Wanita Penghibur untuk Suamiku

Mencintaimu, Bram!

Mengapa? 

 
Mengapa ... masih sepagi ini perasaan ini sangat gelisah, seperti ada yang kurang dalam hidup, seperti ada yang ingin Naura sedihkan ... tetapi apa?
 
Ia meraba tengkuk lehernya, mengapa perasaannya menjadi aneh. Jantungnya pun seolah berdegup kencang.
 
Naura beranjak dari tidurnya ... ia melangkah perlahan menuju arah balkon kamar, meraba saku celananya dan mengambil sebuah ponsel yang sedari tadi tidak ada satupun notif pesan dari Bram.
 
Hatinya seolah selalu mencari di mana kekasih gelapnya itu berada ... mengapa sampai sekarang tidak ada kabar darinya. 
 
Tidak seperti hari kemarin ... biasanya Bram sangat tahu jam berapa Abdi tidak ada di rumah dan jam berapa Abdi sampai ke rumah.
 
Lalu sekarang?
 
Apa Bram lupa dengan kebiasaannya? 
 
Atau malah ia sengaja untuk menghindar ...
 
Naura mencengkram besi pagar balkon, ia menopangkan dagunya dengan tatapan yang mengarah ke ponsel sibuk menscroll status Whatsappnya dengan malas. Lalu bola hitam matanya tiba-tiba membulat, hatinya seolah runtuh ... jantungnya kini hancur berkeping-keping.
 
Tubuhnya jatuh terkulai lemas ke lantai, ritme napas Naura sangat cepat ... air matanya perlahan jatuh dengan deras, fikirannya seperti melayang ke angkasa yang penuh dengan kegemerlapan langit.
 
Tringgg! 
 
Suara ponsel Naura berdering, ia tersentak kaget dan memutarkan bola matanya ke layar ponsel yang sedari tadi ia remas dengan kuat.
 
"Nau, kamu liat berita pagi ini?" suara Abdi terdengar panik di seberang sana.
 
Naura membungkang mulutnya perlahan, ia berusaha menyembunyikan diri dari keterpurukannya saat ini. Ia tidak ingin Abdi bertambah menjadi curiga atas hubungan Naura dan Bram.
 
"Aku lihat ... dan ini aku lagi siap-siap ke rumah sakit," ucap Naura enteng, padahal di balik panggilan itu. Ia menyembunyikan nada ritme tangisannya agar tidak terlalu pecah terdengar oleh Abdi.
 
"Eh tunggu, Nau! Mas ikut ya ... mas jemput sekarang." Abdi mematikan panggilannya tanpa mendengar jawaban apa pun dari Naura.
 
Tut ... 
 
Tut ...
 
Tut ...
 
Naura menatap panggilan yang telah terputus sambungannya itu di layar ponsel, ia kembali menangis sekuat mungkin. Meringkuk dengan tangan yang memegang ke dua kakinya.
 
Kemudian ia beranjank bangun dari duduknya, melangkah gontai lemah mengarah ke kamar mandi. Ia bersiap-siap membersihkan diri agar Abdi tidak mencurigai dirinya yang sudah sangat berantakan, dipenuhi noda-noda air mata di wajah Naura.
 
***
 
Tak 
 
Tak 
 
Tak 
 
Suara sepatu wegdes Naura melangkah cepat ke arah ruangan yang bertuliskan ICU, dengan jiwa yang sangat maha dahsyat nya Naura menahan diri untuk tidak menangis di depan suaminya. 
 
Naura hanya meletakkan tangannya di jendela kaca yang tingginya 2 meter dan lebarnya sekitar 4 meteran. Ia meletakkan 5 jemarinya di kaca dan memandang sendu ke arah tubuh Bram.
 
'Tuhan ... jika seandainya hidup Bram berakhir di sini karena inilah caramu untuk memisahkan hubungan kami berdua, aku mohon Tuhan ... jangan pernah mengakhiri hidupnya jika memang itu tujuanmu. Aku mohon ... buatlah dirinya hidup kekal abadi di hatiku meski kita tidak pernah bisa bersama sampai kapan pun. Aku rela meninggalkan dirinya ... meninggalkan dosa yang saat ini kami lakukan, asal ... sehatkanlah dirinya seperti sedia kala.' Ucap Naura di batinnya.
 
Ia menutup matanya perlahan, melangkah mundur dan duduk di kursi pasien dengan tatapan kosong mengarah lurus ke depan.
 
Saat ini Bram beranjak dari duduknya dan duduk berdamping dengan Naura, Bram mendekati Naura secara perlahan ... Bram benar-benar merasakan kehangatan dari dalam tubuh Naura. Naura benar-benar memberi kehidupannya lebih hangat sampan kapan pun.
 
Lalu Bram menatap lebih dalam ke wajah Naura, ia menelusuri netra di bola matanya ... mengapa sama sekali tidak nampak ada bercak atau pantulan cahaya dari matanya.
 
Mengapa mata itu tetap kosong tanpa air mata? Mengapa air mata Naura tidak terjatuh sama sekali, melihat dirinya yang koma dengan kehidupan yang berada di ujung tanduk. 
 
Bram melemparkan pandangannya ke Zoya ... yang sedari tadi menangis histeris, meraung seperti kesurupan di depan jendela kaca.
 
Sang Mamah pun begitu, sedari tadi tidak ada habisnya air mata itu berjatuhan dari pelupuk matanya. 
 
Lalu sekarang? Naura ... wanita yang sangat ia cintai, hanya menatap kosong ke arah tubuhnya tanpa air mata sama sekali.
 
"Kenapa, Nau? Apa diri ini benar-benar sudah tidak pantas untuk kau kasihani, meski hanya sedikit!" teriak Bram penuh dengan penekanan.
 
Kemudian tiba-tiba Naura merespon ucapan Bram, Naura merasakan kehadiran Bram di samping duduk kanannya. Rasa itu ... sama seperti rasa jika ia duduk berdampingan bersama Bram. Ia memutarkan kepalanya ke arah sampinh tepat di depan wajah Bram.
 
Saat ini ... tanpa sepengetahuan Naura, wajah mereka telah bertatapan sangat dekat. 
 
Bram mencoba menyentuh wajah Naura ...
 
Drrtttt ...
 
Ia dengan cepat melepaskan tangannya dari wajah Naura, Bram tidak tahu sebelumnya ... jika ia menyentuh Naura bisa menyebabkan energi kuat. Yang menyebabkan setruman hebat terhadap dirinya.
 
Dan Bram pun lebih tidak tahu, jika sebenarnya setruman hebat itu menyadarkan seseorang yang disentuhnya sadar akan keberadaannya.
 
Naura yang baru saja wajahnya disentuh oleh Bram, sudah benar-benar merasakan kehadiran Bram. Jemarinya mengusap pipi kanannya dengan hati yang sangat hancur.
 
Rasanya ia ingin menangis sekencang mungkin, tetapi dirinya tetap sadar akan keberadaan suaminya. Ia menahan kuat perasaannya demi sang suami yang sedari tadi berada di samping kiri Naura.
 
'Aku merasakan keberadaanmu, Bram! Sungguh ... tetapi, bagaimana mungkin rohmu ada di sini. Sedangkan ragamu sedang terbaring di atas ranjang itu dengan kondisi yang masih hidup, meski aku tidak tahu ... sadarmu akan pulih sampai kapan.' Batin Naura bergumam sembari menyenderkan kepalanya ke kursi.
 
"Hah! Seriusan? Ini gue bisa denger suara hati Nauraa? Ini Anugerah, Mukjizat atau malah sebenernya gue udah jadi hantu sih?" Ucap Bram menggurutu
.
 
Dan tiba-tiba mata 
ng lewat di hadapannya. 
 
"Hah? Naura mau pulang." Ucap Bram yang langsung bergegas bangun ingin ikut bersama Naura.
 
Kini Naura mulai menyalami satu persatu keluarga Bram, termasuk Zoya. Ia berpamitan pulang dan melangkah cepat menggandengan lengan Abdi.
 
Sebenarnya ... hati Naura pun hancur melihat kedekatan Zoya dan tante Irna. Mereka berpelukan haru, saling menguatkan. 
 
Naura iri akan keadaan itu ... mengapa bukan dia yang di posisi itu? Mengapa hatinya tidak bisa menenangkan hati tante Irna sedikit pun. Malah sibuk menghargai keberadaan suaminya.
 
Naura melangkah dengan tundukkan pilu, ia menyembunyikan perasaan perih di wajahnya demi sang suami. Meski sekarang Naura masih merasakan keberadaan Bram di sekitarnya.
 
'Aku mencintaimu, Bram ... sangat mencintaimu.' Batin Naura bergumam perih.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!