Warna Pelangi Cinta

Langkah Keyakinan

Pagi sejuk itu sebuah angkot berwarna merah berhenti tepat di depan Masjid At-Taqwa, tepat 15 meter sebelum lampu lalu lintas di perempatan utara masjid dan Taman Kota Metro. Rasyid turun dan membayar angkot, peci putihnya menutup rambut dan terlihat di keningnya tanda hitam sujud. Langkahnya segera melaju ke masjid terbesar di Kota Metro.

Masjid Taqwa tampak mentereng dengan kubah bulat besar di atasnya. Di dekat kubah di bagian depan terdapat lampu sorot besar dan menyala ke arah langit kala malam menyapa, sinarnya dapat disaksikan dari seluruh daerah di Kota Metro dan di luar Metro hingga desa-desa di Lampung Timur dapat menyaksikannya. Lebih indah jika melihatnya dari hamparan sawah-sawah yang membentang, tak ada pohon sehingga membiarkan sorot lampu besar itu bebas menyemarakkan pandangan seolah sorot yang memandu melihat gemintang di langit.

Di depan Masjid, banyak hiasan lampu-lampu dan parkir yang luas. Beberapa mobil bus dan mikrolet juga pick up jongkok di setiap sudut. Parkir yang acak-acakkan.

Di teras masjid tampak beberapa orang sedang duduk-duduk. Dua orang berjenggot dan memakai kopiah putih telah mangkal seperti biasanya, mereka setiap hari menggelar dagangan bukunya. Rasyid kenal baik dengan keduanya. Misbah dan Mahmud,  Mereka bersaudara. Misbah bagian menjual buku-buku, Al-Quran, kalender, kaset Tape Islami atau DVD Islami perjuangan dan lain-lainnya. Sedang, Mahmud menggelar di bagiannya berupa tasbih, kopiah, telekung, minyak zaitun, pin dan pernik-pernik lainnya. Mereka melayani bagian barangnya masing-masing namun nantinya tetap mereka satukan uangnya. Only specifik.

Beberapa orang di pagi hari itu sudah terlihat mengerubungi mereka, ada yang membolak-balikkan judul dan belakang buku, ada yang memilih-milih parfum yang berada di gelaran Mahmud. Di antara mereka memang adalah jemaah haji yang siang pukul 08.30 siap berangkat ke Jakarta, lihatlah mereka telah rapi memakai baju-baju indah dan terlihat telah bersih mereka. Kamar mandi di Masjid sangat banyak sehingga memudahkan mereka. Jamaah haji menginap di ruang atas masjid. Beberapa orang, tiga orang sedang memilih-milih parfum. Mereka pegawai negeri di Pemda, baju kebesaran dinas kota amat mencolok. Terlihat keren, popularitas seragam yang gaya. Kata orang, ada kebanggaan ketika memakai seragam dinas PNS. Dan itulah yang diperebutkan habis-habisan oleh para Sarjana hingga berjubel mengikuti test kala penerimaan Pegawai Negeri.

Rasyid melepas sandalnya di depan, menyelipkannya di lubang jeruji gerbang. Sandal saja sering hilang di Kota ini, mungkin kota seluruh Indonesia? Inilah rendahnya moral bangsa kita. Demi sesuap nasi, kejahatan atau kebaikan sudah tak perlu ditimbang-timbang lagi. Untuk memikirkan perut sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi.

Rasyid melangkah masuk ke teras, dia menelusup dulu di tempat Misbah dan Mahmud dan menyapa salam pada mereka. Sedikit ngobrol, namun Rasyid pamitan lagi karena harus mempersiapkan keperluan-keperluan para jamaah haji karena sebentar lagi mereka berangkat. Langkah menuju tangga sebelah kiri sebelum masuk ke tempat wudhu, naik ke atas tempat para calon jemaah haji menginap.

Seseorang tersenyum menyambutnya di atas undakan, dia sedang memegang sapu. Namanya Syahid, dia akan ikut ke Mekkah untuk melayani jamaah haji. Lihatlah wajahnya yang ceria memegang sapu dan keranjang sampah plastik kecil berwarna biru tua. Tahun lalu, Syahid bersamanya ke Mekkah. Kali ini, Syahid hendak ke Mekkah lagi. Ini kedua kali baginya. Syahid lulusan SMA dan kini bekerja sebagai penjual somay keliling, jika musim haji maka dia akan cuti menjual somay dan menjadi pelayan jamaah haji karena keuntungannya lebih besar. Dan, naik haji gratis.

Rasyid mengucap salam, Syahid menjawab dan menyalaminya.

“Yang lain belum datang Syahid?”

“Belum, mungkin masih mempersiapkan diri sambil pamitan dengan keluarganya masing-masing,” senyum Syahid begitu murni dan polos. Sama seperti dijumpai kala melayani para pelajar ketika membeli shomaynya dan berkata manja, ‘Mang! Beli somaynya seribu!’ dan dia pasti sigap membungkus somay sambil tersenyum, senyum penuh kesyukuran.

Toh hatinya sama sekali tidak malu berjualan keliling Kota Metro. Hatinya selalu tulus berujar, “Setiap pekerjaan jika halal, apapun bentuknya. Tak akan mengurangi sedikitpun kemulyaan manusia. Bukankah kemulyaan adalah hanya pada kualitas ketaqwaannya saja?” dan Allah ‘Azza wa Jalla yang berhak menentukan manusia yang mulya dan tertipu.

“Ayo Syid, kita bereskan dulu kamar laki-laki.”

“Ayo,” Rasyid segera melepas tas cangklong hitamnya di loker atas tempat yang dibuat loker-loker tanpa penutup. Dia mengikuti di belakang Syahid, dalam kamar besar itu sungguh berantakan. Bantal seolah habis perang lempar granat, beberapa kapuk beterbangan lembut bagai salju yang tidak jatuh-jatuh. Mengapung-apung. Baju-baju berserakan tanpa digantung atau dicantol. Seprei yang acak tidak karuan, dan tas yang terhampar bagai dagangan di pasar.

Bagi Rasyid dan Syahid, keadaan ini sungguh biasa. Ini masih mending ketimbang keadaan saat di Mekkah. Lebih kacau, berantakan dan berat lagi. Di Mekkah, jamaah haji hanya bolak-balik, ganti-ganti baju, dan semunya acak kadut. Habislah para pelayan haji yang harus membenahi setiap saat tanpa kenal lelah. Lalu, kapan mereka dapat menunaikan tanpa penuh kesempatan haji itu? Saat malam hari, ketika lenggangnya keadaan dan kerjaan rest. Saatnya giliran mereka menumpahkan rindunya pada Sang Khalik kala jemaah haji terlelap dalam mimpi-mimpinya.

Mereka langsung sigap menata seprei yang sudah kusut dan apek, mereka melipatnya satu-persatu. Kamar itu sungguh luas, muat untuk jamaah haji yang ingin langsung berangkat dan datang kemarin. Agar tak terlambat datang mereka menginap di Taqwa karena start pemberangkatannya dimulai dari masjid terbesar di Kota Metro ini. Buku-buku segera dirapikan, bantal-bantal dikumpulkan dan ditata.

Rasyid menggulungi kasur-kasur yang lebih tipis dari yang dimilikinya dikontrakan. Walau tipis, rasanya begitu sempurna. Di dalamnya mungkin kapuk seluruhnya. Kapuk dari bantallah yang beterbangan. Baju-baju segera dilipat rapi di masing-masing tempat yang loker di atas kasur masing-masing. Butuh waktu yang sedikit lama karena mereka hanya berdua. Sedikit rapi, mereka memegang sapu masing-masing dan menyapu dari ujung berbarengan hingga debu dan kotoran diseret keluar dan dimasukkan keranjang biru tua. Bersih sudah.

Tetes peluh akhirnya turun juga. Kipas angin yang berputar di atas mereka hanya memberikan kontribusi sedikit. Mereka segera berdiri di bawah tepat putaran kipas angin di atap. Kesejukan segera menyirami mereka, alangkah sejuknya dan teduhnya. Kesegaran yang tiada terkira. Wahid muncul dan mendekati mereka, dia meminta maaf telat lalu segera mengambil sampah yang penuh plastik kue, tisue dan debu untuk dibuang di depan masjid.

Rasyid keluar duluan dari kamar laki-laki para jamaah haji. Dia hendak menuju kamar di tempat wanita. Belum sempat hendak kesana, seseorang dengan suara lembut memanggilnya pelan dari arah tangga. Dari arah belakang.

“Mas Rasyid,” suara wanita

Rasyid menoleh ke belakang, wanita cantik berjilbab warna biru muda melewati dadanya. Kecil Kacamatanya mungil menambah elok wajah itu, senyum itu merekah.

Astaghfirullah! Rasyid segera merasakan tiupan dari Rabbnya, ditundukkan wajahnya lekat-lekat ke bawah menyamping tanpa berani mencuri-curi pandang lagi.

“Mbak siapa ya?”

“Mas Rasyid lupa pada anaknya Pak Saiful? Camat Metro Timur? Yang pernah mengucapkan terima kasih saat dompetnya Mas temukan di Mekkah?”

“Aku sedikit lupa, maaf!” Rasyid benar-benar tak ingat apa yang diceritakan wanita itu.

“Tidak apa-apa, nanti juga Insyaallah pasti ingat. Aku sengaja mengambil izin kuliah untuk dapat bertemu denganmu Mas, Ayahku juga ikut lagi menunaikan haji tahun ini.”

Rasyid mengangguk tanpa menoleh. Wanita itu di bawahnya, di tengah undakan tangga, “Semoga menjadi haji mabrur ya Mbak. Maaf, aku harus meneruskan bersih-bersih dulu. Assalamu’alaikum.”

Wanita itu membalas salam dan menatap punggung lelaki yang meninggalkannya sambil menenteng sapu di tangan kanannya. Sedikit kekecewaan tampak dari semburat wajah ayu itu. Melangkah menuju ruang depan masjid, di teras.

Seperginya wanita itu, Rasyid diam dalam aktifitasnya menyapu lantai. Wanita itu sepertinya pernah kulihat, dimana? ah! Sudahlah. Tapi..., wanita itu sungguh cantik, Astaghfirullah! Rasyid menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Syetan mencoba melakukan aksinya. Allah! Tiupkanlah angin keimanan dalam hatiku. Tidak! Tidak akan beruntung sama sekali seorang yang berilmu terpedaya oleh wanita. Hilangkah bekas ibadah dan thalabul ’ilminya? Rasyid segera menenangkan hatinya.

Dari ujung tangga terbawah seorang lelaki setengah baya dan sedikit tambun naik ke atas. Senyum lelaki itu terbuka kala melihat Rasyid, Rasyid pun membalas senyumnya. Lelaki itu mengucap salam dan menyalami Rasyid, sejurus kemudian mereka duduk di undakan tangga teratas.

“Jadi, kamu tidak ikut kami ke Mekkah tahun ini?”

“Iya Pak Saiful, aku tidak ingin mengecewakan orangtua di Mesuji Pak,” Rasyid baru saja menceritakan keadaannya yang harus mendapatkan dan mempertahankan nilai comlaude-nya. Tatapannya lurus ke depan, kearah taman Kota. Beberapa orang sedang hilir mudik terlihat, ada yang hendak masuk ke angkot merah arah Sekampung atau Kampus, dan beberapa pedagang tengah kepanasan dan berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon di pinggir taman.

“Kamu sudah bertemu anakku bukan? Tadi dia baru saja bercerita kalau kamu sedang menyapu disini, makanya aku segera naik,” Pak Saiful menatap pemuda itu.

“Jadi, wanita berjilbab tadi anak Bapak?”

“Iya, namanya Nirmala. Nirmala Sari,” wajah Rasyid beralih dari taman kepada Pak Saiful, “Kamu pasti sedikit heran, dulu Nirmala tidak memakai jilbab. Dia pernah bertemu denganmu sewaktu kau ke rumah mengembalikan dompet yang kau temukan di Mekkah. Kau ingat?”

“Ya Pak,” Rasyid memang sering melupakan kebaikan-kebaikannya, tapi kadang kelupaannya memang benar-benar tak diingatnya. Jadi antara melupakan berlanjut jadi benar-benar lupa. Waktu itu, Rasyid menemukan dompet sewaktu memberesi barang-barang di pemondokan Mekkah sewaktu jama’ah haji hendak pulang kembali ke Indonesia setelah prosesi haji selesai. Dompet itu berisi uang yang banyak, uang dinar dan ATM. Ketika dicari pemiliknya ternyata sudah pulang duluan dalam kloter pemulangan awal, maka sesampainya di Metro Rasyid langsung mencari alamat itu selama tiga hari dan ketemu. Alamat rumah pak Saiful.

Di rumah itulah, putri satu-satunya pak Saiful. Nirmala Sari, yang belum mengenakan jilbab datang membawakan minuman. Mata wanita itu sedikit lama berlabuh dalam kedalaman wajah yang memikat Rasyid. Rasyid sudah menundukkan pandangannya di awal saat wanita itu keluar membawa minuman.

“Itulah awalnya anakku?” ada nada berat dari ucapan pak Saiful, membuat Rasyid terpaksa melihat sebentuk wajah yang sedih itu. Ketegaran sebagai Enterpreneur dan Camat Metro Timur luluh oleh kesedihan yang timbul dari percik keluarga.

“Awal apa Pak?”

“Nirmala mencintaimu anakku.”

Ada petir yang tiba-tiba mengguntur dalam pikiran Rasyid Abyadhu Yalaq. Baru kali inilah ada sebuah luka baru dalam hatinya yang putih. Baginya, ini adalah sebuah bencana sebelum waktu yang tepat. Hidupnya yang sejak SMP hingga SMA dihabiskannya untuk menuntut ilmu di pesantren, tak banyak bertemu dengan lawan jenis. Dan kini, babak baru masalah cinta mencoba mengambil celah dalam hatinya yang murni.

“Bagaimana mungkin wanita secantik Nirmala mencintai saya Pak? Saya...,”

Pak Saiful memotong kalimat Rasyid cepat, “Dengar anakku, jangankan puteriku. Aku pun tertarik dengan dirimu, dalam artian akhlak kejujuranmu itu. Kau ingat, kuberi kau uang lima puluh juta tapi kau tolak dan kau bilang hanya ingin menjaga keikhlasan di hatimu. Siapapun orangnya yang melihat perbuatanmu itu akan tertawan oleh perilakumu. Kau menolaknya bukan karena meremehkan atau malu, kau hanya bilang untuk menjaga hatimu. Apakah kamu tahu kenapa aku memberimu balasan uang itu?”

Rasyid hanya menggeleng sambil menatap pak Saiful.

“Dalam dompet itu, ada cincin pernikahanku dengan almarhum isteriku. Selain nilai emasnya besar dia mempunyai nilai yang tak akan terbayar oleh apapun. Karena, cincin itu adalah wasiat dari almarhum isteriku agar cincin itu nanti dikenakan Nirmala oleh suaminya saat walimatul ursy . Aku tidak tahu seandainya dompet itu tak tertemukan, saat itu aku telah putus asa mencarinya dan kau datang anakku.”

Hening tercipta di sekeliling mereka, namun celoteh anak-anak di depan At-Taqwa nampak menyenandungkan keriangan dan canda para penjual es dawet, es tape, es teh, es campur, somay, empek-empek, bakso tusuk, mie ayam bercampur baur.

“Nirmala merasa engkaulah jodohnya, kau tahu apa yang dilakukannya setelah kau pulang? Dia memintaku mencarikan guru ngaji agar dia bisa sesuai bersanding denganmu. Kutitipkan dia kepada seorang Ustadzah di dekat kampus STAIN, karena kuliahnya disana. Sejak itu, aku menemukan seorang anak yang amat lembut dan bisa menyenangkanku. Dia telah menjelma menjadi sosok kupu-kupu yang indah dalam pandanganku. Dia merencanakan naik haji tahun ini karena sebuah rencana yang mengagetkanku,” pak Saiful menatap dalam-dalam wajah bersih Rasyid, “Dialah yang memperkenalkanku pada Allah, karena selama itu aku belum mengenal Allah dengan sebenarnya. Dialah yang selalu memintaku ke masjid untuk shalat berjamaah dan dialah yang mengajakku jika ada ta’lim.”

“Dia memintaku melamarmu saat di Mekkah nanti, dia ingin kau memakaikan cincin wasiat itu disana. Dan dia telah siap akan resiko kau terima atau kau menolaknya. Tadi dia mengatakan kau disini, dia tidak menjelaskan apa-apa tapi kutahu ada kesedihan dari wajahnya yang bagiku adalah matahariku. Aku tahu yang dia rasakan. Maka, aku hendak memastikannya dan ternyata benar, dia sedih karena engkau tidak jadi ke Mekkah. Tapi, dia tetap berkomitmen untuk berangkat menunaikan haji walau tanpa rencananya melamarmu disana,” lelaki setengah baya itu menatap langit-langit masjid.

Rasyid mencoba menenangkan dirinya, baginya ini sangat improper. Sangat tak wajar. Belum pernah dalam hidupnya dicintai oleh seorang wanita yang bukan muhrim hingga sekeras keyakinan Nirmala, kalau dicintai orang dia sudah terbiasa. Cinta orangtuanya melebihi apapun baginya, cinta sahabat-sahabatnya sewaktu di pesantren atau teman-temannya di kampus dan di kontrakan. Semuanya penuh dengan cinta tapi bukan cinta yang saat ini sedang menghantamnya. To strike hard.

“Apakah kau mau menolongku Anakku? Jika kau memenuhinya maka kau akan melengkapi seluruh hidupku dan kau telah membantuku menuntaskan janjiku.”

“Jika saya sanggup, Insyallah saya akan berusaha membantu Bapak.”

“Anakku, maukah kau menjaga anakku? Menjaganya hingga seluruh hidupmu? Maukah kau membahagiakannya dan membimbingnya dalam jalan Allah? Dan aku akan melakukan apapun untuk itu. Aku tahu, aku bukan muslim yang baik di hadapan Allah, tapi aku tahu satu hal. Kau lelaki shaleh, jika kau menikah dengan Nirmala kau akan membimbingnya dalam jalan Allah, seandainya kau tidak mencintainya pun kau tidak akan pernah menyakitinya. Itulah seorang lelaki yang bertaqwa,” lelaki itu tak kuat menahan airmatanya, kelopak mata tua itu mengeluarkan cairan beningnya.

“Aku..., aku,” Rasyid tak bisa meneruskan kata-katanya. Bibirnya bergetar, dia telah belajar semua konteks dari mulai pra nikah hingga urusan rumah tangga. Hak dan tanggung jawab seorang suami. Ketika dia membaca dia tak menyadari akan menghadapi hal itu pada saat tak terduga sama sekali. Itulah rahasia Allah ‘Azza wa Jalla yang Maha Menentukan. Semuanya atas kehendakNya semata, karena Dialah Sang Penguasa segala sesuatu.

Apakah aku sudah siap ya Allah? Kenapa Kau beri aku kemulyaan ini? Aku dicintai seorang wanita yang shalihah sekaligus cantik, apakah Kau persiapkan aku untuknya? Apakah dia benar-benar jodoh yang Kau persiapkan untukku? Lalu, apakah aku memang pantas dengannya? Aku sangat takut jika aku mengecewakannya ya Allah. Tuntunlah hambaMu yang lemah ini, tuntunlah, tuntunlah. Hatinya tak siap menghadapi hal tiba-tiba ini, dan tempat kembalinya adalah kepada Allah selalu menjadi Referensi hatinya.

“Aku belum bisa memutuskannya sekarang Pak, aku harus shalat istikharah dulu dan aku juga harus meminta izin kepada orangtuaku di Mesuji. Maafkan saya Pak, maafkan saya,” Rasyid telah mampu menguasai dirinya.

“Aku sama sekali tak tersinggung anakku, aku tahu ucapan itulah yang akan keluar darimu. Aku semakin yakin akan dirimu Rasyid. Semoga Allah memberikan keputusan yang terbaik untuk kita semua, keputusan yang memang selalu baik jika itu dariNya. Aku telah banyak berhutang budi padamu, dan ingatlah satu hal. Aku hanya akan menyerahkan anakku pada orang yang sholeh, bukan pada orang yang hanya punya uang. Aku sangat mengharapkan kamulah yang akan menjemput Nirmala, dan Nirmala sangat mengharapkanmu anakku.”

Sepoi angin semilir menelisik, mengabarkan hari mulai beranjak. Mobil bus berdatangan dari kiri dan kanan jalan masuk ke Masjid Taqwa. Keberangkatan haji sebentar lagi berangkat.

“Pak, saya harus bekerja kembali untuk memindahkan koper-koper dan barang-barang lainnya. Bapak juga harus segera siap-siap, saya akan segera memberi keputusan jika saya telah menemukan jawabannya.”

“Ya, dan jangan lupa doakan perjalanan haji kami anakku?”

“Insyaallah Pak, saya akan mendoakannya dari sini Pak. Dan saya juga mohon doanya di negeri kelahiran Nabi saw Pak.”

“Kita saling mendoakan anakku,” pak Saiful melebarkan bentangan kedua tangannya, ingin memeluk Rasyid. Rasyid ragu namun segera membalas membentangkan kedua tangannya dan pelukan itu erat. Tiba-tiba ada perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuh Rasyid, seolah lelaki yang memeluknya kini adalah ayahnya sendiri. Perasaan dekat yang mendalam.

Pak Saiful melepaskan pelukannya, “Aku berharap banyak bahwa kaulah nanti yang akan membimbing anakku menuju jalan Allah, itulah doaku sepanjang hidupku. Aku hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Nirmala.”

Pak Saiful pamit pada Rasyid yang terdiam di atas tangga. Angannya melayang, menerobos, mengambang di antara arakan awan yang bertelekan, mengapung di bawah atap langit yang mulai memanas. Ya  Allah, Kau hadapkan aku pada pilihan yang yang mengharuskanku mengambil resiko dan resiko itu terlihat penuh dengan kemulyaan. Allah, belum terpikir olehku untuk menikah saat ini, tapi Engkau segala tahu yang ghaib dan Maha Penentu segala takdir.

Rasyid segera bergabung bersama teman-temannya, mengangkat koper-koper yang penuh dengan baju, terasa berat. Satu-persatu milik jama’ah haji terutama untuk bagian Metro Timur diangkatnya dan dibawa keluar untuk dimasukkan ke dalam bus sesuai dengan kelompok jamaah yang telah dibuat. Rasyid meminta maaf kepada teman-temannya karena tadi membantunya tidak penuh karena ada hal yang harus diselesaikan. Tak ada masalah, mereka saling memahami.

Saat mengangkat koper menuju bus 2 dari Metro Timur, senyum pak Saiful menyapanya kembali. Saat memasukkan koper hitam besar itu, pak Saiful mendekatinya dan mengatakan sesuatu yang terngiang terus dalam kepalanya, “Nirmala sudah kuceritakan tentang obrolan kita barusan, dia sangat mengharapkanmu menerimanya. Tapi, tetap saja semua keputusan kini ada di tanganmu. Dia akan menerima semua keputusanmu, dia akan berusaha ikhlas menerimanya.”

Saat melangkah hendak kembali mengambil koper-koper yang masih tertinggal. Langkahnya memelan, karena ketika hendak naik tangga Nirmala Sari baru saja dari tempat wudhu. Mereka berpapasan, Rasyid menundukkan kepalanya dan menghindari bertatapan mata. Dia harus menjaga hatinya dulu. Alhamdulillah, Rasyid melewati tanpa melihat wanita cantik itu lagi. 

“Kak Rasyid,” langkah Rasyid terhenti, suara wanita itu memanggilnya dari jarak enam meter.

Rasyid menengok refleks, matanya bertemu dalam hitungan detik. Astaghfirullah, yang pertama adalah boleh yang selanjutnya adalah dosa. Rasyid kembali menunduk, “Ada apa Nirmala?”

Nirmala tak berkata apa-apa, dia menghulurkan sebuah kertas. Rasyid menerimanya, dan nirmala meninggalkannya tanpa mengucapkan kata sehuruf pun. Rasyid terpaku di tempat berdirinya, memandangi kertas di tangan kirinya. Disimpannya di kantong saku bajunya. Dia berbaur kembali bersama rekan-rekannya yang mengangkat koper sambil bercanda ceria, mereka hendak ke Mekkah kecuali Rasyid. Rasyid membaur ikut bercanda walau hatinya sebenarnya tidak berada disana, tapi entah dimana. Inilah ujian terbesar baginya. Lebih berat daripada ketika uang kiriman dari orangtuanya belum datang.

Saatnya bus-bus pemberangkatan ke Mekkah berangkat. Beberapa keluarga yang akan ditinggalkan ke Mekkah berkumpul di depan pelataran Masjid. Senyum dan lelehan airmata menyatu menjadi satu. Satu doa yang terucap dari setiap lisan-lisan yang mengiringi keberangkatan itu, ‘Semoga mendapatkan haji yang mabrur dan diridhai Allah’ kata-kata itu menggema di hati para pengiring termasuk hati Rasyid.

Bus-bus bergerak teratur, doa-doa terangkat. Allah, mereka datang untukMu. Sambutlah ya Allah, para pencariMu.

Rasyid masih berdiri di atas paping kotak di tengah pelataran. Ada yang berbeda dalam hatinya. Allah, aku datang menyerahkan segalanya padaMu. Rasyid membersihkan dirinya, debu-debu ketika membersihkan ruangan tadi seolah melekat di wajahnya bagaikan dosa-dosa yang melekat pada manusia ketika melakukan maksiat. Dibasuhnya dalam wudhu, serasa sejuk mengaliri seluruh inderanya. Wudhu termasuk ritual ibadah penghapusan dosa, dia membersihkan dosa sebagaiman daun-daun berguguran dari pohonnya. Serasa air di tengah sahara, seumpama air dari telaga kautsar. Hanyalah bagi orang yang beriman yang merasakan kedamaian itu.

“Asy hadu Allaa ilaa ha illallahu wahh dahulaa syarii kalahu wa asyhadu anna muhhammadan ‘abduhu warasuu luhu. ” Barangsiapa mengucapkan doa ini, maka dia boleh memilih pintu surga sekehendaknya, dari delapan pintu surga.

Rasyid memasuki masjid dan melantunkan doa masuk masjid, suasana sangat sepi. Dia berdiri tepat di tengah lubang kubah, di tengah-tengah masjid. Diambilnya mushaf dalam tasnya, dijadikannya sutrah . Rasyid shalat istikharah. Deburan hatinya berbeda dari hari-hari biasanya. Dia menetralkan setiap egoisme manusia, dia mengharapkan nur Ilahi menyiraminya untuk membuahkan keputusan yang terbaik.

Rasyid menguatkan langkah keimanannya. Langkah keyakinannya.

Rasyid mengucap doa shalat istikharahm, menyerahkan total semuanya pada allah ‘Azza wa Jalla. Selesai berdoa Rasyid membuka surat dari Nirmala, bismillahir rahmaa nirrahiim. Jiwanya telah tenang.

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Salam keimanan agar selalu istiqomah di jalanNya.

Wahai Rasyid, yang hatinya murni bagai air susu yang jernih tanpa campuran. Seiring cinta dari Rabbku, cinta dari Ayahku, dan almarhum Ibuku. Izinkanlah aku mengatakan suatu kebenaran untukmu.

Wahai lelaki jernih, aku mahasiswi STAIN. Beberapa kali kau mengisi kajian di STAIN kau telah menawan hatiku, aku merasa bersalah pada Allah karena rasa ini belumlah seharusnya ada sebelum ikatan pernikahan. Aku berusaha melupakan perasaan itu sejauh-jauhnya.

Hingga, suatu malam. Aku mendengar tangis Ayahku kala berdoa di penghujung malamnya. Dia berdoa sebagai permintaan yang selalu diulang-ulangnya agar nama yang disebut-sebutnya itu menikahi putrinya Nirmala. Nama Rasyid disebutkannya berulang-ulang untuk anaknya, dia juga tak kuasa mencarimu untuk menawarkan anaknya. Dia hanya melihat keikhalasanmu, maka kuputuskan untuk menyampaikan ide melamarmu di Mekkah nanti. Apapun keputusanmu, aku akan menerimanya. 

Aku tahu, mungkin aku tak pantas untukmu yang jernih hatinya. Kuakui, aku baru saja memulai mencintai Allah, aku merasa tenang dengan jilbab. Aku menemukan cinta itu. Tapi, aku tak bisa melupakan wajahmu juga.

Maafkan aku, karena mungkin aku meracuni hatimu. Maafkan jika aku melukai keikhlasan dan kemurnian kedekatanmu dengan Allah.

Izinkanlah aku melayanimu, aku akan berusaha menjadi isteri yang shalihah.

Aku akan berusaha menjadi isteri yang baik.

Maafkanlah aku yang sebenarnya tak sepantasnya berharap apa-apa di hadapan orang yang tulus hatinya sepertimu.

Terima kasih telah mendengarkan ayahku dan aku, 

Nirmala Sari

Rasyid melipat surat itu. Semua begitu membingungkan baginya. Ya Allah, putuskanlah semua urusanku sesuai kehendakMu. ‘Ya Allah, semoga Engkau tidak menghukumku karena apa yang mereka katakan (tentangku). Ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui. ’ Dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka perkirakan.

Rasyid menitikkan airmatanya, airmatanya mengalir agar segala kesombongan dalam dirinya lebur dalam keimanannya yang selalu dipupuknya. Allah, jagalah dia. Jagalah setiap orang-orang yang beriman yang ingin memurnikan ketaatan kepadaMu. Jagalah ya Allah, jagalah demi keagunganMu, demi kemulyaanMu. Amiin.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!