Warna Pelangi Cinta

Soulmate 3

Melewati pertigaaan bundaran di Simpang Kampus, mataku tak sengaja menatap lelaki di depanku itu senyam-senyum sambil mengedipkan matanya kearahku. Allah, tidakkah dia melihat pakaianku yang super tertutup? Kenapa tidak menggoda wanita lain yang tidak menutup auratnya dengan benar? Aku mengalihkan wajahku ke kiri, melihat pemandangan di belakang angkot. Alhamdulillah, walau berdesakan di sebelah kiriku remaja putri berseragam SMA dan di samping kananku ada Salwa.

“Mas! Jaga mata anda baik-baik, jangan jelalatan memandangi sahabatku! Kau bisa terkena tuduhan melecehkan wanita dan kena sidang!” aku kaget karena suara itu lantang dari samping kananku. Semua orang di dalam angkot menatap Salwa karena terkejut. Salwa jadi pusat perhatian di dalam angkot itu, sang sopir tak ketinggalan terkejut dan terlihat mengawasi sambil menengok dari spion di atasnya.

Lelaki di depanku itu tiba-tiba tampak memelas, “Maaf Mbak, saya hanya iseng saja kok,” wajahnya lalu menunduk. Aku jadi kasihan.

“Makanya, punya mata dijaga. Jangan sampai membuat pelangan angkotku tidak kerasan di dalam mobilku! Bagiku penumpang dalam angkotku adalah raja dan harus kujaga dengan nyawaku. Awas jika kau ulangi lagi Lim!” sang Supir kembali menambahkan ungkapan senada dengan Salwa tadi. Aku merasakan sentuhan Allah yang teramat dekat mengelus setiap bagian hidupku. Allah...

“Baik bang! Ma..., maafkan Lim bang. Liman hanya bercanda saja,” suara lelaki yang kukira preman itu terlihat mengkeret.

“Minta maaflah pada wanita yang kau ganggu! Biar dia tenang.”

“Mbak, maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi,” dia menunduk.

“Tidak apa-apa, yang penting jangan diulangi lagi,” angkot kembali melaju dengan tenang. Debu-debu lembut tampak masuk dari kaca-kaca yang sedikit terbuka, keringatku seolah mengucur dari setiap pori-pori.

“Kerinci Pak,” suara Salwa tampak tenang kearah supir.

Salwa mengeluarkan uang lima ribuan dan menolak pemberian kembalian dari pak supir. Untuk infak katanya, “Pembelaan Bapak tadi patut dicontoh oleh pejabat-pejabat Negeri ini, bahwa mereka harus menjadikan rakyat sebagai raja dan dijaga dengan pertaruhan nyawa mereka.” Sang supir tertawa sejenak dan meneruskan melajukan mobilnya. Dasar Salwa, bisa-bisanya sang supir disamakan dengan pejabat-pejabat negeri ini? Tapi, boleh juga logikanya. Alangkah adilnya jika prioritas pejabat adalah kesejahteraan rakyat, bukan sebanyak-banyaknya mengisi kantong-kantong pribadinya.

Aku mengikutinya masuk ke jalan kerinci, jalan sebelum Rumah Sakit Umum Ahmad Yani. Setelah masuk melewati dua perempatan, ada gang kecil ke kiri lalu berhenti di rumah ketiga. Salwa mengetuk pintu yang telah tampak usang dan lama tak diganti karena di pintu itu banyak yang dimakan nonor. 

“Assalamu’alaikum,” Salwa mengulangi salamnya.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah,” sesosok gadis mungil, mungkin berumur lima tahun keluar, “Kak Calwa, hore! Kak Calwa pasti bawa coklat!” gadis berbaju luntur itu melonjak-lonjak. Susah baginya membedakan hurus S dan C. Salwa tanpa canggung memeluknya dan mencium kedua pipi gempal gadis kecil itu.

“Angga mana Zahra?”

“Ada di dalam cedang nunggu Ibu. Ibu lagi cakit kak,” Salwa mengajakku masuk. Ruangan itu sangat sempit, ruang tamu kecil dan di belakangnya tinggal dua  kamar; kamar tidur dan dapur. Untuk dapur di-skat dengan papan, dibagi bersama kamar mandi. Di kamar seorang lelaki mungkin berumur 12tahun sedang mengompres seorang wanita yang terbaring sambil sesekali nyenyir menahan sakit.

“Sakit apa Bu? Apa yang Ibu rasakan?”

“Ndak papa kok mbak Salwa, hanya pusing saja. Mungkin migrain,” bibirnya masih sesekali nyengir.

“Bagaimana kalau kita periksakan ke Rumah Sakit, letaknya kan dekat Salwa,” aku menatap Salwa, dia mengangguk.

“Ndak usah repot-repot, Ibu sudah sangat sering merepotkan mbak Salwa. Ibu...,”

Salwa memotong cepat, “Tidak usah memikirkan itu Bu Larsih, bukankah yang terpenting Ibu harus menjaga kedua anak Ibu? Kalau sakit kan kasihan mereka berdua. Iya kan?” wanita itu akhirnya pasrah ketika aku memanggil becak dan membawanya ke Rumah Sakit. Zahra dan Angga ikut bersama kami berjalan kaki.

Sampai pukul tiga akhirnya aku dan Salwa pamitan pada bu Larsih. Bu Larsih menangis saat Salwa memberikan amplop untuk biaya sekolah Angga untuk persiapan kelulusannya karena sudah kelas enam. Kasihan bu Larsih, suaminya pergi setelah Zahra lahir dan belum pernah kembali ketika Zahra masih berumur 3 bulan. Bu Larsih hanya berjualan kue keliling untuk membiayai hidup mereka, rumah kecil itupun hanya mengontrak.

“Masih kuat? Kita ke rumah kedua,” Salwa menantangku.

“Masih kuat. Tapi, kita shalat ashar dulu ya di Masjid Taqwa. Sebentar lagi masuk?”

“Shalat?” angin membelai keheranan yang nampak tersirat dari wajahnya, “Aku sedang libur, biar aku tunggu saja nanti di luar masjid ya?”

Selesai shalat aku menghampiri Salwa yang terduduk di undakan di depan Masjid, dia menatap ke langit di antara beburung walet yang terbang bebas di awan memenuhi langit yang terang.

“Kau menikmati pemandangan burung atau langit?”

Dia hanya tersenyum. Ada cairan yang sempat kutangkap dari matanya yang memburam, “Ayo sudah sore, kita ke dekat pasar. Rumahnya di dekat terminal,” aku menurut saja.

Tak berbeda jauh keadaannya dengan keluarga bu Larsih. Anak asuh kedua Salwa adalah Siti, dia kelas lima SD. Siti setelah sekolah juga bekerja di warung makan bu Giri di sekitaran pasar sebagai buruh pencuci piring. Masyaallah! Anak sekecil ini sudah harus bekerja keras, sedangkan anak yang lain hanya tinggal menghulurkan tangannya pun tidak mau bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Aku jadi teringat masa kecilku dan kak Faza. 

Siti tinggal bersama bapaknya saja yang bekerja sebagai tukang becak, pak Darman amat senang dengan kedatangan kami. Setelah memberikan amplop kami pamitan kepada pak Darman dan Siti.

“Sering-sering main ya Kak?”

“Insyaallah,” aku mengelus kedua pipinya yang walau kecil tampaklah wajah-wajah pekerja keras.

“Kak salwa!” Siti memanggil ketika kami mulai melangkah.

Salwa menengok kembali ke belakang, “Ada apa Siti?”

“Siti janji Kak! Dua minggu lagi saat pembagian raport, Siti akan mempersembahkan lagi ranking satu kepada Kakak!” Siti berlari kembali dan menghambur ke pelukan Salwa, kulihat Salwa meneteskan airmatanya.

Ada semacam ikatan yang kuat kurasakan di dalamnya. Salwa, kau memang hebat.

Kami naik angkot pukul 17.25, masih ada angkot ke Kampus. Angkot sudah sepi, biasanya jam segini para supir sudah pulang dari terminal ke rumahnya yang kebanyakan di sekitaran kampus, mobil yang kami tumpangi hanya dua penumpang. Aku dan Salwa.

Mobil berhenti di gang Terong, kostku tinggal 20 meter dari jalan besar itu. Aku pamitan pada Salwa, “Terima kasih untuk main-mainnya hari ini, aku semakin banyak belajar tentang kehidupan.”

“Kau selalu merendah Azizah, bukankah kita bukan teman baru ketemu. Kita sudah cukup lama saling mengenal,” dia tersenyum.

“Kau ingin tahu apa yang sekarang kuinginkan tulus dari hatiku?”

“Apa itu?”

Aku melambaikan tanganku, mengisyaratkannya untuk mendekat. Dia mendekat kearahku, aku mendekatkan wajahku ke telinganya, “Aku akan terus berdoa kepada Allah, agar kita dapat bertetangga di surga kelak dan kita akan bermain sepuasnya bersama anak-anak yang suci. Kita akan tersenyum sepuasnya, tanpa ada kesedihan lagi di dalamnya, Assalamu’alaikum.”

Dia menjawab salamku, aku tersenyum di pinggir jalan itu. Kuamati angkot itu hingga menghilang dari pandanganku. Airmataku menetes, aku merasakan kau sedang membutuhkan jalan cinta. Kau sebenarnya kehilangan cintamu Salwa. Kau harus merasakan cintaNya. Allah, ijinkanlah...

          

“Yuk shalat dzuhur dulu, sudah adzan tuh,” Salwa menghentikan gerakan kakinya, dia menarik kain yang telah terjepit di bawah jarum.

“Baiklah,” ada rasa tidak enak juga di hati Salwa karena tiap saat diingatkan.

“Tidak sedang halangan kan?” Azizah tersenyum mesra.

Azizah meminjaminya telekung yang diambilnya dari lamari kayu kecilnya, kebetulan dia mempunyai dua. Salwa agak ragu ketika mengambil wudhu, Azizah meliriknya sejenak lalu tersenyum. Azizah memelankan gerakan wudhunya, seolah dia tahu kalau gerakan wudhunya sedang ditiru Salwa.

Mereka shalat berjamaah di dalam kamar Azizah yang kecil, kebetulan Firna teman sekamarnya masih kuliah karena kuliah siang ba’da dzuhur dan tadi Firna pamitan sekalian ingin ke perpustakaan mengembalikan buku yang dua minggu belum dikembalikan sehingga berangkat lebih awal. Azizah menjadi imam, syahdu lembut membelai mereka, angin seolah ikut bersama mengagungkan Rabb pencipta alam semesta. Ada bening yang menetes dari kelopak Azizah, kerinduan yang sangat menderanya adalah ketika shalat. Itulah hiburan baginya dari kepenatan hidup.

Lain lagi dengan Salwa. Jujur, baru kali ini dia merasakan sebuah gerakan shalat yang mendeburkan kerinduan dan ketenangan dalam hatinya. Dia memang pernah shalat, ya! Dulu sekali ketika masih kecil, ketika bi Murni yang mengajarinya, itupun semua bacaannya telah terlupa kecuali Al-Fatihah saja. Allah, hamba lumpur hina yang lama melalaikanMu. Bisakah kukembali? Adakah jalan kembali agar Kau menerimaku. Hamba selalu kufur akan nikmat-nikmatMu, hamba selalu ingkar akan perintahMu. Allah..., isaknya terdengar mengguruh bagai hujan yang deras mengguyur bumi yang telah lama kering. Satu lagi hati yang tertandai, dan hanya Allah yang tahu, tanda apa itu.

“Ini tisue. Usaplah airmatamu?”

Salwa menerima tisue dari tangan Azizah. Ditatapnya mata Azizah yang bulat bening, seumpama bidadari ada di dunia mungkin wajah seperti inilah yang patut diberi nama bidadari. Lihatlah ketulusan cintanya.

“Terima kasih Iza.”

“Kau mau mendengarkan ungkapan jujur dariku?”

Salwa mengangguk.

“Kau seperti bidadari Salwa. Kau sangat cantik, begitu tingginya Allah yang menciptakan wajahmu bersinar bagai pualam. Hatimu begitu tulus menolong, berkacalah sebentar,” Azizah mengambil cermin di meja belajarnya dan memasangnya di depan wajah Salwa.

Sebentuk wajah muncul di cermin, tepat di depan wajah Salwa yang  masih mengenakan telekung. Wajah itu nampak bersinar diantara kain putih yang menutupi rambutnya, ada tetes bening yang jatuh tanpa disadarinya. Wajahku..., secantik inikah? Alangkah indahnya jika wajahku terhias kemulyaan. Tapi, apakah pantas? Aku yang berlumur dosa ini ya Allah.

“O iya, Salwa punya nomor telepon? Aku belum punya nomormu.”

“Ada,” Salwa menurunkan cermin itu.

“Sebentar kuambilkan nota alamatku,” Azizah membuka lemari kecilnya dan mengambil buku kecil alamat lalu mengambil pena di meja belajar.

“Berapa?”

“kosong depalan...,”

“Azizah, ada bu Lastri ingin mengambil jahitannya,” sesosok wajah Fina yang menempati kamar sebelah.

“Mbok yao pake salam dulu,” Azizah tersenyum kearah pintu.

“Maaf Ustadzah, kelupaan,” Fina juga tertawa, “Ya udah, sana ditemui gak enak kan pelanggan menunggu kelamaan? Aku kembali ke kamarku, Assalamu’alaikum,” Fina berlalu dan hilang di balik tembok dan masuk kamar di sebelahnya.

“Salwa tulis disini saja ya, aku kembali lagi setelah melayani pelanggan.”

“Baiklah sini kertasnya,” Salwa menerima buku kecil nota itu.

Ketika Azizah meninggalkan kamar, Salwa menulis nomor Hp-nya di samping kanan tulisan Azizah yang menulis namanya. Di buku itu terdapat nama-nama dan nomor teleponnya, dan tiba-tiba matanya berhenti saat membuka buku itu dari awal. Matanya berhenti, menatap sebuah nama pertama, ”CINTAKU, FAZA ARFANI AL-BARRAQ” Salwa mengeluarkan Hpnya, dicarinya nomor misterius itu. Dan..., nomornya benar-benar sama. Berarti...

Buku nota alamat itu terjatuh di lantai, Salwa melepaskan telekungnya dan mengambil tasnya. Dia berlari keluar kamar dan melewati ruangan belakang lalu menyetop angkot untuk ke Kempus. Untung sepi, biasa karena memang jam segini jarang yang menggunakan jasa angkot. Hanya ada dua penumpang, itupun duduk di dekat supir semua. Panas menyengat, Ada tangis pelan yang coba ditahannya, kuatkan hambaMu Allah...

          

Salwa tidak langsung ke kamarnya, dia melihat kamar Rini dan Ratih, pintunya sedikit terbuka. Salwa melangkahkan kakinya ke kamar sebelahnya itu, ada sesuatu yang ingin diketahuinya. Matanya masih terlihat sembab.

Saat matanya melihat pintu yang sedikit terbuka, dilihatnya seorang wanita sedang duduk memakai pakaian serba putih. Shalat? Salwa masuk pelan-pelan hingga suara pintu dibuka tidak kedengaran, Salwa bersandar di pojok tembok di dekat pintu. Kedua kakinya ditekuk dan tubuhnya melorot ke bawah seperti tak mempunyai tenaga. Menunggu wanita yang masih khusyuk berdoa, terdengar isak pelan, teramat syahdu bagi siapapun yang mendengarkannya. Suara Ratih.

Ratih melepaskan telekungnya, dari baliknya tampak kerudung kecil berwarna biru muda telah menutup rambutnya. Ratih sedikit kaget ketika melihat Salwa duduk terpekur di pojok kamarnya, matanya tampak lurus dan kosong. Ada embun yang hendak menetes dari kelopak matanya yang indah, rambut alisnya basah dan lengket satu dengan lainnya.

“Kau kenapa Salwa? Kau sedang ada masalah?” suara itu berbeda dari milik Ratih dulu, suara itu teduh dan senyumnya nampak tulus.

“Aku merasa hidupku ini dari dulu hanya bersenang-senang saja, aku ingin bertobat pada Allah. Tapi..., aku merasa telah kehilangan segala-galanya, aku seperti orang yang tak berdaya sama sekali. Aku...,” tangis Salwa pecah memenuhi ruangan kamar.

Ratih menutup pintu pelan dan membantu Salwa duduk di kursi, Rini sedang keluar bersama pacarnya. Ditatapnya mata Salwa dari sampingnya, “Lihatlah aku Salwa.”

Salwa melihat mata sahabatnya itu, yang dari dulu selalu disakitinya dan disuruh seenaknya. Ada perubahan besar dari wajah yang kini duduk di hadapannya itu. Mata itu tampak teduh, wajah itu nampak bercahaya. 

Ratih memeluk sahabatnya itu, “Maafkan aku Salwa, aku tidak bermaksud menjahilimu dengan perlombaan tentang nomor Hp itu. Sungguh, itu semua atas ide Rini yang ingin membalas dendam padamu dan kepada kak Faza. Kinilah saatnya aku menceritakan semuanya padamu, aku ingin mengakhiri semua kebodohan dan dosa-dosaku. Aku ingin sungguh-sungguh kembali padaNya. Maafkanlah aku Salwa.”

Mendung telah tertiup angin hingga semuanya telah terang. Salwa telah mengetahui segalanya. Ingin marah, sedih, bahagia, menyesal, semua berkumpul menjadi satu. Bibirnya dan hatinya mendesah dalam pelukan sahabatnya. Allah..., Allah..., Allah..., Allah..., Allah...

“Maukah kau membantuku sahabatku?” suara itu tampak melemah.

“Iya, apa yang bisa kubantu Salwa?”

“Ajak dan temanilah aku menemui Tuhan.”

Dan Malaikat pun sibuk mencatat setiap jengkal penggal waktu yang terlewati manusia, yang jatuh bagai daun berguguran, seiring dengan detak jantung.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!