Warna Pelangi Cinta
Amanah Cinta Tersembunyi
Kebahagiaan dalam hatinya seolah belum mau berhenti berdendang. Allah seakan memberinya kemulyaan-kemulyaan dan anugerah yang mengaliri setiap dahaga nestapanya. Segenap kesyukuran dari setiap sel darahnya menyenandungkan asma Allah. Dunia seolah baginya tak lagi indah, tapi belaian cahaya Allah tampak jelas seolah berada di depan setiap jalan yang dilaluinya. Bergerak kemanapun, seolah-olah terisi cahaya.
Cahaya yang seolah menyinari setiap langkah perjalanan, menjadi obor dalam kegelapan yang menghinggapi. Segala ujian dalam naskah hidupnya semenjak kehilangan ibu dan pamannya yang mengajarinya mengenal huruf-huruf Al-Quran telah larut dalam cahayaNya, hingga semua seolah tak berarti karena karuniaNya yang tak terhitung dan tak sebanding dengan ujian yang menimpanya selama ini. Cahaya yang selalu menemaninya meniti hari-hari berat mengemban amanah dari almarhum ayahnya. Tak pernah sekalipun rasanya, cahaya itu meninggalkannya. Dia terus bersinar menerangi hatinya, menerangi setiap langkah yang ditempuhnya hingga menemukan peta kehidupannya hingga saat ini.
Satu hal yang dipercayainya. Selama manusia menyibukkan dirinya dengan ketaatan kepadaNya, Allah pasti tak akan pernah menyia-nyiakan setiap pengorbanannya. Hafidz teringat kata-kata mutiara indah yang diungkapkan sayidina ‘Utsman bin ‘Affan, kata-kata itu meresap menjalarinya lembut.
“Aku merasa heran terhadap orang yang mengetahui bahwa dunia ini akan rusak, tetapi dia tetap begitu mencintainya. Aku heran terhadap orang yang mengetahui bahwa segala sesuatu itu telah ditentukan Allah, tetapi ia merasa sedih terhadap apa yang luput darinya.”
Merenungkan kata-kata agung itu adalah sebuah ketenangan yang tidak bisa digantikan dengan emas sebanyak gunung atau memenuhi bumi. Cukuplah Allah sebagai pelindung dan penolong, cukuplan Allah dalam hati manusia, cukuplah semua kenikmatan jika nilai ibadah telah menjadi obat setiap luka.
Satu hal yang masih meresahkannya kini, yang tak pernah lupa dipanjatkannya dalam shalat wajib dan sunnahnya. Sebuah amanah yang ingin selesaikannya selain menghafalkan Al-Quran. Menemukan Zulfa dan menjaganya. Rasa bersalahnya teramat besar kepada gadis itu, kebahagiaan gadis itu terengut juga karena amanah yang harus diembannya. Satu harapannya jika Allah memperkenankannya, menjaga Zulfa hingga akhir hidupnya. Hatinya hanya ingin membahagiakan wanita yang telah terengut kebahagiaannya gara-gara keinginannya memenuhi amanah almarhum Ayahnya. Airmatanya tumpah, sebelum Kau menutup usiaku ijinkanlah aku membuatnya tersenyum seperti ketika ceria kecilnya dulu ya Allah.
Kebahagiaan itu datang lagi pagi tadi, walau kebahagiaan bukan karena bertemunya dengan Zulfa melainkan dia teringat tadi pagi sewaktu tilawah di kamarnya. Lutfi masuk dan duduk di sebelahnya, menunggunya hingga di akhir ayat.
“Ada apa Kak?”
“Ada dua orang tamu, mencarimu. Mereka sudah kuminta masuk.”
“Terima kasih Kak, aku akan segera menemui mereka,” Lutfi mengangguk dan meninggalkannya keluar. Hafidz keluar kamar dan menuju ruang tamu di depan karena di ruang tamu dalam sangat sempit maka penghuni Thalabul’ilmi membuat ruang tamunya di teras yang luas, dihias beberapa bunga sehingga terasa teduh dan sejuk. Disana nampak dua orang duduk memakai jas dan berkopiah hitam. Mereka tersenyum melihat Hafidz keluar menyalami mereka.
“Ada perlu apa mencari saya?” Hafidz melihat di meja. Ternyata telah ada tiga teh manis dan kue dalam piring. Hafidz bersyukur pada teman-temannya yang walaupun bukan tamu yang mencarinya namun selalu melayani tamu dengan baik, kadang ketika hanya ada persediaan kue sedikit, berarti mereka rela tidak makan untuk melayani tamu sebaik-baiknya.
“Begini Ustadz Hafidz, kita adalah utusan dari Syaikh Wahab untuk menyampaikan undangan beliau kepada anda untuk datang ke penginapannya di Tanjung Karang. Kebetulan beliau ada acara disana, dan sekalian beliau ingin mendengar kelanjutan hafalan Ustadz,” lelaki yang berbaju dalam biru dan agak kurus tampak hati-hati dalam berujar.
“Jadi, apakah Ustadz bersedia ikut bersama kami?” lelaki yang agak gemuk dan berbaju dalam kotak-kotak seperti tidak sabar menyampaikan maksud kedatangan mereka.
Subhanallah. Kemulyaan apa lagi ini ya Allah. Syeikh Wahab, imam masjid istiglal Jakarta yang setahun yang lalu menjadi salah satu juri ketika Hafidz mengikuti lomba nasional Hafalan Quran. Walau Hafidz mendapatkan juara kedua, namun Syeikh Wahab sempat mendengarkan ceritanya tentang usahanya menghafal Al-Quran tanpa mondok di pesantren, selain kerja dan sekolah. Syaikh Wahab sangat kagum padanya. Dan kini, beliau ingin mendengarkan hafalannya?
“Insyaallah saya bersedia. Kapan beliau akan mendengarkan hafalanku?”
“Insyallah mulai nanti malam Ustadz,” lelaki kurus tampak lebih tenang dan santai ketimbang yang satunya.
“Jika Allah menghendaki, aku akan ke Karang nanti ba’da dzuhur karena aku juga harus pamitan dengan teman-teman saya dulu.”
“Tidak cukupkah pamitan pagi ini, dan kami akan menunggu anda,” lelaki gemuk kelihatannya mendahului si baju dalam biru yang ingin berujar. Terlihat muka agak tidak senang dari lelaki kurus itu.
“Saya insyaallah kesana, tinggal sebutkan saja penginapan mana. Saya akan naik mobil umum saja,” Hafidz tersenyum lembut.
“Tidak usah Ustadz, kami diminta Syaikh Wahab untuk menjaga anda. Baiklah, kami akan kesini lagi nanti ba’da dzuhur dan kami harap anda sudah bersiap-siap.”
“Baiklah kalau begitu, semoga saya tidak merepotkan kalian. Oya, silakan diminum dulu,” Hafidz memulai meminum terlebih dahulu.
“Tidak apa-apa Ustadz. Terima kasih juga air minumnya,” si baju dalam biru meminum seteguk, si gemuk tidak ikut minum dan seolah matanya memberi kode pada si kurus melalui matanya, “Baiklah Ustadz, kami pamit sekarang,” si lelaki kurus menyalami Hafidz dan si gendut mengikutinya. Mereka lalu menaiki mobil xenia silver, saat itulah Faza kebetulan pulang dari masjid Babussalam.
Pagi itu, Hafidz pamitan dengan seluruh temannya dan menceritakan tentang kedua tamunya. Semua orang di Baitul’ilmi memberi dukungan penuh, namun dia jadi teringat pesan Faza, “Jangan sampai ketinggian ilmu yang ada padamu membuatmu menjadi sombong adikku. Semakin tinggi iman seseorang hamba, maka Allah akan menguji hambaNya sesuai kadang ketinggian imannya. Berlakulah wara’ dimanappun berada, jagalah izzahmu, dan jagalah hatimu. Ini pesan kami padamu,” seolah dia mewakili seluruh penghuni Baitul’ilmi.
Hafidz tersadar dari lamunannya, jemputan untuknya belum datang juga. Hafidz menunggu sejak selesai Dzuhur di masjid tadi, pukul 01.00. Hafidz membaca hafalannya sambil duduk di depan kontrakan. Di rumah hanya tinggal Faza yang baru saja pulang dari kampus dan Zilul yang sibuk di depan komputernya. Rasyid belum kembali sejak pagi tadi, Shafwan masih melihat nilai hasil mid semester di STAIN, sedangkan Lutfi tidak tahu pergi kemana.
Faza keluar sambil mengenakan kacamatanya, Hafidz paham Faza akan belanja di pasar mencari bahan-bahan untuk jualan nanti malam. Bertepatan dengan itu, mobil xenia silver tadi pagi datang lagi, parkir di depan gerbang. Dua orang turun dan langsung masuk ke pekarangan kontrakan, Hafidz menyambutnya dengan senyuman.
“Assalamu’alaikum,” kedua orang itu hampir bersamaan.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” Hafidz menyalami mereka diikuti Faza.
“Sudah siap Ustadz?” si lelaki yang gendut tampak lebih ramah daripada tadi pagi, namun senyumnya seolah sedikit hambar, Mungkin dia diingatkan oleh temannya untuk sopan kepada Hafidz.
“Insyaallah siap,” Hafidz menoleh sejenak kearah Faza, tatapan cinta yang dalam dan ada bening air yang membasah di matanya, “Kak, aku pamit, mungkin untuk beberapa hari. Tolong pamitkan kepada yang lain,” pandangan itu agak lama menatap Faza yang langsung merangkulnya.
“Hati-hati adikku, yakinlah Allah selalu melindungimu. Dimanapun kau berada, yakinlah padaNya, mintalah pertolongan padaNya.”
“Iya Kak, Insyaallah,” Hafidz melepaskan pelukannya dan memakai tas punggungnya. Hafidz mengikuti langkah kedua orang berpeci itu ke mobil namun pandangannya tak menoleh sedikitpun ke depan, dia terus menatap Faza. Airmatanya tumpah, entah ada hubungan apa di hati mereka.
“Silakan,” si lelaki gendut membukakan pintu belakang, Hafidz masuk sambil mengusap airmatanya. Bismillah, Allah lindungilah hambaMu yang lemah ini. Kupasrahkan jiwa ragaku kepadaMu, seluruh milikku adalah milikMu. Aku tunduk atas segala ketentuanMu Allah. Maka, cintai dan ridhailah hambaMu ini.
Saat mobil distarter, Faza tiba-tiba berlari mendekati mobil itu, “Tunggu sebentar!” si lelaki berbaju dalam biru dan kurus yang memegang stir mobil sedikit kaget, “Buka pintu sebentar!” agak lama, namun si gemuk segera membuka pintu pelan. Pintu di belakang terbuka, Faza dapat melihat Hafidz yang membasah bening.
“Hafidz, Allah mencintaimu dan aku mencintaimu karena Allah. Ingatlah untuk selalu tawakkal kepadaNya,” dan Hafidz memeluk Faza sekali lagi.
“Terima kasih Kak.”
Faza melepaskan pelukannya dan meminta kaca depan mobil dibuka. Faza melihat dua orang yang duduk di depan itu. Mereka sedikit grogi dilihat Faza agak lama, “Komohon pada kalian jaga adikku baik-baik. Jika ada sesuatu menimpanya, aku akan menuntut pertanggung jawaban kalian.”
“Ba..Baiklah, kami akan menjaganya baik-baik,” si gendut sedikit gemetar melihat sorot mata yang tajam itu.
Kaca mobil itu tertutup dan mobil itu melaju, Faza agak lama berdiri hingga mobil itu menghilang di tikungan. Hafidz tak pernah melepas pandangannya ke belakang, dilihatnya Faza mengusap airmatanya hingga mobil itu berbelok. Allah, jagalah dia, lindungilah dia, berikanlah cahayaMu padanya. Tak kutemukan orang yang benar-benar mencintaiku sepertinya. Allah, pertemukanlah kami kelak di surgaMu, amiin.
“Anda sungguh mempunyai seorang kakak yang sangat baik,” lelaki kurus berbaju dalam biru melihat dari spion di atasnya, melihat Hafidz yang mengusap airmatanya.
“Dia bukan kakak kandung saya.”
“Apa!” si lelaki gendut tiba-tiba kaget dan menengok ke belakang, “Lalu..., dia ada hubungan apa dengan Ustadz?”
“Dia adalah saudara seiman saja, dia yang selalu menjagaku dan membantuku. Dialah satu-satunya orang yang kuanggap sebagai keluargaku.”
Akhirnya mereka diam dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Saat mobil memasuki wilayah Tegineneng, tiba-tiba ban mobil kempes, mobil sedikit oleng. Si lelaki kurus berbaju biru menghentikan mobil di pinggir jalan.
Dua orang di depan Hafidz turun dan memeriksa, si gendut menendang mobil agak kuat. Hafidz kaget dan ikut keluar, ban bocor tertancap paku.
“Apakah tidak ada ban serep?” tanya Hafidz
Mereka berdua diam agak lama.
Akhirnya si kurus berujar, “Kami lupa mempersiapkannya tadi Ustadz.”
“Bagaimana kalau kita jalan saja dan mobil tetapi jalan sampai ke bengkel di depan,” Hafidz menawarkan, mereka berdua mengangguk.
“Aku belum tahu nama kalian semua, tapi kalian sudah tahu namaku,” Hafidz mencoba menjalin keakraban sambil berjalan.
“Namaku Zainuri, panggil saja Nuri dan temanku itu Toni,” si lelaki yang kurus berbaju dalam biru memperkenalkan diri, dia sedikit gerah dan melepas pecinya dan ditaruh di dekat stir. Keringat membasah baju mereka bertiga, nampak pula di wajah-wajah mereka. Tambal ban telah kelihatan dan mobil berhenti disana.
Sambil menunggu ban mobil di tambal mereka duduk di kursi panjang yang disediakan di bengkel itu. Hafidz memerhatikan mereka berdua yang dari tadi masih terdiam, maka dia berinisiatif membeli dua botol air mineral dan satu gelas kecil. Hafidz menyodorkan kepada mereka satu botol-satu botol. Hafidz meminum satu gelas air meneralnya. Bismillah. Allah..., alangkah nikmat karuniaMu. Sungguh, tidak ada lagi yang perlu hamba keluhkan dan hamba akan berusaha untuk tidak berputus asa dari rahmatMu yang luas. Allah..., jagalah hambaMu ini, jagalah ya Allah. Hamba percaya akan segala ketentuanMu.
“Terimakasih Ustadz,” Toni memaksakan diri tersenyum.
Hafidz menyambutnya dengan senyumannya yang teduh, “Sesama muslim harus saling menanggung. Itulah pesan Rasulullah SAW dalam haditsnya.”
“Bagaimana bunyinya Ustadz?” wajah si Toni mulai akrab dan tidak cemberut.
Hafidz tersenyum lagi, “Rasulullah saw bersabda, ‘Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda; Barang siapa memberi makan kepada saudara-saudaranya yang muslim makanan kesukaannya sehingga keinginan untuk makannya terpenuhi. Maka Allah mengharamkan dia masuk neraka. ’ dan dalam hadits yang lain, ‘Barang siapa memberi makan berupa roti kepada saudaranya yang bisa mengenyangkan perutnya dan memberinya minum sehingga hilang dahaganya, maka ia jauh dari neraka sejauh tujuh parit, sementara setiap parit lebarnya sejauh perjalanan 700 tahun.’” (HR. An Nasai).
“Subhanallah, sehebat itukah Ustadz walau kita hanya memberi minuman?”
“Insyaallah. Itulah kenapa setiap muslim harus berebut melakukan kebaikan kepada sesamanya. Jika kita melihat saudara kita kesusahan, kita harus segera memberi bantuan. Kita harus selalu duluan menolong, karena Allah menjadi saksi atas setiap perbuatan kita.” Toni mengangguk-angguk.
Mata Nuri awas menatapnya, kemudian Toni mengalihkan pandangannya kearah petugas bengkel yang mencopoti ban itu dan mencari lubang yang bocor. Toni tiba-tiba tersentuh hatinya, dia menatap langit yang cerah bersinar, tiba-tiba dia sangat merindukan Allah. Tuhan..., apakah aku tega menyakiti orang sebaik ini? Kenapa tiba-tiba hatiku tersentuh dengan kata-katanya, dengan wajahnya yang bersinar? Allah..., apakah Kau mau memaafkan semua dosa-dosaku yang begitu banyak?
“Kamu menangis?” Hafidz mengeluarkan sapu tangannya dan memberikannya kepada Toni.
“Apakah Allah akan mengampuni dosa-dosaku yang begitu banyak Tadz? Karena dosaku begitu banyak.”
Hafidz sedikit heran mendengar ujaran itu, bukankah mereka diutus oleh Syaikh Wahab? Kenapa Toni mengatakan hal seperti itu?
“Allah pasti akan mengampuni dosa-dosa hambaNya walau sebesar gunung dan memenuhi langit, asalkan dia bertobat dan tak mengulangi dosa-dosanya kembali. ‘Sesungguhnya seorang hamba itu jika mau mengakui dosa yang dikerjakannya, kemudia bertobat kepada Allah, niscaya Allah mengampuni dosanya.’ Dalam hadits ini disebutkan niscaya Allah mengampuni dosanya, berarti itu pasti. Asalkan kita bertobat dan mengakui dosa kita dengan sebelumnya meminta maaf kepada orang-orang yang kita sakiti dan mengakui dosa dan meminta maaf kepada orang tersebut.”
“Ayo berangkat! Ban sudah ditembel,” Nuri sedikit keras memukul Toni yang sedang mendengarkan ujaran Hafidz. Nuri membayar upah tambal, dan menyetir mobil kembali. Xenia silver itu melaju kembali. Sedari masuk Toni terus-menerus menghayati semua perkataan Hafidz, dilihatnya ke belakang sejenak. Hafidz sedang terpejam matanya, namun bibirnya komat-kamit. Sungguh mulia hatinya, dalam pejamnya bibirnya tak hentinya mengagungkan Rabbnya. Apakah aku tega menyakiti orang sebaik dia?
Xenia silver itu berhenti tiba-tiba di Natar. Jalanan macet total. Kendaraan sejenis mobil hanya bisa merangkak pelan-pelan, sebentar-sebentar memasang gigi satu dan mengerem kembali. Ada kemacetan yang sangat panjang. Toni berinisiatif keluar dan menanyakan pada seorang lelaki yang berkendaraan motor dari jalur kanan.
Toni kembali ke mobil.
“Ada apa di depan?” Nuri tak sabar bertanya sambil menoleh ke samping kirinya.
“Kecelakaan beruntun, mobil truk dan sedang lalu diikuti di belakangnya tiga motor saling menabrak karena mengerem mendadak.”
“Ada-ada saja!” Nuri sedikit menggerutu.
“Ada yang terluka dalam kecelakaan itu Toni?” Hafidz menatap kepala Toni dari belakang. Matanya yang teduh terlihat sangat cemas.
Toni menoleh dan melihat wajah cemas itu, “Satu orang pengendara motor meninggal di tempat karena masuk di bawah mobil, yang lain hanya luka-luka. Seluruh pengendara mobil selamat, kecuali hanya luka-luka ringan.”
“Innalillahi wa inailaihi raji’un. Apakah kita perlu turun dan membantu mengevakuasi korban?”
“Tidak perlu Tadz, tadi sudah selesai. Hanya tinggal memindahkan mobil truk yang macet saja. Sebentar lagi juga jalanan akan lancar kembali,” Toni menjelaskan sambil matanya melihat kecemasan Hafidz, “Boleh saya bertanya sesuatu Tadz?”
“Iya silakan, tapi kalau bisa jangan panggil saya dengan Ustadz. Panggil saja Hafidz, itu lebih baik.”
Toni tersenyum, “Kenapa Ustadz Hafidz begitu perhatian pada orang yang kesusahan walau mereka bukan apa-apa kita?”
“Rasulullah saw bersabda, ‘Seorang mukmin dan seorang mukmin lainnya bak sebuah bangunan yang saling mengokohkan,’ ujar Rasul sambil mengepalkan jemarinya.’ Dan inilah tanda-tanda akhir zaman, dimana kesusahan seorang saudara tidak lagi diacuhkannya, kelaparan saudaranya tidak lagi digubrisnya. Manusia saat ini bisa makan lezat dan nikmat namun di sampingnya ada saudaranya yang kelaparan. Inilah Islam yang mulai ditinggalkan oleh para penganutnya.
Pada dasarnya seorang yang mengaku muslim, jika melihat saudaranya bersin saja kita harus dan wajib menjawabnya apabila dia berucap Alhamdulillah. Kenapa? Kita wajib menjawabnya dengan Yarhakumullah? Karena Allah ingin menanamkan rasa berbagi diantara setiap muslim. Bersin saja, kita harus merasakan sakitnya saudara kita, apalagi musibah-musibah besar yang menimpanya. Itulah ketinggian Islam. Orang yang meringankan beban saudaranya di dunia, niscaya Allah akan mudahkan urusannya di akhirat. Dan, orang yang menutup aib saudaranya, pasti Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. ”
“Jadi..., karena itukah juga saudara anda di kontrakan begitu menyayangi anda?”
“Maksudmu kak Faza yang di kontrakan saya tadi?”
Toni mengangguk.
“Mungkin juga seperti itu, Wallahua’lam, hanya Allah yang tahu. Yang jelas setiap orang beriman akan merasakan kesusahan dan kesakitan saudaranya yang lain. Mereka ikut merasakan apa yang saudaranya rasakan.”
“Tapi..., bagaimana kalau yang kesusahan itu bukan beragama Islam Tadz? Maaf saya tak bisa memanggil nama anda karena saya sangat menghormati anda kini.”
Hafidz mengembuskan nafasnya pelan, “Begitupun dengan orang yang agamanya bukan Islam, karena Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Agama rahmat bagi seluruh alam semesta, kepada seluruh makhluk Allah. Namun kita harus mendahulukan saudara seiman, tapi tak boleh berlaku tidak adil jika berurusan dalam peradilan yang dilakukan seorang muslim dan non muslim. Keadilan harus tetap ditegakkan sesuai semestinya.”
“Alangkah mulianya jika Islam dijalankan oleh para penganutnya?”
“Insyaallah, karena Allah yang menciptakan seluruh makhluk dan dialah yang tahu hukum apa yang paling tepat mereka jalankan. Dan pada dasarnya hati nurani tak bisa berbohong, dia fitrah suci mengikuti kebenaran.”
Jalanan kembali lancar, semuanya terdiam. Toni memikirkan kata-kata Hafidz dari awal hingga akhir. Satu yang teramat membekas dalam hati dan pikirannya, dan kini seolah terekam dan menggema berulang-ulang. Pada dasarnya hati nurani tak bisa berbohong, dia fitrah suci mengikuti kebenaran.
Mobil xenia silver itu berhenti di hotel Marcopolo.
“Ayo Ustadz,” Nuri membukakan pintu belakang mobil.
Hafidz turun dari mobil, “Apakah Syaikh Wahab menginap disini?” Hafidz sedikit penasaran.
“Iya Tadz, beliau sedang diundang mengisi kajian spiritual di sebuah Perseroan Terbatas di dekat sini. Kami adalah orang-orang di PT yang sedang mendapat kajian itu dan beliau meminta kami untuk menjemput Ustadz. Makanya kami terlihat tidak seperti santri Tadz,” Nuri menjelaskan, “Mari saya antarkan ke kamar yang disediakan untuk anda, nanti Ustadz membersihkan diri dulu, Insyaallah Syaikh Wahab pulang kesini ba’da maghrib,” dan Hafidz hanya mengangguk lalu mengikuti langkah mereka.
Nuri mengambil kunci di tempat penitipan kunci, ternyata kamar untuk Hafidz telah disediakan. Mereka masuk ke lift dan menuju kamar 45.
“Silakan Ustadz mempersiapkan diri, ini kuncinya. Silakan Ustadz mandi-mandi karena sebentar lagi mungkin datang,” Nuri dan Toni pamitan pada Hafidz, namun tiba-tiba sebentar-sebentar kepala Toni menoleh kearah Hafidz seolah hendak memberitahu sesuatu. Hingga pintu lift tertutup, Hafidz masih tersenyum menatap mereka.
Di balik lift. Toni gelisah, “Apakah kita tega menyakiti orang sebaik dia Kak?”
“Kenapa tidak? Kita akan mendapatkan uang yang banyak,” mata itu berkilat, nafsu terlihat membara dalam cerminan matanya.
“Tapi...,”
“Awas! Jangan macam-macam, atau kau akan berhadapan denganku!” Nuri mengancam adik kandungnya itu. Toni memejamkan matanya, dia bingung apa yang harus dilakukannya.
Hafidz memasuki kamar 45, dibukanya dengan kunci. Bismillah.
“Assalamu’alaikum,” suaranya pelan dan menutup kembali pintu dan menguncinya dari dalam. Ruangan yang mewah untuk ukurannya, bahkan sangat mewah. Hafidz menaruh tasnya di atas ranjang, ruangan yang luas dan nampak bersih. Hafidz melihat jam dinding, pukul 15.00, hampir ashar. Dia memutuskan untuk mandi dulu, karena setelah Ashar Syaikh Wahab datang.
Hafidz menuju kamar mandi, melangkahkan kaki kiri dulu dan mengucapkan doa perlindungan kepada Allah. Di dalam kamar mandi tampak peralatan mandi lengkap dan ruangannya pun sangat luas. Hafidz melepaskan pakaiannya kecuali celana pendeknya, itulah kebiasaannya yang selalu jika mandi tidak telanjang bulat, dia selalu memakai basahan sebatas lututnya. Shower dihidupkan dan terdengarlah gemericik air begitu teduh mengaliri syaraf-syarafnya, fresh.
Pikirannya melayang-layang saat air mengguyur seluruh tubuhnya. Semua kilas balik perjalanan hidupnya seolah terpampang dalam pandangan matanya yang tertutup. Dari awal hingga akhir, dan hidup baginya adalah padang yang dari awal hingga akhirnya adalah ujian. Sampai kapan semua ini berakhir? Aku telah rindu berjumpa denganNya. Bagaimana dengan Zulfa? Pikirannya semakin tak tenang.
Saat itulah terdengar gemeretek suara dari balik pintu. Gagang pintu yang dikuncinya rapat seolah bergerak-gerak pelan. Hendak terbuka, dada Hafidz berdebar-debar menebak-nebak apa yang terjadi. Bukankah kunci kamar dan kamar mandi telah dikuncinya? Hafidz menghentikan laju air yang mengucur.
Suara hening...
Gagang pintu bulat itu diam tak bergerak. Mungkin aku terlalu kelelahan sehingga berfikir yang bukan-bukan. Hafidz memohon perlindungan Allah dalam hatinya.
Hafidz menghidupkan air kembali, suara gemericik kembali terdengar. Hafidz memakai sabun dan membilasnya dengan air kucuran. Serasa segar. Bunyi gemeretek kembali terdengar, gagang bulat itu sedikit bergerak, sangat pelan. Namun kembali ke asal lagi. Ada sesuatukah? Allah tanda apakah ini? Hafidz mematikan shower, mengambil handuk dan mengelap rambut dan seluruh tubuhnya yang basah dengan tergesa-gesa.
Saat tangannya mengambil celana dari cantolan di pintu dan hendak memakainya, gagang bulat pintu itu bergerak pelan-pelan. Klek!
Pintu terbuka pelan-pelan, sangat pelan.
Hafidz terdiam kaku di atas kakinya yang gemetaran. Handuk dan celananya jatuh ke lantai, air di lantai membasahinya. Bibir dan seluruh syarafnya kaku dan beku seolah darah tak lagi mengalir di seluruh penjurunya. Tubuh itu benar-benar kaku selayak jasad orang yang meninggal.
Bibirnya bergetar tak mampu berkata, kecuali gemetaran menggigil. Hanya Allah yang tahu apa yang saat ini dikatakannya dalam hatinya yang jernih, hanya Allah di Arsy yang mengetahui apa yang dikatakan di hatinya.
Hati itu hanya mendesahkan satu kata berulang-ulang, ketika melihat apa yang ada di balik pintu yang terbuka itu.
Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah...,
Allah...,
Allah...,
Allah...,
Allah...,
Allah...,
Allah...