Wanita Tanpa Rahim

Ghibah dan Fitnah 18

 “Tenang, Pak, Bu, ini pengaruh obat bius.” Perawat yang ber-name tag Sandra itu menjelaskan. “Bu Aira dibius dobel saat operasi. Bius total dan lokal. Dan kaki Bu Aira yang tidak bisa digerakkan ini pengaruh dari bius lokal masih akan terus terpasang hingga dua hari ke depan. Nah ini!” tunjuk perawat itu pada sebuah alat yang terdapat tabung kecil berisi cairan dengan selang kecil pula yang dihubungkan dengan punggungku.

Kami semua bisa bernapas lega mendengar penjelasan perawat itu. Membeyangkan kakiku lumpuh membuatku kacau. Oh, ya … rahimku? Apa benar aku sudah tak memiliki Rahim lagi? Tanpa bisa dicegah, bulir-bulir bening meleleh dari sudut mataku. Mas Akmal dan emak kelimpungan melihatku menangis tiba-tiba.

“Kenapa, dek, apa rasanya sakit sekali?” netranya sibuk memindai tubuhku. Mencari bagian mana yang sakit. Tapi aku hanya biasa bergeming. Semakin mereka panik semakin membuat isakanku mengeras. Entah kenapa sekarang baru terasa kehilangan. Padahal semalam aku sudah siap lahir batin. Bahkan ketika masuk ke ruang operasi itu aku sudah memasrahkan semuanya. Ikhlas jika harus kehilangan rahimku selamanya.

 Dua belas hari aku menjalani rawat inap di rumah sakit ini. Emak, bapak, dan mbak Siti sudah pulang duluan. Setiap pagi aku berjuang untuk bisa berjalan sendiri meski tertaih karena merasakan sakit di area perut tiap kali kaki ini bergerak. Namun aku bertekad supaya bisa pulang secepatnya.

 Dan sekarang aku sudah dibolehkan pulang. Kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan rumahku. Rasanya seperti puluhan tahun aku meninggalkan istana cinta ini. Sungguh aku rindu saat-saat di sini. Rindu berdiskusi dengan mas Akmal setiap mau tidur. Rindu bertempur dengan alat masak untuk membuatkan makanan suami tercintaku.

***

 “Mbak Aira! Apa kabar?” tanya Bu Ratna dari balik pagar. Aku yang sedang fokus menatap bunga-bunga di taman depan rumah menoleh ke sumber suara. Di sana sudah ada bu Ratna, bu Yeti, dan lainnya sedang menunggu tukang sayur langganan.

“Alhamdulillah baik, Bu.”

 Kakiku hendak melangkah meninggalkan tempat itu agar tidak mendapat berondongan pertanyaan dari mereka. Namun ternyata aku kalah cepat. Ibu-ibu itu sudah melangkah ke pekarangan rumah. Tanpa permisi mereka duduk di teras rumahku.

  “Nggak papa ya, Mbak kita nunggu tukang sayurnya di sini? Sekalian sambil ngobrol. Lama banget loh kita nggak ketemu,” ucap bu Ratna seperti biasa, selalu mendominasi obrolan. “Ngomong-ngomong kemana saja enam bulan ini nggak pernah kelihatan, ke luar kota ya, Mbak?”

 Kuhela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan mereka. Kurasa sebenarnya mereka tidak benar-benar peduli, melainkan untuk menjawab jiwa kepo mereka agar terobati.

 “Di rumah saja kok, Bu.”

 “Ah, yang bener, Mbak? Masa di rumah saja kita-kita nggak pernah melihatmu. Atau jangan-jangan sedang bedtrest lagi ya?”

 “Atau sedang sakit, Mbak? Itu wajahnya juga terlihat pucat sekali. Dan wajahmu kenapa tampak lebih tirus dari sebelumnya?”

Begitulah pertanyaan mereka yang tak berjeda. Bahkan belum ada satu pun dari pertanyaan itu yang kujawab, sudah disusul dengan pertanyaan lain lagi. Aku berasa seperti seorang mahasiswa yang sedang menjalani siding skripsi. Dan mereka para dosen pengujinya.

 Suara teriakan abang sayur menyelamatkanku dari para penyuka daging saudaranya ini. Ya, kukatakan demikian karena mereka memiliki hobi yang dibenci Islam. bahkan dalam hadistnya dikatakan orang-orang seperti ini diibaratkan seperti makan bangkai saudaranya sendiri. Siapa lagi kalau bukan ahlul ghibah.

 Ketika ibu-ibu itu bubar bermigrasi ke tukang sayur, aku segera masuk rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Masih terdengar jalas di telingaku mereka membicarakanku. Bbibirku tersenyum kecut mendengar apa yang mereka bicarakan tidak sepenuhnya benar. Astaghfirullah.

Mas Akmal yang dating membawa sepiring bubur ikut memandang apa yang aku tatap. Telinganya memerah mendengar aku menjadi bahan ghibahan mereka. Kedua tangannya terkepal menampakkan buku-bukunya yang memutih. Setelah meletakkan bubur dan segelas jus brokoli ke atas meja dekat tempatku duduk, dia melesat keluar.

 Aduh, bahaya ini. Kalau sudah emosi, singa lapar saja kalah garang dari mas Akmal. Selama ini dia tak pernah terusik jika dirinya yang dihina, namun akan marah besar jika sudah menyangkut aku. Istri tercintanya. Dia terkenal sebagai pribadi yang lembut, sabar dan penyayang. Dan benar saja, ibu-ibu itu langsung kicep melihat kedatangan suamiku.

 “Bu, pernah nggak berpikir jika ucapan kalian itu membuat hati orang lain terluka? Apa yang kalian bicarakan itu memiliki dua potensi keburukan. Jika itu benar maka menjadi ghibah, dan jika itu salah maka itu menjadi fitnah. Dua-duanya dibenci Allah.”

Mas Akmal berbalik. Kuamati dari balik korden, wajah ibu-ibu tadi langsung memucat. Bibirnya terkunci. Tak mampu menjawab ucapan mas Akmal yang tajam dan sangat mengena itu. dalam hati aku berdoa semoga mereka segera sadar dengan aktivitas tak berguna itu.   mas Akmal melangkah meninggalkan ibu-ibu itu dalam keadaan awkward.

“Mas, apa ucapanmu itu tidak menyinggung mereka?” ucapku saat mas Akmal sampai di hadapanku kembali.

  “Sesekali mereka harus diingatkan, Dek. Supaya tiidak merajalela. Lagian itu tadi bagian dari dakwah mas pada mereka. Supaya mereka segera tobat dari hobi ghibahnya. Apa mereka tak tahu jika munculnya fitnah berawal dari ghibah.”

 Aku hanya bisa mengangguk. Apa yang dikatakan mas Akmal memang benar. Sesekali mereka harus ditegur supaya segera sadar. Sudah banyak korban akibat dari ghibah yang berujung fitnah.

 “Mas, … apa … tidak sebaiknya mas terima tawaran Abah saja? Mas kan tahu, sekarang Adek sudah nggak punya harapan untuk bisa memberimu keturunan,” lirihku tiba-tiba. Sebenarnya hatiku ketar-ketir mengatakan hal ini. Takut jika mas Akmal menerimanya. Jujur, hati ini masih belum siap menerima konsekuensi poligami.

 “Kenapa kau ungkit lagi maslah ini, Dek? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakannya lagi?” riak kemarahan sedikit tampak dari wajah mas Akmal. Sepertinya aku telah membangunkan macan tidur.

 “Bu—bukan begitu, Mas,” kepalang tanggung. Aku sudah memulainya, maka harus kutuntaskan sekalian.

  “Lalu?”

 Aku berusaha menghindar dari tatapan mata elangnya. Kucoba meraih apapun untuk kumainkan agar rasa gugup ini tidak meraja. Sesekali ekor mataku mellirik lelaki berjenggot ini. Tatapannya menyorot tajam padaku.

  “Ma—maafin Adek, Mas. Adek hanya … hanya tak ingin membuatmu kecewa. Sekarang Adek sudah tak sempurna. Tak bisa lagi menjadi wanita seutuhnya. Sedangkan mas Akmal masih bisa untuk mencari wanita lain untuk mewujudkan impian, Mas jika mau. A—aku tak mau membelenggumu dalam ikatan pernikahan ini, Mas.”

  Kedua mata itu berkilat. Kedua tangannya mencengkeram bahuku, membuatku menggigil menatap netra setajam elang itu.

 “Tatap mataku, Dek!” aku bergeming. Masih setia memainkan kunci yang kuraih dari meja tadi. “Tatap mataku, Dek!” suaranya meninggi. Tubuhku makin menggigil mendengar teriakannya yang baru kali ini kudengar selama 7 tahun pernikahan kami. 

“Apa kamu pikir Aku sepicik itu? menikah hanya untuk mendapatkan anak? Istighfar, Dek. Ternyata kamu tidak sepenuhnya mengenal suamimu ini.” Dia bangkait meninggalkanku dengan sorot mata penuh kekecewaan.

  Tubuhku bergetar menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Kutahan sekuat mungkin rauanganku agar tidak di denagr tetangga. Juga agar perut ini tidak kaku akibat menahan tangis yang begitu kuat. Mas Akmal keluar dari kamar menggunnakan jaket hitam kesayangannya, kemudian berlalu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun.

 “Mau kemana, Mas?” taka da jawaban. Ia tetap melangkah tanpa menoleh. Sekali lagi aku teriak, “Mas Akmal! Mau kemana?”

 

   Langkahnya terhenti tepat di depan pintu keluar. Kepalanya menoleh dengan kedua mata yang sudah memerah. “Merenunglah. Tanyakan pada hatimu yang paling dalam, apa benar yang kamu pikirkan tentangku?”

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!