Wanita Penghibur untuk Suamiku

Naura

Bram mendorong kursi roda Naura keluar, dari kejauhan terlihat di dalam mobil Aqila sedang memeluk Abdi. 

 

Naura mengadahkan kepalanya ke atas, dirinya menahan air mata. Sedangkan Bram yang sedari tadi bingung hanya terperangah tak dapat lagi menahan emosi, dia berlari ke arah Abdi.
 
"Bram! Berhenti!" teriak Naura, Bram menoleh kebelakang dan melangkah kembali ke belakang menemui Naura.
 
Kini Abdi keluar dari dalam mobil menatap Naura beberapa detik.
 
"Mas, jika memang mas malu mempunyai istri Lumpuh dan cacat seperti diriku. Aku pergi, Mas." Tangisan Naura pecah.
 
Abdi melangkah ke arah Naura, membungkuk di depan Naura. Hatinya sangat mencintai wanita di depannya itu. Tetapi logikanya tidak bisa menyangkal, dirinya sekarang juga butuh sosok seorang pendamping seperti Aqila. 
 
Naura mendongak ke atas dengan genangan air mata, "Mas mencintaiku kan?" tanya Naura mengeratkan genggamannya di jari jemari suaminya. 
 
"Mas selalu mencintaimu, Nau ...," lirih Abdi. Kini pria itu tak tahu harus berbuat apa, dirinya hanya melangkah dan menaikkan Naura ke dalam mobil, sama sekali tak menoleh ke arah Bram. 
 
Aqila beralih ke kursi belakang, kini Nauralah yang duduk berdampingan dengan suaminya. Memang seharusnya begini kan? Tetapi masih saja Naura tenggelam dalam kesedihan, dirinya tak nyaman jika terus menerus hidup berdampingan bersama wanita lain. 
 
Kemudian Aqila tiba-tiba memegang kursi Abdi dari belakang, "Mas, kita mau langsung pulang aja nih?" tanya Aqila dengan kedua jari tangannya meremas seolah memijat pundak Abdi.
 
Rasa sakit di dada Naura kembali lagi, rasanya seperti terhimpit bebatuan saat melihat suaminya membalas sentuhan itu. Abdi meremas kembali tangan Aqila seraya menjawab. "Kita pulang aja ya," lirih Abdi lembut.
 
Naura menoleh ke arah tangan suaminya yang sedari tadi sibuk meremas tangan Aqila dan Abdi dengan cepat menyadari itu, lalu melepaskan genggamannya. 
 
Naura tetap saja bergeming dan meletakkan tangannya ke pangkuan suaminya juga, berharap Abdi melakukan hal yang sama terhadap dirinya. 
 
Berpuluh menit lamanya tak ada respon apa pun dari suaminya, Naura menarik tangannya kembali. 
 
Drrrtt ... drrrtt ... Handpone Naura bergetar, panggilan masuk dari Nomor tidak dikenal.
 
[Halo?
 
Naura? 
 
Ini Bram, Aku dapat nomor handponemu dari data riwayat pasien. Gimana keadaanmu sekarang?]
 
"Aku masih di perjalanan pulang Bram, Aku baik-baik saja." Naura menutup panggilannya.
 
"Bram?" tanya Abdi mendengus, ia tidak habis pikir Naura berhubungan dengan pria bernama Bram. Tetapi dirinya tak tahu! 
 
"Dokter Bram yang tadi nganterin Aku. Ternyata calon Bryan itu ponakannya dokter Bram, dokter jaga Aku, Mas."
 
"Ada urusan apa dia, mencampuri urusan rumah tanggaku?" 
 
Naura menundukkan kepalanya, seandainya Abdi tahu dokter Bram adalah mantan pacarnya dulu. Apa mungkin Abdi akan cemburu? Dan melepaskan Aqila demi memilih Naura? 
 
Kepala Naura berputar ke arah belakang, Naura bertanya pada Aqila. "Kil, apa kamu bisa meninggalkan suamiku?" sontak pertanyaan itu membuat Abdi dan Aqila terkejut.
 
"Aku sudah terlanjur mencintai Mas Abdi, Mbak." lirihnya. 
 
Bola mata Naura membulat. Naura tak menyangka Aqila akan menjawab sebegitu menyakitkan, "Kau gila? Aku nggak mau berbagi suami!" teriak Naura.
 
"Dari awal pun, Mbak yang gila sudah membagi suami untukku." 
 
Naura menahan sesak di dadanya, ingin rasanya Naura menjambak rambut lawan bicaranya ini. Wanita penghibur tak tahu diri! Benak Naura mengumpat. 
 
Tak lama, Abdi memarkirkan mobilnya dan membopong Naura ke sofa. Kedua tangannya yang masih memeluk Abdi dengan cepat menciumnya. Naura pun ingin membuat Aqila memperlihatkan dirinya, jika ia masih dicintai oleh suaminya.
 
Namun Abdi menghindarkan ciuman itu yang akhirnya malah membuat Naura malu di depan Aqila. 
 
Aqila kini berjalan melewati Naura, dengan sengaja duduk berdampingan, Aqila melipatkan pahanya ke atas. Hal itu membuat Aqila menarik perhatian Abdi.
 
Abdi menelan ludah melihat tubuh Aqila, dirinya yang sekarang sangat butuh sosok seorang wanita, seakan tak kuat melihat godaan itu.
 
Mata Naura berputar melirik suaminya, lalu memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri.
 
Aqila tersenyum tipis ke arah Naura, sebelum ia menarik Abdi ke pangkuannya. Kemudian Abdi menolak dan menarik Aqila ke arah dapur. Tetapi tarikan itu di tarik kembali oleh Aqila, sehingga tubuh Abdi jatuh menimpa Aqila.
 
Aqila dengan sergap mencium leher Abdi, Abdi yang tak kuat dengan perlakuan Aqila kemudian membalas perlakuan itu. 
 
Naura mengerjap dan melemparkan kepalanya ke sandaran sofa dengan dada yang begitu sesak. Dirinya menutup mata seolah tak kuat atas apa yang ia lihat saat ini, kini hanya desahan-desahan yang Naura dengar dari mereka. 
 
Drrtt ... Drrrt ....
 
Getaran ponsel di sakunya mengejutkan Naura. Tanpa melihat layar ponselnya, Naura mengangkat panggilan.
 
[Halo?] Suara yang tak asing bagi Naura.
 
"Kenapa Bram?" tanya Naura.
 
[Gimana keadaanmu Nau? Apa baik-baik saja.]
 
"Aku baik-baik saja Bram, kumohon jangan hubungi Aku lagi." 
 
Bram, bergeming. Di sisi lain ... Bram mendengarkan dengan seksama, ada suara rintihan mendesah wanita lain di sekitar Naura. Bram meyakinkan dirinya, ada yang tidak beres dengan keadaan Naura! 
 
Aku ke rumahmu sekarang!
 
"Tolong Bram, jangan!" Naura mematikan ponselnya, sebenarnya dirinya malu terhadap Bram. Malu jika Bram tahu, bahwa pernikahannya kini sangat menyedihkan!
 
Tring ... ponselnya berdering, terlihat pesan masuk dari Bram
 
"Aku di depan rumahmu." Isi pesan itu,
 
"Hah? Bagaimana mungkin? Aku baru saja mematikan panggilan itu. Cih! Dia seperti penguntit!" Naura mencoba membuka matanya, memutar kepalanya ke arah suaminya yang sibuk memainkan dan mengelus titik sensitif tubuh Aqila. 
 
Naura berdeham tapi terabaikan, ada kegetiran di hatinya, kehampaan dan tangisan yang tertahan di jiwanya. 
 
Dirinya kini menggaruk pelipis, bagaimana Naura bisa mencapai kursi roda di samping sofa? Sedangkan kakinya sama sekali tak berdaya. 
 
Dengan tarikan napas, Naura mencoba menggeserkan tubuhnya untuk menggapai kursi roda. Perlahan-lahan namun pasti akhirnya Naura duduk tegap di atas kursi roda dengan napas yang tersengal-sengal. 
 
Naura memutar kursi roda ke arah pintu, sesampainya di depan pintu, dia menoleh kebelakang, memandang suaminya dengan datar lalu mengalihkan pandanganya lagi ke pintu, dirinya terdiam mematung. Bagaimana jika Bram melihat suaminya sedang menyetubuhi wanita lain?
 
Klek!
 
Pintu terbuka dan tepat di depan pintu, Bram sudah menunggunya. 
 
"Dimana suamimu, Nau?" suara Bram terdengar begitu tegas. 
 
"Ada di dalam," 
 
"Panggilkan sekarang." 
 
"Dia lagi tak ingin menemui siapapun, mood nya lagi nggak bagus Bram. Sudahlah kamu pulang aja yah."
 
"Oke, kalo gitu Aku yang akan menemuinya," sahut Bram dengan menerobos Naura. Karena saat ini Bram tahu Naura sedang menyembunyikan sesuatu. 
 
Bram melangkah ke dalam dan tak lama dirinya terhenti, matanya membulat seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat. Dan saat dirinya tersadar dalam ketidak percayaan, Bram mempercepat langkahnya. Langkah itu tak dapat Naura kejar. 
 
Nasi sudah menjadi bubur, Naura hanya menggigit bibir bawahnya dan memutar roda kursinya dengan cepat menyusul Bram. 
 
Dengan amarah Bram membangunkan pria di depannya itu yang sedang sibuk di traveling oleh wanita dengan posisi menimpah tubuhnya. Bram menarik pria itu dan melemparkan tubuhnya ke lantai, meninjunya berkali-kali, "Pukulan ini untuk membalas sakit hati Naura." Suaranya terdengar menakutkan. 
 
Aqila yang semakin takut di pojokkan, hanya meringkuk telanjang tanpa sehelai kain pun. Mereka seperti sedang di satroni oleh warga. Mengerikan! Aqila bergidik.
 
Abdi mengerang kesakitan, tapi tak bisa membalas pukulan Bram. Dengan posisi Bram menindih tubuhnya. Naura mempercepat laju rodanya ke arah Bram. 
 
"Cukup, Bram! Cukup!" teriaknya, Naura menangis terisak-isak melihat wajah suami tercintanya memar biru dan berdarah.
 
Bram berdiri, kemudian Naura ingin meraih wajah suaminya namun malah tersungkur mengenai tubuh suaminya. 
 
Arh! Abdi mengerang dan dengan reflek menjauhkan tubuh Naura. "Aku hanya mencintaimu Mas, apa itu sebuah kesalahan? Aku mengorbankan perasaanku, demi kebahagiaanmu, apa aku salah?" tanya Naura dengan suara serak menahan tangis yang sudah sedari tadi bergemuruh di dadanya. 
 
Bram mengangkat Naura dari hadapan suaminya, dan mendudukkannya di sofa. "Kau sangat cantik, Nau, jangan menangisi pria seperti itu." Bram menghapus air mata yang jatuh dari pelopak mata Naura.
 
Baru saja Bram ingin berdiri, kerah Bram diremas oleh Abdi. "Kau siapa? Beraninya mencampuri urusanku? Dia istriku, lalu kamu siapa?" 
 
"Aku kekasihnya." Dengan suara yang keras Bram menjawab.
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!