Warna Pelangi Cinta
Wanita yang Gemetaran
Langkah Faza kembali melaju, Zilul telah terlihat lelap dalam tidurnya. Dipakainya sepatu yang telah lima tahun menemaninya merenda ilmu, sejak kenaikan kelas tiga SMA. Bismillaa hirrahmaa nirrahiim... dipakainya kacamata Shafwan, sangat keren berbalut jaket hitam. Rambutnya yang sedikit panjang menutupi telinganya bergerak-gerak di terpa angin panas. Matanya yang tajam menatap matahari yang mentereng menyengat. Senyumnya terhias indah di antara kesyukuran.
Faza bergerak menuju garasi kendaraan. Garasi terletak di sebelah kiri kontrakan, di belakang garasi itu terdapat kost-kost Mahasiswa yang berdiri memanjang sehingga memiliki banyak kamar. Kampus memang digunakan banyak investor menanamkan modalnya dengan cara membangun tempat-tempat kost. Garasi itu disediakan untuk satu kontrakan Baitul’ilmi dan kendaraan Mahasiswa-Mahasiswa yang kost di tempat kontrakan dan kost-kost milik Pak Toni, salah seorang investor yang mempunyai sebuah toko alat tulis.
Saat mendekati sepeda itu, seorang wanita terlihat berjalan memasuki gerbang hendak melewati garasi. Mungkin salah satu Mahasiswa yang kost di samping Baitul’ilmi. Wanita yang bermata indah bagaikan bola permata, wajahnya bersih, rambutnya tergerai rapi sebatas pundak. Di tangan kirinya memegang es juice yang berwarna putih pekat. Wanita itu terus melangkah semakin dekat dengan Faza.
Sedari tadi Faza menunduk, setelah sekilas melihat wanita itu ada sesuatu yang bermain di hatinya. Dia teringat ucapan Ustadz Ramadhan setelah menyimak hafalan Qurannya dua hari yang lalu, ’Di antara puncak cinta kepada Allah, orang yang mencintaiNya tidak kuasa melihat manusia bermaksiat dalam hak Allah. Orang-orang yang mencintai Allah ingin agar semua manusia mencintai Allah, karena ia tahu mencintai Allah adalah sangat indah..., sangat indah...’ ia memejamkan matanya sejenak, mencoba mengajak diskusi antara hati dan pikirannya.
Saat wanita itu semakin dekat, mata Faza mulai membuka pelan. Seluruh bayangan berkelebat cepat dalam pikirannya, termasuk satu-satunya keluarga yang sangat dicintainya yaitu adiknya yang kini kuliah di STAIN. Adiknya bernama Azizah Sabbah An-Nasyath, dia tidak rela melihat ada yang bermaksiat walau hanya maksiat kecil sekalipun. Wanita adalah ibu dunia, wanita adalah contoh bagi suatu kaum, wanita adalah pencetak para generasi pahlawan. Dikuatkannya lisannya untuk berujar.
”Assalamu’alaikum Mbak,” suaranya baru terucap ketika wanita itu telah melewatinya sekitar dua setengah meter.
”Wa’alaikumsalam, kak Faza memanggil saya. Ada perlu apa?” badannya berbalik. Suaranya sangat lembut, Matanya yang lentik menatap lekat Faza yang tertunduk. Wanita itu juga manusia, melihat Faza yang sebenarnya sangat tampan, hatinya juga berdegub-degup, mendesir. Apalagi Lelaki di depannya adalah salah seorang yang terkenal di kampusnya, atas beberapa prestasi yang tidak mungkin didapat kecuali orang yang ulet belajar dan berusaha. Detik-detik yang mendebarkan.
”Mbak kuliah di Universitas Muhammadiyah kan?” sangat mudah membedakan antara Mahasiswa Muhammadiyah dan STAIN yang letaknya berdekatan itu. Mahasiswa Muhammadiyah di luar FKIP tidak diwajibkan memakai jilbab, tetapi jika di STAIN diharuskan mengenakan jilbab. Muhammadiyah belum memberikan penegasan dalam soal jilbab ini.
”Iya Kak, tapi masih semester empat. Memangnya ada apa Kak?” hatinya semakin berbunga-bunga karena merasa diperhatikan. Kuncup bunga bermekaran di hatinya, walau sedari tadi lelaki tampan itu terus menunduk.
”Sebelumnya saya minta maaf jika ini menyinggung anda. Saya juga punya seorang adik perempuan. Dia kini masih kuliah semester dua di STAIN, dia selalu berpesan kepadaku bahwa seorang wanita itu dilihat dari akhlaknya. Disitulah letak kecantikan dan kemulyaan seorang wanita.”
”Maksud Kakak?” wanita itu mulai menyimak serius.
”Adikku berkata, cantik tidaknya seorang wanita cukuplah dilihat dari perilakunya, karena itulah yang akan abadi dari hidupnya. Cantiknya wajah bisa pudar kapan saja, namun sikapnya akan selalu hidup walau kematian telah menjemputnya. Perilaku itu bagai kristal atau hablur yang mengkilap, dia bersih lagi jernih. dan..., seseorang apalagi wanita akan terlihat indah dan anggun apabila minum juice dengan tangan kanannya lalu duduk. Maaf jika ini menyinggung Mbak, saya pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
Faza berlalu menuju sepeda jengki Shafwan dan menuntunnya, matanya sama sekali tak melihat wanita yang barusan berbincang dengannya, tepatnya diberinya nasehat. Dituntunnya hingga sampai di bengkel di depan kontrakan. Faza memompanya dan sepersekian detik berikutnya sepeda itu lalu melesat menerpa angin. Membelah, merobek, dan menerobosnya.
Wanita itu gemetaran di tempat berdirinya. Lelaki berjaket hitam dan berkacamata itu telah meninggalkannya dan kedua mata bening itu terus melihat kearah gerbang, arah lelaki memesona itu hilang. Belum pernah ada orang yang menasehatinya selama ini. Dan, dia hanya diam saja menerima? Plastik berisi juice itu terjatuh dari tangan kiri lembutnya. Air memuncrat mengenai sepatu dan kaki telanjangnya yang terbuka hingga di atas betis. Bibirnya bergetar, ”Apa..., apa yang terjadi padaku?”
Mendung yang berarak ditiup lembut angin, secara mesra mengabarkan pada alam sebuah berita, walau awan sangat tipis hingga bahkan tak terasa jika terlihat. Awan mengabarkan pada siang yang sangat panas ini, bahwa ada hati yang baru tergores suatu tanda. Entah tanda apa itu? Lalu awan itu hilang tanpa bekas dan pemenangnya tetap matahari yang terus memanggang bumi dengan garangnya.
Ditaruh mushafnya di meja kayu lipat di depannya. Matanya langsung tertuju pada buku kamus bahasa arab Al-Munawwir. Saatnya mengerjakan tugas kuliah, begitu yang ada dalam kelebat pikirannya. Saat mengambil buku kuliah di lemari, matanya tiba – tiba menatap jendela dalam kamarnya yang terbuka. Dari cahaya dan silau matahari yang terlihat, angin seolah menjadi alat penghantar panas. Sinar matahari yang terlihat terang, hawa panas telah menusuk-nusuk. Matanya kini beralih ke langit yang terang, menghunjam, betah berenang di dalam warnanya yang sangat bercahaya. Ingin rasanya terbang, melintasi semesta mayapada.
Lamunanya terus menyelam tanpa ada yang mengganggunya. Satu buah nama yang kini ada dalam ingatannya, Kak Faza. Nama lengkapnya Faza Arfani Al-Barraq, nama yang pernah diartikannya suatu malam setelah menyelesaikan buku Life Excellent dibukanya Al-Munawwir saat itu, sebuah arti nama yang tidak meleset dari orangnya. Setelah dikumpulkannya arti tiga kata itu.Artinya adalah ”Kemenangan yang bersinar dan bercahaya bagi ilmu pengetahuan. Subhanallah, betapa indah Engkau Rabbi...
Shafwan mendekati jendela, tangannya bergerak memegang terali melingkar-lingkar membentuk renda menutupi seluruh jendela. Ukirannya begitu indah. Matanya menengok ke belakang sejenak, Rasyid yang ikhlas itu telah terlelap. Matanya kembali menatap langit yang digelar Allah. Hatinya berujar, ’Memang Rasyid adalah contoh bagi jernihnya air, contoh betapa putihnya kertas, contoh kemilaunya mutiara, serta contoh bagi sucinya suatu ibadah. Lalu..., seperti apakah sosok bernama Faza?
Mata yang jernih itu berair sembab, dia tahu sebuah rahasia yang selalu disimpannya, yang selalu membuatnya termotivasi menjadi yang terbaik. Sosok Faza baginya adalah teladan. Jika di kontrakkan, ketika selesai shalat maghrib berjamaah di Masjid Al-Aqsha di sebelah utara, masjid terdekat letaknya dengan kontrakan. Lelaki itu menggelar dagangannya bersama Lutfi di depan gerbang, kala itu yang lain tengah belajar. Kadang di sela berdagang masih didengarnya lantunan ayat-ayat Al-Quran, walau masih pada surat-surat juz ’amma. Semangatnya belajar bagai bara yang tak pernah padam, tidak malu ketika bertanya tentang cara menghafal Al-Quran pada Hafidz.
Lelaki itu selalu tidur sejenak sekitar setengah jam ba’da tilawah setelah shalat isya’. Itulah kebiasaannya yang kami pikir aneh, sebelum meneruskan dagangnya, dia tidur dulu barang setengah jam?
Sekitar pukul setengah sebelas malam. Ketika Rasyid baru saja memejamkan matanya, atau Zilul yang sedari jam sepuluh malam telah lelap, serta aku yang sudah tak kuat menahan kantuk, atau Hafidz yang kadang menguap di depan mushafnya. Faza memberesi barang-barang bersama Lutfi. Faza akan meminta izin pada Lutfi untuk belajar bahasa Inggris pada Adri, santri di Darul Arqam yang juga kuliah mengambil studi Bahasa Inggris di STAIN. Selain tiga malam belajar bahasa Inggris, ada dua malam di antara selanya diisi dengan belajar bahasa Arab. Faza pamit ketika memberesi barang hanya tinggal sedikit lagi, membawa buku dan kamus lalu membawa kunci serep rumah dan meninggalkan Lutfi yang tinggal sedikit lagi beres-beresnya.
Malam, saat tengah malam itulah. Klek! Klek! Bunyi daun pintu terbuka pelan, sangat pelan. Aku langsung menutup bukuku dan pura-pura tertidur di atas meja belajar kayu lipatku. Lelaki itu menuju dapur, dia menutup pintu kamarku sedangkan Rasyid dan Hafidz telah terbuai dalam mimpinya masing-masing di atas kasur.
Suara air galon terdengar gemericik kala krannya dibuka, kurasa dia minum dua gelas. Suaranya mungkin serak habis ketika belajar grammer, speaking atau discuss bersama Adri. Setelah itu terdengar air gemericik yang agak keras dari kamar mandi di belakang. Ah! Mungkin dia akan wudhu lalu tertidur.
Setelah suara hening, aku membuka pintu perlahan. Lelaki itu terlihat mengambil surbannya dan menggelarnya. Aku tersenyum, dia sering kudapati tidur di ruang tengah dengan beralaskan apa saja, kadang sarung atau bahkan surbannya yang digelar. Seperti malam ini.
Taksiranku salah. Dia berdiri agak lama menghadap kiblat. Lalu, Subhanallah! Dia bertakbir mengangkat kedua tangannya. Dia shalat setelah pulang dari belajar dengan Adri? Baru takbir pertamanya, isak lirihnya terdengar pelan. Bulu kudukku benar-benar berdiri. Aku terus mengawasinya malam itu, dan lelaki itu menghentikan shalat, dzikir, dan rintihannya tepat sekitar pukul dua kurang lima menit dini hari. Lelaki itu merebahkan dirinya di atas gelaran surbannya beralaskan kedua tangannya, miring kearah kanan. Kurasa dia tertidur.
Tepat satu menit setelah Faza rebahan, alarm Hp Rasyid menjerit pelan, aku langsung pura-pura tidur di dekat meja lipatku beralaskan tikar berukuran satu setengah meter kali dua meter. Rasyid bangun lalu mematikan alarm Hp-nya, dia masuk ke kamar mandi di kamar itu. Suara air terdengar gemericik menabrak keramik licin. Rasyid keluar menuju ruang tamu, langkahnya berhenti sejenak di pintu tanpa daun perbatasan antara ruang tamu dan ruang tengah. Langkah terhenti demi melihat seorang yang tidur beralaskan kain tipis itu.
Rasyid mengambil selimutnya dan menutupi tubuh Faza, lalu shalat di ruang tengah. Tepat sekitar pukul 03 pagi, Rasyid membangunkan semua penghuni kontrakan Baitul’ilmi, termasuk aku yang pura-pura tidur. Faza menggeliat kala Hafidz membangunkannya, dia mengucapkan terima kasih karena telah dibangunkan.
Kadang kami shalat berjamaah dan kadang sendiri-sendiri jika Qiyamul Layl, tapi Rasyidlah yang tiap hari membangunkan kami semua. Kulihat Faza hanya shalat tiga rekaat lalu belajar kembali menekuri buku-buku kuliah buku-buku sastra, hingga adzan subuh hampir bernyanyi menyanyikan lagu cinta penuh kerinduan.
Pernah Zilul berujar pada Faza, ”Faza, kau imbangilah dunia dan akhiratmu. Jangan selalu bekerja dan belajar, kau perlu menyeimbangkan ibadahmu, masak untuk shalat malam kau hanya tiga rekaat dengan witir! Kau kan ketua Ghuroba, kau juga harus memberi contoh teladan,” dan seperti biasa, Faza akan tersenyum lalu berujar maaf dan mengatakan bahwa badannya kecapekkan.
Aku belajar banyak darinya. Darinya keteguhan dan prinsip aku pelajari dari sosoknya. Keikhlasannya bagai mutiara yang hanya ada di dasar laut terdalam, bagai safir yang kemilau ditimpa cahaya bulan kala purnama. Ah! Sungguh hanya Allah yang berhak menentukan penilaian sedangkan penilaian manusia hanyalah dzahir (yang terlihat) saja. Ehm..., Saatnya menuntut ilmu, ’Dan perumpamaan – perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia, dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu.’ (QS Al-‘Ankabuut : 43).