tiga orang yang akan masuk surga pertama kali? Yang pertama adalah orang yang berjihad di jalanNya, golongan kedua adalah mereka yang menjaga kesucian dirinya dan yang ketiga adalah orang yang menetapi ketaatan dan mengingatkan manusia dari kemunkaran. Shafwan sudah berupaya melakukan salah satunya, namun karena kekhilafanku aku belum mengatakan lamaran itu pada Azizah. Insyaallah, akan segera kuusahakan,” Faza tersenyum pada Shafwan.
“Aku mohon maaf padamu Faz, aku benar-benar tidak tahu ternyata masalahnya sepelik ini.”
“Tidak apa-apa Kak, bukankah kita semakin belajar dari setiap masalah yang ada?”
“Tapi, aku masih berharap lebih untukmu Faz. Ini semakin menguatkanku akan ketabahan dan keutamaanmu.”
“Maksud kak Umar?”
“Aku masih ingin meneruskan proses ta’aruf ini. Apa jadinya nanti, biarlah Allah yang menentukan. Bukankah kita hanya berusaha?”
Sepi, Faza hanya tertunduk.
“Aku seharusnya berkaca kak Umar. Naurah sangat pantas mendapatkan orang yang sholeh dan mempunyai pemahaman agama yang tinggi. Sedangkan aku, aku hanyalah mahasiswa jurusan Ekonomi dan pemahaman agamaku masih sedikit. Seharusnya kak Umar tanyakan saja pada Naurah dia pasti akan berpikir matang untuk dapat berjodoh denganku.”
Umar menatap ketulusan dari wajah Faza yang menunduk. Matanya beralih kearah Shafwan, “Shaf, bagaimana menurutmu kepribadian Faza. Jawablah dengan jujur.”
Shafwan melirik Faza yang masih menunduk. Matanya beralih kearah salah satu Dosennya itu, “Aku melihatnya dan dapat kujelaskan dengan singkat, jarang sekali ada banyak kebaikan yang terkumpul pada seorang manusia dan aku melihatnya pada kak Faza. Sungguh, dia lelaki yang shaleh Pak,” Shafwan ikut menunduk. Dia tahu, mungkin Faza akan marah padanya.
“Astaghfirullah, sungguh engkau melebih-lebihkan Shaf!” Faza mengangkat kepalanya.