Warna Pelangi Cinta
Hati Zilul yang Terjebak Cinta
Waktu baginya berjalan begitu lambat. Ujian skripsi yang tinggal seminggu lagi sungguh sangat menyiksanya. Lutfi telah ujian seminggu yang lalu dan dia lulus dengan predikat memuaskan. Hasil ujian Lutfi nilainya A dengan IP Komulatifnya 3,47. Aku telah kalah satu point dengan Lutfi, walau begitu aku harus bisa mendapatkan nilai yang memuaskan juga, itulah yang dalam pikiran Zilul.
Hp-nya berdering. Nomor ayahnya. Jangan-jangan tuntutan untuk memintaku segera menikah, aduh Papi! Tidak tahu apa aku lagi pusing menyiapkan ujian skripsiku. Zilul mengambil Hp-nya di atas ranjang dan mengangkatnya.
”Assalamu’alaikum Pap.”
”Wa’alaikumsalam Anakku, bagaimana kabarmu Nak?” suara dari seberang.
”Alhamdulillah baik Pap, Papi dan Mami bagaimana kabarnya?”
”Ya, biasalah. Baik semua.”
”Ya,” Zilullah segera paham, kedua orangtuanya memang sibuk dengan urusannya masing-masing. Hingga..., Zilul dari kecil hanya kenal dengan Neneknya yang setahun yang lalu meninggalkannya untuk selamanya di dunia.
Nek, aku kangen. Kaulah yang selalu membelaiku sejak kecil. Belaian Mami dan Papi mungkin hanya sekali dalam seminggu. Itupun hanya sekedar mengecup kedua pipiku. Dan, kau Nek, menemaniku bercerita, bermain dan teman ketika aku berduka. Allah, terimalah segala kebaikannya. Kau Maha Tahu segalanya, dan Nenekkulah yang menunjukkanku akan kebesaranMu. Dia mengajariku mengenalMu Allah! Dia mengajari aku bersujud padaMu Allah, jangan Kau sia-siakan dia ya Allah.
”Lul..., Zilul,” Suara di seberang memastikan.
”Ya Pap, Zilul masih disini.”
”Suaramu terlihat sedih Zil, kau kenapa Anakku?”
”Gak Pap, hanya teringat pada Nek Harmi.”
”ya, Nenekmu itu pasti adalah orang yang sangat istimewa untukmu. Ketika dia meninggal kau bahkan tak mau makan kecuali Mamimu paksa menyuapimu. Kami akhirnya sadar dari kejadian itu. Tapi, engkau ingin berusaha hidup mandiri dan meninggalkan rumah dan kami. O... ya Zil, bagaimana skripsimu?”
”Tinggal pengajuan untuk ujian akhir Pap.”
”O ya, kapan ujiannya?”
”Nanti saya kabari lagi Pap, soalnya belum tahu kapan ketiga dosen pembimbing skripsiku siap untuk ujianku.”
”Baiklah, kami tunggu informasi itu. Papi dan Mami pasti akan datang dan akan melihatmu menjawab dan menghajar Dosen-Dosen yang menanyaimu, mereka akan tahu siapa kamu Zil. Mereka akan kagum atas setiap jawabanmu yang Briliant.”
”Sudahlah Pap, Papi dan Mami doakan saja dan hasilnya hanyalah urusan Allah. Zilul sekarang sedang menyiapkan diri agar tidak mengecewakan Papi dan Mami.”
”Aku bangga padamu Zil. Lalu..., bagaimana dengan pernikahanmu? Apakah kamu setuju dengan dua calon yang kami kirimkan fotonya. Kau tinggal pilih saja yang mana yang kamu inginkan dari keduanya. Ratna adalah anak pejabat dan satunya si Fatmawati itu anak seorang pengusaha terkenal di Bandar Lampung. Bagaimana?”
Zilul diam sejenak. Apa yang tidak diharapkannya ternyata benar-benar ditanyakan Papinya. Aku telah memiliki seseorang dalam hatiku Pap, dia adalah satu-satunya bidadari di dunia ini. Papi juga tidak akan tahu apa yang kurasakan karena Papi dan Mami sama sekali tak tahu apa yang kulakukan di Kampus UM. Mereka menjodohkanku kepada dua orang yang cantik namun mereka memperlihatkan bagian dadanya ketika terlihat dari foto itu. Aku mencari bidadari Pap, bidadari yang berbalut kain suci bernama jilbab. Dan itu adalah Naurah.
”Pap, pahamilah Zilul. Zilul memang akan menikah tapi tidak dengan calon yang Papi dan Mami calonkan. Titik! Dan Papi tidak usah repot-repot lagi mencarikan untuk Zilul, Zilul akan mencari sendiri dan sesuai dengan keinginan Zilul. Maafkan Zilul Pap.”
Suasana hening beberapa detik atau mendekati satu menit.
”Maafkan Papi Zil, Papi dan Mami hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Kalau kau memang ingin mencari sendiri, kami akan mendukungmu Nak. Kami ingin berubah dan memperhatikanmu, karena kami memang bukanlah orangtua yang baik untukmu, tapi..., berilah kesempatan kepada kami,” ada isak lirih dari lelaki berumur 48 tahun itu.
”Zilul yang minta maaf Pap, tadi Zilul sedikit emosi. Tapi, Zilul akan segera mencari bidadari itu dan nanti akan Zilul hubungi jika sudah mendapatkannya. Zilul hanya membutuhkan doa dari Papi dan Mami.”
”Pasti Zil, kami pasti akan mendoakanmu,” ada nada bahagia dari seberang sana.
”Aku mencintai Papi dan Mami, maafkan Zilul dan titip salam buat Mami.”
”Ya, Papi kerja lagi ya?”
”Ya Pap, maafkan Zilul tadi kasar pada Papi.”
”Tidak apa-apa, memang kami bukanlah orangtua yang baik. Kami...,”
”Cukup Pap, yang penting adalah kita bisa mengambil pelajaran dari masa lalu yang telah terjadi. Zilul mencintai Papi dan Mami karena Allah,” ada tetes bening yang tak bisa ditahan Zilul. Suaranya bergetar.
”Terima kasih Anakku, Assalamu’alaikum.”
Zilul menjawab salam dan mematikan hubungan. Dia terduduk sambil duduk di pinggir ranjang. Murottal mengalun meresapi hatinya, airmatanya semakin banjir. Setiap Allah menutup satu pintu kenikmatan maka Allah membuka pintu-pintu nikmat yang lain. Itulah Allah, yang paling paham akan keadaan hamba-hambaNya.
Dan begitulah Al-Wakiil. Apa makna Al-Wakiil?
Al-Wakiil adalah Dzat yang mengurus hamba-hambaNya, dengan kebaikanNya, tidak akan menyia-nyiakan dan menimpakan kemudharatan maupun kesusahan, bahkan Dia akan menunjuki jalan kemaslahatan dan kemudahan.
”Labaik wa sa’adaik, dan kebaikan itu dalam genggaman kedua tanganMu, sedang kejelekan itu tidak dinisbatkan padaMu.” (HR. Muslim). Zilul meyakinkan dirinya.
Seorang pemuda yang baru menyelesaikan kuliah dan pendidikannya, tiba-tiba bagi mereka dunia terasa gelap gulita. Di antara mereka, ada yang merasa susah karena tidak kunjung mendapat pekerjaan, tidak kunjung menikah, yang lain lagi merasakan sulitnya menjalan kehidupan berumah tangga akibat menumpuknya masalah. Ketika itu, Allahlah yang kita butuhkan, butuh ketotalan untuk mengenalNya, mencintaiNya dan menyandarkan segalanya pada Allah.
”Walillaa hi ’aaqibatul umuur.” (dan kepada Allah-lah kembali segala urusan).
Setiap kali Allah ’Azza wa Jalla menutup pintu rezeki, maka Dia sebenarnya akan membuka enam atau tujuh pintu yang lain. Tetapi, dengan bodoh manusia sering berkeluh kesah, ’Ya Allah, mengapa Kau tutup jalan ini?’ Kadang Allah menutup satu pintu untuk membuka banyak pintu, di saat kita melihat dunia ini penuh kegelapan. Saat itu, ketahuilah bahwa Allah ’Azza wa Jalla tidak akan pernah menelantarkan kita, bahkan Dia akan membuka pintu rezeki yang kita ridhai dan sukai.
Coba ingatlah, janin di dalam perut ibunya makan melalui tali pusar dengan satu jalan, yaitu plasenta. Ketika bayi itu lahir, ia menangis. Mengapa? Ia merasa kehilangan jalan yang ia biasa gunakan. Ia tidak tahu kalau Allah dengan kasih sayangNya memberikan banyak jalan padanya, yakni air susu ibu, belaian cinta Ibu dan Ayahnya, suara adzan dan iqomah, buaian dan kemanjaan. Allah ’Azza wa Jalla memberikan susu bersih lagi suci, nikmat lagi bermanfaat.
Ketika bayi itu disapih umur dua tahunan, maka dia menangis karena merasa kehilangan kebiasaannya. Ia tidak tahu dan Allah-lah Yang Maha Tahu, Allah memberikan banyak jalan rezeki padanya, yaitu makanan daging dan sayur, minum susu kemasan, air putih dan buah-buahan. Dan..., bila manusia mati, ia akan menangis karena semua jalan kenikmatan di dunia diputuskan. Tapi, ia tidak tahu kalau Allah ’Azza wa Jalla membukakan delapan jalan, yaitu delapan pintu surga.
”Katakanlah, ’Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ Zilul semakin khusyuk bersama irama Murottal.”
Zilul menaruh skripsinya di sisi ranjang, dia berdiri dan mematut dirinya di cermin. Disisirnya rambutnya yang sudah mulai panjang mendekati daun telinga, ”Apa yang harus aku lakukan agar Papi dan Mami tidak perlu khawatir lagi dan sibuk mencarikan aku calon istri? mereka juga tidak tahu bahwa aku adalah seorang aktivis kampus. Bagaimana mereka akan menjodohkan dengan wanita-wanita yang menyibukkan diri untuk menata tubuh dan fashionnya? Andai saja mereka tahu, bahwa aku menginginkan Naurah.
Tiba-tiba debaran di jantung dan hatinya saling berpacu, entah kenapa tiba-tiba nama Naurah terpantul dari setiap dinding hatinya dan memantul terus sehingga seolah hatinya hanya dipenuhi oleh wanita yang dikaguminya itu. Tiba-tiba jika teringat nama Naurah, hatinya perih dan bahagia pula bercampur jadi satu. Jika tahu rasanya seperti ini, aku tak akan mengharapkannya lagi. Tapi, tinta itu telah kering.
Zilul paham, sangat sadar. Dia adalah Ketua At-Taghyir UM Metro. Tapi..., Zilul tak bisa membohongi hatinya yang menaruh rindu mendalam dan sangat dalam. Perasaaannya tak kuat menahan gejolak dan menjajah dan berdebam-debam mengaliri setiap darahnya. Zilul segera beristighfar, airmatanya meleleh.
Hatinya tenang sejenak. Angin iman kembali membelai hatinya, ’Allah, ampuni hambaMu yang lemah. Hamba telah kalah oleh nafsu, hamba sudah berusaha sekuat tenaga menghilangkan Naurah dalam hati hamba. Tapi aku tidak bisa ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Bercerita pada orangpun aku malu ya Allah, aku menyimpan perasaan yang seharusnya tidak ada kecuali untuk orang yang telah halal bagiku. Alangkah indahnya jika dia telah menjadi pendampingku, tentu saja...
Astaghfirullahal’adzim. Apa yang terjadi padaku ya Allah.
Pergulatan itu terus berlanjut dalam diri Zilul, tak ada yang mengetahu seberapa dahsyatnya pergulatan itu kecuali Rabbnya dan Zilul sendiri. Orang yang tak mengalaminya tak akan merasakan apa yang dialaminya. Bagai ketenangan capung yang mengambang pelan di angkasa, terapung-apung lalu tiba-tiba fast flow menghilangkan segalanya hingga hanya deburan yang tersisa.
Zilul mengambil mushaf, bibirnya bergetar mengikuti bacaan murottal di komputer, pelan dan lembut. Airmatanya terus mengalir, kenapa cinta teramat menyiksa? Zilul baru pertama kali merasakan cinta yang dahsyat mendebam. Dulu, dia memang sebelum kuliah dia telah berkali-kali pacaran. Empat kali, masa jahiliah! Apakah ini termasuk ujian yang harus kuhadapi untuk membuktikan taubatku ya Allah? Hati dan lisannya menyatu dalam sujud padaNya.
Dua halaman selesai, Rabbanaa laa tuzigh quluu banaa ba’da idz hadaytanaa wahablanaa mil ladun karahmah. Innaka antal wah hab , Zilul meletakkan Al-Quran di meja belajar. Tangannya hendak mengambil skripsi, tapi diurungkannya. Alangkah indahnya, jika Naurah telah halal untukku. Aku bisa belajar skripsi dengannya, aku bisa membaca Al-Quran bersamanya, Zilul segera memejamkan matanya dalam-dalam. Astaghfirullahal’adhim.
Aku harus melakukan sesuatu! Aku tidak mau menjadi gila seperti ini. Aku tak punya siapa-siapa di dunia, yang bisa kuajak berembuk. Kenapa aku belum bisa terbuka pada Rasyid, Faza, Lutfi? Kenapa? Apa ada kesombongan dalam hatiku? Aku pun belum percaya pada mereka, padahal mereka adalah teman-teman yang baik. Semenjak kecil, Zilul memang tertutup pada siapapun kecuali pada almarhum Neneknya. Apakah ini kesalahan?
Aku harus melakukan sesuatu! Must! Jika kubayangkan, ada hati atau mungkin semua manusia memiliki hati mutable, tapi hatiku pada Naurah kuyakinkan constant! Hatiku padanya abadi. Aku harus melamarnya, apapun resikonya. Diterima atau ditolak! Tiba-tiba ada dorongan kuat yang mencekal dan mengelilingi hatinya seperti kosmos yang melindungi inti dari pengaruh luar. Keinginannya itu begitu mantap, perjuangan cintanya mengalun layaknya lagu hard rock.