Bram menggigit bibir bawahnya, menarik napasnya dengan perlahan. Kini dadanya bergemuruh terasa sesak, mendengar perkataan Naura.
Mengapa wanita yang sangat ia cintai ini, seakan ... selalu saja meremehkan perjuangannya.
Bram membalikkan tubuhnya perlahan, menatap dalam mata indah Ibu dari calon bakal anaknya itu.
"Nau, apa sekarang ... kamu sudah mencintai Abdi?" tanya Bram dengan mata yang menyoroti Naura dengan nanar.
"Bram, aku hidup dengannya 2 tahun lebih. Menurutmu, aku membatalkan dendamku padanya karna apa?" Naura membalikkan pertanyaannya.
Bram dengan sabar menelan ludahnya, "Karna kau sudah mencintai Abdi?" sahut Bram dengan wajah yang sangat suram.
Naura melemparkan senyumannya mengarah ke Bram, "Itulah jawabannya, Bram. Aku mohon kau mengerti, inilah kenyataannya! Kita hidup di dunia nyata. Cinta kita tidak akan pernah menyatu, seperti akhir dari cerita Romance Novelme. Aku dan kamu sudah selayaknya berakhir sampai di sini, biarlah anak kita menjadi anak yang bahagia tanpa tahu ayah yang sebenarnya!" ucap Naura dengan sangat menggebu, air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya, ia tahan dengan hati yang perih.
Berbeda dengan Bram, perasaannya tidak sekuat Naura. Jika menghadapi tentang perasaan. Air matanya mengalir begitu saja di pipi, perasaannya sangat hancur mendengar perkataan Naura.
Bram menggeleng dengan cepat, "Aku nggak bisa, Nau. Aku nggak bisa kalo harus kehilangan kamu lagi untuk ke dua kalinya! Dan itu anakku! Sampai kapan pun akan tetap menjadi anakku, Nau! Aku mohon, tetaplah bersamaku." Ucap Bram terisak, pandangannya yang masih lurus ke depan dengan pipi yang sudah dibasahi dengan air mata yang deras.
Naura mengambil tissu dari tasnya, kemudian mengelap air mata yang masih terjatuh dari pelupuk mata indah Bram, dengan perlahan.
Kemudian Naura merangkul erat lengan pria di sampingnya ini, pria bodoh yang bertahun-tahun masih mencintainya. Pria bodoh yang berharap akan keajaiban cinta, seperti kisah cinta di Novel KBM.
Jujur ... Naura pun masih sangat mencintai Bram. Tetapi akal sehat Naura masih berjalan imbang, tidak seperti Bram! Yang hanya memikirkan hatinya tapi lupa dengan fungsi otaknya sendiri.
Kini Naura menikmati kebersamaan mereka, ntah sampai kapan ini berakhir? Ntah bagaimana cara Tuhan mengakhiri ini semua. Naura pun tidak tahu! Keputus asaan selalu meliputi benaknya. Yang jelas sekarang, Naura hanya pasrah akan keadaan dan menunggu tangan Tuhan langsung yang akan mengakhiri cerita mereka.
Tin
Tin
Tin
Bunyi klakson mobil terdengar keras, mobil Abdi menyalip dan menghadang mereka secara tiba-tiba.
Degh!
Naura membulatkan matanya, mengapa Abdi mengetahui dirinya ada didalam mobil ini.
"Buka, Bram!" ucap Abdi dengan lantang.
Jantung Naura berdegup kencang melihat suaminya, seperti orang yang sedang kerasukan setan.
Drep!
Abdi menarik lengan Naura keluar dengan kasar.
Plak!
Abdi dengan emosi yang tersulut, menampar
Naura kuat. "Aku melihatmu, Nau! Merangkul Bram di lengannya. Kau seorang istri berada dalam satu mobil dan merangkul pria lain, selain suamimu. Apa itu bagus?" bentak Abdi.
Naura hanya menunduk pilu sembari menangis, dirinya sangat bimbang saat ini harus mengatakan apa lagi.
Abdi mencengkram dagu Naura, mendongakkan wajahnya ke atas menghadap wajah suaminya. "Katakan, Nau. Ada hubungan apa kamu dan Bram?" tanya Abdi dengan mata yang menyoroti ke dua bola mata Naura.
Bram berlari mengarah ke Abdi. "Bro! Santai Bro, sorry ... sorry. Udah buat lu salah paham, tadi gue lagi ada problem dikit sama nyokap. Dan lu tau gue kan? Gampang nangis, nah tadi gue nangis tuh. Karna bini lu dan sahabat gue ini, hatinya lembut banget. Dia nggak tega, Bro! Dia cuma nyoba untuk nenangin gue aja sebenernya. Oh iya, Bye The Way selamat ya. Tadi Naura cerita, kalo anak kalian kembar!" ucap Bram dengan santai sembari menepuk bahu Abdi dengan pelan.
Abdi menepi tangan Bram dari bahunya kasar, "Inget ya, lu dari pertama emang udah ngincer bini gue banget. Gue percaya lu, karna ngehargain si Naura! Tapi bukan berarti, lu harus bebas ngapain aja dengan bini orang! Termasuk punya gue!" Abdi mendengus kesal.
Kemudiam menarik pergelangan Naura dengan kencang ke arah mobilnya.
Bram mengejar langkah Abdi dan memberhentikan mereka, "Gue minta maaf banget, kalo harus ngikut campur atas rumah tangga lu! Tapi, gue mohon jangan pernah lu kasar ke Naura. Apa lagi dia lagi hamil!" ucap Bram.
Lalu Abdi kembali melangkah ke arah mobil tanpa menghiraukan Bram, Abdi mendorong Naura masuk ke dalam mobil, terlihat di mata Bram, perlakuan itu sangatlah kasar.
Brum!
Suara geberan mobil Abdi yang sengaja digeber di depan Bram, lalu melaju sangat kencang.
Bram menyunggingkan senyumnya, "Perbuatlah yang saat ini ingin kau perbuat! Aku pastikan, sebentar lagi ... istrimu akan menjadi istriku!" ucap Bram sembari menaiki mobilnya.
****
"Ini yang kamu lakukan, Nau? Begini caramu membalasku? Bermesraan dengan lelaki lain, mengatas namakan sahabat?" bentak Abdi.
Naura menelan ludahnya kasar, jantungnya saat ini seakan berdetak lebih cepat. "Mas, aku hanya mencoba menenangkan. Itu saja! Mas nggak percaya sama aku?" Naura menatap Abdi dengan raut wajah yang sengaja dipasang dengan memelas.
Abdi menarik napasnya dan membuangnya perlahan. "Okelah, saat ini aku mempercayaimu. Tapi aku mohon, Nau! Jangan pernah siksa perasaanku dengan rasa cemburu. Aku ini suamimu! Dan dia mantanmu! Wajar atau tidak? Jika aku cemburu?" tanya Abdi dengan mimik wajah yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.
"Maafkan aku, Mas. Maaf." Naura menundukkan kepalanya perlahan.
Abdi yang masih sangat terpukul atas kejadian itu, dengan lapang hati memaafkan Naura. Bagaimana pun Naura adalah istrinya, dia sangat tahu bagaimana sifat wanita yang duduk di sampingnya ini.
Benar kata Bram!
Naura adalah wanita yang sangat lembut, jangankan untuk melihat sahabatnya menangis. Melihat Ibu dari selingkuhannya menangis tersedu-sedu pun, Naura bisa uring-uringan sepanjang jalan memikirkan wanita tua itu.
Abdi mengulum senyumnya, melemparkan sorot matanya ke arah wanita dengan wajah yang sangat jarang memoles make up di wajahnya.
Namun anehnya, wajah itu terlihat begitu sangat cantik. Itulah yang membuat Abdi takut jika mantannya yang bernama, Bram! Masih mencintai istrinya.
"Mas, gimana kabar anak Aqila? Kamu pernah mengunjunginya kan?" tanya Naura pelan.
"Ntahlah, Nau. Aku hanya ingin melupakan dirinya, tapi masih tetap bertanggung jawab atas anak itu. Tenang saja, seperti katamu ... mau bagaimana pun, anak yang di kandung Aqila adalah anakku kan?" jawab Abdi datar, sorotannya matanya masih kosong menyoroti ke arah depan.
Ntah apa yang difikiran Abdi saat ini, yang jelas dirinya hanya membutuhkan seorang Naura di sampingnya itu saja.