Wanita Tanpa Rahim

Pulang Kampung 23

“Maaf, Pak, pasangan mesum dilarang beroperasi di sini. Lebih baik kalian berdua segera pergi dari sini sebelum digrebek warga setempat."

Kami berdua saling pandang, mencerna ucapan pria itu. Kemudian tanpa aba-aba tawa kami pecah. Pak polisi yang mengingatkan kami melongo. Tingkahnya menyiratkan kebingungan.

“Terimakasih sudah diingatkan, Pak. Kami ini pasangan halal, kok. Selamat bertugas ya, Pak. Tetap seperti ini, amar ma’ruf nahyi munkar. Bapak keren,” ucap mas Akmal sambil mengacungkan dua jempolnya. Pak polisi yang ber-name tag Susilo itu nyengir sambil menggaruk kepalanya yang ku yakini nggak gatal. Lalu minggir dan menyilahkan kami berlalu.

Sepanjang jalan kami terus tersenyum menertawakan kekonyolan kami. Hati yang hampir kosong kini terisi kembali oleh cinta yang merekah.

“Sudah beres semua?” tanya mas Akmal mengagetkanku yang sedang packing barang-barang kebutuhan pribadi kami. Rencananya hari ini kami akan ke kampungku mengunjungi pakde dan bude yang telah membesarkanku setelah ayah dan ibuku meninggal  karena kecelakaan. Waktu itu aku baru kelas tiga SD saat kecelakaan maut itu merenggut kedua orang tuaku. Lalu pakde dan bude membesarkanku hingga SMP. Setelahnya aku mondok dan diangkat anak oleh Abah dan Ummi.

Kampung halamanku terletak di ujung timur Jawa Tengah. Medannya yang pegunungan dengan udara sejuk membuat kami betah berlama-lama di sana jika sedang berkunjung. Penduduknya sangat menjunjung gotong royong. Namun terkadang jika  bicara tanpa filter. Aku sudah menyiapkan mental baja untuk bertemu dengan para tetangga di kampung. Sifat pekerjaannya yang tak menentu membuat mereka lebih sibuk mengorek kehidupan pribadi orang lain dari pada mengoreksi kesalahan sendiri. Hobi berkumpul dan mengghibah sepertinya sudah mendarah daging di sana.

 Lima jam waktu yang kami butuhkan untuk menempuh perjalanan. Memasuki daerahku, udara dingin mulai terasa menusuk kulit. Aku sengaja mematikan AC mobil dan membuka kaca supaya segarnya angin pegunungan bisa kami hirup dengan bebas. Mas Akmal memelankan laju kendaraannya, supaya aku bisa menikmati pemandangan alam ini dengan puas. Bukit-bukit yang menjulang dengan tumbuhan menghijau menjadi penyejuk mata yang lelah akibat melihat gedung-gedung perkantoran dan macetnya jalanan. Benar-benar seperti kembali ke alam. 

Mobil yang kami tumpangi memasuk pelataran rumah pakde yang asri. Di halamannya yang luas ditumbuhi pohon manga dan alpukat. Para tetangga yang bergerombol lesehan di lantai teras pakde memandang takjub kepada kami. Ya, mungkin mereka nggak mengira aku yang yatim piatu dan miskin sekarang datang dengan sebuah mobil. Semenjak menikah, memang baru kali ini kami membawa mobil sendiri. Biasanya kami  naik bus supaya tidak capek.

Mata-mata itu meyorot kagum dan penuh tanda tanya melihat mobil kami. Mungkin bertanya-tanya Aira si yatim piatu datang dengan mobil pajero sport. Mas Akmal turun duluan lalu memutari badan mobil dan membukakan pintu untukku.

“Oalah, Aira to? Bener ini Aira yang dulu dekil itu? sekarang kok dadi ayu, punya mobil lagi,” ucap bulek Sarti tetangga depan rumah pakde. Ibu-ibu yang tadi duduk ikut berdiri dan mengangguk mengiyakan ucapan bulek Sarti. Bude yang mendengar namaku disebut, tergopoh-gopoh menyongsong kedatanganku. Tanpa aba-aba, ia menubruk tubuhku hingga oleng. Untuk tangan mas Akmal sigap menangkapku sehingga tetap bisa berdiri.

“Oalah, Nduk … kok baru pulang, opo ndak kangen sama pakde dan budemu ini to? Ya Allah, kamu kok dadi ayu saiki. Mobilmu apik,” ucapnya mendramatisir. Dengan cepat ia melepas pelukannya padaku dan mendekati mobil kami. Tangannya mengelus mobil itu dengan binar kekaguman. Mulutnya berdecak sambil memutari body mobil. Hatiku menghangat melihat kebahagiaan bude yang sederhana itu. senyumnya terus merekah, hingga melupakanku yang masih berdiri di samping mas Akmal.

“Eh, Aira! Ini kalian pulang Cuma berdua aja? Mana anak-anakmu, kok nggak dibawa?” tanya bulek Sarti sambil menyolek lenganku. Kupandangi mas Akmal yang menegang sebelum menjawab pertanyaan itu.

“Belum ada, Bulek. Kami masih belum dikasih anak, pangestune mawon.”

“Loh, piye to? Bukannya kalian nikah sudah lama yo, kok belum punya anak? Sengaja dicegah yo biar bisa berduaan terus. Yo pantes, wong bojone nggantheng ngene, mesti pengenne berduaan terus.”

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan nyeleneh itu. mas Akmal menguatkan dengan menggenggam tanganku. Melihat situasi yang mulai nggak nayaman, bude menggiring kami masuk. Sementara ibu-ibu itu mengikuti kami dari belakang. Sejurus kemudian mas Akmal kembali berdiri dan keluar lagi. Pandangan ibu-ibu itu tak lepas dari gerak-gerik suamiku yang terlihat semakin tampan.

“Aira, opo bener sampeyan belum punya anak? Padahal kalian berdua terlihat sehat gitu loh. Opo kamu mandul?” Bulek Sarti rupanya masih belum puas sebelum mendapat jawaban dariku. Seperti ribuan jarum menusuk jantungku mendengar pertanyaan tanpa filter itu. Inilah alasan kenapa aku jarang pulang. Aku tak siap dicecar pertanyaan yang membuat luka di hatiku kembali menganga.

“Maaf, Bu. Aira nggak mandul. Hanya saja rezeki itu belum datang kepada kami,”ucap mas Akmal yang tiba-tiba sudah ada disampingku sambil menenteng dua buah kardus besar.

“Halah, Mas … Mas, mandul juga nggak tahu. Kalau memang nggak mandul harusnya sudah punya anak to? Wong kalian nikah sudah lebih dari lima tahun. Itu, anak saya saja nikah baru tujuh bulan sekarng sudah melahirkan bayi lucu.”

“Bukannya usia kehamilan itu 9 bulan 10 hari ya?”

“Iyo, bener.”

“Kok anak ibu baru 7 bulan menikah sudah punya anak, nabung duluan bu?”

Wajah bu Sartun tampak pias. Mungkin dia nggak sadar jika telah membuka aib sendiri. Sementara ibu-ibu yang lain menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan tangan. Bude melotot seolah mengancam bu Sartun yang ngomong sembarangan itu. Mulutnya komat-kamit memberi kode supaya mereka pada pulang. Namun sepertinya mereka tak paham dengan kode yang diberikan bude.

 

***

Pagi ini kami jalan-jalan menikmati pemandangan alam yang begitu memukau. Di kota tak akan pernah kita temui sejuknya udara pagi seperti di sini. Sejauh mata memandang, hanya ada perbukitan hijau dan lading-ladang. Sesekali kami mengabadikan moment ini dengan merekam atau memotret. Mas Akmal begitu menikmati suasana ini. Direntangkan kedua tangannya dengan mata terpejam. Menikmati hembusan angin yang menyejukkan. Kutatap dari samping wajah tampan itu. dadaku berdesir tiap kali mengingat bahwa pria tampan dan sholeh ini adalah suamiku. Hanya suamiku.

Senyumku terbit membayangkan kami menua bersama. Menghabiskan waktu hanya berdua dengan segala rintangan yang menerpa. Namun bersamanya, berapa pun berat ujian yang menghadang, bisa kami lewati dengan keimanan. Ya, dialah pemimpinku yang adil dan bijaksana. Tanpa keteguhan prinsipnya, mungkin sekarang aku sudah kehilangan separuh hatinya. Meratapi nasib sendirian kala dia bersama belahan jiwanya yang lain. Namun Allah Maha Rahman. Tidak memberikan ujian itu karena Tahu aku tak sanggup memikulnya.

“Sudah puas menikmati pesona pria tampan ini?”

Aku tergeragap. Wajahku pasti sudah memerah karena malu ketahuan mengagumi ciptaan Allah yang paling indah ini. Dan syukurnya lagi dia adalah milikku. Seoarng imam sempurna yang mampu menyempurnakan hidupku yang tak sempurna. Dia berbalik menghadapku. Tatapan kami saling beradu. Untuk sesaat kami membiarkan angina menerpa kami yang sedang menyelami keddalaman hati masing-masing.  Alam seolah ikut bahagia menyaksikan kami. Sinar mentari memancar melalui celah-celah dedauanan.

“Aira? Kamu benar Aira kan?”

 

Kami menoleh bersamaan mendengar namaku disebut. Entah dari mana orang ini dating. Tiba-tiba muncul tanpa peringatan. Dan … kahadiran orang itu membuatku membeku.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!