Wanita Tanpa Rahim

Sowan ke Pondok

Ternyata Abah meminta kami untuk datang ke pondok hari ini. Tentu saja itu membuatku was-was. Jangan-jangan sekarang saatnya beliau meminta keputusan kami. Aduh, bagaimana ini? Batinku terus berperang dengan pikiran. Ada rasa takut sekaligus gelisah melanda. 

 “Yuk, siap-siap!”

 Aku hanya bergeming. Pikiranku melayang entah kemana. Hingga hembusan angina mengenai pipi ini terasa menggelitik. Mas Akmal sengaja meniupnya untuk membuatku sadar dari lamunan. Telapak tangannya menangkup wajahku. Tatapan kami beradu. Ada keyakinan yang ia pancarkan di sana. 

 “Percayalah, Mas nggak akan berubah pikiran. Apapun yang terjadi di sana nanti, Mas tetap pada pendirian Mas.”

 Aku mengangguk. Akhirnya bisa bernapas lega. Kekhawatiran ini meski masih ada, tapi sudah berkurang banyak. Aku percaya pada suamiku. Hamper enamm tahun aku hidup bersamanya, tak pernah sekalipun ia membohongiku. 

***

 Kami menyusuri halaman pondok dengan saling bergandeng tangan. Entah mengapa aku merasa mas Akmal seperti sengaja menampakkan kemesraan saat kami memasuki halaman pondok. Tangannya tak mau melepaskan genggamannya. Netraku memindai seluruh penjuru pondok ini. Banyak kenangan terukir selama aku tinggal di sini. Lalu tatapanku berhenti di masjid. Tempat suci yang pernah menjadi saksi perjanjian sakral kami. Di tempat itulah suamiku melakukan mitsaqan ghalidza, sebuah perjanjjian agung dengan Rabbnya. Bahwa ia akan menjadikan aku sebagai pendampingnya. Perjanjian yang menggetarkan Arsy-Nya. Tercatat oleh malaikat sebagai perjanjian yang kuat.

 Jantungku berdebar-debar saat kaki menapak pendopo. Sudah ada Abah, Umi dan mas Bayu. Dia anak kedua Abah dan Umi. Aku duduk bersisisan dengan mas Akmal. Tatapan Abah tertuju pada tangan kami yang saling berpaut. Diikuti oleh Umi dan juga mas bayu. Aku mencoba melepaskan, tapi tangan kami seperti berperekat. Mas Akmal sengaja masih tak mau melepaskan. 

 “Akhirnya kalian datang juga. Abah piikir kalian sudah tak mau ke pondok ini lagi.”

 “Maafkan kami, yai. Aira sering sakit akhir-akhir ini. Saya juga sibuk dengan agenda dakwah. Kami baru bisa sowan sekarang.”

 “Abah senang kalian hidup bahagia. Abah tidak salah memilihkan jodoh.” Lelaki tua yang masih berkharisma ini memandang kami bergantian. Seolah menyelidik apa yang ada dalam pikiran kami. “Sekarang mumpung kalian datang berdua, apa jawaban kalian?”

 Aku memejamkan mata sesaat. Menetralkan perasaan gugup yang mulai meraja. Kurasakan genggaman tangan mas Akmal makin erat. Hembusan napasnya terdengar nyaring di telingaku. 

 “Maaf sekali lagi, Yai. Keputusan saya sudah bulat. Saya tak bisa melakukannya.” 

 Abah tampak kecewa. Begitu pun umi dan mas Bayu. Sedangkan aku hanya bisa bungkam tanpa kata. Mau bicara takut salah. Biarkan mas Akmal saja yang memutuskan. 

 “Tapi kenapa, Mal? Apa Aira melarangmu?”

 Kepalaku yang tadinya menunduk langsung mendongak mendengar nammaku disebut. Aku menggeleng lemah. 

 “Tidak, Yai. Aira tidak melarang. Ini atas kemauan saya sendiri. Yai sudah dengar alasan saya sebelumnya.”

 Abah terlihat gusar. Sesekali tangannya yang keriput mengelus jenggotnya. Lalu menatap mas Bayu seolah meminta bantuan untuk bicara. Namun apap pun yang dikatakan mas Bayu sama sekali tak menggoyahkan pendirian mas Akmal. Dia benar-benar sudah memutuskan. Kini giliran aku yang ditatap tajam oleh Abah. 

 “Tolong, Mal, Ra, nikahi Zahra. Hanya kalian yang bisa menolongnya.”

 “Kenapa harus saya, Yai. Bukankah banyak pria yang sekufu dengan ning Zahara yang bersedia menjadi imamnya? Kenapa harus saya yang tak tamat perguruan tinggi. Bukankah ning Zahra tahu kalau saya sudah menikah dengan Aira?”

 “Dulu. Itu dulu, Akmal. Sebelum kondisi Zahra seperti sekarang ini.”

 Aku dan mas Akmal saling berpandangan. Seolah bertanya, ada apa dengan kondisi mbak Zahra. Ketika aku bertanya tentang kondisi mbak Zahra sekarang, ketiga orang ini hanya bungkam. Umi malah menangis sesenggukan. Mas bayu mencoba menenagkan Umi. Memeluknya dari samping. Lagi, aku menatap suammiku yang sama bingungya denganku. 

 “Sekarang keadaan Zahra sudah berbeda. Tidak sepperti dulu lagi. Abah yakin kamu bisa membahagiakannya, Mal. Sama seperti kamu membahagiakan Aira. Bukankah dalam Islam laki-laki diberi kesempatan untuk menikahi wanita lebih dari satu? Kamu memiliki kemampuan itu, Mal. Secara finansial kamu tak ada masalah. Kamu juga mampu menjadi imam yang baik. Apa yang membuatmu ragu?”

 Sepertinya ada yang tak beres dengan mbak Zahra sampai Abah memaksakan kehendaknya seperti itu. Tidak mungkin mbak Zahra tidak laku jika taka da apa-apanya. Selama ini banyak ikhwan yang menunggu kedatangannya kembali ke Indonesia. Tak sedikit pula yang sudah mencoba melamar pada Abah. Ah, semua ini membuatku pusing saja.

 Mas Akmal masih bergeming. Tatapannya kosong. Sesaat kemudian, ia bertanya, “Apa sekarang ning Zahra ada?” 

 Pertanyaan mas Akmal membuatku tersedak ludah sendiri. Apa dia berniat ingin menemuinya? Bagaimana kalau dia berubah pikiran setelah beretmu mbak Zahra? Yaa Allah, apa yang harus aku lakukan?

 Ketiga orang itu saling berpandangan. Lalu mengajak kami untuk menemui mbak Zahra. Jantungku ingin meledak rasanya. Setiap langkah menuju ke tempat mbak Zahra berada, seperti hilang energiku sedikit demi sedikit. Aku ingin berbalik, namun mas Akmal tetap menarikku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah sambil terus berdoa, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk kami.

 Sebuah pintu bertuliskan nama mbak Zahra sudah terpampang di depan mata. Detak jantungku semakin kencang. Lebih kencang dari yang sebelumnya. Mas Bayu membuka perlahan pintu itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Aku menutup mata. Tak berani mmelihat apa yang ada di dalam kamar itu.

Dalam terpejam aku menanti mas Akmal masuk duluan. Namun beberapa detik menunggu, tak ada pergerakan darinya. Ia sama diamnya denganku. Perlahan kuberanikan diri membuka mata. Kulirik isi kamar itu dari balik bulu mataku. Aku menganga. Lalu kututup mulutku dengan telapak tangan. Apa yang terpampang di depan mata kami seperti mimpi. Untuk meyakinkan pandanganku tak salah, aku melangkah masuk. Mendekati sosok gadis yang tampak mengenaskan itu.

Mbak Zahra, benarkah ini mbak Zahra? Tatapanku tertuju pada Abah dan Umi bergantian. Mereka semua bungkam. Hanya lelehan air mata Umi yang menjawab pertanyaanku. Sosok wanita paruh baya itu menangis dalam diam. Aku tahu apa yang dirasakan. Melihat kondisi mbak Zahra saat ini, akupun ikut sedih. Dia yang dulu selalu ceria. Penampilannya yang serba tertutup mampu membuat para ikhwan berharap bisa jadi imam masa depannya. 

Benar kata Abah. Siapa yang mau menikahi mbak Zahra dengan kondisinya yang seperti ini. Bahkan untuk mengurus dirinya sendiri saja ia tak mampu. Apalagi melayani suami layaknya para istri normal lainnya. Kusentuh punggung tangan perempuan itu dengan lembut. Kurasakan dia sedikit berjengkit. Tangan satunya meraba tanganku. Air mata ini sudah mendesak ingin ditumpahkan. Sebisa mungkin aku menahan agar isakanku tak terdengar.

“Siapa ini, Ummi! Kaukah ini?” tanya mbak Zahra. 

Aku hanya bergeming. Tapi wanita di hadapanku ini tak tinggal diam.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!