Wanita Tanpa Rahim
Menolak Lamaran Kyai
"Maaf Yai, saya tidak bisa," ucapku pada kyai Jumhuri, pemilik pendok pesantren tempatku pernah menimba ilmu. Wajahnya teduh dan kharismatik meski usianya memasuki 60 tahun.
Siapa yang tak kenal Kyai Jumhuri? Pemilik pondok pesantren yang memiliki dua anak laki-laki dan seorang putri yang semuanya pernah belajar di Timur Tengah.
Wibawanya membuat siapapun segan, termasuk aku. Ditawari putri satu-satunya yang menjadi ratu di keluarga itu membuatku menggigil. Napasku seakan berhenti sejenak. Bagaimana mungkin, seorang Kyai kondang memilihku yang hanya seorang pengusaha dengan kemampuan agama tak ada seujung kukunya.
"Apa putri saya kurang cantik?"
"Tidak, Yai. Putri Yai sangat sempurna. Tidak cocok untuk saya yang tidak tamat perguruan tinggi. Ilmu agama saya juga nggak sebanding dengan putri Yai."
Siapa yang tak ingin mendapat istri saleha yang cerdas, sabar, serta memiliki kepribadian Islam yang baik seperti Zahra. Bahkan hampir semua pemuda menginginkannya.
Tak sedikit Kyai yang melamarkan untuk putranya. Namun Kyai Jumhuri menolak. Kenapa justru aku yang diberi kehormatan itu?
Kyai Jumhuri menegakkan tubuhnya. Bersandar pada tembok di belakangnya. Jenggotnya yang telah memutih terlihat bersinar diterpa cahaya lampu.
"Berikan satu alasan kuat kenapa Kamu menolak putri kesayangan Saya, Akmal."
Aku menunduk. Sekelebat bayangan perempuan tengah merintih kesakitan di rumah. Dadaku berdenyut nyeri setiap kali wajah letih perempuan itu hinggap di kepala.
"Yai tahu alasan saya," ucapku tegas tapi tidak melukai. Tetap lembut dan santun. Itulah adab yang selalu diberikan untuk berbicara pada sang guru ketika mondok di sini. Hal itu selalu kuingat dalam benak.
"Bukankah Islam tidak melarang laki-laki memiliki istri lebih dari satu? Apakah kamu mau menolak syariat-Nya, Mal?"
"Tidak, Yai. Saya tidak berani. Tapi sependek yang saya pahami, ayat tentang poligami itu menunjukkan kemubahan, bukan sunnah atau wajib."
Kyai Jumhuri bungkam. Benar kata pria yang pernah menjadi muridnya ini. Lelaki ini, meski tak lulus perguruan tinggi, otaknya sangat cepat menerima ilmu.
"Baiklah, Akmal ... pikirkan kembali tawaran ini. Saya berharap kamu berubah pikiran."
Lelaki berkharisma itu bangkit dan meninggalkanku yang masih termangu. Tidak. Aku tidak mau memberi harapan palsu. Sekarang atau nanti, keputusanku sudah bulat.
Kupandangi sekeliling pendopo, sepi. Kebetulan sekarang jam belajar. Para santri pasti sedang menimba ilmu di ruangan masing-masing.
Pesantren ini memang tak dibatasi usia. Siapapun yang ingin belajar di sini diperbolehkan saja, termasuk Aku yang ikut belajar selama dua tahun di sini.
Kulangkahkan kaki menyusuri halaman pondok yang luasnya seperempat lapangan bola ini. Ingatanku berputar pada masa dua tahun silam. Masa dimana aku mendapat banyak pelajaran tentang kesempurnaan Islam. Memahami kembali makna iman, hingga paham tujuan hidup yang sesungguhnya.
Setelahnya aku memberanikan diri untuk menerima tawaran ta'aruf dengan salah satu santri yang saat ini menjadi satu-satunya bidadari di hati. Kami dinikahkan di pondok ini dengan Kyai Jumhuri sebagai saksi. Beliau jugalah yang menjodohkan kami berdua.
Lalu bagaimana bisa guru yang sangat kuhormati itu kembali menjodohkanku dengan putri kesayangan Kyai sendiri? Bukankah Ning Zahra sedang di Kairo untuk melanjutkan studi S-2 nya?
Pikiranku terus berkelana. Mencari kemungkinan-kemungkinan yang menjadi alasan perjodohan ini. Bukan karena merasa tak PD menikah dengan putri kesayangan Kyai Jumhuri, tapi hatiku sudah tertambat pada satu wanita. Sementara aku juga tak mampu menjadi nahkoda dua kapal pada saat bersamaan.
Aku memasuki rumah saat mentari mulai tenggelam. Ucapan salam dari mulut ini tak mendapat jawaban dari istri tercinta. Gegas aku menuju kamar. Kulihat Aira sedang meringkuk seperti kucing tidur.
"Dek!" panggilku lembut. Tangan berotot ini membelai kepala Aira. Ada getaran halus merayap di dada.
Perlahan Aira membalikkan badan. Matanya sembab. Pipinya basah dan pucat.
"Sudah pulang, Mas?" lirihnya sambil berusaha bangun. Dengan cekatan Aku membantu bidadari cantik ini bersandar di kepala ranjang. Bibirnya tertarik ke atas meski terkihat memutih. Inilah yang selalu membuatku rindu kala berjauhan dengannya.
"Apa yang terjadi, Dek, kenapa menangis?" Kuseka air mata yang membanjiri pipi pucatnya. "Apa junior berulah lagi?"
"Nggak tahu Mas. Perutku nyeri banget. Rasanya tembus sampai ke pinggang. Dan ... dan keluar da--rah."
Tangis Aira pecah. Entah apa yang dirasakannya saat ini. Yang kutahu dia sedang menahan sakit yang tak terkira. Tiba-tiba tubuhnya melemas dan kedua matanya menutup.
"Dek, dek!"
Kutepuk-tepuk pipinya pelan. Lalu menggoyang tubuhnya. Namun Aira hanya bergeming. Tak ada respon sama sekali.
Dengan cekatan, Aku menyambar kerudung instan yang tergantung di balik pintu dan memakaikan pada Aira untuk menutup auratnya. Sebelum mengangkat tubuh ringkihnya ke luar, kuhubungi Aji untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Tepat saat aku sampai di teras, mobil Aji sudah terpakir di halaman. Jarak rumah yang hanya beberapa langkah membuat kami mudah untuk saling menjangkau jika butuh.
"Mas! Mbak Aira kenapa?"
"Pingsan. Ayo, cepat antar ke rumah sakit."
Aji, adek kandungku membuka pintu mobil lebar-lebar. Lalu berlari menutup pintu rumah.
Mobil yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Bunyi klakson sesekali memekakkan telinga ketika di depannya ada kendaraan yang melaju.
Aji mengendarai mobil seperti kesetanan. Sesekali netranya menatap kami melalui kaca spion untuk memastikan iparnya baik-baik saja.
"Dek, bertahanlah. Bertahanlah demi kita," ucapku sambil menciumi tangan dinginnya. Matanya masih terpejam rapat. Tak ada gerakan sedikit pun.
Ada yang mendesak di kedua mataku. Tetes demi tetes kristal bening jatuh mengenai wajah pucat bidadariku. Segera ku seka air mata yang entah kenapa berebut ikut keluar. Padahal selama ini aku tak pernah menangis. Terakhir kali aku menangis saat TK. Waktu itu teman sebangkuku sengaja menumpahkan cat air pada lukisanku yang sudah jadi. Dan kini ... karena Aira air mata ini kembali menetes.
'Yaa Allah, tolong selamatkan istriku. Beri dia kekuatan, Yaa Allah,' doaku dalam hati.
"Suster, tolong istri saya!" teriakku sambil membopong Aira begitu sampai di halaman tumah sakit. Tak peduli dengan koko putih ini yang sudah memerah.
"Masuk sini, Pak. Tidurkan di brankar itu!" ucap seorang perawat yang langsung diikuti perawat lainnya.
Dengan cekatan, perempuan berpakaian serba putih itu memasang selang oksigen di hidung Aira. Satu perawat memesang jarum infus pada pergelangan tangannya.
"Sebaiknya bapak tunggu di luar saja!" ucap perawat lain yang sedang membawa tensimeter.
Dengan langkah gontai, Aku meninggalkan ruangan. Ada Aji yang duduk di kursi tunggu. Begitu melihatku, ia berdiri dan mendekat.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Mas?"
Hembusan napas kasar keluar dari mulutku. Mataku masih perih menahan sakit di dada. Melihat bidadari kesayangan tergolek lemah dengan kulit pucat, sudut hatiku lagi-lagi berdenyut nyeri.
"A-aku ... Aira, di...dia," ucapku terbata.