Wanita Tanpa Rahim
Sakit
Hatiku menghangat mendengar kata-kata bijak bapak. Selalu seperti ini. Bapak tak pernah menyalahkan takdir. Pengalaman hidup yang sudah dikecapnya selama lima puluh tahun lebih, membuat jiwanya tertempa.
"Maafkan Aira, Mak, nggak bisa jagain cucu Emak."
"Sttt, sudahlah. Nggak perlu menyalahkan diri sendiri."
Entah kenapa, pagi ini terasa berbeda. Emak yang biasanya meledak-ledak jika merasa menantunya salah, kini berubah lembut dan sangat penyayang. Ia menceritakan pengalamannya kehilangan dua buah hatinya waktu masih bayi dulu. Katanya dia kakak dan adikku.
Dua jam lebih emak dan bapak berada di sini, akhirnya pamit pulang. Tak lama berselang, beberapa temanku datang. Sungguh aku merasa sangat beruntung memiliki orang tua yang peduli, juga teman-teman yang sudah seperti saudara.
"Bagiamana keadaan istrimu, Mal" tanya Sidiq sambil menyerahkan sebuah parsel. Meski cowok, dia tak malu membawa oleh-oleh. Setelahnya, ia memilih duduk di lantai yang sudah digelari tikar oleh emak tadi.
"Apa Kyai Jumhuri tahu soal ini?" bisik Akbar di dekat telingaku. Dia orang pertama yang tahu bahwa Kyai Jumhuri memintaku untuk menikahi putrinya. Kemarin, setelah dari pondok aku mampir ke rumahnya. Meminta pendapat atas tawaran itu meski hatiku sudah mantab menolaknya.
Akbar adalah salah satu santri senior di ponpes milik Kyai Jumhuri. Dia lebih tahu tentang keluarga itu.
Aku menggeleng. "Aku tak mengabari beliau."
"Kabarnya sebelum Kau dipanggil ke pondok, beliau sama bu nyai sudah menemui istrimu. Aku baru tahu semalam dari Nina. Istriku bilang, kemarin Aira telepon dan curhat padanya."
Seperti ada yang menghantam dadaku. Sesaat aku seperti kehilangan tempat berpijak. Dadaku bergemuruh. 'Apa karena itu Aira ... ah, aku nggak boleh su'udzon,' batinku bersenandika. Kulirik belahan jiwaku yang tenang dalam tidurnya. Tadi setelah emak pulang, matanya langsung terpejam. Katanya ngantuk. Mungkin pengaruh obat.
"Mungkin istrimu kepikiran. Dan itu berpengaruh pada psikisnya."
Kutolehkan kepala menatap manik Akbar. Entah apa yang saat ini memenuhi ruang pikiranku. Yang jelas, ada rasa bersalah menyelimuti kalbu.
Pada saat yang sama sebuah pesan masuk ke gawaiku. Kulihat nama yang tertera di sana. Kyai Jumhuri.
#POV Aira
"Wah, kok tumben Abah sama Umi kemari, sini masuk! Tapi Mas Akmal lagi ada kegiatan di luar, Bah."
Kupastikan Abah dan Ummi duduk dengan nyaman di sofa ruang tamu. Lalu kutinggal sebentar untuk membuatkan minum beserta beberapa camilan.
"Sudah, Ra, nggak usah repot-repot. Duduklah! Ada yang mau Abah bicarakan sama Kamu."
Lelaki berkharisma itu menatap lekat padaku. Ada perasaan gugup ditatap seperti itu. Entah mengapa batinku nggak enak. Seperti ada sesuatu yang bakal terjadi dalam hidupku.
"Saya telepon mas Akmal dulu, Bah biar pulang." Kuraih HP di atas meja. Namun ummi menahan tanganku sambil menggelengkan kepala.
"Aira, selama ini Abah sama Ummi sudah menganggapmu seperti putri kami. Kami juga tak membeda-bedakanmu dengan anak-anak Abah." Pria sepuh dengan jenggot memutih itu menarik napas panjang. Seperti ada beban berat yang hendak dibuangnya dari dada.
Perasaanku mulai tak enak. Dudukku gelisah seperti menanti putusan sidang di pengadilan. Ummi menggenggam tangan mungil ini dan mengelusnya. Ada hangat yang mengalir ke suluruh pembuluh darah, membuatku lebih relax.
"Untuk pertama dan terakhir kalinya Abah sama Ummi minta satu hal padamu, Nak ... " Lelaki tua yang pernah menjadi guru sekaligus orang tuaku itu menjeda kalimatnya. Kutahan napas untuk mendengar lanjutannya.
"Izinkan Akmal menikahi Zahra. Jadikan ia adik madumu."
Napasku benar-benar berhenti sesaat. Seperti ada ribuan anak panah yang ditembakkan tepat ke jantungku. Mendadak lidahku kelu. Bahuku merosot dan banyak kunang-kunang berterbangan di depan mataku.
Kurasakan goncangan pada tubuh ini sehingga aku dapat kembali ke dunia nyata. Kucubit lenganku sendiri. Sakit. Berarti aku tidak mimpi. Apa benar ini nyata? Abah memintaku berbagi suami dengan putrinya?
Apalah aku yang hanya mantan santrinya jika dibanding dengan seorang Zahra? Perempuan cerdas dengan perangai baik sekaligus lulusan S-2 Mesir? Dadaku bergemuruh. Berdentam-dentam seperti ditabuh. Mata mulai memanas. Tapi ... aku harus mencoba bertahan.
Setelah menunggu beberapa menit nggak ada jawaban dariku, Abah dan Ummi pamit.
"Pikirkan baik-baik, Nak. Abah yakin kamu bisa merasakan apa yang dirasakan Zahra."
Abah dan Ummi benar-benar pergi dari rumah ini meninggalkan luka yang menganga. Tubuhku merosot ke lantai. Bendungan yang dari tadi kutahan akhirnya jebol membasahi kedua pipi ini.
Cukup lama kutumpahkan air mata ini. Setelah puas, kuambil wudlu dan mengadu pada Sang Penggenggam jiwa. Memasrahkan segala urusan pada-Nya tentu lebih baik dari pada memutuskan dengan emosi. Bukankah Dia lebih tahu segalanya?
Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang saat perut tiba-tiba melilit. Kurebahkan tubuh dan mengelusnya. Sesaat aku merasa nyaman. Kukatakan pada calon bayiku bahwa aku baik-baik saja.
Namun ternyata itu tak berlangsung lama. Perut kembali seperti diremas-remas. Menusuk-nusuk hingga tembus ke pinggang. Ya Allah, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba perutku sakit begini?
Kucoba untuk bangkit, tapi tak bisa. Tangan ini meraba-raba mencari keberadaan ponselku. Namun sebelum kutemukan benda pipih itu, suara salam terdengar dari luar kamar. Rupanya mas Akmal sudah pulang.
Mas Akmal sudah mendekat duluan sebelum aku berhasil bangkit. Kurasakan hangat kecupannya di kening, lalu berpindah ke perut. Ajaib, perut yang tadi melilit tiba-tiba sembuh. Mungkinkah calon bayiku tahu apa yang kurasakan?
"Dek, Mas mau keluar lagi, ya. Diutus Kyai Jumhuri untuk sowan sekarang juga."
Tiba-tiba dadaku seperti diremas. Ada luka tak kasat mata yang kembali menganga. Batinku berkecamuk. Tiba-tiba perut ini kembali melilit. Namun sakitnya perut ini tak sebanding dengan apa yang kurasakan di dalam dada.
Apa Abah akan meminta langsung pada mas Akmal? Bagaimana kalau mas Akmal menerimanya? Sanggupkah aku berbagi suami dengan orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri?
Sebisa mungkin kutahan air mata ini. Belum tentu juga Abah mau membahas hal itu sama mas Akmal. Mungkin ada hal lain yang penting. Batinku mencoba menepis segala kemungkinan yang kuciptakan sendiri.
Makin lama perut ini makin sakit. Mas Akmal sepertinya sudah menyadari keadaanku.
"Kamu kenapa, Dek?"
"Nggak papa kok, Mas." Kutahan sebisa mungkin agar bibir ini tidak mengeluarkan rintihan.
"Apa Mas batalkan saja ke pondoknya, biar bisa jagain Adek di rumah?" ucapnya sambil mengelus punggungku.
"Nggak papa, Mas. Pergi saja. Aku nggak papa. Nanti kalau bisa tidur, pasti sembuh. Mungkin junior lagi mau tiduran aja."
Setelah yakin aku baik-baik saja, mas Akmal pamit. Rentetan pesan dia ucapkan seperti seoarang emak yang handak meninggalkan anaknya sendiri di rumah. Kuantar kepergiannya dengan senyum penuh luka.
Setelah punggung lebar suamiku tak tampak lagi, kubiarkan air mata ini banjir. Perutku bergejolak hebat, hingga membuatku merintih. Berulang-ulang kuucpakan istighfar untuk meringankan sakit ini.
Bayangan suamiku bersanding dengan Zahra menari-nari di pelupuk mata. Suamiku yang gagah dan tampan sangat serasi dengan Zahra yang cantik dan anggun.
Semakin kubayangkan hal itu semakin membuat perutku bergejolak. Kurasakan ada yang merembes di area pahaku.
"Darah!"