Wanita Tanpa Rahim

Lamaran untuk Zahra 21

Tubuh Abah menegang mendengar nama Iqbal disebut. Raut wajahnya berubah muram. Tangannya mengelus jenggot putihnya dengan kedua netra menerawang jauh. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.

"Apa tidak ada solusi lain selain pemuda itu, Mal?"

"Maaf, Yai. Hanya Iqbal yang mencintai ning Zahra dengan tulus tanpa melihat siapa ning Zahra. Yai tahu dia pernah melamar, dan kemarin saat ketemu, dia masih berharap ada kesempatan untuk menikahi ning Zahra."

"Tapi itu dulu, Mal. Sebelum Zahra kecelakaan. Dan sekarang siapa lelaki yang mau menerima kekurangannya. Bahkan untuk mengurus diri sendiri saja Zahra tak bisa."

Abah menunduk, bahunya sedikit bergetar. Aku dan mas Akmal saling berpandangan. Merasa asing dengan pemandangan di depan kami. Tak biasanya Abah emosional begini. Apalagi di hadapan kami, para muridnya. Beliau akan selalu menjaga wibawanya sebagai seorang Kyai yang disegani.

"Dulu," Abah menjeda kalimatnya. Menyusut kedua matanya yang basah. "Iqbal memang pernah melamar Zahra, ... tapi Saya menolaknya. Karena menganggap Iqbal tak sekufu dengan Zahra."

Abah menunduk lagi. Ada nada getir saat mengucap kalimatnya. Penyesalan yang entah karena apa, terlihat begitu nyata di sorot matanya.

"Jika Yai mengizinkan, saya bisa membantu bicara pada Iqbal."

Ucapan mas Akmal membuat Abah mendongak. Binar di mata tua itu kembali. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Lalu menepuk-nepuk pundak mas Akmal. Senyuman itu menular pada kami. Lalu menjalar ke seluruh aliran darah ini. Hangat dan lega. Semoga ini bisa menjadi solusi.

Kami pulang dengan perasaan membuncah. Beban yang selama ini membelenggu kami, telah hilang membuat langkah kami semakin ringan. Bara yang terpendam dalam sekam tak jadi berkobar karena telah disiram.

***

"Dek, tolong masak agak banyak ya, hari ini Iqbal akan datang."

Aku mengangguk senang. Ya, kami sepakat untuk membicarakan ini secepatnya dengan Iqbal agar masalah ini segera selesai. Segera aku bertempur dengan alat-alat masak di dapur dibantu mas Akmal. Sesekali kami bercanda dan saling colek membuat acara masak kami dipenuhinderai tawa. Inilah yang sering kami lakukan dulu sebelum aku sakit.

Semua masakan sudah siap di meja makan saat bel pintu berbunyi. Mas Akmal gegas membuka pintu. Beberapa saat kemudian muncul lah dua orang lelaki sholeh yang saling menebar senyum. Dilihat dari jauh, sekilas mereka memang mirip. Perawakan tinggi tegap, rambut lurus, alis tebal, dan rahang kokoh. Yang membedakan hanya warna kulit dan jambangnya. Mas Akmal tak berjambang, sementara Iqbal memiliki jambang .

Kami makan dalam diam. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring memenuhi ruangan. Hingga acara makan siang selesai, belum ada yang membuka suara. Begitupun mas Akmal yang mengundang Iqbal kemari. Selesai makan, kami pindah ke ruang keluarga.

"Bal--" mas Akmal mengubah posisi duduknya lebih tegak. "Ning Zahra ... seandainya Yai Jumhuri memintamu untuk menikahinya apa kamu bersedia?"

Iqbal melotot. Tubuhnya menegang lalu condong ke depan.

"Jangan bercanda, Mal. Kyai Jumhuri pernah menolakku, nggak mungkin sekarang memintaku untuk menikahi putrinya."

Mas Akmal menghembuskan napas panjang. Lalu menceritakan semua yang dialami mbak Zahra saat ini. Sesekali Iqbal terlihat mengerutkan dahi, lalu murung, sesaat kemudian ia menerawang. Ekspresinya berubah-ubah mendengar penjelasan mas Akmal.

"Jadi, sekarang Kyai Jumhuri tak lagi memaksamu menikahinya?"

"Ya. Karena sampai kapan pun aku tak akan bisa menerimanya. Kamu tahu kan, prinsipku? Aku hanya mau menikah sekali seumur hidup dan hanya mau punya satu istri selama bidup."

"Apa ning Zahra bisa menerimaku yang nggak punya apa-apa ini?" Iqbal terus bertanya. Rasanya tak mungkin apa yang dikatakan Akmal itu benar. Secara Zahra berasal dari keluarga terpandang, sedang Iqbal hanya seorang yatim piatu yang memiliki usaha baru beberapa tahun ini. Itupun termotivasi dari mbak Zahra juga. Katanay ia akan berusaha melayakkan diri menjadi imam mbak Zahra. Dan sekarang kesempatan di depan mata, tapi ia malah meragukannya.

"Bagaimana kalau ning Zahra menolakku?" Sekali lagi Iqbal menunjukkan keraguannya.

"Sekarang, jujur, kamu mau nggak menerimanya dengan keadaan yang sekarang?"

Iqbal menghembuskan napas perlahan. Lalu kembali menjawab. "Cintaku untuknya tulus, Mal. Bukan karena dia kaya dan anak Kyai."

"Jadi?"

"Apapun keadaannya sekarang, aku siap menerimanya."

Aku dan mas Iqbal saling melempar senyum. Semoga ini bisa menjadi jalan kebaikan.

***

Hari ini aku dan mas Akmal menemani Iqbal ke pondok untuk melamar mbak Zahra. Penampilan Iqbal benar-benar berbeda dari biasanya. Koko biru laut dipadu celana bahan warna navy membuat penampilannya terlihat segar dan muda. Senyum merekahr tak luntur dari wajahnya yang habis bercukur hingga membuatnya terlihat lebih fresh.

Sepanjang jalan ke pondok, mas Akmal yang nyetir dan Iqbal yang duduk disampingnya, selalu bercanda tawa. Mas Akmal selalu menggoda Iqbal yang salah tingkah tiap kali mendapat sindirian dari sahabatnya. Aku hanya bisa senyum-senyum membayangkan hidup kami tak lagi dibayangi poligami.

Lima belas menit kemudian kami sampai di pondok. Abah dan Ummi menyambut kami dengan senyum ramah. Berbeda dengan dulu, sikap Abah pada Iqbal kini berubah. Pelukan hangat tak segan ia berikan untuk pemuda berkoko biru itu. Ya, Abah sudah kami kabari terlebih dahulu sebelum kami datang. Semuanya berjalan begitu cepat. Iqbal meminta untuk bersegera melaksanakan niat baik ini. Karena ia juga ingin cepat-cepat membawa mbak Zahra berobat ke luar negeri agar bisa melihat kembali.

Iqbal memang yatim piatu. Nakun berkat tekad dan kegigihannya, kini ia memiliki usaha konveksi pakaian muslim yang sukses. Bahkan produknya sudah di eksport ke beberap negara. Jadi, nggak sulit baginya untuk membawa mbak Zahra berobat nantinya. Dengan uang, ia bisa memilih rumah sakit terbaik dengan dokter terbaik.

"Yai, kedatangan saya kemari berniat untuk melamar putri Kyai. Jika berkenan, izinkan saya untuk menjadi imamnya. Mengambil alih tanggung jawab Kyai dan menjadikannya bidadari di hati saya."

Abah dan Umi saling pandang. Lalu menatap aku dan mas Akmal bergantian. Kuanggukkan kepala sebagai kode bahwa Iqbal sudah mengetahui semuanya.

"Iqbal. Zahra itu ... mutiara kami. Satu-satunya harta kami. Kami selalu memperlakukannya bak ratu di rumah ini. Meski dia bependididikan tinggi, tapi dia tetaplah putri bungsu kami yang manja. Apa kamu siap dengan semua sikap manjanya itu?"

Kedua sudut bibir Iqbal melengkung. Binar matanya memancar cerah. Banyak harapan tergambar dari sorot matanya yang tajam.

"Insyaallah saya siap menerima semua yang ada pada diri ning Zahra, Yai."

"Tapi ... apa kamu bisa menerima kekurangannya?"

"Insyaallah saya siap dengan semua itu, Yai."

"Baiklah. Saya restui kalian. Menikahlah secepatnya."

 

Kulihat Iqbal menyusut matanya. Tangisan haru mendominasi tempat ini. Mas Akmal merangkul pundakku dan tersenyum senang. Abah dan Ummi saling berpegangan tangan. Sementara Iqbal menutup wajahnya dengan tangan. Ya, keharuan meliputi kami. Tinggal satu PR yang masih harus diperjuangnkan. Yaitu mbak Zahra. Apakah ia bisa menerima Iqbal sebagai suaminya? Atau justru menolak dan keukeuh untuk meminta mas Akmal menikahinya. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!