Warna Pelangi Cinta

Salam buat Umar

Malam gelap di Kampus Metro. Bulan dan bintang mencoba menerangi bumi dengan cahayanya namun tetap saja jalanan masih samar-samar terlihat. Lampu terlihat mentereng di perempatan-perempatan jalan, warna lampunya agak kekuning-kuningan atau kemerah-merehan dan remang. Timpalan dan sahutan-sahutan lampu motor bagai pesta cahaya, saling memamerkan lampunya masing-masing. Seolah berebut untuk menunjukkan bahwa lampunya yang paling terang.

”Dimana letaknya dik Putri?” Naurah menuruti kemanapun Putri menunjukkannya jalan untuk mencari kue.

”Sebentar lagi sampai Mbak, tinggal melewati ujung lapangan Kampus itu lalu belok kiri. Setelah itu, Insyaallah tinggal dua ratus meter lagi,” tangan Putri memberi arahan dan berada di samping wajah Naurah yang memakai helm ditimpa lampu-lampu jalan, menunjukkan arah.

Motor itu belok dan melewati tikungan yang sedikit tajam. Di depan mereka sekitar seratus meter tampak gerobok yang berada di depan gerbang sebuah rumah. Tampak dari kejauhan dua orang sedang membeli dagangan dalam gerobok itu. Satu orang sedang melayani dan seorang lagi berjongkok, terlihat separuh badan karena tertutup kain terpal yang di pajang lebar menyamping.

”Itu dia Kak?”

Naurah memelankan motornya. Matanya sekilas melihat pemuda yang sedang menata kue-kue setelah dua pembeli itu pamitan. Dia menghentikan dan mematikan motor lalu membuka helm pink milik Rina.

”Assalamu’alaikum Akhi?” Naurah sangat mengenal siapa yang berjualan itu, dia adalah ketua Al-Ishlah. Beberapa kali antara Al-Ishlah dan At-Taghyir mengadakan kegiatan bersama. Tapi, Naurah benar-benar baru tahu kalau ketua Al-Ishlah berjualan kue jika malam, bukankah itu adalah suatu kebaikan. Walau ketua At-Ishlah, dia tidak malu menjual gorengan ketika malam. Dia pasti lelaki yang tegar.

”Wa Wa’alaikumsalam Naurah kan? Ada apa malam-malam kesini?” Lutfi sedikit gugup, mungkin tidak menyangka jika pembelinya adalah Naurah. Gadis yang sering dibicarakan beberapa senior di STAIN.

”Ini tentang kajian di Salima, kajian Mahasiswi seperti biasanya yang kami lakukan di kost kami. Hari ini, pesertanya melebihi jumlah yang kami perkirakan sehingga kue yang kami buat kurang. Saya beli dua puluh ribu Akh. Tapi, dapat tambahan kan Akh?” Ada senyum tipis yang tersungging tertangkap oleh Lutfi meski wanita itu menundukkan pandangannya. 

Wajah yang sempurna ditambah pantulan dari lampu jalan yang berada di pojok kontrakan sebelah kanan. Begitu indah Kau menciptakan wajah yang jika dipandang bagaikan berada di tengah hamparan hijau dan di pinggirnya mengalir sungai-sungai dari segala penjuru. Semuanya hanya ada keindahan. Lutfi segera menundukkan pandangannya. Dia beristighfar berulang kali, dia sekuat tenaga menata hatinya.

”Kasih korting ya Kak?” Putri mengagetkan Lutfi dari lamunannya.

”Kami hanya bercanda Akhi, tidak usah dengarkan. Seberapa saja dapatnya soalnya sudah malam,” suara lembut itu begitu dalam menghunjam dadanya.

”Iya, saya bungkus dulu,” Lutfi sedikit gemetaran memasukkan beberapa kue, ada yang terjatuh tidak masuk ke dalam plastik. Dia salah tingkah dan merasa bingung harus melakukan apa, konsentrasi menghitungnya pun buyar.

”Faza,” Lutfi menatap ke belakang sejenak.

”Ada apa Akhi?” suara di belakangnya menyahut.

”Ini Ukhti Naurah ingin beli gorengan campur tapi dia untuk kegiatan kajian Mahasiswi. Kita kasih tambahan tidak?” sebenarnya Lutfi juga tidak tahu dan tidak mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Dia mencoba mengganti dan membuyarkan lamunannya.

”Terserah kamu aja Lut, kita kan sudah saling percaya. Biasanya kau memberi tambahan pada pelanggan juga kan?” Faza meneruskan menggoreng bakwan.

”Kasih berapa tambahannya?” Lutfi masih bingung.

”Kamu ini Lut. Ya sudah, kasih aja bonus satu setiap beli lima ribu,” Faza kembali menekuri penggorengannya. Dia mengangkat kue yang sudah matang, termasuk ada molen di dalamnya karena sekali goreng Faza mencampurkan. Tidak satu-satu. Faza berdiri mengangkat kue yang telah berada di saringan, kelihatan sudah kering karena minyak telah berjatuhan. Dia memindahkan gorengan itu di pajangan, memisah-misahkan sesuai dengan skat yang telah dibuat dari kaca setinggi 10 cm.

Faza sekilas melihat dua orang yang sedang membeli kue itu, dia melihat wanita yang berjilbab lebih besar. Wajahnya mengingatkannya sesuatu hal, wajah yang bercahaya terpantul lampu jalan. Faza segera beristighfar. Allah meniupkan angin yang lembut dalam hatinya untuk menjaga pandangannya. Allah mengerti akan kelemahan hamba-hambaNya, dari matalah semua bermula. Pandangannya segera beralih ke Lutfi yang terlihat sedang memasukkan tempe goreng.

”Kok belum selesai Akhi?”

”Tadi kelupaan menghitungnya, jadi aku harus menghitung ulang. Insyaallah ini tinggal bonusnya saja,” wajahnya sejenak menatap Naurah dan temannya, lalu beralih mengikat ujung plastik pembungkusnya. Setelah mengikat, dimasukkan dalam plastik lagi agar lebih kuat. Kue itu dibaginya dalam dua wadah karena terlihat terlalu berat.

”Ini Naurah, semoga acaranya lancar dan sukses,” tangan yang menjulur itu sedikit bergetar. Naurah menerimanya sambil menunduk dan tersenyum, Putri telah siap-siap mengangkat helmnya. Naurah memberikan satu wadah untuk Putri dan satunya ditaruh di bawah stang motor di gantung di besi gantungan di sisi kanan.

”Syukran,” senyum gadis itu sungguh bagaikan angin lembut yang bertiup hingga ke hati siapa saja yang melihatnya. Angin malam menjadi saksi atas hati-hati manusia yang cenderung mudah tersentuh. Itulah hati, jika dia baik maka baik semua yang ada dalam jasad manusia. Karena hati adalah raja, begitulah sabda Rasulullah saw.

”Maaf, Apakah Umar Said itu Kakak anda?” Faza seolah mencegah kepulangan Naurah.

”Iya,” Naurah meletakkan kembali helmnya ketika hendak dikenakan.

”Sampaikan salamku pada Umar Said, katakan aku kangen padanya. Insyaallah, Ramadhan besok aku akan itikaf di Al-Jihad. Kuharap dia itikaf disana.”

”Insyaallah akan kusampaikan, Assalamu’alaikum,” Naurah mengenakan helmnya dan menghidupkan motor. Motor kembali membelah malam, teman-temannya pasti menunggunya.

Lutfi menjawab salam hampir berbarengan dengan Faza. Ada kerut yang tercipta dari dahinya ketika mendengarkan obrolan Faza dengan Naurah. Lutfi segera Beristighfar, sebagian dari prasangka adalah dosa. Tapi, hatinya memang masih penasaran. Darimana Faza seperti sudah akrab dengan Naurah? Padahal sekretaris At-Taghyir itu seorang yang pendiam dan hanya memikirkan kuliah dan organisasinya. Selain itu, tak pernah terlihat banyak bergaul kecuali dalam komunitas intelektual. Selama enam semester satu IP-nya selalu comlaude. Bahkan, IP-nya pernah 4,0 di semester  2, 3 dan semester 7, yang lain hanya di bawahnya sedikit. Dia juga menjadi Asisten Dosen di FKIP Matematika.

Matanya masih melihat Faza. Bagaimana Faza mengenalnya? Bukankah Faza tak banyak mengenal wanita? Dia sibuk dengan urusan dakwah sekolah dan masyarakat, dia sibuk dengan pekerjaannya? Astaghfirullah, bukankah mereka satu almamater? Kenapa aku ini?

Lutfi segera mengucap ta’awudz, lagi-lagi Syetan membisikinya dengan prasangka-prasangka yang tiba-tiba muncul dan menyesaki setiap ruang dalam pikirannya. Hatinya mulai tenang.

”Jangan salah paham saudaraku...,” Faza seperti bisa menebak apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.

Tiba-tiba Lutfi memotong cepat, refleksnya tidak seperti biasanya.

”Enggak Faz! Insyaallah, aku tidak berfikir aneh-aneh. Tidak usah khawatir, aku percaya padamu Faz.”

Faza sedikit keheranan dengan reaksi Lutfi atas komentarnya, ”Bukan seperti itu Akhi, aku akan menceritakannya padamu tentang siapa tadi itu namanya?”

”Naurah Lathifah An-Nawwar,”

”Ya, namanya Naurah,” Faza tersenyum kearah Lutfi, ”Masyaallah! Aku lupa Lut, ada kajian di masjid Mujahiddin di Komplek Muhammadiyah. Kamu mau ikut? Kita tutup saja atau menghabiskan kue yang sudah di goreng saja,” Faza melihat Hp-nya yang covernya kalender sehingga tahu tentang jadwal-jadwalnya. Faza selain mengaji kajian di Muhammadiyah, dia juga mengkaji berdasarkan Kyai di NU, semuanya bagus menurutnya. Faza mencari ilmu dari sumber manapun.

”Aku tidak ikut, aku sedang tidak enak pikiran. Insyaallah minggu depan saja, aku juga mau menunggui ini sambil membaca skripsiku untuk ujian minggu depan. Setelah beres-beres aku juga harus ke Al-Ishlah untuk bantu-bantu teman-teman menyiapkan SDP.”

”Baiklah, aku tinggal ya? Nanti aku akan cerita tentang wanita tadi,”

”Tidak usah. Aku tidak berfikir aneh-aneh kok terhadap sekretaris At-Taghyir itu. Bukankah, dia satu almamater denganmu?”

”Bukan begitu Akhi, Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya untuk menerangkan sesuatu yang samar walau dia tahu orang lain itu tak akan berpikiran yang buruk terhadapnya. Tapi, jika sampai berfikiran buruk itu karena kesalahan orang yang menciptakan keadaan itu. Seperti Rasulullah saw ketika bersama salah satu isterinya dan ada sahabat yang lewat maka Rasulullah segera memanggilnya dan mengatakan bahwa wanita di sebelah Rasul itu adalah isterinya. Itu untuk menjaga saling kepercayaan. Ya sudah, aku ambil sepeda dan berangkat. Assalamu’alaikum.”

Faza segera masuk ke dalam, mengambil koko biru dan memakainya, Bismillaa hirrahmaa nirrahiim. Bukankah syetan akan ikut memakai bajunya ketika kita memakai baju tanpa mengucap Basmalah? Begilah dalam suatu riwayat tentang Nabi Sulaiman ketika bertemu dengan dua Syetan yang satu teramat kurus dan tidak terurus dan satunya syetan yang amat megah bajunya dan wajahnya yang indah lalu perutnya gemuk.

Ketika Nabi Sulaiman as bertanya kenapa bisa begitu, ternyata syetan yang miskin bersama orang yang yang sholeh dan mukhlis. Ketika si Abid makan dia mengucap doa maka si syetan tak bisa ikut makan, ketika si Abid tidur dia meminta perlindungan dari Allah dan Syetan kurus tak bisa beristirahat sama sekali, atau ketika mandi dan memakai pakaian maka syetan hanya menggigit jarinya saja. Lalu Syetan yang gemuk bercerita dia bertugas menyesatkan orang yang selalu lalai kepada Allah Azza wa Jalla, maka orang yang lalai itu ketika makan, tidur, mandi, berpakaian, naik kendaraaan tidak membaca doa dan tidak meminta perlindungan kepada Allah. Maka Syetan itu menikmati apa yang dinikmati orang yang lalai tersebut. Apapun kegiatannya, syetan ambil bagian dalam kehidupannya.

Faza segera meminjam sepeda pada Shafwan, Hafidz dan Rasyid ternyata ada acara di Al-Ishlah. Menyiapkan acara besok pagi, acara SPD . Mereka juga berangkat keluar gerbang bersama. Lutfi masih terlihat melayani Pak Sum yang rumahnya berjarak 100 meter dari kontrakan. Faza tersenyum pada Lutfi dan mengayuh sepedanya di malam yang mulai terasa dinginnya. Mungkin nanti pulang sekitar pukul 22.00, seperti biasa. Kalau Hafidz dan Rasyid sepertinya akan menginap di mushala Al-Fikri.

Malam, bulan dan bintang kembali merenda ukiran-ukirannya dalam lintasan masa yang terus berjalan. Angin dingin menerpa wajah Lutfi yang masih menatap indahnya bintang-gemintang di petala langit. Hatinya sedikit resah saat ini, dia sengan mengadu pada Sang Pencipta malam yang indah ini.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!