Warna Pelangi Cinta

Berdakwah di Ghuroba

Nabil datang sedikit terlambat ketika rapat Pengurus Harian Ghuroba. Angota-anggota ghoroba terdiri dari beberapa Universitas di Metro, diantaranya STAIN, Universitas Muhammadiyah, STIT Agus Salim, STO, DCC, PGSD UNILA dan Akbid Negeri maupun Wirabuana. Anggota-anggota Ghuroba adalah orang-orang yang ingin belajar berinteraksi dengan masyarakat umum dan membina pelajar, baik SMP maupun SMA.

Nabil menyukai dunia anak-anak, sangat. Dia pernah mencicipi keindahan masa bahagia itu rasanya sewaktu kecilnya. Masa yang indah sewaktu keluarganya masih utuh, saat ayahnya dulu sering memijit hidungnya yang sedikit mancung.

”Dasar manja, sana! Bantuin Kakakmu membersihkan rumah,” Lelaki belum genap setengah baya itu tersenyum sambil mencubit pelan pipi Nabil.

”Malas Bah, aku mau mainan barbie saja,” Nabil memakaikan baju pesta pada bonekanya, lalu sibuk mengepang rambut boneka itu.

”Bagaimana kalau nanti siang kita ke Pasar? Kita cari boneka barbie yang lain sama kostumnya juga,” lelaki itu mengerlingkan matanya, mengangkat satu alis.

”Mau Bah! Ayo sekarang saja!” Nabil berjingkrak-jingkrak lalu memeluk kaki Ayahnya, tubuhnya masih kecil.

”Tapi..., bantu Kakakmu dulu ya?”

”Iya deh, Nabil tidak malas lagi,” Nabil bersungut-sungut mendekati Kakaknya yang sedang memegang sapu, Bunda yang sedang memasak hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Liburan yang menyenangkan.

Nabil merasakan hangat mengalir di pipinya, segera diusapnya. Abah, maafkan Nabil karena sering menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kini, Nabil harus tegar. Abahnya meninggal ketika dia berumur dua belas tahun, Bunda kini sering sakit semenjak ditinggal suaminya. Ibunya yang bekerja sebagai tukang jahit di desa merasa kewalahan membiayai sekolah kedua anaknya itu, namun Lutfi terdorong punya kewajiban yang besar sebagai pengganti tulang punggung keluarga.

Nabil masuk masjid Babussalam dari arah pintu sebelah timur. Tersenyum sambil melepaskan tas punggungnya. Dia berjalan mendekati beberapa orang pengurus harian Ghuroba yang dipisah hijab papan untuk pembatas shalat laki-laki dan perempuan. Nabil segera duduk di samping Maya dari Akbid dan Nurul dari Universitas Muhammadiyah. Rapat belum dimulai baru taujih  singkat dari Herman, sekretaris umum Ghuroba.

Seorang wanita berjilbab datang dari pintu masjid Babussalam sebelah timur. Tersenyum sambil melepas tas punggungnya. Berjalan mendekati Nabil, mengucapkan salam dan duduk di sebelahnya.

”Kita adalah seorang penyeru kebenaran sebelum apapun yang kita lakukan, ’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang munkar (keburukan). Mereka itulah orang-orang yang beruntung.’  Untuk menjadi fortunate, kita harus menjadi problem solver yang menjadi solusi bagi permasalahan.

Amar ma’ruf nahi munkar, dapat dilakukan oleh siapa saja dan itu adalah kewajiban kita sebagai generasi Ghuroba yang mengidentikkan dirinya sebagai generasi pembebas dari kejahiliyahan dan kejumudan. Tiga pilar yang menjadi logo, dan mainstrem pergerakan Ghuroba.

Yang pertama adalah ketaatan kepada Allah yang terus-menerus, tak kenal lelah. Charger iman yang kuat dan teguh seolah sistem pagan yang mangakar kuat dalam suatu Pemerintahan. Kedua, mentalitas dan intelektual yang kuat. Pemahaman menyeluruh dan global dalam memahami permasalahan kehidupan akan mengiringi kita dalam setiap langkah membina masyarakat dan pelajar.

Ketiganya adalah prestasi seorang generasi Ghuroba haruslah mencapai puncak sebagai suatu konsekuen dari pendakian tebing-tebing kesulitan. Dengan ketiga kekuatan itu dalam diri kita, Insyaallah langkah Ghuroba tidak akan dipandang sebelah mata oleh semua lapisan, baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah.” Herman, Calon pengganti kuat Faza itu memang memunyai dedikasi tinggi. Taujihnya membuktikan dirinya telah cukup matang.

Faza tersenyum melihat kaderisasi yang berjalan optimal, dia merasa tenang jika harus meninggalkan Ghuroba sebagaimana dirinya dulu menggantikan Andre yang mendirikan pertama kali Ghuroba dan dia memegang kepemimpinan selama tiga tahun. Setelah tahu penerusnya, Faza maka Andre baru bisa Pulang ke kampungnya dengan ketenangan untuk meneruskan dakwahnya di kampung halaman. Itulah regenerasi, bukan otoriter bertahan untuk meraup keuntungan. Popularitas atau treasure, wealth, money.

Setelah taujih selesai, Maya yang menjadi MC, dia dari bidang hubungan masyarakat mempersilakan Faza untuk memimpin rapat. Saat itulah, ketika lelaki itu mengucapkan salam ada deburan keras yang mencabik-cabik ketegaran Nabil. Dadanya berdegup lebih kencang, jemari-jemarinya mengeluarkan keringat dan membasah. Suara lelaki itu seolah setrum, membius seluruh syarafnya. Dalam pikirannya hanya terisi kehebatan sang pujaan, lalu..., tiba-tiba hatinya merasa perih teriris-iris.

Lemah dan hinanya hambaMu ini ya Allah. Belum ada yang kuberikan pada Ibu dan kak Lutfi, belum ada prestasi yang kan kubanggakan pada mereka. Pikiran semacam ini hanyalah penghalang dan duri. Tapi, aku tak kuasa sama sekali mengekang perasaan ini Allah.

”Kemarin, saya dihubungi Pak Lukman Hakim Wali Kota Metro. Kita mendapatkan tender untuk Ghuroba, dan ini adalah tender yang besar. Saya berdiskusi dengan beliau di kantor wali kota, tawarannya adalah tour untuk melakukan pembinaan mingguan untuk seluruh pelajar baik SMP dan SMA se Kota Metro. Ini adalah momen besar kita untuk menunjukkan eksistensi Ghuroba. Tour ini, diapresiasikan selama setahun penuh sebagai percobaan.

Jika selama setahun ada perkembangan yang signifikan dalam perbaikan prestasi dan moral pelajar maka program itu akan menjadi program baku di Kota Metro dan tentu saja akan dibuat peraturannya secara legal di Pemda. Ini adalah prestasi besar yang dipercayakan pada kita, dan ini adalah langkah besar untuk berdakwah. Saya tahu, sebentar lagi reorganisasi musyawarah Organisasi. Saya mungkin akan pergi dan meneruskan dakwah di ranah yang lain. Saya yakin, kalian semua sanggup memikulnya,” semuanya diam. Ada kabar besar, sebuah prestasi namun diiringi sebuah kehilangan. Seimbang, tawazun, balance.

Herman mengangkat kepalanya, ”Kak, apakah kami sudah siap kau tinggal?” ada nada lemah dari getar suara yang dihasilkannya.

Mereka mafhum , organisasi Ghuroba setingkat setelah kepengurusan Andre yang menjabat ketua pertama kali hingga tiga tahun memimpin karena tak ada penerus. Seorang mahasiswa baru yang dididik langsung oleh Andre, kini telah mewarisi Ghuroba dalam rangkak-rangkak mendaki. Kepercayaan besar itu kini muncul. Sebuah prestasi yang bagus. Faza hanya memimpin Ghuroba selama setahun, banyak change terjadi. Tentu saja perubahannya kearah yang lebih baik.

Namun, perjuangan itu penuh peluh dan pesakitan. Full of Examination.

”Kalian pernah ikut pelatihan organisasi bukan? Kuuraikan sejenak bagian pelajaran terpentingnya untuk kalian. Ingatlah, organisasi dikatakan berjalan beres jika tidak bergantung kepada siapa ketuanya. Jika ketuanya tak ada atau diganti, organisasi tetap walk.

Indikator keberhasilan, sinergitas positif organisasi adalah dalam tubuhnya, setiap individu menggembleng dirinya dalam kesadaran. Kesadaran akan filosofi gerakan organisasi berupa visi dan misinya. Lalu, mengembangkannya dengan kepekaan masing-masing dan biarlah Allah yang menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara mereka.

Rasulullah saw bersabda, ’Apabila Allah menghendaki kebaikan pada suatu kaum maka dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang-orang yang bijaksana... ’ jika saja generasi tak memiliki penerus maka bersiap-siaplah, Allah akan menggantikannya dengan generasi yang lain yang generasi itu mencintai Allah dan Allah pun mencintai mereka.

Ghuroba akan terus berjalan selama para generasi di dalamnya komitmen untuk kompak bersatu, ada atau tidak ada Andre atau Faza. ’Kekuatan Allah Azza wa Jalla beserta jama’ah (seluruh ummat). Barangsiapa membelot maka dia membelot ke neraka.’  Yang saya maksud adalah persatuan dan saling memahami, dan ada sinergitas gerakan goal yang sama. Kalian akan menemukan kekuatan besar itu, saya cukup mengawali saja dan kalian sudah saatnya meneruskan perjuangan ghuroba. Inilah kekuatan regenerasi yang matang. Kalian juga akan memunculkan bibit-bibit baru nantinya yang akan siap menggantikan kalian.”

Suasana tenang, hembusan yang dihasilkan kipas angin di atas mereka membelai semangat mereka yang membara.

”Jadi..., bagaimana menurut kalian? Saya minta pertimbangan karena pada akhirnya kalianlah yang akan melaksanakan program ini nantinya.”

Maya yang putih wajahnya berdehem pelan. Pertanda ingin bicara, Faza mempersilakannya.

”Ini merupakan prestasi besar bagi Ghuroba dalam positioning gerakan, ini juga sebagai suatu hal yang akan mengharumkan Ghuroba. Nama Ghuroba Insyaallah tidak akan dianggap nama murahan lagi atau organisasi kecil. Saya menyerahkan segala keputusan kepada Kak Faza, karena dialah yang paling tahu sebatas mana kekuatan Ghuroba hingga sekarang. Saya akan menyetujui keputusan musyawarah.”

Nurul juga bicara, ”Ghuroba optimis melaksanakan amanah ini, bukankah kita bekerja semua? Ini adalah tahap awal Ghuroba melakukan ekspansi.”

Herman menganggukkan kepalanya yakin, ”Bagaimana dengan ukhti Nabil?”

”Iya, bagaimana pendapat Nabil?” Faza menambahi.

”Eh..ii..Iya, saya akan berusaha keras mewujudkan mimpi besar ini,” jawab suara lembut Nabil agak serak. Nabil dari bidang informasi dan komunikasi.

Hilman dari kaderisasi menggangguk kepada Faza tanpa berkomentar.

”Baiklah, pengurus harian yang terdiri dari enam telah menyatakan kesepakatannya. Kita bergerak karena sebuah impian besar yang ingin kita sumbangkan kepada Allah ’Azza wa Jalla. Impian itulah yang membuat kita bertahan di dunia, tanpa mimpi itu kita menjadi manusia yang seolah mayat berjalan. Mimpi itulah yang mempertemukan kita di jalan dakwah ini.”

Rapat itu usai, dan hati Nabil semakin terbakar kekaguman. Entah sampai kapan dia bisa menyimpan perasaannya yang semakin menggelembung hendak meledak. Kapan saja.

Aku harus berbuat sesuatu, perasaanku semakin kacau. Apakah aku harus cerita pada kak Lutfi? Memintanya untuk melamarkan? Allah, hamba ini sungguh lemah.

Nyanyian cinta kembali berdengung dan disambut angin cepat. Cinta yang letaknya tak tepat memang selalu bermasalah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!