Warna Pelangi Cinta

Kekeruhan (2)

”Hafidz tidak menghubungi Kak Faza?”

Faza menggeleng.

”Sudah sepuluh hari, kenapa selama ini Hafidz bersama Syaikh Wahab?” ungkapan itu sebenarnya ungkapan untuk menenangkan Shafwan saja, jauh di dalam hatinya dia merasa sangat khawatir. Perasaan gelisah, tidak seperti biasanya Hafidz begini.

Ada apa denganmu Fidz? Kenapa kau tak memberi kabar kepada kami disini? Begitu senangkah engkau dengan keberhasilanmu menghafalkan Al-Quran dan lupa memberitahu kebahagiaanmu pada kami? Tidak mungkin! Aku tahu dirimu adikku. Apakah kau dalam masalah? Hati Faza tiba-tiba menjadi tidak tenang. Allah lindungilah Hafidz, karena Engkaulah sebaik-baik pelindung. Allah, jangan kau beri dia mudharat seandainya dia tidak kuat menanggungnya. Berikanlah yang terbaik padanya, berikanlah kemulyaan padanya di dunia dan di akhiratMu kelak. Amiin.

Faza dan Shafwan duduk di teras depan Baitul’ilmi, melihat panorama pagi.

Rasyid keluar dari dalam rumah dan mendekati Shafwan, ”Shaf bisa ke belakang sebentar? Ada yang harus kubicarakan dengan kak Faza,” Rasyid menganggukkan kepalanya pada Shafwan, Shafwan mengikuti mengangguk dan bergerak berdiri menuju pintu dan masuk ke dalam.

”Mau bicara apa Syid?” Faza masih menatap langit yang masih buram dini hari.

”Kak Faza hari ini ada acara?” Rasyid menatap dalam.

”Ada di kampus, insyaallah mengambil surat penelitian skripsi saja. Memangnya ada yang bisa kubantu Syid?”

”Jika tak keberatan, aku ingin minta bantuan pada kak Faza.”

”Katakanlah, semoga aku bisa membantumu.”

”Masih ingat cerita almarhum pak Saiful?”

Faza berfikir sejenak, ”Apakah dia pak Camat sebelum diganti kemarin?”

”Iya, tentang meninggal dan wasiatnya,”

”Iya, aku ingat sekarang,” Faza mengangguk, ”Lalu..., ada apa dengannya Syid?”

”Jika kak Faza ada waktu, mohon temani saja menjadi wali untuk melamar putrinya hari ini. Itu jika kak Faza bisa meluangkan waktunya untuk melamarnya. Terus terang, saya merasa yakin setelah menyerahkan segala pilihan pada Allah, saya merasa harus menjaganya dan menjalankan amanah dari pak Saiful.”

”Kamu sudah sangat yakin siap melangkah?”

”Insyaallah Kak,” jawab Rasyid mantap.

”Kalau begitu ayo siap-siap sekarang.”

”Untuk apa Kak?”

”Tentu saja menjemput bidadarimu Syid. Bukankah kamu sudah mantap, semakin cepat semakin bagus bukan? Atau kau mau keduluan orang lain? Kau bilang Nirmala Sari itu cantik bukan?”

”Sekarang Kak?”

”Iya Syid...,” belum sempat meneruskan kata-katanya, Rasyid buru-buru masuk ke rumah. Begitulah energi anak muda, jika sudah punya kemauan pasti gunung tertinggi pun akan di daki, samudera tanpa tepi pun akan diseberangi. Semoga Allah selalu melindungimu dan memberikan yang terbaik untukmu syid. Faza merasa akhir-akhir ini banyak permasalahan yang membuncah, merekah perlahan-lahan. Tapi..., bagaimana dengan keadaan masalahnya sendiri? Faza tersenyum, siap menghadapi apapun masalahnya.

Faza masuk ke kontrakan. Kamar mandi ada dua, Faza mandi di kamar mandi di dekat dapur dan Rasyid mandi di kamar mandi di dekat ruang tamu. Setelah mandi Faza memakai baju batik panjangnya, ternyata Rasyid masih di kamar menyisir rambut pendeknya.

”Ayo Syid, mumpung belum terlalu siang,” Faza berujar di depan pintu kamar Rasyid dan Shafwan.

”Memangnya mau kemana Kak?” Shafwan bertanya heran, dia sedang memegang bukunya di ruang tamu.

”Mengantar Rasyid menjemput bidadarinya,” Faza tersenyum.

Shafwan membalas senyum, ”Benarkah? Rasyid sudah memutuskan untuk melangkah melamar putri pak Saiful itu?”

Faza mengangguk, ”Doakan saudaramu agar lancar, Insyaallah semua jalanmu akan dimudahkannya pula. Bukankah doa yang baik untuk saudaranya akan kembali kepada empunya doa?”

”Insyallah Kak.”

Rasyid keluar dari kamar, baju koko biru tua dipadu celana warna hitam. Confident, elegant.

Shafwan tersenyum, ”Siip! Selamat berjuang! Semangat 45!” sambil mengapal dan tangannya teracung keatas.

Rasyid tersenyum dan keluar bersama Faza, mengucapkan salam sambil pamitan. Shafwan mengantar hingga di depan pintu sambil tersenyum.

”Rumahnya dekat atau jauh Syid?”

”Hanya naik satu kali kendaraan, di dekat Simpang Kampus,” dan Faza mengangguk dan berjalan di belakang Rasyid.  Mereka menghentikan angkot merah dan sedetik kemudian langsung naik ke angkot. Alhamdulillah sepi.

Di dalam angkot, Faza melihat mata Rasyid berkaca-kaca dan sebutir air tak bisa ditahan lagi dan terjatuh di pipinya. Rasyid segera sigap menghapus dengan punggung tangannya.

”Kenapa? Kau belum yakin?”

”Bukan.”

”Lalu?” Faza menatapnya dalam.

”Wanita itu..., telah menjadi yatim piatu. Aku benar-benar ingin melindunginya dengan segenap jiwa raga. Aku benar-benar ingin sekuat tenaga melaksanakan amanah wasiat dari almarhum ayahnya. Aku melihat wajah pak Saiful seolah tersenyum padaku, dia selalu datang di mimpi-mimpiku dan selalu tersenyum. Dalam mimpiku pak Saiful datang padaku dan menunjukkan padaku Nirmala yang terduduk dan menangis. Aku ingin menyeka airmata Nirmala, tapi aku yang tak kuasa dan selalu ragu lalu mundur dan akhirnya menjauh.”

Mobil berhenti tepat setelah Rasyid berkata, ”Minggir pak,” mereka berjalan sebentar melewati gang kecil. Faza mengikuti langkah Rasyid hingga tiba di depan rumah tidak terlalu besar, namun pekarangannya luas dan terlihat asri.

”Semakin cepat semakin baik,” Faza masuk ke pekarangan dan ke pintu rumah, memencet bel. Bel salam itu berbunyi nyaring, sepuluh detik. Limabelas detik. Faza memencet lagi sambil mengucapkan salam. Lima belas detik. Saat hendak ketiga kalinya memencet, pintu itu terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya keluar sambil menatap kedua tamunya itu.

”Wa’alaikumsalam, mas Rasyid kan?”

Rasyid tersenyum, ”Iya bi Lastri, apakah Nirmala ada Bi?” Rasyid sebenarnya baru dua kali ini ke rumah itu.

”A...ada mas, silakan masuk saya akan panggilkan dulu,” wanita tua berjilbab cream itu memberi tanda mempersilakan tamunya masuk.

”Bibi masih hafal dengan saya, padahal saya baru kesini dua kali ini?” Rasyid bertanya penasaran.

Wanita itu berbalik kembali, ”Bapak sering menyebut mas Rasyid ketika bercerita dengan bibi dan Nirmala. Beliau sering berkata, ’Alangkah bahagianya jika mempunyai satu anak saja seperti mas Rasyid.’ Begitulah almarhum Bapak yang selalu kagum pada mas Rasyid. Lha..., saya jadi penasaran juga mendengarnya,” bi Lastri tersenyum, ”Tapi..., non Nirmala sedang berkemas-kemas di kamarnya Mas.”

Ada keheranan di kedua wajah Faza dan Rasyid.

Bi Lastri menangkapnya cepat, ”Non Nirmala berencana ingin ke Surabaya, ke rumah pamannya. Dia ingin disana untuk beberapa lama. Ya sudah, saya panggilkan dulu ya Mas.”

”Iya Bi,” Rasyid mengangguk, bi Lastri langsung masuk ke dalam.

Seperginya bi Lastri, Rasyid menatap lekat-lekat Faza.

”Masih ingin diteruskan?” Faza menepuk pundak Rasyid.

”Insyaallah Kak, saya sudah mantap. Allah yang menentukan segalanya, Dia yang mengatur apapun yang terjadi di dunia dan di langit. Tiap setitik debu yang terbang di seluruh penjuru dunia atas kuasaNya, setiap daun yang jatuh di seluruh pelosok dunia ini adalah ketentuanNya. Hari ini ada segala ketetapanNya sehingga kita datang kesini bertepatan dengan rencana kepergiaannya ke Surabaya. Dan biarlah akhir segalanya, Allah yang akan menentukannya.”

Faza tersenyum. Bertepatan dengan itu, seorang wanita berkacamata kecil muncul mengenakan jilbab biru muda, duduk agak jauh dari mereka menyamping. Bi Lastri juga bersamanya namun segera pamitan ke belakang. Sekilas Rasyid melihatnya, lalu menundukkan pandangannya.

Kebekuan terjadi beberapa menit.

”Bismillah,” akhirnya Faza yang memulai. Merasa saatnya dia untuk bicara, ”Kedatangan kami kesini untuk bersilaturahim dalam rangka bertaqarrub kepada Allah, menjalin ukhuwah di antara umat muslim. Yang kedua, saya datang mewakili saudara saya ini, Rasyid untuk menunaikan amanah dari pak Saiful untuk menjaga puterinya dalam bingkai pernikahan. Kedatangan kami adalah ketentuan Allah, dan apapun keputusan Nirmala Insyaallah kami akan menerimanya,” Faza berbicara tertata, rapi sehingga dapat ditangkap dengan mudah siapapun yang mendengarnya. Ya Allah, mudahkanlah jalan mereka. Kulihat mereka begitu serasi, semoga itu pula keputusanMu.

Keheningan tercipta kembali. Warna cinta selalu membuat hati yang dihiasinya menjadi enggan untuk berujar karena cukup dengan bahasa hatinya. Benarkah?

Bi Lastri datang membawa tiga gelas air minum dan dua toples kue, menaruhnya di meja dan meletakkan satu-persatu di pinggir meja. Nirmala tersadar dari lamunannya, dan membantu bi Lastri memindahkan gelas ke pinggir meja. Jemarinya sedikit gemetaran. Bi Lastri mulai paham, dia ikut duduk di samping Nirmala. Nirmala menatap kedua mata bi Lastri, hubungan mereka sudah seperti ibu dan anak. Wanita itu segera paham apa yang terjadi.

Sudah saatnya, ”Dengan mengucapkan bismillahirrahmaanirrahiim,” Nirmala masih menunduk. Tangannya bergerak gemetaran memegang tangan yang mulai keriput milik bi Nirmala. Mencoba mencari kekuatan, ”Sejak Ayah mengucapkan doanya berulang-ulang tentang kak Rasyid, sejak aku mendengar ceramah kak Rasyid di STAIN, sejak aku mulai mengenal Allah dan mulai mencintaiNya. Aku bertekad, jikalau kak Rasyid benar datang untuk menjadikanku sebagai pendampingnya maka tidak ada alasan satu pun bagiku untuk menolaknya,” Nirmala mengusap airmatanya yang menetes di pipinya.

Bi Lastri memeluk Nirmala, ”Allah mencintaimu anakku, sejak engkau mengajari Islam pada bibimu ini. Engkau adalah pelita di hati Bibi, Bibi memang tidak punya anak tapi cukuplah Allah menggantikannya dengan dirimu,” bi Lastri ikut meneteskan airmatanya.

Rasyid meneteskan airmatanya. Allah, semua rahasia ada di tanganMu. Engkaulah yang mengetahui yang terang dan yang tersembunyi. Allah, tidak ada lagi alasan untuk menyangsikan segala keperkasaanMu, tidak ada lagi alasan untuk secuil waktu pun meninggalkanMu. Karena Engkau tak pernah meninggalkan hambaMu, walau sekejap mata, sehelaian nafas. Engkau begitu penyayang menjaga hambaMu, sungguh kuserahkan hidup, matiku kepadaMu.

Ruangan itu dipenuhi cahaya berpendar-pendar ke seluruh penjuru. Dzikir yang saling bertaut membawa dampak pada setiap bagian di sekelilingnya. Dzikir cinta yang menjadi satu demi satu makna, mengagungkan Rabb Semesta Alam. Aduhai indahnya segenap kehidupan.

”Lalu..., bagaimana tentang rencana kepergian Nirmala ke Surabaya?” Rasyid memberanikan diri bicara.

”Tidak jadi. Rencana Nirmala kesana untuk mengobati kesedihan, tapi jika disini Nirmala dapat menemukannya maka biarlah ditunda perginya,” ada secerah cahaya di wajahnya. Bi Lastri hanya mengangguk.

”Tapi..., bolehkah aku mengajukan satu syarat kepada kak Rasyid?”

”Apa itu?” Rasyid tak berani menatap mata wanita yang insyaallah segera menjadi isterinya itu. 

”Nirmala ingin akad nikahnya dilaksanakan esok hari,” ada keheranan di wajah ketiga orang di sekelilingnya. Nirmala segera meneruskan kata-katanya, ”Nirmala ingin segera menunaikan amanah almarhum Ibu dan Ayah, karena Nirmala tidak tahu sampai kapan umur dari Allah ini akan bertahan. Amanah cincin pernikahan, apakah kak Rasyid bersedia?”

”Insyaallah, tapi aku belum mempersiapkan maharnya.”

”Kak Rasyid hafal surat Al-Mulk?”

”Insyaallah.”

”Nirmala ingin maharnya hafalan surat Al-Mulk.”

”Subhanallah,” ada bening yang menggantung di kedua kelopak mata Rasyid, ”Insyaallah dengan meniatkannya kepada Allah, rencana akad nikahnya jika Allah memberi kemudahan akan dilaksanakan besok.” bukankah isteri yang baik adalah yang paling murah maharnya?

”Alhamdulillah,” Faza tersenyum, wajahnya ceria seolah-oleh dialah yang sedang berbahagia walau pada hakikatnya Rasyidlah yang akan menikah.

Bi Lastri memeluk erat Nirmala, kerinduan dan kebahagiaan tumpah di dalamnya. Faza mengucapkan selamat kepada Rasyid, ”Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik padamu adikku,” Faza sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, begitupun Rasyid menggapnya sebagai walinya. Saat itulah..., dering Hp Faza berdering membelah kebahagiaan yang tercipta. Siapa?

Faza melihat Hpnya, Shafwan? Faza minta diri untuk mengangkat telepon. Ketiga orang di sekelilingnya mempersilakannya, Faza segera keluar rumah.

Faza memencet tombol ok dan mengucapkan salam. Terdengar suara jawaban salam Shafwan panik dan tersendat-sendat.

”Ada apa Shaf?” Faza keheranan, ”Apa!” suaranya tanpa sadar volumenya meninggi, ”Baiklah, kamu tenangkan diri dulu. Aku segera kesana. Tunggu aku Shaf,” hubungan dimatikan.

Faza masuk ke dalam ruangan, wajahnya tenang seperti semula.

”Kenapa kak Faza berteriak?” Rasyid curiga.

”Ehm..., Hafidz sudah pulang. Dia...,”

”Benarkah?” wajah Rasyid terlihat cerah.

”Iya! Dan dia ingin bertemu denganku sekarang juga. Kalau begitu aku pamit dulu, engkau tinggal atau ikut pulang Syid?”

”Aku hendak ke pasar sebentar Kak. Tapi..., tidak terjadi apa-apa kan Kak?”

Faza terdiam sejenak, ”Hafidz terlalu capek kata Shafwan tapi kata Shafwan dia ingin bicara denganku. Baiklah saya  pamit dulu Bi dan dik Nirmala.”

”Iya, saya pamit juga. Bi, saya titip dik Nirmala ya?” ada senyum di sudut bibirnya walau wajahnya tak berani terangkat.

Faza dan Rasyid keluar dan berdiri di pinggir jalan menunggu angkot. Lama tidak datang. Mobil merah arah ke pasar muncul dari seberang, Rasyid mohon diri berpisah katanya hendak membeli baju koko untuk walimah besok. Faza mengangguk dan senyumnya mengembang.

Mobil kearah kampus belum muncul juga seperginya Rasyid. Kecemasan kini tergambar jelas dari wajahnya. Jam segini memang mobil jarang yang jalan karena mereka tahu jam-jam segini sedang sepi-sepinya. Faza tidak tahan lagi, dia menguatkan kakinya. Siap, dia berlari melewati gang dan lewat jalan menerobos di pinggir irigasi.

          

Ada apa denganmu Fidz? Perasaanku sangat tidak menentu. Seolah engkau memanggil-manggilku sejak seminggu yang lalu. Ada apa? Pikirannya tak menentu, yang ada di kepalanya hanya segera sampai di kontrakan.

Faza teringat percakapan telpon itu kembali dengan Shafwan.

”Ada apa Shaf?”

”Cepatlah pulang Kak! Cepatlah pulang! Dia hanya memanggil asma Allah dan namamu Kak! Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,” nada suara itu begitu cepat, tak teratur dan ada kepanikan yang terasakan.

”Siapa yang kamu maksud Shaf?”

”Hafidz berteriak-teriak Kak! Tubuhnya bagaikan mayat. Cepatlah pulang!”

”Apa!” suara Faza meninggi.

”Cepatlah pulang Kak. Saya tidak tahu harus berbuat apa!”

”Baiklah, kamu tenangkan diri dulu. Aku segera kesana. Tunggu aku Shaf,”

Kakinya semakin kuat menghantam bumi. Semakin cepat tak beraturan. Ada apa lagi ini ya Allah? Akankah Kau beri lagi ujian untuknya? Allah, aku yakin dia akan tegar seperti yang Engkau inginkan..., dia akan tegar ya Allah. Ada bening air yang menetes di pipinya.

          

”Ada apa dengannya?” Shafwan panik membantu menyambut tubuh yang menggigil itu. Ketika dia sedang membaca buku tadi, tiba-tiba datang dua orang berpeci putih mengetuk pintu. Dan mereka berdua membopong tubuh Hafidz yang pucat, menggigil dan ketakutan. Bibirnya terus-menerus bergetar dan hanya asma Allah yang keluar dari kedua bibirnya yang membiru.

”Kami juga tidak tahu Mas apa yang terjadi dengan Hafidz,” lelaki yang memakai koko warna hitam itu meletakkan Hafidz di kamar, tubuhnya menggigil. Shafwan mengambil selimut dan membungkus Hafidz yang memakai celana hitam dan baju lengan panjang biru,  bukan baju miliknya.

 Mereka keluar di ruang tamu.

”Beberapa hari yang lalu saya sedang mencari buku di pasar bersama temanku ini, Samsul. Saat saya hendak masuk ke toko buku, saya melihat orang-orang mengerumuni seseorang. Mereka berkata pelan, ’Orang gila,’ saya penasaran dan melihatnya. Saya mengenali wajahnya karena kebetulan kami pernah satu kamar saat lomba tahfidz di Jawa Timur dua tahun yang lalu. Walau saya sedikit ragu, namun saya melihat tanda di keningnya yang seolah bercahaya dan bibirnya selalu berujar asma Allah.

Saya bingung hendak melakukan apa saat itu, lalu membawanya ke pesantren Darul Fatah dimana kami nyantri disana. Dia selalu berteriak-teriak ketakutan dan kami membawanya ke Rumah Sakit. Rumah Sakit tidak tahu bagaimana merawatnya, mereka menganjurkan untuk dibawa ke Rumah Sakit Jiwa. Saat itu, saya teringat sesuatu aku pernah mencatat alamat rumahnya maka kami mengantarkannya kesini. Mungkin disinilah dia dapat menenangkan dirinya. Dan dia..., tidak pernah mau makan sehingga kami memaksanya memakai infus dan beberapa kali disuntik dengan penenang.”

Shafwan meneteskan airmata, ”Fidz..., lalu..., bagaimana kalian menemukannya. Maksud saya bagaimana keadaannya saat dia berada di jalan?”

”Keadaannya sungguh seperti orang gila. Dia hanya memakai celana pendek sebatas lututnya. Sejak kapan Hafidz meninggalkan rumah ini?”

”Sejak sepuluh hari yang lalu kira-kira.”

”Berarti dia tidak makan selama itu?” Dia mampu bertahan selama itu tanpa makan dan minum? Sungguh hanya kebesaran Allah-lah yang mampu melakukan segala hal.

Setelah berbincang-bincang lama. Mereka pamit dan memberi nomor telepon untuk segera menghubungi perkembangan-perkembangan pada diri Hafidz.

”Maafkan kami tidak bisa membantu banyak, sebagai seorang muslim kami merasa malu. Kami serahkan Hafidz kepada anda, kalian pasti lebih tahu bagaimana menyembuhkannya. Kami harus segera kembali ke Karang.”

”Subhanallah, jiwa pengorbanan kalian sudah teramat cukup bagi kami. Allah pasti akan membalasnya dengan yang lebih baik. Dan juga bagi Hafidz sendiri, dia telah lama hidup sebatang kara. Jika dia sadar, dia akan membalas semua kebaikan antum semua.”

”Assalamu’alaikum.”

”Wa’alaikumsalam warahmatullah, jazakallah.” Shafwan mengantarkan mereka ke gerbang hingga mobil pick up itu menghilang di tikungan jalan.

Saat itulah terdengar suara teriakan dari dalam kontrakan. Shafwan berlari masuk menuju kamar. Hafidz sedang menjambak rambutnya, mengeram-eram kemudian menangis seperti anak kecil. Shafwan kebingungan hendak berbuat apa, saat tangannya mendekat untuk menenangkan tangan di tepis dengan kuat. Shafwan terlempar dan terbanting kearah tembok.

Hafidz..., baru kali ini kau menyakitiku. Ada apa denganmu Fidz?

Shafwan semakin bingung lalu mengambil Hp dan menghubungi satu nomor. Kak Faza. Tersambung. Shafwan mematikan Hpnya, dia sungguh bingung hendak berbuat apa maka dia menutup pintu itu dari luar. Shafwan terduduk jatuh dari berdirinya bersandar pintu. Allah..., kembalikan Hafidz seperti semula. Aku ingin melihat wajahnya yang bersinar ya Allah, aku ingin dia menyimak hafalanku lagi ya Allah. Aku tak kuat melihat penderitaannya ya Allah. Shafwan mengusap airmatanya.

Tidak ada jalan lain. Shafwan mengambil tas kecil yang tergeletak di ruang tamu. Fahmi yang mengantar Hafidz tadi meninggalkan beberapa suntikan penenang seandainya Hafidz berontak. Tangan Shafwan gemetaran, menarik pedal penarik dan pendorong jarum, menyerap air di dalam botol kecil. Tangannya teramat gemetaran hingga botol kecil itu jatuh dan pecah. Shafwan mengambil botol kecil yang baru, dimantapkannya. Maafkan aku Fidz, ini pertama kalinya aku menyakitimu dan semoga ini yang terakhir. Ampuni hambaMu ya Allah.

Teriakan-teriakan Hafidz semakin terdengar keras. Shafwan meneteskan airmata entah yang keberapa kali. Diusapnya cepat. Langkahnya pelan membuka kunci pintu. Mengucap salam. Hafidz terlihat kelelahan dan duduk di pojok kamar, mengambil bantal di sisinya dan melemparkannya kepada Shafwan. Shafwan menepisnya.

Shafwan semakin mendekati Hafidz, mata biru dan wajahnya yang semakin pucat, bibirnya bergetar bergidik membuat Shafwan menangis. Maafkan aku Fidz. Saat jarum suntik hampir bergerak mendekat. Suara salam dan langkah kaki cepat memasuki kamar itu.

”Apa yang akan kau lakukan Shaf?”

”Dia terus-menerus berteriak Kak. Aku akan memberi penenang padanya Kak,” Shafwan menoleh kearah Faza. Airmatanya memburai.

”Sungguh..., jangan lakukan itu Shaf. Apakah kau tega menyakitinya? Jangan lakukan itu Shaf. Sungguh..., kita akan merasakan sakitnya juga. Sungguh,” Faza melihat Hafidz yang semakin ceking dan raut wajah ketakutan itu.

”Kita sembuhkan dia dengan cinta kita, cinta kita karena Allah,” Faza berurai airmata, didekatinya tubuh Hafidz yang menggigil ketakutan. Faza jongkok di hadapan Hafidz, ”Kau tahu Shaf?” Faza menengok ke belakang sejenak kearah Shafwan yang masih berdiri di belakangnya, ”Seandainya dia dalam keadaan sadar, dia tidak akan pernah mau memakai penenang karena dia tidak ingin ada bagian haram dalam tubuhnya. Kau ingat itu bukan?”

Faza kembali menatap tubuh kurus itu, matanya yang kehitaman dan biru. Bibir itu mendesah asma Allah dan terkadang namanya. Airmatanya tak tertahankan menetes satu-persatu jatuh.

”Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah...... kak Faza...,”

Faza menggerakkan jemarinya pelan ke depan, mendekati wajah Hafidz. Tinggal seperempat meter hendak mengusap pipi Hafidz. Dan...

”Plak!” sebuah pukulan lemah mendahului mendarat di pipi Faza. Mata Faza semakin berkaca. Fidz, ada apa denganmu? Faza tak memedulikan lagi apapun di sekelilingnya. Didekapnya tubuh itu, Hafidz berontak tapi tenaganya sudah terlalu lemah.

”Hafidz, ingatlah Allah..., ingatlah Allah..., aku kak Faza, aku kakakmu Fidz,” Faza berurai airmata, ”Aku Kakakmu..., aku mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu karena Allah Fidz. Ingatlah Allah.”

Hening. Beberapa menit.

Hafidz mulai tenang. Bibirnya semakin pelan berujar lirih, ”Allah..., Allah..., Allaaaaaah,” suara itu akhirnya terhenti. Hafidz terlelap.

Faza mengangkat tubuh itu ke ranjang dan membaringkannya. Faza betah menatap wajah yang kini bagaikan mayat terbaring, wajah ketakutan namun ada cahaya yang membuat wajah itu tetap betah untuk dipandang berlama-lama.

Shafwan masih berdiri, jarum suntik di tangannya terjatuh ke lantai. Airmatanya tak mampu bertahan. Cinta?

Faza ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dipejamkan kedua kelopak matanya, ada bening yang menetes tepat di wajah Hafidz. Aku akan menjagamu, tak akan kubiarkan lagi ada orang yang berbuat buruk padamu. Ini semua kesalahanku Fidz, maafkan aku. Faza berdiri dan berbalik menuju pintu, anggukan kepalanya pelan kearah Shafwan. Aku ingin bicara.

Mereka keluar dari kamar. Baitul’ilmi seolah sunyi.

          

”Assalamu’alaikum,” Lutfi membuka pintu.

Faza dan Shafwan menjawabnya. Mereka sedang duduk di ruangan tamu beralas tikar, ”Wa’alaikumsalam warahmatullah.”

Lutfi melihat mereka sejenak, terutama Faza. Pandangan itu agak lama berlabuh. Dan..., pintu itu ditutup dengan asal hingga membuat bunyi agak keras, ”Brak!” Lutfi berjalan hendak masuk ke kamar.

Faza merasakan ada yang ganjil. Ada apa lagi ya Allah? 

”Lut..., duduklah sebentar. Ada yang ingin kubicarakan, banyak yang terjadi disini dan kau juga tidak kelihatan beberapa hari ini. Duduklah sebentar.”

Lutfi diam di pintu kamarnya.

”Banyak yang terjadi sepeninggalmu. Kita harus menyelesaikan ini semua Lut,” Faza berdiri dan berjalan mendekati Lutfi. Allah, kuatkanlah hambaMu. Tegarkanlah hambaMu, teguhkan pendirianku.

Faza menggerakkan tangan kanannya hendak menyentuh punggung sahabatnya itu. Pelan dan mendarat lembut di pundak kiri Lutfi.

”Pendusta!” Lutfi berbalik dan menepis kuat tangan Faza. Matanya memerah, urat-uratnya nampak mengerikan. Dan..., satu pukulan keras mendarat tepat di pipi Faza, ”Buuk!”

Pukulan kuat. Tanpa pengantar. 

Faza terjerembab kuat ke belakang membentur dinding. Punggungnya menghantam tembok. Shafwan benar-benar tak  menyangkanya, dia segera berlari dan membantu mengangkat tubuh Faza.

”Kau gila Lutfi! Apa salah kak Faza. Kenapa kau ini!” Shafwan sudah kehilangan rasa hormatnya, dia menuding dengan telunjuknya, ”Kau lupa dengan semua yang telah kak Faza lakukan untukmu!”

”Dengarkan aku dulu Lut, kau belum tahu secara jelas. Duduklah,” Faza memegangi pipinya yang merah. Bukan pipinya yang sakit melainkan hatinya, ”Kumohon dengarlah semuanya, dan kau boleh melakukan apa saja padaku.”

Nafas Lutfi masih naik turun, matanya masih terbelalak.

”Duduklah, kumohon, akan kujelaskan kepadanya,” suara Faza memelan.

”Jangan dengarkan pembual itu! Bagaimana mungkin engkau melamar wanita yang dicintai sahabatmu sendiri setelah engkau menyemangatinya untuk melamarnya! Aku sudah muak tinggal di tempat ini. Aku tidak mau serumah dengan orang yang menusuk saudaranya dari belakang,” Zilul datang kapan. Dia telah berdiri di depan pintu, ”Beberapa hari yang lalu, aku sudah mengemasi seluruh barangku. Mulai saat ini kuumumkan, aku tidak punya lagi teman sepertimu Faz!” Zilul melangkah pergi meninggalkan Baitul’ilmi.

”Zilulah! Kumohon dengarkan juga penjelasanku. Ada apa semua ini? Aku sungguh tidak bermaksud buruk. Sungguh..., dengarkanlah aku saudaraku,” Faza tak kuat lagi menahan beban ini. Hatinya terasa perih.

”Pengkhianat! Mulutnya manis tapi kelakuanmu seperti iblis! Dengarlah mulai hari ini kita tidak punya hubungan lagi! Aku akan pergi!” Lutfi menghentakkan kaki kanannya ke lantai menuju pintu keluar dan menarik gagang pintu itu dari luar. Dia keluar, matanya teramat merah. Namun..., airmatanya menetes. Entah puas atau menyesal?

”Kumohon..., dengarkanlah penjelasanku,” Faza terisak. Dikuatkannya tubuh itu berdiri, Shafwan sigap membantunya berdiri.

”Allah..., kuatkanlah hambaMu. Kuatkanlah hambaMu,” Faza membiarkan airmatanya berurai, tak terbendung lagi. Semesta, gunung, bintang-bintang, langit seolah runtuh saat itu juga. Hatinya perih tercabik-cabik. Lengkap sudah segala ujian dirasakannya.

”Kak..., ingatlah Allah. Cukuplah Allah sebagai sebaik-baik penolong dan pelindung kita,” Shafwan belum berani menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasakan apa yang dirasakan Faza.

”Shaf...,” Faza memegang pundak Shafwan, matanya yang berair menatap Shafwan lekat-lekat. Shafwan membalas tatapan itu, airmatanya juga jatuh.

”Apakah kau percaya padaku bahwa aku adalah saudaramu yang baik?”

”Kak, aku mencintaimu karena Allah. Sungguh, aku percaya padamu. Ini hanya salah paham saja.”

Allah..., ini sudah cukup bagiku. Kau tidak menghilangkan seluruh kepercayaan saudara-saudaraku. Allah..., itulah keagunganMu, aku ikhlas sebagai bukti penghambaanku. Allah..., tenangkanlah, kuatkanlah, tegarkanlah, kokohkanlah, tinggikan derajatku jika Kau menghendakinya.

Mereka berangkulan. Awan berbisik kepada seluruh penciptaan, bahwa jika Allah mencintai seorang hamba maka akan diberinya ujian agar jelas keimanan dan ketegarannya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!