Dari begitu banyak waktu kuhabiskan bersamamu, baru kali ini aku melihat isi hatimu Nau ... ternyata Tuhan masih berbaik hati. Ia memberikanku nikmat di balik musibah yang dahsyat.
Bram mengamati Naura ... wanita yang selama ini ia cintai, namun ia selalu meragukan hatinya.
Meski dari yang sangat dekat, meski di dalam satu mobil bersamaan ... apa kamu akan tahu aku selalu berada di sisimu Nau?
Bram tidak peduli dengan keadaannya saat ini, meski hidupnya sendiri ntah bisa bertahan atau tidak ... yang jelas ... Bram harus menghabiskan waktunya untuk cintanya.
"Dia di sini," gumam Naura pelan dengan tatapan kosong yang mengarah kedepan. Naura seperti berbicara dengan tidak sadarkan diri, Abdi meraih telapak tangan Naura dan menggenggamnya erat.
Bram melihat interaksi Naura dan Abdi ...
Matanya membulat seketika saat Naura mengucapkan lanturan itu.
Kini Bram ikut menggenggam telapak tangan Naura tepat di atas kepalan tangan Abdi.
Drrrrttt ...
Drrttttt ...
Bram bergetar sangat hebat, setruman energi yang ia raih sangatlah dahsyat. Tetapi Bram menahan dirinya demi wanita kesayangannya itu.
Naura menoleh seketika ke arah suami di sampingnya, saat ia merasakan sentuhan hangat yang sama persis seperti saat ia disentuh oleh Bram.
"Siapa yang di sini, Nau?" tanya Abdi menyoroti mata Naura dengan tajam.
"Tidak ... tidak! Aku hanya mimpi di dalam lamunanku," ulang Naura dengan mengulum senyumnya.
"Hah? Kau melamun saja bisa bermimpi, Nau." Decak Abdi dengan menautkan ke dua alisnya dan fokus untuk menyetir kembali.
Kini Naura tenggelam dengan perasaannya sendiri, perasaan bertanya selalu menghantui benaknya.
Mengapa dirinya seolah selalu merasakan kehadiran Bram? Ini hanya perasaannya saja atau hanya itu benar adanya?
Raut wajah Naura mulai gelisah, fikirannya mulai melayang terbang tidak karuan ... apa Benar roh Bram saat ini sedang mengikuti dirinya? Dan hidupnya tidak akan lama lagi?
'Oh Tuhan ... sebegitu tragisnya kah cintaku dan Bram? Berakhir dengan keadaan yang seperti ini? Sungguh ... ini bukan mauku Tuhan, yang aku inginkan adalah perpisahan yang bahagia. Meski tidak ada kebahagiaan untuk kata perpisahan, tetapi ... aku yakin jika perpisahan itu di dasari dengan kerelaan dan kemauann pasti diakhir dengan kebahagiaan.' Gumam Naura di dalam batinnya.
Naura meratap kosong mengarah ke samping jendela kaca, kembali mengingat sosok Bram yang dulu saat pertama kali mereka memutuskan untuk satu sekolah bersama.
Dulu Bram menjelma sebagai sosok Siswa yang banyak digandrungi dengan para Siswi dan Kakak kelas pun banyak yang mengagumi dia, bahkan Mbak Komar pelayan kantin sekolah juga menyukai Bram! Seolah Bram dulu termasuk Siswa paling famous di SMK kami.
Dan saat Bram sedang di atas ketenarannya, secara tiba-tiba ... Bram menyatakan cintanya pada Naura.
Perempuan mana yang menolak cinta sahabatnya sendiri, dalam keadaan Naura pun diam-diam mencintai Bram.
Dan perempuan mana yang sanggup menolak Bram, dengan ketampananya dan kepopulerannya di sekolah?
Naura rasa tidak seorang perempuan pun yang berani melakukan penolakan, pada pria seberuntung Bram.
Saat kabar Naura dan Bram sudah berpacaran pun rupanya sangat cepat tersebar keseluruh penjuru sekolah, tidak jarang perlakuan kasar dan cibiran yang dilakukan dari pengagum Bram pun berdatangan.
Dan bukan hanya caci maki saja yang Naura dapatkan, pujian dan dukungan pun Naura rasakan saat masih berpacaran bersama Bram saat mereka masih menginjak SMK.
Ada yang sampai membuat grup Whatsapp hanya untuk mengupdate berita hubunganku dan Bram di hari itu. Intinya Naura dan Bram adalah King Of Queen saat itu.
Kini Naura mengulum senyumnya, rasanya saat itu tidak ada kesedihan yang amat sedih ... selain rasa sedih ditinggal Bram izin ke sekolah karena sakit. Hanya itulah kesedihan terberat Naura pada masa itu.
Seandainya Bram tahu, bahwa dirinya tidak pernah melupakan sedikit pun moment yang pernah mereka lalui bersama.
Seandainya Bram pun tahu ... bahwa perasaan Naura sekarang masih sama, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Perasaan itu tidak ada yang berubah meski hanya sedikit.
Tring!
Bunyi ponsel Naura berdering, satu notif pesan dengan sebaris nama Zoya di atasnya.
"Bram kritis! Denyut jantungnya menurun." Isi pesan yang dikirim oleh Zoya.
Naura tiba-tiba melemah, hatinya seolah hancur! Jantungnya seolah runtuh. Ponsel yang ia pegang rasanya ingin jatuh. Ia menahankan diri untuk tidak terlihat terlalu rapuh di depan Abdi.
Bram yang melihat keadaan Naura, langsung memanjangkan lehernya ke arah depan kursi yang diduduki oleh Naura. Bram menautkan alisnya ... ia mengedarkan bola matanya ke arah layar ponsel.
Lalu Bram langsung membulatkan bola matanya, setelah melihat isi pesan dari Zoya. Bram memegang dadanya. Ia seperti mencari detak jantungnya ia meraba lebih dalam dan akhirnya ia lega setelah Bram merasakan jantungnya masih berdetak. Namun sangat pelan!
'Bram, aku mohon ... bangunlah dari komamu, aku mencintaimu ... sungguh! Aku menyayangimu lebih dari suamiku sendiri.' Lirih Naura dalam batinnya.
Bram yang mendengarnya hanya tersenyum lebar menatap tajam mengarah ke mata Naura.
"Ingin rasanya aku memelukmu, Nau! Terimakasih sudah mencintaiku dan menyayangiku seperti dulu. Maaf ... jika aku pernah meragukan cintamu dan maaf jika diri ini harus meninggikan egonya karena ingin memilikimu seutuhnya ... maafkan aku, Nau! Aku sangat mencintaimu ... apa pun yang terjadi dan bagaimana pun keadaanya." Ucap Bram yang masih menatap tajam ke arah wajah Naura.
Rasanya sekarang ... Bram tidak peduli apa pun yang sedang terjadi, meski dunia akan runtuh pun. Bram tidak peduli! Yang terpenting dia tetap bersama Naura.
***
Naura turun dari mobilnya dan Abdi yang langsung melajukan mobilnya dengan terburu-buru, karena sejak tadi kehadiran Abdi sangat dinantikan oleh seluruh Clientnya di kantor. Itulah alasan Abdi saat mengajak Naura pulang cepat dari Rumah Sakit.
Naura yang baru saja berjalan terhuyung dari dalam mobil, tiba-tiba dengan langkah yang cepat ia melangkahkan kakinya untuk masuk kerumah dan berlari kecil menaiki anak tangga.
Kemudian Naura masuk ke kamarnya dan merebahkan diri ke ranjang. Air matanya berderai deras seperti tidak ada henti-hentinya, Naura menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menemani Bram sepanjang komanya.
Naura menangis tersedu-sedu ... meratapi nasip dan cinta mereka, kini dunianya seolah runtuh. Ia memegangi perutnya ... sembari berkata. "Kuatlah, Bram! Demi anakmu ... demi si kembar! Demi cinta kita ... kumohon ... berjuanglah untuk sembuh." Ujar Naura berderai air mata, dadanya terasa sesak ... perut seakan mengeras dan keram.
Naura mencoba untuk menenangkan dirinya ... menarik napas dan menghembuskan napasnya secara perlahan, meski hatinya sangatlah hancur dan air matanya terus saja menetes.