Wanita Tanpa Rahim
Kehilangan
"Entahlah, tadi saat aku sampai rumah ... dia sedang meringkuk di ranjang. Sepertinya sedang menahan sakit sendirian."
Andai tadi aku langsung pulang dari rumah Kyai Jumhuri, mungkin dia nggak akan menahan sakit sendirian. Pasti bidadariku sangat kesakitan. Membayangkan itu, hatiku kembali seperti disayat-sayat.
"Ini salahku. Ini salahku," ucapku berulang-ulang. Tubuh ini luruh di lantai. Dadaku bergetar hebat. Rasanya begitu sesak. Kupukul-pukul dada ini untuk menghilangkan himpitan yang membuatku sulit bernapas.
"Ini sudah takdir, Mas. Kita doakan saja semoga mbak Aira nggak papa. Mas harus kuat."
Aku bergeming. Tak menggubris ucapannya. Kepalaku menunduk, menumpu pada lutut. Otakku penuh diisi bayang-bayang kesakitan Aira. Namun sebagai imam aku harus tetap waras dalam kondisi seperti ini. Aku tak boleh lemah. Dia membutuhkan aku yang kuat. Kulantunkan bait-bait doa untuk mengetuk pintu langit. Memohon agar belahan jiwaku diberi keselamatan.
"Mas, ini, ganti baju dulu. Kebetulan di mobil ada bajuku. Sekarang kita maghrib dulu. Kita doakan sama-sama, semoga Allah memberikan yang terbaik pada mbak Aira."
Kudongakkan kepala. Menatap sendu baju yang ada di tangan Aji. Perlahan aku bangkit dan meraih pakaian itu.
Semangatku hilang membayangkan calon bayi dan ibunya sedang berjuang melawan maut di dalam sana. Kilas balik saat Aira tahu bahwa dirinya mengandung, berkelebatan di mata seperti kaset yang diputar berulang-ulang.
"Alhamdulillah, Mas akhirnya Allah mempercayakan kita menjadi orang tua," ucap Aira gembira. Sudut bibirnya tak berhenti tersenyum. Tangannya selalu mengelus-elus perut yang masih rata.
Waktu itu, Aku hanya bisa bersyukur atas amanah itu. Istriku nggak bakal murung lagi ketika ditanya soal momongan.
"Mas, Mas, musholanya sebelah sana!" ucap Aji menyadarkanku dari lamunan. Karena mengingat masa bahagia itu, membuatku tak sadar jika sudah jalan terlalu jauh.
"Eh, iya."
Aji menepuk pundakku. "Yang sabar ya, Mas. Apapun yang terjadi pasti karena kehendak Allah."
Lima belas menit kemudian kami kembali ke depan IGD. Tepat saat itu pintu ruangan terbuka.
Seorang perawat menghampiriku.
"Maaf, Pak. Istri Anda kehilangan banyak darah. Kami sudah menghubungi PMI, tapi stoknya kosong. Apa Bapak bisa mencari donor secepatnya?"
Aku membeku ditempat. Darah ini seperti berhenti mengalir. Hampir saja aku limbung jika saja Aji tidak sigap menangkapnya. Sekuat apapun mencoba tegar, tetap saja hati ini ikut merasakan sakit.
"Bagaimana dengan calon bayinya, Sus?" tanya Aji seperti bisa membaca pikiranku. Ia tahu pasti kakaknya ini ingin tahu kabar calon buah hatinya.
"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya. Terpaksa istri Bapak harus di kuret."
Bagai ditusuk ribuan jarum yang dibubuhi racun, dada ini nyeri menjalar ke seluruh arteri mendengar kabar itu. Kujambak rambutku meluapkan kekesalan yang merajai hati. Menyesali keterlambatanku pulang tadi siang.
'Innalilahi wainnailaihi raji'uun. Maafkan Aby, Nak. Tidak bisa membersamaimu hingga dewasa. Allah lebih sayang padamu,' ucapku dalam hati.
"Pak, bisa segera hubungi seseorang yang bisa mendonorkan darahnya? Kita butuh cepat!"
Ucapan perawat itu menyadarkanku untuk segera bertindak. Aku tak boleh begini. Ada jiwa yang sedang berjuang di dalam sana. Kewarasanku kembali. Segera kuraih benda pipih di saku, diikuti Aji yang juga melakukan hal yang sama.
Kami sibuk menghubungi teman masing-masing. Semoga ada pertolongan Allah melalui orang-orang berhati baik seperti mereka.
Setengah jam kemudian, Iqbal, teman sepengajianku datang bersama beberapa orang setelah kutelepon. Mereka langsung dibimbing perawat ke sebuah ruangan untuk diambil darahnya bergantian.
Tak henti kuucap syukur karena teman-teman ada yang bergolongan darah sama dengan Aira.
Hingga dua jam lebih Aku belum bisa menemui Aira lantaran kondisinya masih kritis. Kehilangan banyak darah ditambah habis kuret membuat Kondisinya ngedrop. Kata dokter Hb-nya anjlok tinggal 5,4.
Gairah hidupku meredup bersama perginya calon buah hati. Tatapanku terus tertuju pada pintu bertuliskan "Ruang ICU" sambil melantunkan dzikir dalam hati. Setiap detik kutunggu dengan perasaan was-was. Waktu seolah berjalan bagai siput buatku.
Lalu lalang manusia tak kuhiraukan sama sekali. Pikiran ini hanya fokus pada satu hal. Keselamatan sang bidadari.
Mataku menerawang. Menebak-nebak apa yang dirasakan belahan jiwaku sekarang. Andai bisa ditukar, biar aku saja yang menggantikan posisinya. Sejak positif hamil, istriku yang sebelumnya energik berubah kalem.
Apalagi saat dokter menyatakan kondisi kandungan Aira sangat lemah, sehingga dia harus bedrest selama trimester pertama. Sudah beberapa kali terjadi flek karena Aira memaksakan diri untuk tetap melayani kebutuhanku. Memasakkan makanan, menyiapkan pakaian, dan membuatkan teh hangat.
Saat aku melarang melakukannya, dia akan selalu bilang, "Kalau aku hanya tiduran, dari mana aku dapat pahala ibadah, Mas? Aku nggak mau pahalaku Mas ambil semua."
Ah, mengingat masa itu, aku tersenyum miris.
"Yang sabar, Mal. Allah Tahu yang terbaik buat kalian."
Gilang duduk di sampingku. Memberikan motivasi agar aku tegar. Ya, memang tak seharusnya aku lemah begini. Dia, bidadariku sedang membutuhkan doa bukan ratapan seperti ini.
Kutarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mencoba membuang sesak yang menghimpit dada.
"Syukran, ya Bal. Sudah bersedia menyumbangkan darah untuk istriku. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan."
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Kualihkan pandangan menuju manik Iqbal. Sesaat kulihat sorot simpati di sana. Kutegakkan tubuh sebelum menjawab. Menata hati supaya kuat menceritakannya.
"Tadi aku diminta sowan ke pondok. Katanya ada hal penting yang akan Kyai katakan." Kuatur napas sebentar, menetralkan degup jantung yang tak biasa.
"Sebelum berangkat, istriku mengeluh sakit perut. Tapi tetap menyuruhku pergi. Padahal sebenarnya aku tak tega meninggalkannya sendirian."
Kembali kujeda kalimat yang semakin menyayat tiap kuucpakan. Namun aku butuh teman untuk berbagi saat ini.
"Sampai di sana ternyata ... Kyai memintaku untuk menikah dengan Zahra," ucapku lirih.
Kulihat Iqbal sedikit melotot. Namun beberapa detik kemudian bisa kembali menguasai diri.
"Kamu menerimanya?"
Aku menggeleng. Dari ekor mataku dapat terlihat sudut bibir Iqbal melengkung ke atas.
"Perjuangkan jika kamu ingin menjadikannya permaisuri dihatimu."
Iqbal tampak salah tingkah. Duduknya gelisah. Meski berusaha menutupi, tapi aku tahu bahwa lelaki yang sudah menjadi sahabatku sejak SD ini memendam harapan untuk Zahra.
"Em, Bal, bisa minta tolong sekali lagi? Jam delapan nanti aku ada janji dengan bapak-bapak di komplek Asri untuk mengisi kajian di sana. Sepertinya tidak memungkinkan aku meninggalkan Aira di sini, sementara aku belum tahu keadaannya."
Kurasakan tepukan lembut di bahu. "Tentu saja, Mal. Apapun asal aku bisa pasti kubantu."
Kutarik bibirku ke atas. Inilah enaknya hidup dengan saudara-saudara seiman. Mereka tak segan untuk membantu. Kujelaskan apa saja yang harus dilakukan Iqbal di sana. Materi apa yang akan disampaikan sesuai tema yang dirancang panitia.
Iqbal hanya menyimak dan sesekali mengangguk. Ku kirimkan susunan acara yang dikirim panitia tadi pagi ke WA-nya. Meski dalam kondisi seperti ini, tanggung jawab terhadap umat tetap harus jalan.
Untungnya Iqbal bersedia menggantikan jadi pemateri secara dadakan. Aku bisa bernapas lega. Setidaknya satu tanggung jawab sudah tertunaikan.
"Keluarga bu Aira!"
Seorang perawat keluar dari ruang ICU. Segera aku berdiri dan mendekatinya. Setelah mengatakan Aira sudah melewati masa kritisnya dan akan dipindahkan ke ruang perawatan, pintu kembali dibuka. Sebuah brankar didorong keluar. Ada tubuh istriku tergolek lemah di atasnya.