Warna Pelangi Cinta
Cerita Hafidz
Sore itu, setelah pulang dari SMA 3, Faza langsung ke masjid Babussalam setelah shalat Ashar di masjid Mujahidin di komplek Muhammadiyah. Sore ini ada rapat Team Dakwah Bersama untuk kepengurusannya yang sebentar lagi berakhir di Ghuroba dan organisasi dakwah yang lain di Babussalam, termasuk di dalamnya ada Ghuroba UM, At-Taghyir UM, Al Ishlah STAIN, Salam AKBID, Tajdid STO, IMM UM, HMI, PMII, KAMMI maupun Risma dan lain-lainya. Membicarakan masalah-masalah baru yang dihadapi dakwah Kampus. Faza bergegas, rapat dimulai pukul 16.15, sekarang masih pukul 16.00.
Faza masuk ke masjid. Dilihatnya seseorang terkulai di depan mihrab, ’Dia pasti Hafidz!, mungkin dia kelelahan,’ Faza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendekati Hafidz. Anak ini, tak pernah sedikitpun terlihat istirahat dari hafalannya. Dulu pernah dia bercerita padaku tentang amanah almarhum ayahnya agar dia menghafalkan Al-Quran. Tapi dia belum menceritakan lebih, dia memang sedikit tertutup. Mungkin suatu hari dia akan cerita, dan biarlah Allah yang mengaturnya.
”Fidz, Fidz,” Faza menggoyang-goyangkan tubuh Hafidz. Tak ada gerakan sedikitpun, tak ada reaksi sama sekali.
Faza membuka kepala Hafidz, basah. Apa ini? Air? Wajah Hafidz basah, hingga membasah bajunya. Faza mengangkat kepala Hafidz dan memangkunya di atas pahanya. Kau menangis? Dia baru sadar jika Hafidz pingsan. Seluruh badan Hafidz dingin. Faza berlari ke kamar para santri yang letaknya masih berdekatan dengan masjid, mengambil minyak angin dan air dalam wadah.
”Hafidz, bangun Fidz,” setelah membersihkan airmata di wajah Hafidz, Faza mengolesi bawah hidung Hafidz dengan minyak angin, lalu memerciki wajahnya dengan air.
”Kau ini, selalu memaksakan dirimu. Aku sendiri tak bisa sekuat dirimu dalam menetapi Allah,” Faza menangis setelah tak kuasa membangunkan Hafidz. Dia tak bergeming sama sekali. Wajah lelap itu tersenyum dan ceria.
Faza menundukkan wajahnya. Airmatanya luluh, ”Aku sangat bangga padamu Fidz, kau dicintai Allah, kau didoakan oleh seluruh malaikatNya, kau didoakan oleh seluruh makhluk yang ada di bumi dan di langit. Aku sama sekali tak bisa menandingi kedekatanmu dengan Rabb kita. Kau campakkan dunia bagai sampah. Aku telah kalah jauh darimu Fidz..., siapapun akan bangga dan bersyukur pernah bertemu denganmu. Wajahmu bersinar dan aku sangat bersyukur Allah telah menautkan hatiku dan hatimu dalam persaudaraan yang indah ini,” Faza menitikkan airmatanya.
”Aku sangat bahagia bisa mengenalmu, tahukah kau Fidz aku sama sekali tak bisa seperti dirimu. Aku sekarang baru menghafal juz 30, itupun aku memperoleh kekuatan mencintai Al-Quran karenamu, itupun aku malu mengakuinya karena kesombonganku. Aku merasa malu jika mengakui kekuranganku. Dan kini aku sadar, Al-Quran akan mudah dihafal apabila jiwa manusia itu mencintai Quran dengan hatinya yang jernih. Ajari aku untuk mencintai Al-Quran saudaraku,”
Sebuah tangan pelan memegang lengan Faza, ”Kak Faza...,” bibir Hafidz bergetar, matanya mulai membesar pelan, ”Maafkan Hafidz membuat Kakak khawatir. Di dunia ini tidak ada lagi yang lebih dekat dariku kecuali kak Faza.”
Faza membantu mengangkat kepala Hafidz, ”Kenapa engkau pingsan lagi Fidz”
Hafidz duduk bersandarkan tembok. Hafidz memang tertutup, selama ini dia baru cerita tentang pribadinya hanya kepada Faza, itupun belum tuntas.
”Badanku gemetaran lagi Kak, aku membaca Al-Quran, tubuhku benar-benar tak kuat menerimanya.”
Faza memegang kening Hafidz memastikan jika panas atau tidak, ”Surat dan ayat berapa yang kau baca Fidz? Aku juga ingin merasakan tenaga dahsyat itu. Aku juga ingin merasakan cinta itu Fidz. Bacakanlah untukku,” Faza menganggukkan kepalanya.
Bibir Hafidz bergerak, membaca surat Ath-Thuur yang telah membuatnya gemetaran. Suaranya lembut diiringi airmatanya meleleh, Faza tak kuasa merasakan cinta Allah yang melingkupinya dari segala penjuru. Dimana-mana hanya terisi cahaya, berpendar dimana-mana.
”Dan gunung benar-benar berjalan. Maka kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan, (yaitu) orang-orang yang bermain-main dalam kebatilan, pada hari mereka didorong ke neraka jahannam dengan sekuat-kuatnya. (dan dikatakan kepada mereka), ”Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. ”
Tubuh Hafidz kembali bergetar. Faza memeluknya erat, ”Kau dicintai Allah Fidz, Allah Azza wa Jalla tak akan pernah mengecewakanmu. Itulah kenapa ayahmu memberimu nama Hafidz Habibullah. Seluruh makhluk akan mencintaimu,” angin sepoi di dalam masjid dihembuskan Allah, menerpa wajah-wajah yang hanya mengharapkan ridha Allah. Mereka dibuai dalam keindahan iman, yaitu surga sebelum surga.
”Kak, maukah kau mendengarkan ceritaku?”
Faza menganggukkan kepalanya. Peserta rapat TDB juga belum hadir, apalagi ini rapat di akhir-akhir kepengurusannya. Kebiasaan buruk budaya indonesia tentang jam karetnya, diperparah semua element terkena virusnya, termasuk Mahasiswa yang notabenenya adalah calon pemimpin bangsa ini.
”Sore itu adalah bencana menggoncangkan seluruh kehidupanku. Ba’da maghrib itu aku pergi ke rumah wak Sobri untuk belajar Al-Quran, karena saat itu aku telah lulus dari tahsin, tajwid sehingga aku boleh memulai hafalanku. Aku sangat gembira, wajah almarhum Bapak seolah tersenyum di hadapanku. Setiap organ dalam tubuhku seolah bagai menyala-nyala. Sore itulah malapetaka itu terjadi.
”Kau mirip ayahmu Fidz,” wak Sobri tersenyum menatap keponakannya. Bacaan al-Qurannya maju pesat.
Hafidz tersenyum merdu, ”Semua ini atas bimbingan Uwak, Bapak pasti tersenyum ceria di atas sana ya Wak?”
”Disini kau rupanya anak syetan! Aku menemukanmu,” sesosok wajah coret-moret keluar dari balik pintu rumah wak sobri. Matanya menyalak bagai anjing, lidahnya mendesis bagaikan serigala, ”Kamu memang anak Iblis! Semuanya hancur gara-gara kamu! Aku tak akan mengampunimu lagi.”
”Tenang saudaraku, kita bisa bicara baik-baik. Kita ini masih keluarga Sarman,” wak Sobri mencoba meleraikan kemarahan preman itu.
”Habis sudah kesabaranku, ayo kalian! Hancurkan rumah syetan ini! Bakar jika perlu dan beri pelajaran Sobri agar tidak lagi bisa mengajar ngaji! Cepat!”
beberapa orang masuk, sekitar lima atau tujuh orang. Badan mereka kekar-kekar. Mereka masuk dan membanting pintu serta meja kamar tamu itu.
”Biadab! Iblis kalian! Hentikan!” Hafidz menghadang mereka dan memukul di antara mereka. Keberaniannya muncul. Tapi seseorang lelaki memelintir tangannya dan memegang leher belakangnya. Dia tak berdaya.
Mereka berlima memukuli wak Sobri yang tak berdaya, hanya desahan lirihnya selalu mengucapkan takbir. Hafidz merasakan sakit ketika guru ngajinya itu dihajar hingga darah memuncrat dari bibirnya yang selalu melafadzkan untuknya ayat-ayat Allah.
”Biadab! Anjing! Kalian lebih hina dari keledai! Allah akan melaknat kalian para iblis!” Hafidz meraung-raung.
Sarman mendekati Hafidz dan memukul dengan keras wajah kecil itu. Pipinya langsung lebam, matanya menyipit bengkak.
”Jangan hajar dia Sarman! Cukup aku saja yang kau pukul. Dia tidak tahu apa-apa, akulah yang mengajarinya Al-Quran,” Sobri membela anak orang yang paling diseganinya. Kakak angkatnya, Abdullah Maarif.
”Ada apa ini? Ya Allah Bapak! Kalian apakan suamiku? Lepaskan dia orang durjana!” Zaitun keluar mendengar suara gaduh. Wajah berjilbab itu adalah isteri Sobri. Zaitun merangsek di depan Suaminya, tangannya berusaha keras menyingkirkan orang-orang yang memegangi kedua tangan suaminya.
Seseorang yang wajahnya penuh codet luka sayat memegangi tubuh wanita itu, dia kewalahan maka seorang lagi membantunya hingga wanita itu dapat dibekuk pula. Sobri memaksakan diri bergerak tapi tiga orang mencekalnya kuat. Hafidz dipelintir tangan kanannya dan lehernya dilingkari tangan satunya. Sarman terbahak-bahak bagai suara geledek.
”Aku adalah raja segala raja! Aku kuat, aku adalah Tuhan. Ha...ha...,” tangannya mengeluarkan sebilah pisau tajam mengkilap. Lidahnya menjilati bagian depannya yang tajam. Langkahnya bergerak mendekati Sobri. Matanya yang liar menyala-nyala, ”Beginilah jika berani melawan Sarman,” tusukan itu benar-benar menghunjam di perut Sobri yang telah lemah, darah mengalir deras. Tubuhnya terkulai, nafasnya meregang.
Lirih, ”Allah,” dari Sobri parau. Pegangan tubuhnya dilepaskan oleh para anak buah Sarman. Mereka terkekeh, Zaitun meraung-raung memberontak. Hafidz menendang-nendang ke segala penjuru ingin melepaskan diri dari cekalan, tapi tak kuasa.
”Dan kalian,” Sarman menoleh kearah pasukannya, ”Nikmatilah sepuasnya wanita itu, ha...ha...ha...,” senyum-senyum segera menghiasi. Mata mereka liar menatap Zaitun yang masih dicekal oleh dua orang. Kepala mereka seolah-oleh berubah bagai Anjing atau Ular yang mendesis-desis, sungguh menjijikkan.
”Iblis!” Zaitun menggigit tangan salah satu yang memeganginya. Cekalan terlepas, Zaitun melihat sebilah pisau yang terselip di pinggang seorang yang masih memegangi tangan kirinya. Diambilnya dan diayunkan ngawur hingga melukai pipi lelaki kekar yang masih mencekal lengan kirinya. Darah mengalir, yang lain segera mundur.
”Tenang manis, manut sajalah. Ini tidak akan menyakitkan,” si kurus memajukan tangannya, membujuk.
Wajah Zaitun gemeretuk, dilihatnya tubuh suaminya yang bersimbah darah sudah tidak bergerak, ”Kalian Iblis! Biadab!” tangan kanannya yang memegang gagang pisau itu mengayun keras ke kanan dan kiri. Tak ingin mereka mengotori sedikitpun bagian kesucian yang telah sepenuhnya dibaktikan pada suaminya.
”Door!” suara letusan itu mengakhiri semuanya, Zaitun menjatuhkan pisaunya. Dadanya bergemuruh hebat, darah membasahi baju gamis hijau tuanya. Matanya terasa berat untuk terbuka, semuanya menjadi samar. Tangannya yang memegang bekas tembakan di dadanya terasa hangat, lalu seolah perasaan dingin bahkan sangat dingin mendekap seluruh syarafnya. Bibirnya mendesah berat dzikir.
Zaitun terjatuh di lantai, dalam pandangan kaburnya dilihatnya seorang lelaki yang wajahnya bercahaya meraih tangannya, seluruh tubuhnya bercahaya. Ketika semakin dekat barulah dia tahu siapa dia, dia adalah suaminya yang meraih tangannya sambil tersenyum indah. Tangan itu bersatu dan seolah akar yang tercerabut, ruh itu melesat meninggalkan dunia yang fana.
”Sudahlah! Aku akan traktir kalian bersenang-senang di tempat biasa,” Sarman memasukkan pistolnya kembali, kekecewaan mereka segera terbayar. Senyum mereka segera bergayung sambut.
Seorang gadis kecil berusia 11 tahun terbangun dan keluar menuju ruang tamu, suara ribut-ribut telah membangunkannya. Saat langkahnya memasuki ruang tamu, matanya masih mengucek-ucek matanya yang masih terasa berat. Pemandangan di depannya juga masih ragu untuk dipercayai.
“Abi!” Gadis kecil menubruk Sobri yang telah tak bergerak. Matanya tertuju pada Zaitun yang bersimbah darah, “Umi!” langkah segera menuju Ibunya, digoyang-goyangkan sekuat tenaga. Tak ada reaksi. Ibunya telah pulang ke sisi Allah.
“Bangun Mi, Umi bangun!” gadis kecil itu menatap sekelilingnya. Dilihatnya Hafidz yang wajahnya lebam dan wajah-wajah sangar Sarman yang sinis menatapnya.
“Habisi dia sekalian! Biar tidak ada bekasnya keluarga Sobri,” Sarman mengangkat kedua tangannya, meluruskan kelima jemarinya miring sejajar dengan lehernya. Dan mengabakan gesekan, “Heekk!” sambil menjulurkan lidahnya.
Hafidz yang melihat kejadian itu tak bisa lagi diam. Digigitnya sekuat tenaga tangan yang melingkar di lehernya. Giginya yang kecil menancap tajam hingga cekalan tangan kekar itu lepas. Hafidz berlari kearah Sarman.
“Cepat! Lari Zulfa! Lari! Cepat!” Hafidz merebut kuat pistol yang dipegang Sarman. Sarman tak menyadarinya. Pistol itu telah beralih tangan. Hafidz menodongkan pistolnya ke segala arah, “Cepat lari Zulfa!” Zulfa yang terhentak kesadarannya segera berlari keluar, derai airmatanya mengalir laksana terakhir kali menatap wajah teman ngajinya. Dia melesat melalui pintu luar.
Hafidz memandangi wajah-wajah mereka yang masih garang menatapnya. Mereka tak berani bergerak, tapi gerak-geriknya mencari celah, tapi Hafidz bukanlah anak kecil lagi. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukannya.
“Jangan berani bergerak, aku tidak akan ragu menembakkan pistol ini,” langkahnya pelan menuju pintu luar. Seseorang anak buah Sarman mendekati dan berjalan mengikutinya dan sedetik kemudian tangan Hafidz tak dapat dicegah lagi. Letusan membahana dan mengenai dada lelaki itu. Lelaki itu menjerit dan terjatuh, yang lain segera mundur sambil wajahnya gemeretukan. Mereka tak bisa menganggap main-main perilaku Hafidz.
Setelah berada di luar Hafidz berlari tak tentu arah, mencoba mengejar Zulfa tapi kemana larinya? Dia hanya berlari kemanapun matanya memandang, kadang ke kiri dan kadang belok ke kanan. Pikirannya kalut. Dia berhenti di antara rerimbunan perdu bambu. Nafasnya masih memburu, bibirnya bergetar melafadzkan asma-asma Allah.
Beberapa menit kemudian atau mungkin sudah lebih dari satu jam, Hafidz mulai merasa lega. Malam telah merambat sangat larut. Entah jam berapa sekarang, Hafidz terperangah. Dia mulai dapat mengendalikan dirinya, dia segera berlari kembali ke rumah. Di pikirannya kini adalah bayangan ibunya, satu-satunya yang dia miliki. Mereka akan menghajar ibunya. Dia berlari terseok-seok, sebongkah kayu menghalangi jalannya dan dia tersungkur. Pistol terlempar jauh. Hafidz segera berdiri dan mencari-cari pistol itu, ketemu di akar sebuah pohon Mahoni. Dipungutnya dan segera beranjak berlari kembali, lutut kaki kanannya berdarah. Pikirannya hanya dipenuhi wajah ibunya. Ibu dalam bahaya.
Sesampainya di rumah, keadaannya seperti kapal pecah. Pintu telah terlepas dari engselnya. Kaki Hafidz gemetaran memasuki rumah, kakinya perlahan melangkah. Kakinya menginjak pecahan kaca yang pecah berceceran di lantai. Deburan di dadanya tak karuan, bayangan kengerian mendera dalam hatinya. Dicoba kuatkan kakinya memasuki kamar.
Saat memasuki ruang tengah, kakinya tak bergerak seolah terpaku di lantai. Matanya banjir meleleh, walau isaknya tak bersuara. Pistol dalam genggaman tangannya terlepas jatuh membentur lantai yang terciprat darah. Tubuhnya bagai kapas, seluruh dagingnya bagai dilolosi satu – persatu. Tidak ada duka lebih dahsyat yang dirasakannya kecuali wajah ibunya yang lebam dan tubuhnya bersimbah darah. Wajah yang biasanya meneduhkannya di kala kesepian, mendekapnya kala hujan lebat, wajah ceria itu kini tak lagi ada.
Tubuhnya lunglai terjatuh di lantai. Nyanyian hatinya bersenandung pilu, hatinya seolah tak lagi berfungsi. Wajah ibunya yang menghiba memintanya berhenti belajar ngaji untuk sementara waktu tak akan ditemuinya lagi.
Tiba-tiba sorot matanya tak lagi jernih, mengkilat tajam. Dia berdiri tegar, diambilnya pistol yang berlumur darah. Dia berjalan keluar setelah sebelumnya menatap wajah ibunya untuk terakhir kali. Dia berlari menuju tempat yang biasa digunakan Sarman dan teman-temannya bersenang-senang. Di kedai minuman sekaligus panti pijat.
Hafidz melangkahkan kakinya memasuki pelataran kedai, dilihatnya beberapa orang masih mabuk. Tak dihiraukannya, dia melangkah memasuki rumah. Seorang wanita yang menegurnya tak dihiraukan.
“Mencari Bapakmu to Le?” tanya wanita itu sambil menumpahkan air panas ke cangkir kosong yang telah diberi kopi dan gula.
“Dimana dia?” suara Hafidz menjawab biasa dan pelan. Tak mencurigakan.
“Di kamar sebelah kiri, nomor dua. Dia sedang bersenang-senang, sebaiknya jangan kau ganggu. Dia juga masih mabuk.”
Hafidz tak peduli, dia terus masuk melangkah ke dalam. Di depan kamar nomor dua sebelah kiri, kakinya berhenti. Terdengar suara mendesis-desis di dalam. Hafidz memegang pintu pelan itu, dan terbuka. Suaranya mengganggu dua orang yang tengah bergulat di atas kasur. Sarman segera berdiri dan mengambil sarungnya.
“Ternyata kau kesini! Tak susah-susah lagi. Disini akan kuhabisi kau anak syetan!” tapi langkahnya berhenti sejenak. Hafidz telah mengarahkan pistol kearahnya.
“Ha...ha...ha...,” Sarman terbahak-bahak, “Kau belum tahu siapa aku. Senjata apapun tak akan bisa melukaiku. Aku kebal,” langkahnya semakin berani mendekati pintu.
Hafidz tak gentar sedikitpun, “Allahuakbar!” jemarinya yang kecil segera menarik pelatuk pistol. Letusan membuat gempar kedai itu. Sarman kelesotan, pistol itu menembus dadanya yang terbuka tanpa kain. Dia kelesotan dan kejang-kejang, matanya membesar, kakinya menjejak-jejak. Wanita di atas kasur menjerit-jerit histeris bagai longlongan serigala.
Hafidz menggoyangkan kepalanya, tiba-tiba segala rasa bertumpuk dalam dadanya, dalam pikirannya, dalam seluruh syarafnya. Dia menjerit dan berlari keluar tak tentu arah. Dia berlari dan terus berlari hingga sangat jauh dan tidak tahu harus kemana. Dunia begitu sempit baginya. Semua wajah yang dikenalnya seolah memenuhi seluruh pikirannya. Dia berlari menabrak apa saja yang ditemuinya di perjalanan malam itu. Semuanya penuh dengan luka.
“Begitulah diriku Kak,” isaknya lirih memenuhi masjid Babussalam. Matanya telah membasah sejak tadi, surban putihnya lepas. Kepalanya penuh dengan luka codet, luka pukulan.
Faza tak kuat lagi, dia memeluk saudaranya itu. Teramat suram masa lalunya dan dia kuat menahannya sendiri, “Allah mencintaimu Fidz, seluruh makhluknya mencintaimu, aku mencintaimu karena Allah,” Faza mengalirkan perasaannya. Dia merasa masih beruntung masalahnya tak sepelik orang lain. Allah sangat mencintainya, semua yang terjadi dalam hidupnya tak punya alasan untuk sekejappun mengeluh pada Tuhannya.
Saat Faza memeluk erat Hafidz, tangannya merasakan benjolan-benjolan di punggung Hafidz. Di balik baju gamis itu. Faza melepaskan pelukannya dan menyingkap baju Hafidz di belakang. Tampaklah bekas luka carut marut, matanya tak kuat lagi menahan aliran airmatanya yang terus mengucur. Dipeluknya lagi Hafidz, seolah dia merasakan pula semua hal buruk yang menimpa saudaranya itu. Ikatan hati mereka seolah semakin kuat. Keterbukaan memang menjadikan hati saling memercayai untuk saling memahami. Alam bertasbih mengiringi dua orang yang sedang bercengkrama dalam nostalgia masa lalu. Allah pun menatap mereka.