Wanita Tanpa Rahim
Berjuang di Meja Operasi 17
‘Apa aku tidak salah dengar? Enam organ?’ Namun dokter kembali mengingatkanku untuk keluar jika tak sanggup mendengar. Maka demi informasi ini, kukuatkan tekad untuk tidak bereaksi berlebihan. Kulihat ambar organ reproduksi hasil coretan tangan dokter Arif. Lengkap dari cervix, uterus, dan ovarium. Lalu dia menjelaskan apa saja yang akan diangkat dan resiko masing-masing.
"Kalo dari hasil MRI, sel kankernya menyebar ke rahim dan indung telur. Nanti setelah saya buka, saya akan amati dengan teliti sama gak hasil MRI dengan apa yang saya lihat. Organ yang akan saya ambil nanti ada 6 organ ya bu. Rahim, indung telur 2, kelenjar getah bening 2. Dan omentum. Karena ini adalah organ terdekat rahim dan ovarium.” Tangannya menunjukkan bagian mana saja yang disebutkan itu pada gambar yang dibuatnya.
“Jadi itu harus ikut dipangkas biar akarnya ikut hilang. Jika usus besarnya juga kena, otomatis harus dipotong juga. Dan terpaksa dibuatkan kolostomi. Ini artinya butuh waktu lebih lama lagi untuk penyembuhannya.” Kembali dokter menjeda kalimatnya dan menatap kami bergantian. “Karena rahim letaknya dekat dengan kemih, maka jika kemihnya juga kena nanti akan dipasang selang."
Kudengarkan penjelasan dokter sambil hatiku fokus mengucap dzikir. Semoga semua prediksi yang dikatakan dokter tidak terjadi. Sehingga operasi yang dilakukan sesuai dengan rencana awal hanya untuk hesteroktomi. Yaitu pengangkatan Rahim saja, bukan semua organ.
Kuremas tangan mas Akmal untuk menetralkan detak jantungku yang menggila. Dan kurasakan tangan mas Akmal pun dingin. Kulirik melalui ekor mataku, dia tampak sedikit pucat. Mungkin tak tahan juga mendenagr penjelasan dokter yang begitu gamblang. ‘Apa setiap akan operasi dokter selalu menjelaskan prosedurnya pada keluarga pasien seperti ini atau hanya dokter Arif saja, ya?’ Tanyaku dalam hati.
“Kami sudah menyediakan beberapa kantong darah yang sama dengan golongan darah bu Aira. Kalau terjadi pendarahan pihak kami sudah siap untuk mengatasinya. Namun jika ternyata tidak terjadi resiko itu, maka akan kami kembalikan ke PMI.”
Subhanallah, luar biasa persiapan dokter Arif sebelum operasi dilakukan. Segala resiko dan kemungkinan-kemungkinan telah dipersiapkan dan sudah ada pula cara mengatasinya. Dadaku mulai longgar mendengar semua penjelasannya. Kupercayakan prosedur ini pada orang yang tepat. Suamiku juga mengangguk setuju dengan keputusan dokter.
Setelah selesai penjelasan dengan berbagai pertanyaan dariku, akhirnya kami diminta kembali ke kamar rawat. Mulai mala mini aku sudah diharuskan puasa. Hanya air putih yang boleh masuk lambungku.
***
"Sudah siap bu?" Tanya perawat yang memakai pakaian serba hijau dengan masker dan penutup kepala khas rumah sakit. Di depan pintu sudah berjejer sekitar 8 orang dengan kostum yang sama menyambutku.
"Siap" jawabku mantap.
Kuamati satu per satu tim medis berseragam serba hijau di hadapanku ini. Menebak yang mana dokter Arif. Namun ternyata aku tak dapat mengenalinya. Suamiku mendorong ke dalam ruang operasi, tapi ditahan oleh perawat.
"Sampai di sini saja pak mengantarnya," ucap perawat laki-laki tersebut sambil mengambil alih kursi roda yang kududuki dan mendorongnya menuju ruang operasi.
Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirku. Rasanya kelu. Kupandangi wajah-wajah keluargaku satu per satu. Ku simpan dalam memoriku, bisa jadi ini adalah akhir dari hidupku. Ya, tadi pagi atas saran dokter emak, bapak, dan kakak iparku diminta ke sini. Meski awalnya bingung untuk apa ke sini, akhirnya mereka tahu kalau aku akan menjalani operasi.
Aku sudah ikhlas Yaa Allah ... batinku. mereka yang mengantarku terlihat begitu sedih. Matanya berkaca-kaca. Bibirnya bergetar melihatku akan masuk ke ruang itu, seakan tidak rela melepasku ke meja operasi. Berjuang sendirian, antara hidup dan mati. Perlahan perawat mendorongku masuk. Sekali lagi kutolehkan kepalaku untuk memandang suamiku. Qawwam yang begitu bertanggung jawab dan sangat kukasihi. Kupaksakan untuk tersenyum … seolah berkata ‘aku akan akan kembali padamu’. Kurekam baik-baik senyum itu dalam relung hatiku terdalam. Sebagai penyemangat untuk berjuang.
Perlahan pintu tertutup. Semua tim medis sudah siap di sekeliling meja operasi. Sebuah lampu besar berada tepat di atas meja itu. Aku dibimbing untuk berbaring di atasnya. Kupindai sekeliling ruang dingin ini. Hanya ada alat-alat medis yang semakin membuatku bergidik ngeri. Dinginnya AC menusuk hingga tulang belulangku.
“Sudah siap, Bu” ucap salah seorang di antara mereka membuyarkan pikiran liarku dalam mengembara.
“Ya.”
“Mari berdoa dulu, Bu, supaya operasinya lancar. Tenang ya, jangan berpikir macam-macam. Kami akan berusaha semaksimal mungkin.”
Aku hanya bisa mengangguk. Semakin lama mataku semakin berat. Seperti ada yang memaksa merenggut kesadaranku. Hingga semuanya gelap.
***
Suara gaduh menyusup ke gendang telingaku. Berpadu isakan tangis dan kalimat-kalimat thayyibah yang menggetarkan. Ada yang berkali-kali menyebut namaku diiringi isakan pilu. Ingin rasanya aku bangun dan melihat apa yang terjadi. Namun mata ini seolah berperekat. Sedang tubuh ini serasa mati, tak bisa digerakan sedikit pun. Apa sebenranya yang terjadi?
Berulang kali aku mencoba membuka mata, namun selalu gagal. Kurasakan tubuhku menggigil kedinginan. Sangat dingin hingga rasanya seperti berendam di air es. Ingin ku panggil mas Akmal dan mengatakan padanya kalau aku sangat kedinginan agar dia memelukku seperti biasa. Tapi lidahku kaku. ‘Ya Allah, bantu aku untuk bangun. Atau sebenarnya aku sudah mati? Tapi kenapa aku bisa mendengar suara-suara itu?
Kurasakan tanganku digosok-gosok, hangat. Lalu kakiku. Perlahan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku. Meski rasanya masih menggigil, namun perlahan tapi pasti tubuhku terasa ringan. Tepukan kecil di pipi membuatku terus berjuang untuk bias membuka mata. Sedikit, aku mulai bisa menggerakkan kelopak mata ini. Silau. Aku tak mampu beradaptasi dengan sinar cerah itu. kembali kupejamkan mata. Sesaat kemudian kubuka kembali. Lamat-lamat kulihat bayangan seseorang di depan wajahku. Perlahan makin jelas dan akhirnya aku bisa membuaka sempurna.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, Dek,” ucap mas Akmal. Suara yang kurindukan. Wajah dan senyum yang sudah kurekam, kini nyata ada di dapan mata. Berarti aku masih hidup. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah. Kau beri aku kesempatan hidup kedua kalinya.
Kucoba untuk mengulas senyum meski sulit. Tetesan air mata jatuh mengenai pipiku. Bukan, itu bukan air mataku, tapi air mata mas Akmal yang menetes mengenaiku. Berulang kali diciumi wajah ini. Tubuhnya bergetar. Ucapan hamdalah berulang kali terdengar di sela-sela isakan tangisnya. Setelah puas melampiaskan perasaannya, kualihkan pandangan. Wajah- wajah yang sama seperti saat aku masuk ruang operasi. Banjir air mata menyambut kesadaranku kembali. Tapi aku yakin itu air mata bahagia.
Hatiku menghangat melihat respon orang-orang yang kusayangi. Meski tak pernah terucap, apa yang kusaksikan ini adalah bukti bahwa mereka juga sangat menyayangiku. “Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?” sungguh ini anugerah terindah yang pernah kumiliki.
“Ma—s, sekarang jam berapa?”
“Jam 8 malam, sayang, kenapa?”
“Aku belum salat.”
Dia mengangguk. “Ya, nggak papa, nanti kalau sudah sadar penuh bisa salat. Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Aku hanya menggelang. Karena aku memang tak merasakan apapun. Bahkan untuk sekadar menggerakkan kaki saja aku tak mampu. Apa aku lumpuh?
“Mas, kakiku … kakiku nggak bisa kugerakkan?” ucapku panik. Berulang kali kucoba untuk menggerakkannya, namun seberapa kuat pun aku mencoba tetap saja aku tak mampu. Dadaku kembali sesak merasakan hal ini. Bagaimana kalau akhirnya aku tak mampu berjalan?
Mas Akmal dan semua yang ada di ruangan ini juga ikut panik. Ada yang mencubit kakiku. Ada yang mencoba memijitnya. Namun aku tak merasakan apa pun, membuat hati ini kembali gerimis. Cobaan apa lagi ini, Ya Allah….