Warna Pelangi Cinta
Islam itu Cinta, Selamilah dengan Indah
Langit cerah menyapa, matahari membara. Matahari berpijar bagai penguasa dunia, meskipun dia hanya dikendalikan oleh Allah swt. Seusai shalat jumat, matahari benar-benar seperti bara yang mengecup ubun-ubun bagi siapa saja yang mencoba melawannya dengan berjemur dan beraktivitas di bawahnya tanpa pelindung.
Awan yang biasa menutupi pijar matahati agar sedikit mengurani panasnya, siang itu tak muncul. Matahari pun membara tanpa adanya penghalang, mengecup ubun-ubun, melihat ke depan pun pandangan seolah meliuk seperti melihat pandangan bergoyang fatamorgana di atas api. Mata tertipu oleh liukan fatamorgana, itu semua karena matahari yang menyengat tanpa cela.
Raja siang, begitulah julukan matahari. Manusia pun bersembunyi, kebanyakan takut dari panasnya dan bersembunyi darinya; baik di rumah maupun di bawah pepohonan.
Matahari umpama bola api yang menggelinding di permukaan langit. Mengeliling setiap cela lingkaran bumi, setiap orang akan menghadapinya dan siap menantang matahari jika memang mereka berani.
Lelaki itu berjalan dengan mantap, tak ada keraguan. Ada undakan menuju pintu keluar rumah kontrakannya. Saat melihat keluar kontrakan, bara matahari membara, angin panas langsung menerpa wajah dan tubuhnya. Wussshhh! Benar-benar panas. Kota Metro seperti membara di siang hari. Lelaki itu kembali ke belakang bersiap mengambil tasnya, dia sekilas melihat kamar yang dekat dengan pintu, kamar Zilul. Zilul tengah tertidur sambil mendengarkan murattal dari komputernya yang masih hidup. Ada kipas angin kecil di sampingnya.
Nama lengkap lelaki yang tidur itu adalah Latif Zilullah al-Ayyam. Panggilannya Zilul. Orangnya baik meskipun kadang cepat marah, tapi pemikirannya mendalam dan selalu berpikir kuat. Zilul tadi menghadap Dosen untuk proses bimbingan skripsinya. Dia kelelahan dan istirahat langsung sepulang dari shalat jumat tadi.
Lelaki itu berjalan lagi dan melewati kamar kedua, dilihatnya sejenak Shafwan sedang membaca Qur’an di meja belajarnya. Di sampingnya ada kitab Al-Munawwir setebal setengah kilan, buku metodologi penelitian, Rihlatul Ulama Fi Thalabil Ilmi , dan buku novel tenggelamnya kapal van der wijk-nya Hamka.
Nama lengkap lelaki itu Shafwan Firaz an-Nafis, artinya Lelaki yang teguh pendirian berupa kejernihan dan cerah bagaikan singa yang sangat berharga, begitu ketika ada yang bertanya tentang arti namanya. Panggilannya Shafwan. Dia mengambil Jurusan Tarbiyah, Prodi Pendidikan Bahasa Arab di STAIN Kota Metro. Dia semester empat tapi kemampuannya sering membuat orang lain kaget. Buku apa saja dilahapnya dengan senyuman bagaikan menemukan harta karun. Ya itulah ilmu, yang bagi seorang Muslim adalah haknya, maka jika dapat segeralah ambil hak itu.
Di sebelah Shafwan, tepatnya sedang tidur di ranjang ada Rasyid. Nama lengkapnya Rasyid Abyadhu Yalaq, artinya seorang yang pandai dan sangat putih lagi ikhlas. Rasyid telah menutup matanya, walau dia sangat mencintai ilmu tapi siang ini setelah shalat jumat matanya yang tak bisa diajak kompromi. Dia selalu begadang malam hari, menghabiskan waktu malamnya untuk bermunajat kepada Allah. Lihatlah buktinya keikhlasan yang tampak dari raut wajahnya yang bercahaya. Dia selalu tidur siang walau seperempat jam agar malamnya dapat mencurahkan cintanya.
Rasyid masih duduk di Semester enam, mengambil Fakultas Agama Islam di Universitas Muhammadiyah Metro. Rasyid memang kemampuan tentang ilmu masih di bawah Shafwan namun keikhlasan dan kejernihannya telah diakui oleh seisi rumah kontrakan itu. Rumah kontrakan itu kini berubah nama ketika enam orang bertemu dan sepakat tinggal disana. Nama rumah itu adalah Baitul’ilmi. Tidak ada yang bisa mengalahkan kuatnya ibadah Rasyid yang hingga telapak kaki-kakinya bergaris-garis bengkak, matanya yang coklat selalu bersinar ketika menatap. Rasyid selalu bercerita bagaimana dirinya dapat melakukan shalat malam dengan istimroriyah atau berkelanjutan dan rutin. Ini adalah pelajaran berharga untuk siapapun yang ingin mengenal Tuhannya dengan sebenar-benarnya.
”Agar mudah mengerjakan shalat malam yang perlu dilakukan pertama adalah jangan memperbanyak makan dan minum. Seorang ahli ibadah mengatakan, ’Wahai para hamba Allah, janganlah kalian memperbanyak makan, sebab kalian banyak minum lalu kalian akan banyak tidur, sehingga akan terhalang mendapat banyak kebaikan, dan kalian pun akan banyak merugi. Selanjutnya kamu akan banyak menyesal menjelang kematian.’
Yang kedua janganlah terlalu menguras tenaga di siang hari, jangan memforsir tenaga di waktu siang saat bekerja. Walaupun anda akan mengatakan, bahwa pekerjaan keras telah memaksa kami untuk memforsir seluruh waktu siang kami dan saran yang kedua dianggap mustahil untuk ditinggalkan? Ya! Setiap orang boleh mengatakan itu. Namun cobalah meluangkan sedikit waktu untuk tidur siang. Berusahalah untuk tidur walau sejenak serta tidak melupakan niat dan orientasinya.
Yang ketiga adalah menghindari maksiat. Apa hubungannya? Sebenarnya inilah faktor terpenting bagi seseorang yang ingin memperoleh kebaikan dan kemenangan. Janganlah kalian mendurhakai dengan berbuat maksiat kepada Allah di waktu pagi, niscaya kalian akan mampu mengerjakan shalat malam dengan kenikmatan yang hanya bisa dirasai hati orang yang dekat denganNya. Sesungguhnya dosa itu adalah tali yang mengikat manusia untuk mendapatkan kemulyaan. Tali itu hanya bisa dilepas dengan penyesalan, istighfar dan bertaubat kepadaNya.
Yang terakhir adalah melakukannya dengan setahap demi setahap. Ini merupakan titik yang tidak kalah penting dengan menghindari maksiat. Jangan semangat yang menggebu akan mengerjakan shalat malam sepanjang malam, lalu suatu saat semangat turun dan tidak pernah melakukan shalat malam lagi. Di sinilah letak tiupan syetan itu, jadikan semangat dan keikhlasan itu seimbang dan teratur. Mulailah dengan dua rekaat dan satu witir dulu jika masih berat, lakukanlah tanpa lubang selama sebulan. Jika telah kuat maka tambahkanlah.
Ingatlah, ’Agama (Islam) ini adalah mudah. Selamilah ia dengan lembut.’ Begitulah biasanya Rasyid memberi nasehat kala ada yang bertanya bagaimana agar bisa melakukan shalat malam. Lihatlah ketika dia berujar, kata-katanya adalah cerminan hatinya yang tulus, lihatlah matanya yang bening lagi jernih, lihatlah wajahnya yang bersinar. Sungguh, akan membuat iri siapapun yang melihatnya.
Lelaki itu terus melangkah kearah dapur, mengambil wadah airnya dan mengisi di keran galon yang berada di dekat pintu perbatasan dapur dan ruang makan kecil. Setelah penuh dimasukkannya dalam keranjang tas besarnya di sebelah kanan. Senyumnya tersungging mesra, semesra bintang yang menemani malam. Langkahnya kini mantap melangkah, di depan pintu kamar kedua dari luar geraknya terhenti kembali.
”Shafwan...,” dia menunggu hingga Shafwan sampai di akhir ayat.
Senyum Shafwan merekah kala selesai di akhir ayatnya. Matanya yang sedikit berkaca menatap lelaki yang memanggilnya, ”Ada apa Kak? Ada yang bisa kubantu?”
”Aku pinjam sepedamu lagi ya? Untuk mengisi kajian di SMA 3,” matanya tulus menatap Shafwan yang serius menanggapinya.
”Tafadhol (silakan), siang ini juga sangat panas. Aku akan di rumah saja untuk belajar Kak, tapi bannya sedikit kempes. Atau, biar aku memompakan dulu?”
”Tidak usah, biar aku saja. Aku sudah banyak merepotkanmu terus. Aku berangkat dulu, takut telat.”
”Kak Faza seperti dengan orang lain, bukankah kita saudara? Dan sepedaku telah kuinfakkan untuk siapa saja yang ingin menggunakannya untuk menuju Allah, aku hanya tidak memberi izin jika akan digunakan untuk bermaksiat,” senyumnya sungguh senyum seorang yang berilmu. Segar dan ceria.
Yang dipanggil Faza tersenyum sambil matanya berkedip pelan, ”Thayib (baik), assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumsalam warahmatullah, tunggu sebentar Kak,” Shafwan menaruh mushafnya di atas meja kecil kayu yang disangga kayu menyilang di bawahnya, lalu menuju lemarinya. Tangannya bergerak-gerak di tumpukan buku dan mengambil sesuatu.
”Kak Faza pasti butuh ini,” cuaca memang panas. Metro memang tidak pernah kena gempa ataupun banjir, tapi letaknya sangat strategis terkena angin beliung dan angin sering bertiup kencang apalagi cuacanya yang berganti-ganti.
”Terimakasih,” Faza menerima benda itu dari tangan Shafwan. Sebuah kacamata netral tapi bentuknya bening hanya sedikit besar untuk melindung dari debu. Senyum kedua orang itu bertemu kembali hingga menciptakan deburan ukhuwah yang semata-mata untuk Allah. Shafwan memang selalu perhatian terhadap apa saja yang dilakukan Faza, hingga yang lain mengira Shafwan berlebihan dalam perhatian.