Wanita Tanpa Rahim
Ada Apa dengan Zahra
Tangannya lalu berpindah ke wajahku. Meraba seluruh penjuru wajahku. Dahi, alis, mata, turun ke hidung, dan berakhir ke bibir. Senyumnya yang tadi sempat terbit langsung memudar. Ditepisnya tanganku kasar.
“Aira? Kamu Aira, kan? Mau apa kamu kemari? Mau menertawakan keadaanku hah?”
Kututup mulutku dengan kedua telapak tangan agar tangisanku tak terdengar. Perlahan aku beringsut mundur, menenggelamkan kepala ke dada bidang mas Akmal. Tak ada yang mampu menahan kesedihan melihat mbak Zahra. Jadi ini yang disembunyikan Abah dan Umi. Inikah alasannya mereka meminta mas Akmal menerima mbak Zahra? ‘Yaa Allah, apa yang harus kulakukan? Masih bisakah aku egois mellihat orang yang kusayangi menderita seperti ini?’
Sebuah benda tiba-tiba mengenai kepalaku. Rupanya mbak Zahra mengamuk dan melempar apa saja yang bisa dijangkau dengan membabi buta. Mas Bayu segera melangkah mendekati perempuan yang duduk di kursi roda itu. Mendekapnya dalam pelukan hangatnya sehingga tak bisa lagi berontak. Abah menggiring kami untuk meninggalkan tempat itu. Dengan perasaan campur aduk, aku meninggalkan mbak Zahra bersama mas Bayu yang sedang menenangkannya. Lalu kami kembali ke pendopo.
“Kalian sudah bisa melihat sendiri keadaan Zahra, kan?” Abah membuka obrolan.
Kami hanya mengangguk tanpa kata. Perasaan kami masih shock. Tak percaya dengan apa yang kami lihat barusan. Benarkah itu tadi mbak Zahra yang kuat? Lalu apa yang menyebabkannya jadi begini?
“Apa yang sebenarnya terjadi, Yai?”
Abah menghela napas berat. Lalu menyesap kopi hitam yang ada di atas meja. Aku masih setia menunggu jawabah Abah yang diliputi rasa was-was. Kedua tangan Abah mengusap kasar wajahnya yang sudah mulai keriput. Pundak lelaki tua itu bergetar. Abah menangis? Baru kali ini aku melihat Abah yang berwibawa menangis. Menangisi nasib putri bungsunya. Gadis yang dibanggakan keluarga ini. Yang selalu diperlakukan bak putri raja. Bahkan taka da seorang pun lelaki yang boleh sekadar meliriknya.
“Dua tahun lalu, Zahra mengalami kecelakaan di Mesir. Saat itu ia akan menjemput kami, ia mengalami kecelakaan. Remnya blong dan nenabrak pembatas jalan. Wajahnya terkena pecahan kaca yang meyebabkan mukanya hancur seperti itu.” Abah menyeka air matanya yang ikut berebut turun mengiringi ceritanya. “kedua kakinya terjepit, sehingga butuh waktu sekitar dua jam untuk mengevakuasinya.”
Aku sudah tak tahan mendengar cerita Abah. Melihat kondisi mbak Zahra sekarang, dapat kubayangkan betapa tragisnya kecelakaan itu. Kedua matanya menjadi buta. Wajahnya yang dulu bersih dan mulus tanpa cela, kini hancur dipenuhi bekas luka. Kata Abah, sudah menjanai dua kali opperasi plastic untuk konstruksi wajah, dan begitulah hasilnya. Tulang hidungnya patah, gigi depannya rampal.
Mas Akmal tak bereaksi apapun. Ia hanya diam mendengarkan cerita Abah tanpa menyela atau menimpali. Sesekali tangannya mengelus punggungku yang ikut bergetar. Sejak pertama melihat mbak Zahra hingga sekarang, air mata ini tak berhenti mengalir. Seolah-olah stock air mataku tak pernah habis berproduksi.
Kini tidak hanya fisik mbak Zahra yang sakit. Mentalnya ikut terganggu akibat depresi berat. Ia tak bisa menerima keadaannya yang sekarang. Setiap kali ada orang yang masuk kamarnya selalu mengamuk. Tak ada satu pun pelayan yang berani mendekat atau mengurusnya. Hanya Umi yang sabar mengurus. Dan kini mas Bayu sengaja diminta Abah untuk pulang membantu Umi. Meski harus meninggalkan penelitiannya di Kairo.
Kejadian ini cukup menamparku. Selama ini aku sering mengeluh pada Allah atas ujian sakit dan buah hati yang tak kunjung datang. Aku merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia. nyatanya masih ada yang lebih menderita dari aku. Betapa Allah mudah mengambil dan memberi sesuatu kepada hamba-Nya. Mbak Zahra yang memiliki wajah rupawan, kecerdasan yang luar biasa, dalam sekejap mata hilang jika Allah berkehendak.
Dadaku bergemuruh membayangkan jika hal itu menimpaku. Apa aku bisa lebih kuat dari mbak Zahra, atau justru akan kehilangan iman karena merasa Allah tak adil telah memberi ujian seberat itu? Astaghfirullahal ‘adziim.
“Yai, maaf, sepertinya kami harus pulang dulu. Lain waktu kami sowan ke sini lagi. Maafin kami, Yai,” ucap mas Akmal tiba-tiba. Aku yang masih larut dalam kesedihan hanya bisa mengikuti seperti orang bodoh. Kupeluk Umi sebelum benar-benar pergi. Menyalurkan kekuatan agar tidak menyerah menghadapi kenyataan ini.
“Saya mash berharap banyak padamu, Mal. Tolong istikharah lah!”
Kami melangkah dengan membawa sejuta rasa. Kurasakan tatapan penuh harap Abah dan Umi mengiringi kepergian kami. Sekali lagi kuseka air mata ini dengan ujung kerudungku yang menjuntai.
“Mas apa tidak sebaiknya kita pertimbangkan lagi tawaran Abah dan Umi. Mbak Zahra … “
“Cukup, Dek. Kita bisa membantu meraka tanpa harus melukai diri sendiri, kan? Kita juga punya hak untuk menentukan pilihan.kenapa harus aku yang menikahinya?”
“Karena Abah hanya percaya padamu, Mas?”
“Lalu bagimana dengan perasaanmu, Dek?”
Mas Akmal terlihat gusar. Suaranya agak meninggi. Tidak biasanya iya terpancing emosi. Dan ini adalah pertengkaran pertama kami selama enam tahun pernikahan. Yaa Rabbi, lindungi rumah tangga kami.
“Aku … Aku nggak papa, Mas?” lirihku. Kutundukkan kepala untuk menghindari tatapannya.
“Tatap Aku, Dek!”
Perlahan aku mendongak. Tatapan kami bertemu. Ada sorot kecewa terpancar dari netra mas Akmal. Binarnya meredup. Yaa Allah, apa yang sudah kulakukan? Aku sudah melukainya.
“Jangan pernah memiinta sesuatu yang aku tak sanggup memberikannya, Dek. Tolong!”