Wanita Tanpa Rahim
Melepas Rindu 19
Ucapan mas Akmal yang terakhir tadi terus terngiang-ngiang di telingaku. Apa aku sudah sangat keterlaluan? Apa dia mengira kalau aku menganggap perasaannya padaku hanya se-cetek itu? padahal niatku memintanya menerima tawaran Abah tidak lain agar ia bisa memperoleh keturunan. Karena aku tak mampu memberikannya sampai kapan pun.
Jika sebelumnya aku tak begitu memaksa karena aku masih berharap bisa memberinya keturunan dari rahimku sendiri. Tapi sekarang? Aku tak mampu lagi mengabulkan harapan itu. Aku tak bisa egois dengan terus membelenggu langkah mas Akmal. Aplagi keluarga besar mas Akmal sangat berharap mendapatkan generasi penerus darinya.
Namun sayangnya, pembicaraan masalah ini selalu mentok dan berakhir pertengkaran. Mas Akmal selalu pergi dalam keadaan emosi dan kembali saat aku sudah menutup mata. Hal ini tentu saja membuat hubungan kami semakin renggang.
Dua pekan semenjak saat itu, hubungan kami semakin hambar. Aku yang sudah mulai pulih mulai menyibukkan diri kembali pada aktivitas semula. Begitu pun dengan mas Akmal. Dia lebih sering perrgi pagi pulang malam. Bahkan kami sudah jarang salat berjamaah, karena dia selalu salat di masjid. Bahkan pada saat salat malam pun waktunya tak sama. Ia memilih waktu-waktu dua per tiga, sedang aku memilih sepertiga malam terakhir.
***
“Dek, Mas mau bicara,” ucap mas Akmal saat aku sedang sibuk membuat slide untuk bahan kajian tiga hari ke depan. Kusimpan dulu slide itu dalam file khusus sebelum mengalihkan fokusku padanya.
Kuberanikan menatap wajahnya. Ada kerinduan yang menyeruak dari dasar hati ini. Sudah hampir tiga pekan kami tak saling mengungkapkan rasa. Padahal dulu selalu ada kehangatan yang kami jaga. Sebisa mungkin sebelum tidur kami bicara dari hati ke hati, walau hanya sekadar membicarakan agenda seharian masing-masing. Tapi itu cukup membangun kehangatan di antara kami.
“Ya, Mas,” ucapku sambil mengubah posisi menghadapnya. Kutinggalkan sementara laptop yang masih terbuka.
Kulihat mas Akmal menghela napas panjang sebelum bicara. Manik matanya jatuh tepat pada manikku. Sesaat kamu larut dalam nostalgia yang hanya kami saja yang bisa merasakannya. Getar-getar rindu mendominasi sorot mata kami. Tanpa terasa, bulir air mata sudah jatuh tanpa diminta. Entah siapa yang memulai, kami sudah saling berangkulan melepaskan rindu yang menggebu. Kuhirup aroma tubuhnya yang memabukkan. Hembusan napasnya menerpa leherku yang meremang.
“Maafin Mas,” ucapnya lirih. Tangan kekarnya terus membelai punggungku. Mas nggak sanggup berjauhan denganmu. Mas nggak sanggup seperti ini terus. Apa waktu yang kuberikan sudah cukup untukmu merenung selama ini?”
Ingin kukatakan sudah dan aku tersiksa dengan keadaan ini. Namun lidahku kelu. Hanya anggukan kepala yang mampu menjawabnya. Sesekali kususut air mataku yang berlomba keluar membasahi baju mas Akmal.
“Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang aku tak ingin melakukannya, sampai kapan pun. Kamu adalah pusat hidupku setelah Allah, Rasul, dan kedua orang tuaku. Betapa berat tanggung jawab yang kupikul ketika aku memutuskan untuk mengambil alih tanggung jawab orang tuamu di pundakku. Dan aku tak mau mengambil tanggung jawab ganda untuk ini.”
Kubenamkan kepala lebih dalam padanya. Rasanya seperti bertahun-tahun kami tak bertemu. Rindu ini begitu menggebu. Dan kalau boleh jujur, aku pun sama, tak rela membagi pemimpinku dengan yang lainnya.
“Bukankah setiap pria ketika memutuskan untuk menikah, berarti dia siap menanggung semua dosa istrinya? Karena ketika istrinya melakukan dosa, mmaka suami juga akan dimintai pertanggungjawaban atasnya? Dan jika aku menikah lagi, sudah pasti dosa itu akan berambah. Meski aku tahu baik kamu atau ning Zahra adalah wanita-wanita shalehah yang akan menjaga dirinya dan membantu meringankan hisab suaminya di akherat kelak. Namun mas tak ingin datang ke hadapan Allah di hari kiamat dalam keadaan miring karena tidak bisa berlaku adil pada istri-istrinya.”
Aku semakin terkesima dengan kematangan berpikir suamiku ini. Tak salah jika Abah memilihnya untukku dan juga untuk putrinya. Karena rasa takut mas Akmal yang begitu besar kapada Allah, yang membuat Abah memilihnya. Tapi justru itulah yang membuat mas Akmal tak mudah menerima tawaran yang mungkin bagi laki-laki lain adalah kesempatan emas yang tak bisa dilewatkan. Seketika ada yang membuncah di dada. Seperti banyak kupu-kupu berterbangan di perutku.
“Maafin Adek, Mas. Adek tak berpikir sejauh itu,” ucapku menunduk. Kujauhkan kepalaku dari dekapan pria tampan di depanku ini. “Aku hanya berpikir tentang omongan orang.”
“Sudah kubilang berkali-kali, kan. Jangan dengarkan mereka jika itu menyakitkan. Buang semua prasangka dalam hatimu itu. Aku tak masalah tak bisa memiliki anak darimu. Kita bisa mengoptimalkan waktu kita untuk berjuang di jalan dakwah. Bukankah Aisyah RA, juga tak mempunyai anak? Tapi beliau memiiliki andil yang sangat besar untuk kemajuan Islam. bahkan beliau memanfaatkan hidupnya untuk mengabdi pada Islam dengan menghafal banyak hadist. Kurasa, kamu juga bisa melakukan hal yang sama. Kamu pandai menulis, jadikan potensimu untuk menyebarkan ide-ide Islam kepada umat.”
Sepertinya diskusi kali ini benar-benar mampu membuka gerbang pikiranku yang agak tertutup selama ini. Mas Akmal mampu membuka cakrawala ilmu yang terpendam dalam selama ini. Kenapa aku tidak kepikiran sejauh itu? sebaliknya, aku lebih banyak meratapi nasib yang sudah jelas ini adalah qadla’-Nya.
“Makasih, Mas, sudah membuka pikiranku. Maafin Adek yang selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, juga belum bisa menjadi patner dakwah yang tangguh untukmu.”
Sekali lagi mas Akmal menarik kepalaku dalam dekapannya. Rasanya begitu nyaman dan damai. Ya Allah jangan biarkan iblis mempengaruhiku lagi. Izinkan kami saling melengkapi dan saling mengiringi di dunia ini hingga akherat kelak. Satukan kami dalam jannah-Mu. Aamiin.
Akkhirnya mala mini kami habiskan untuk melepas kerinduan yang terpendam beberapa minggu. Saling menasehati dan saling mengingatkan. Inilah pernikahan yang kami impikan sejak awal. Melangkah bersama dalam suka maupun duka. Hamper saja kapal kami karam karena ulah awak kapal yang tak patuh pada nahkodanya. Sungguh, Allah begitu Maha Pemurah. Dia berikan aku jodoh yang mampu meluruskan aku dikala bengkok. Mampu membibingku dikala salah. Dan mampu mengingatkanku dikala khilaf. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Pagi ini kami sepakat untuk sowan lagi ke pondok untuk meminta maaf dan berusaha mencari solusi bersama untuk masalah mbak Zahra. Mas Akmal sudah mewanti-wanti untuk tidak baper apapun keadaannya di sana nanti. Aku hanya mengiyakan dan manut saja pada qawwam-ku ini.
Abah dan Umi tampak antusias menyambut kedatangan kami. Wajahnya semringah. Binar di matanya tampak cerah, secerah sinar mentari pagi ini.
“Alhamdulillah, akhirnya kalian datang juga. Sudah hampir setahun tak ada kabar, kenapa baru datang sekarang?” tanya Abah tak sabar. Bahkan kami belum dipersilahkan duduk saat pertanyaan itu terlontar.
“Maaf, Yai. Aira sakit dan harus menjalani operasi, jadi kami tak sempat sowan kemari.”
Abah menarik napas panjang. Mungkin merasa bersalah karena tak tanya kabar dulu.
“Kenapa nggak kasih kabar Abah kalau sakit, apa kalian sudah melupakan Abah?”
“Ti—tidak, Bah. Kami hanya terlalu panik dan tak mau merepotkan Abah dan Umi. Apalagi … mbak Zahra butuh perhatian khusus dari Abah dan Umi,” ucapku sambil menunduk. Ada rasa bersalah menyusup dalam dada.
“Abah, Umi!”
Kami kompak menoleh ke arah sumber suara. Seketika kedua mataku membola melihat siapa yang berdiri di sana.