Warna Pelangi Cinta

Soulmate 1

Aku bagai menemukan pualam atau mutiara yang selama ini kucari, bukan dari mewahnya sebuah dzohir maupun dari hedonisme, lebih-lebih performancenya. Aku menemukannya dari sebuah takdir, ya! Aku kini sedikit paham makna kata takdir. Tentu saja dari teman baruku. Dia Azizah. Kutemukan darinya, dari orang yang teramat sederhana.

Pikirannya yang maju tak pernah terganggu dari letih jemarinya saat menarik, memotong dan menyorongkan kain untuk di pegas jarum yang memantul-mantul. Jarum itu bernyanyi riang membunyikan gemuruh melalui gerakan kakinya yang menggenjot pedal mesin jahit. Ketika dia lelah sedikit, dia istirahat dan membuka buku-bukunya, baik buku mata kuliah maupun buku yang dipinjamnya dari perpustakaan STAIN.

Dia tak pernah kehilangan kata-kata saat aku berbincang dengannya. Aku telah menemukan seseorang teman yang bisa mengimbangi obrolanku, dia pintar.

Siang itu, sewaktu aku hendak membuat baju untuk dibuat sekalian hendak mengetahui kelanjutan nomor misterius itu. Jujur, aku semakin tertantang.

“Salwa, kenapa kau buat baju yang tidak jadi? Bukankah mubadzir?” Aku melongo mendengar kata-katanya. Baju tak jadi? Dia kularang memanggil Mbak.

“Maksudmu? Bicara baju tak jadimu seperti minyak bumi di Indonesia saja yang melimpah tapi tak bisa diolah sendiri,” aku tersenyum saja.

Azizah menghentikan deru mesinnya. Dia menatapku dan tersenyum pula, “Tidak hanya minyak. Kau lihat saja kekayaan kita, ada emas, intan, batubara, mika, marmer, tembaga, timah dan lainnya. Kekayaan yang melimpah, tetapi tak bermanfaat. Seperti itulah kemubadziran yang terjadi pada penduduknya,” Azizah menatap langit sejenak, “Kenapa repot-repot membuat pakaian yang pada dasarnya belum jadi, padahal yang lengkap saja lebih mudah membuatnya.”

“Jelaskan padaku, aku belum mengerti?”

“Pakaian yang kau sodorkan padaku, hanya akan membuat mata lelaki jelalatan. Wanita dihargai bukan karena fisiknya bukan? Itulah emansipasi. Wanita dihargai karena intelektualnya.”

“Aku setuju dengan pendapatmu,” aku sendiri malu sebenarnya, aku bikin baju yang ketat dan rok yang Cuma di bawah lutut tak lebih dari 2 cm dan kusodorkan padanya, “Darimana kau dapat kata-kata sebagus itu?”

“Dari lelaki terbaik dalam pandanganku dan dari buku-buku yang kubaca,” Azizah menatapku sambil tersenyum, “Jadi, baju dan bawahannya aku sempurnakan saja ya? Bukankah kau lebih senang dipandang karena prestasi dan bukan karena lekuk tubuhmu? Dan..., kau sudah sangat cantik tanpa pamer lekuk tubuh,” dia tersenyum cerah sambil mengedipkan matanya. Dia sungguh manis.

“Baiklah, terserah kamu. Pokoknya aku pasti cocok dengan baju apapun,” aku membalas senyumnya. Apakah lelaki terbaik itu adalah lelaki yang membuat hubungan hati mereka saling tak bisa berkhianat? Seperti apa lelaki misterius itu? Tegakah aku merusak hubungan mereka?

“Hai Azizah, apa mimpimu kelak di kemudian hari?”

“Hmm.., aku tak ingin mengecewakan satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini. Aku ingin menjadi desainer kostum terhebat di dunia, kan kuseberangi samudera pasifik jika perlu, kudaki gunung everest di Himalaya sana jika perlu,” matanya berkilauan penuh semangat.

“Jika kau gagal mencapai mimpimu? Apa yang kau lakukan?”

Dia menatapku tajam. Apa aku menyinggungnya?

“Gagal di dunia bukanlah kecelakaan besar seperti kecelakaan para pendayung yang jatuh di air terjun angel, Karena mungkin tubuhnya akan remuk ketika sampai di tebing bawahnya. Rugi di dunia bukanlah segalanya, tapi rugi di akhirat itulah yang mesti merugi selamanya. O..., iya. Lalu, apa mimpimu Salwa?”

Aku gelagapan, “Aku belum punya mimpi yang hebat sepertimu. Mimpiku hanya sederhana menjadi guru ekonomi. Tapi...,”

“Kau hebat Salwa! Aku juga ingin menjadi guru, karena itu pekerjaan mulia. Pahalamu akan mengalir bagaikan air laut yang tak pernah habis. Menurutku guru itu kaya karena pekerjaannya memberi terus tanpa henti, memberikan bekal ilmu,” Azizah sangat antusias, padahal aku belum selesai bicara.

“Kau belum tahu tentang resiko menjadi guru?”

“Memangnya kenapa?”

“Kau lihat saja profesi Guru sekarang. Jika seorang murid itu berhasil, pintar dan menjadi orang sukses pasti karena kegigihannya belajar dan berusaha dan kontribusi guru seolah hilang ditelan waktu. Tapi, jika seorang murid bandel, menjadi bodoh atau pengangguran atau lebih-lebih menjadi berandalan pasti yang disalahkan adalah guru. Bukankah begitu kenyataannya?”

Keheningan tercipta, Azizah sejak tadi menghentikan kegiatannya menjahit.

“Ya, tergantung dari sudut pandang mana?”

“Maksudmu?” aku menatapnya keheranan.

“Kau lihat burung sriti yang terbang di angkasa? Mereka menari dengan gembira, membentuk konfigurasi tanpa kenal pamrih dan pujian. Mereka melakukannya karena memiliki keyakinan dalam hatinya, keyakinan melakukan bagiannya dengan baik. Atau, kau lihat seorang pemancing yang rela mempertaruhkan waktunya hanya menunggu penanda kailnya tergerak oleh sundulan ikan-ikan atau hanya senggolan semata. Itulah kejernihan sebuah pengorbanan, butuh kerja hati yang mengomandai. Harusnya kita bekerja dengan hati kita, lihatlah pekerjaanku tukang jahit,” Azizah tersenyum menatapku sambil mengangkat kain yang baru saja dikeluarkan dari jeruji mesin jahit.

Benar juga. Bukankah tukang jahit, sebagus apapun hasil karyanya dia tidak akan mendapatkan sanjungan atau penghargaan kecuali si pemakai baju itu yang selalu mendapatkan pujian?

Aku membalas senyumnya, “Ya..., ya..., aku mengaku kalah. Kau benar, kita harus bekerja dengan hati. Tapi, aku tidak tahu bagaimana memunculkan kejernihan itu dan bagaimana kau bisa setenang itu dalam mengarungi hidupmu Azizah?”

“Kau tentu sudah tahu rumusnya Salwa,” senyumnya kembali tersungging di antara lesung pipinya yang tercipta, “Tanyalah pada hati kita, sebenarnya untuk siapa kita melakukan aktivitas itu. Untuk sebuah kefanaan atau keabadian? Itulah kekuatan tujuan, setelah tahu goal baru kita membuat planning yang terarah sekaligus resiko-resiko kegagalannya bukan?”

“Lalu? Planning apa yang kau lakukan untuk mencapai cita-citamu?”

“Kau ini seperti wartawan saja Salwa. Dan aku..., bukanlah orang sukses, aku kan hanya seorang penjahit saja,” mata lentiknya mengikuti garis kain yang siap dijahitnya di bagian sambungan belah rok.

“Aku yakin, kau nanti jadi orang besar Azizah. Makanya kau harus bagi-bagi resepmu padaku biar aku juga jadi guru teladan nantinya.”

“Amiin,” matanya terpejam sejenak sambil manggut-manggut, “Insyaallah asal niat kita baik, Allah akan mengabulkan doa-doa kita walau tidak di dunia setidaknya Allah menyimpannya kelak di akhiratNya.”

Keheningan tercipta,  Azizah menghentikan aktivitasnya. Menutup matanya.

“Ayo katakan Azizah.”

Azizah membuka matanya. Dia menatap teduh, “Pertanyaanmu sama persis ketika kubertanya pada...,” matanya kembali menatap langit di depan kami yang jernih bersinar. Ada bulir air yang mengalir pelan dari kelopak matanya, “Saat rencana sudah dibuat, maka kita hanya diperkenankan melangkah. Mundur diperbolehkan tapi untuk menyusun strategi kembali. Bukan menghitung seberapa kali kita gagal, tapi hitunglah baru berapa kali kita bangkit dari kegagalan.

Aku ingin seperti Kapitein Letutnant Gunther Prien dalam kehebatannya dalam perang dunia ke-II.”

“Maksudmu, komando kapal selam U-47 milik Jerman?”

Azizah menggangguk. Aku menunggu penjelasannya, “Dia seorang yang berani, terlepas dari benar dan tidak perbuatannya. Dengan bersenjatakan kapal selam sederhana yang diproduksi Jerman ratusan. Dia dengan berani dan penuh perhitungan telah menyentakkan dunia.  Menembus scapa flow, pangkalan Inggris terpenting. Disana, arus di pintu masuknya sangat deras, di permukaan airnya meriam-meriam di pantai siap meledakkan. Tapi, Prien adalah seorang yang telah memperhitungkan segalanya dan tentu keberaniaannya menghadapi kemungkinan-kemungkinan. Dia berhasil menenggelamkan kapal tempur battle ship Royal Oak. as a feat af arms. 

Itulah perjuangan, seberapapun kemampuanku. Aku akan berusaha melangkah, karena Allah selalu bersama hambaNya yang mendekatkan diri padaNya. Aku                                                                                                                                                      ingin bisa seperti Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang berperang seorang diri, menunggang kuda, menerjang gurun sahara, menempuh jalan panjang untuk membebaskan Konstantinopel setelah mendengar Rasulullah bersabda bahwa Konstantinopel akan dibebaskan oleh sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik komandan. Kita harus yakin, bahwa dengan pertolongan Allah kita pasti bisa menaklukkan segalanya.”

”Tapi, kita butuh piranti dan alat bearing power yang kuat. Bukankah itu diperlukan untuk meraih semuanya?”

”Allah pasti menolong hambaNya yang berusaha Salwa, dan kamu benar kita harus menyiapkan perlengkapan-perlengkapan untuk bertempur. Bukankah Prien memerlukan spionase, Alfred Wehring. Untuk mengetahui letak kelemahan Scapa Flow yaitu pintu masuk sebelah timur yang belum dirintangi di bawah permukaan air dengan kabel baja bertegangan tinggi. Dan orang Inggris merasa cukup menutupinya dengan tiga blockships di kirk sound yang dikaramkan. Itulah celah kemenangan. Dan, Abu Ayyub Al-Anshari ra. yang berperang seorang diri mempunyai goal yang jelas. Yaitu bertemu dengan Yang dicintainya, dialah Rabbnya. Kematian syahid yang amat dirindukannya.”

“O ya, sebentar ya,” Azizah berbicara ketika keheningan tercipta cukup lama.

“Mau kemana Azizah?”

“Tunggu disini dulu.”

Aku tak habis mengerti. Wanita seperti Azizah, pekerjaannya yang telah menyita banyak waktunya, tak membuatnya menjadi malas pada ilmu pengetahuan. Dan kuliahnya, dari info temannya kemarin dia terbesar di Fakultasnya. Aku bangkit dari dudukku, kulihat kain yang telah jadi. Lipatan dan jahitannya rapi, aku tersenyum menatap rokku yang kujahitkan padanya. Masih dalam potongan-potongan dan belum disatukan.

“Kelamaan ya?” Azizah datang membawa nampan berisi dua piring dan dua gelas berisi air putih. Dia manaruhnya di meja satunya selain meja untuk mesin jahit, disingkirkannya dulu potongan-potongan kain yang berserakan, “Maaf ya kalau berantakan.”

Lihatlah senyumnya kala mata lentiknya berkedip, keangkuhanmu pasti akan sirna.

“Kenapa repot-repot?”

“Hei! Jangan menolak, kau kan tamuku. Bukankah Rasul kita meminta kita menjamu tamu dengan sebaik-baiknya dan inilah yang kumiliki, apa adanya. Ayo makan,” Azizah menyodorkan salah satu piring, ada sendok dan garpu, lauk telur mata sapi dan bawang goreng yang bertaburan. Baunya semerbak harum. Selera makanku menyala.

Masakannya lezat, tidak seperti....

“Kau kenapa Salwa, kenapa makan sambil melamun?”

Aku tergagap dari lamunanku, “Tidak! Tidak ada apa-apa kok,” aku menatap langit yang memayungi matahari yang menyala. Aku teringat bi Murni, apa kabarnya sekarang?

“Non, jangan main terus. Non harus belajar, sebentar lagi kan ujian,” wanita paruh baya itu memegang wadah berisi pakaian-pakaian yang hendak diseterikanya. Jilbabnya terlihat sedikit basah, mungkin terkena air saat menyiram bunga tadi.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!