Warna Pelangi Cinta

Bekerja adalah Ibadah

Dalam kamarnya yang ditempati dirinya dan Lutfi serta Zilul, terdapat tulisan yang besar yang ditulisnya sendiri dengan piloq warna hijau tua, ”KERJA BAGIKU ADALAH IBADAH!” terpajang lurus di depan kamar, memenuhi satu sisi kamar. Saat masuk pintu, tulisan itu akan terbaca ketika memasuki kamar. Dan ketika tidur pun pasti melihatnya leluasa. Lalu, di sisi kirinya terpampang jadwal-jadwal harian yang di tempelnya dalam white board putih. Kerja baginya adalah ibadah karena Faza akan istirahat dari kerjanya jika panggilan shalat datang. Pekerjaan sama sekali tak melupakan akan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Katakanlah, ’Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah. Rabb Semesta Alam’

White board itu lebih panjang di bawah, di tengahnya di  potong dua dengan garis spidol besar tebal. Di atas untuk jadwal harian Faza dan di bawah untuk jadwal harian Lutfi. Di atas sendiri terdapat amalan harian yang harus dipenuhi, tilawah minimal satu juz, hafalan, shalat malam, shalat dhuha dan lain-lainnya. Di bawahnya amalan ibadah Faza, tertulis kajian mengisi SMA-SMA dan undangan pengajian di setiap Kelurahan seminggu sekali, lalu kajian yang harus diikutinya. Hingga, agenda rapat Ghuroba, TDB, dan rapat Forsi yang merupakan Forum Silaturahmi di dekat UM, tepatnya di Mushola Mahasiswa Baiturrahman. Kenapa mushola Mahasiswa? Walau memang didirikan masyarakat, tapi yang menghidupkannya adalah Mahasiswa karena di semua sisi-sisi mushola, baik depan, belakang, kiri dan kanannya adalah tempat kost Mahasiswa.

Di bagian jadwal Faza tertulis agak besar dengan huruf kapital, ”AKU AKAN MEMBANGUN PERADABAN! IBADAH, BELAJAR DAN BEKERJA HANYA UNTUK ALLAH SEMATA.” dan di bawahnya. Jadwal harian Lutfi juga padat. Namun banyak yang berkurang kini, karena prioritasnya bulan ini dan selanjutnya adalah menyelesaikan skripsi. Sebentar lagi masa kuliahnya berakhir.

Faza masuk ke kamar sejenak, mengambil plastik yang masih pak-pakkan. Dagangannya sudah mulai digelar sejak pukul 17.00. Mahasiswa sudah ramai antri ingin membeli gorengan racikan khasnya. Selain masih menang karena harganya lebih murah, semisal di lain seribu dapat dua di tempat Faza seribu dapat tiga walau memang bentuknya sedikit kecil daripada yang lain. Namun, soal urusan rasa sangat jauh. Begitu kata beberapa pelanggan yang juga dari ibu-ibu rumah tangga dan banyak juga Mahasiswa yang ingin makan tahu atau pisang goreng sambil mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.

Matanya menatap tulisan besar terpampang di depannya ketika memungut plastik. Setiap menatap tulisan itu ada semangat baru dalam kerjanya, bukankah dia telah membantu orang untuk mengisi perutnya untuk bertahan beribadah dan berdzikir pada pada Allah. Bertahan untuk berbuat kebaikan, menuntut ilmu, bersedekah? Semangat Faza berkobar kembali bagai terkena charger.

Dilihatnya juga di sebelah kiri, jadwal hariannya. Ba’da Maghrib harus datang mengisi pembinaan Forsi di 38, Mushola Baiturrahman. Dekat kampus UM. Pengurusnya masih semester empat dan enam. Kepengurusan Forsi juga belum lama berdiri, dia harus lebih selektif memberikan arahan-arahan. Forsi ternyata memiliki peluang besar untuk pembinaan dari kost ke kost untuk memahamkan kesadaran berislam, di Forsi juga ada Divisi ilmu, bagian yang mengoptimalkan potensi intelektual muslim. Kadang, Faza diminta mengisi kajiannya. Seru, karena antusias diskusi yang berjalan sehat. Faza tersenyum, dia bersyukur karena banyak yang semakin ingin mendekatkan diri pada Allah. Maka kebangkitan Islam itu akan segera terwujud. Dan dia harus ambil bagian dalam kontribusi kebangkitan itu.

Faza segera keluar, Lutfi menyambutnya sambil tersenyum. Plastik luar disobek, segera diserahkan ke Lutfi. Lutfi dengan riang dan ceria memasukkan tahu bunting pesenan Bu Ningsih yang membeli lima ribu tahu bunting semuanya. Service yang memuaskan membuat para pelanggan tak mau pindah. Faza segera beralih ke kompor selangnya yang terus menyala. Tangannya lihai memasukkan bakwan yang sedari tadi baru sedikit yang digoreng. Sesekali dia mengusap keringatnya karena di dekat kompor dengan punggung tangan kanannya. Wajahnya yang berlumur peluh, ceria sambil hatinya terus berdzikir.

Langit sore ini indah bagi yang menikmati hidupnya, seberapapun berat dan getirnya kehidupan. Faza menatap langit jingga, matahari yang hampir terpendam. Hidup baginya terasa indah, kenapa gelisah memikirkan esok. Biarlah Allah yang mengaturnya yang jelas kita hanya punya saat ini. Maka, buatlah yang terbaik yang bisa kau lakukan. Itulah yang Faza yakini, untuk selalu mempersembahkan yang terbaik untuk Rabb Semesta Alam yang memberinya kenikmatan tak terbayar.

Dalam minyak yang menciptakan gumpalan-gumpalan panas. Wajah adiknya kembali muncul disana. Adikku, aku tahu kau juga pasti bekerja keras. Walau Kakak tahu hasil dari menjahitmu tak akan cukup untuk membiayai kuliah dan hidupmu. Kau memaksakan menjadi penjahit agar aku sedikit lega. Jika kau mau bersaing, kau sudah kalah langkah dari para penjahit besar yang bertebaran di Kampus. Kita kalah modal. Tapi, aku yakin kita akan tegar menghadapi ini semua. Percayalah pada Allah Azizah,” airmatanya meleleh ringan, mungkin yang melihatnya mengira itu peluh.

Aku harus tegar. Sebuah sms masuk, dari nomor asing itu lagi? Entahlah apa maunya seseorang yang mengaku namanya Salwa itu. Faza menggelengkan kepalanya berkali-kali. Dia mengetik sms membalasnya. Mengganggu saja. Faza jarang mengetik sms, sangat jarang. Bahkan pulsanya menumpuk karena jarang digunakan. Dia hanya membeli pulsa kalau jatuh temponya tinggal beberapa jam lagi atau tinggal sehari itu. Maka dia memilih kartu yang jatuh temponya paling lama, lima ribu untuk sebulan. Itu sangat membantunya.

Hp baginya adalah barang yang mewah. Kalau bukan karena mempermudah dalam berdakwah dan mempermudah dalam urusan jurnalistik ketika cerpennya masuk maka Lampung Post atau Radar Lampung akan menginformasikannya melalui Hp. Ya, dia teringat sesuatu. Kini keyakinannya membulat novel yang baru pertama kalinya dibuat itu akan dia kirimkan ke Penerbit nanti malam lewat email saja. Bukankah yang penting usahanya, jika ditolak itu urusan nanti. Bukankah..., itu cita-citanya. Itu yang diharapkan almarhum Bapak? 

Novel yang dia selesaikan berjudul, ”Langit Masih Biru,” adalah novel pertamanya yang kata Azizah adalah karya yang amat percaya diri dan menyentuh. Azizah yang membacanya begitu menikmati tiap hurufnya yang terangkai indah, itulah pendapat dari adiknya yang membuatnya semangat untuk mengirimkannya ke penerbit.

Faza teringat beberapa kata yang ditulis di bawah jadwalnya sendiri. Kata-kata penggugah semangat di ejanya kuat dalam hatinya.

”AKU AKAN MEMBANGUN PERADABAN! IBADAH, BELAJAR DAN BEKERJA HANYA UNTUK ALLAH SEMATA.”

Saat itulah keyakinan yang kuat membakar seluruh jiwanya. Dia menggoreng lebih semangat lagi. Lutfi melihatnya sedikit heran, Faza terlihat begitu ceria hari ini. Ada apa? Pasti ada yang membuatnya senang, tapi biarlah. Lutfi senang melihat saudaranya itu gembira, cukuplah dia ikut merasakan senyuman ceria itu. Baginya itu sudah kebahagiaan. Lutfi segera sigap, memasukkan kue-kue termasuk molen yang dicetak dan digoreng Faza. Hari ini lebih ramai dari biasanya. Hingga langit dan bumi seolah mencurahkan karunianya atas perintah Allah Azza wa Jalla.

Langit jingga mulai terasa gelap. Adzan maghrib berkumandang. Saatnya panggilan kemenangan, panggilan cinta, panggilan hati, panggilan jiwa, panggilan kaki dan tangan untuk bergerak, panggilan untuk meninggalkan semua hal. Untuk hanya bersujud pada Allah, karena itulah tujuan penciptaan manusia. Karena itulah Allah  menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.

Faza mematikan kompornya. Pembeli telah habis, mereka telah terbiasa, yang masih ingin membeli segera pulang dulu. Mereka paham, anak-anak muda penjual gorengan itu hendak shalat dan menutup geroboknya untuk sementara. Keenam orang penghuni Baitul’ilmi berangkat ke Al-Aqsha, mereka mengenakan baju-baju terbagus yang mereka miliki. Wangi parfum yang dijual Hafidz, terbaui di baju masing-masing mereka. Sesuai dengan jenis parfum yang mereka sukai, ada Spalding, Kenzo, Kristal, Melati, Za’faron dan Firdaus. Mereka tersenyum beriringan, menuju panggilan suci.

Hafidz mengakhiri hafalan Qurannya, Shafwan menyudahi tumpukan bukunya terutama buku yang sedang dipinjamnya di perpustakaan STAIN, buku ”Road to Success.’ Rasyid yang hari ini piket meninggalkan magic com yang masih mendidih-mendidihnya. Lalu, Zilul menutup program di komputernya. Panggilan cinta itu begitu mengguncang jiwa-jiwa mereka.

Alhamdulillah. Maghrib itu telah tertunaikan dengan penuh cinta. Mereka berenam bersyukur karena Allah masih memberikan mereka nikmat iman yang menelusup lembut dan kuat dalam hati mereka. Setelah Maghrib, Faza membaca Quran satu lembar saja. Ada rapat di Forsi.

”Hafidz, tolong kamu temenin Lutfi jualan ya? Aku harus ke Mushola Baiturrahman. Insyaallah nanti setelah isya’ sudah pulang,” Faza menatap Hafidz yang masih membaca Quran tapi bibirnya tak bergerak. Mungkin membaca terjemahannya.

Hafidz menoleh Faza yang memasukkan dua buku dalam tas punggungnya, ”

”Insyaallah Kak. Tapi, bonusnya,” senyumnya merekah.

”Minta saja sama Lutfi,” Faza membalas senyum itu, walau dia tahu itu hanya gurauan. Tapi bukankah kontribusi itu harus dibayar, tenaga tambahan termasuk biaya variabel. Hitung-hitung juga membantu keuangan saudara.

Faza berangkat memakai sandal jepitnya, membelah malam.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!