Wanita Tanpa Rahim

Maaf, Nggak Bisa 20

Mbak Zahra berdiri di samping pintu sambil memegang tongkat. Wajahnya sudah sedikit lebih baik dibanding saat terakhir kali bertemu. Kakinya sudah bisa dipakai berjalan meski masih tertatih. Tapi ... kedua matanya masih belum bisa melihat. Hal itu terlihat dari caranya menatap, kosong.

Ummi membimbingnya untuk duduk di samping Abah. Aku dan mas Akmal memilih diam. Takut jika mbak Zahra tahu kami disini, dia akan bereaksi berlebihan seperti sebelumnya.

"Bah, apa ... Akmal belum ada kabar? Kenapa dia tak pernah menjengukku? Apa Aira tak mengizinkannya kemari?"

Dadaku bergemuruh mendengar ucapannya. Kurasakan genggaman tangan mas Akmal mengetat. Tatapannya tak lepas dari wajahku yang pias. Lewat mata itu ia berkata, tenanglah, sayang.

"Sebenarnya Akmal beneran mau menikahiku atau tidak sih, Bah? Kok nggak pernah menemuiku. Bahkan teleponku nggak pernah dijawab. Apa ... apa Abah bohong sama Zahra?"

Hatiku makin gerimis mendengarnya. Kutahan sekuat mungkin agar tak terisak. Kututup mulutku dengan telapak tangan untuk meredam suaraku. Jadi cewek yang sering nelpon mas Akmal itu mbak Zahra? Seketika pikiranku melayang pada saat ada seorang cewek yang menelepon mas Akmal sambil menangis. Lalu status fb mbak Zahra, dan kebenciannya padaku saat itu.

Kini semua kejadian itu berkelindan dalam benakku. Saling terhubung seperti puzzle.

"Zahra tahu, pasti Akmal tak mau menerimaku karena Zahra buta, iya kan?"

Ummi menatap kami dengan derai air mata. Tatapannya mengiba, seolah memintaku untuk memberikan mas Akmal padanya. Tapi aku tak rela. Meski hati kecil ini merasa kasihan melihat Mbak Zahra yang seperti ini, tapi aku sudah berjanji pada mas Akmal. Hubungan kami baru saja cair setelah tiga minggu beku. Mana bisa aku memaksa mas Akmal lagi? Kali ini biarlah ia yang memutuskan jalan kami. Aku sebagai makmum hanya mengikuti saja.

"Dulu, Zahra sudah memohon agar dijodohkan dengan Akmal. Tapi Abah malah menjodohkannya dengan Aira. Zahra sudah mencoba mengikhlaskan. Tapi ... Zahra nggak bisa, Bah. Hanya Akmal yang kuinginkan. Tolong, Bah ... mintakan pada Aira untuk memberikan Akmal padaku. Dia bisa mencari yang lain lagi. Dia kan wanita normal, nggak sepertiku yang cacat ini."

Dadaku makin sesak mendengar pengakuan mbak Zahra. Jadi, dia sudah menyukai mas Akmal sebelum kami menikah? Kenapa tak pernah cerita? Bahkan Abah dan Ummi juga bungkam. Pantas saja mbak Zahra tak mau pulang saat pernikahanku. Jadi ini alasannya?

Mendapati fakta baru ini, rasanya pikiranku makin kacau. Aku seperti manusia jahat yang telah merebut kebahagiaan orang lain. Hampir saja aku berdiri dan mendekap kakak angkatku itu kalau saja mas Akmal tak mencegahku. Ia memegang tanganku erat sambil menggelengkan kepalanya. Tatapannya memohon membuatku tak berani berkutik.  

Kami hanya mendengarkan pengakuan mbak Zahra hingga ia puas meluapkan isi hatinya. Abah tampak berkaca-kaca menyaksikan putri kesayangannya meratap dan mengiba. Hatiku pun ikut hancur mendengar pengakuan ini. Ingin rasanya ku berlari pergi. Ah, kenapa baru sekarang kenyataan ini terungkap. Disaat semuanya sudah terlambat. Aku dan mas Akmal tak bisa lagi dipisahkan kecuali maut.

"Ning Zahra," ucap mas Akmal membuat perempuan berkerudung merah itu terkesiap. Mungkin ia tak menyangka mas Akmal ada di sini. Wajahnya memerah menahan malu.

"Apa benar yang sering nelepon itu Anti?"

Mbak Zahra gelagapan mendapat pertanyaan tiba-tiba dari mas Akmal.

"I--iya."

"Maaf tidak mengangkat, saya tak menyangka Anti yang menelpon Saya. Dan ... untuk permintaan Anti, maaf saya nggak bisa."

Kucubit lengan berototnya agar tak langsung menolak di hadapan banyak orang. Namun mas Akmal sepertinya tak mau membuat mbak Zahra terus berharap tanpa kepastian.

"Saya sudah menikah, dan Anti tahu itu. Bahkan istriku adalah adik angkat Anti sendiri." Lelakiku ini menjeda kalimatnya sesaat. Menunggu respon mbak Zahra.

"Hatiku sudah tak bisa terbagi lagi. Maaf," lanjutnya lirih, tapi masih terdengar di telinga kami semua.

"Tak adakah kesempatan untukku menjadi yang kedua? Tak masalah jika Aira tak mau berpisah, a--aku rela menjadi adik madunya."

Kuremas gamisku hingga kusut tak berbentuk. Kuhela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Berharap rasa sesak yang menghimpit dada hilang bersama karbondioksida yang keluar dari paru-paruku. Mas Akmal menenangkanku dengan cara merangkul bahu kanan ini.

"Tapi saya yang tidak sanggup menjadi nahkoda dua kapal sekaligus, Ning. Saya khawatir tak mampu berlaku adil karena lebih condong pada Aira, istri tercintaku," imbuhnya dengan menekan kata "istri tercintaku".

"Tak masalah jika aku hanya mendapat jatah dua hari dalam seminggu," kata mbak Zahra terkesan memaksa. Aku melihat mbak Zahra seperti bukan dia yang kukenal selama ini.

Kemana sikap anggunnya yang selalu membuat orang lain kagum padanya. Kemana sikap lemah lembut dan jaimnya yang membuat orang lain segan padanya. Apa kecelakaan itu telah mengubah segalanya yang ada dalam diri mbak Zahra? Bahkan pemikiran logisnya seolah hilang entah kemana. Mana mungkin seorang anak Kyai lulusan S-2 Kairo rela merendahkan diri mengemis cinta pada lelaki beristri? Ah, pasti ini karena otaknya terbentur sangat keras hingga membuatnya menjadi pribadi yang berbeda.

Kucoba menepis segala pemikiran buruk tentangnya. Beristighfar berkali-kali untuk membuang suudzon yang mulai merajai hati.

"Maaf, Ning. Saya nggak bisa. Tetap nggak bisa. Saya takut dengan pertanggungjawaban di hadapan Allah yang sangat berat."

"Tapi ini ladang pahala yang sangat besar, Mas. Apa kamu tak ingin mendapatkannya?"

"Saya cari surga dengan cara yang lain saja.”

"Tap--"

"Sudah, cukup Zahra. Akmal sudah menolakmu. Kenapa kamu masih merendahkan harga dirimu seperti ini, Nak? Apa yang terjadi padamu sebenarnya?"

Untuk pertama kalinya aku melihat Abah murka. Dan itu tertuju pada putri kesayangannya. Putri yang dilindungi dan diberi limpahan kasih sayang tiada tara. Alu terkesiap mendengar suara Abah meninggi. Dan itu karena sikap keras kepala mbak Zahra.

Diperlakukan seperti itu, mbak Zahra langsung berdiri dan berlari mengingglkan kami. Melupakan fakta jika dirinya tak bisa melihat sehingga tubuhnya membentur tiang tengah pendopo. Aku menahan napas menyaksikan kejadian itu. Spontan aku berdiri dan mendekatinya.

Namun belum sempat lidah ini bicara, mas Akmal terlebih dahulu membungkam mulutku dengan telapak tangannya. Sorot matanya menyiratkan larangan.

Aku kembali duduk diikuti mas Akmal. Ummi yang dari tadi hanya menangis dalam diam segera memapah mbak Zahra menuju ke dalam rumah utama. Hatiku mencelos menyaksikan drama ini. Tak menyangka kejadiannya bakal seperti ini. Jika tahu akan begini, lebih baik kami tak datang saja sekalian.

"Apa kalian tega membiarkan putri saya menderita sperti itu?"

"Maaf, Yai. Kalau boleh saya memberi solusi," ucap mas Akmal membuat binar di mata Abah kembali memancar.

"Apa, Mal?" tanya Abah tak sabaran. Ia mengubah posisi duduknya menjadi tegap. Mencongdongkan sedikit kepalanya ke depan lalu kembali bicara. "Apa pun asal Zahra bahagia."

"Tapi tolong Yai jangan tersinggung."

"Ya, Akmal. Apa? Jangan bertele-tele.”

 

”Iqbal." Satu kata itu membuat Abah langsung tegang. Wajahnya berubah pias mendengar satu nama itu. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!