Wanita Penghibur untuk Suamiku

Salahkah?

Naura menyipitkan matanya, ia berkali-kali mengerjapkan mata seolah heran dengan apa yang dia lihat barusan.

 
"Tante Irna?" Naura membulatkan matanya mengarah ke wanita paruh baya yang gayanya sangat nyentrik mengikuti trend masa kini. 
 
Irna beranjak dari duduknya, ia melangkah menghampiri Naura. "Kamu kemana saja, Nau? Selama ini, Bram selalu mencarimu. Tapi sudahlah yang terpenting kalian sekarang bisa bersatu kembali," ucap Irna dengan mengelus rambut Naura dengan lembut.
 
Naura menarik napasnya dan membuangnya perlahan, bola matanya mengedarkan ke sudut ruangan lain. Kini mimik wajah Naura berubah menjadi sendu, seolah hatinya sangat tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya. 
 
"Nau, apa yang kamu fikirkan? Bram sudah menceritakan semuanya, bahkan untuk anak di dalam kandungan ini pun, Tante tahu!" 
 
Ucapan itu sontak membuat Naura terkejut, ia langsung menoleh dan menyoroti mata wanita di hadapannya itu dengan heran. 
 
Jadi saat ini Tante Irna tahu? Lalu, dirinya seolah merestui hubungan kami? 
 
Benar-benar di luar dugaan Naura, Tante Irna masih memperlakukan dirinya sama seperti dulu. Saat dirinya masih lajang dengan status berpacaran bersama anaknya.
 
Naura menelan ludahnya kasar, kemudian beranjak setengah duduk menghadap wanita berambut blow coklat di hadapannya. "Tante, setuju? Status kami nggak jelas, Te! Kami seperti kekasih gelap yang tidak akan bersinar sampai kapan pun!" dengan nada suara yang berat, Naura menyoroti mata Tante Irna.
 
Ssstt! 
 
Jari telunjuk Irna dengan cepat menutup bibir Naura.
 
"Nau, aku hanya seorang Ibu untuk Bram. Tidak ada seorang Ibu yang dengan mudah merestui hubungan anaknya pada wanita lain yang sudah bersuami, Tidak ada, Nau! Hanya tante, karna tante tahu ... dirimu bagaimana dan tante ingin melihat Bram selalu berbahagia." 
 
Suara Tante Irna mulai bergetar, Bram merangkul Mamahnya dari belakang dengan dagu yang menumpu pada pundak sang Mamah. 
 
"Terimakasih, Mah." ucap Bram pelan sembari menggenggam jemari Mamahnya itu.
 
Kini mereka saling melempar tatapan haru ... suasana di ruangan ini seolah menjadi saksi bisu mereka akan kejadian yang begitu sangat mengharukan ini.
 
"Oh iya, Mamah ada rencana mau ngajak Naura USG. Mumpung lagi di rumah sakit! Mau ya, Nau?" tanya Irna dengan alis yang di naikkan.
 
"Ayolah, Nau. Aku juga ingin melihat perkembangan anakku!" Bram menimpali.
 
Saat ini, tidak ada alasan apa pun untuk Naura mengatakan tidak. Ia seperti dijejali dan dipaksa dengan 2 orang sekaligus.
 
"Oke, aku mau!" ucap Naura, kemudian ia melangkah turun dari tangga. Langkah Naura terhuyung, dirinya masih merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya.
 
Ia terduduk dengan gerakan cepat. "Aku tidak bisa melanjutkan langkahku, Bram! Kepalaku sangat pusing. Tubuhku pun sangat lemas," ucap Naura.
 
Bram duduk di hadapan Naura, dengan menjajarkan tingginya pada wanita yang sangat ia cintai di hadapannya ini.
 
"Aku mohon kuatlah, Nau. Demi anak kita," suara Bram panik dengan kedua tangan yang ia rapatkan di kedua pipi gemas Naura.
 
"Nggak bisa, Bram. Nggak bisa!" suara Naura mulai terdengar seperti rengekan.
 
Dengan cepat Bram langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi ke arah luar. Dan kembali lagi bersama kursi roda yang didirong Bram. 
 
Lalu Bram membopong Naura keatas kursi roda dan mendorongnya ke ruangan dokter spesialis kandungan.
 
Irna yang berjalan tepat di belakang mereka, sedari tadi ia tidak ada habisnya memperhatikan mereka dan mengulum senyumnya berkali-kali.
 
Mereka di mata Irna, benar-benar seperti pasangan yang serasi. Seandainya wanita yang ada di hadapannya Irna saat ini, benar-benar menantunya. 
 
Mungkin hatinya tidak akan pilu, menyaksikan adegan romantis itu.
 
Tepat di depan ruangan dengan bertuliskan, dr. Andi Irianto, Sp.OG.,M.Kes. Bram membalikkan tubuhnya menoleh ke sang Mamah.
 
"Mah, Mamah aja deh yang masuk! Aku nggak enak, kenal soalnya." Imbuh Bram.
 
Suara Bram datar mengarah ke wanita nyentri di hadapannya itu. Tanpa jawaban, Irna mengambil alih mendorong kursi roda yang di kenakan oleh Naura.
 
"Selamat siang, dok," ucap mereka serentak.
 
"Siang ... Buk, eh ada, Pak Bram. Juga toh!" 
 
"Ada apa nih, siapa yang mau diperiksa?" lanjut dokter Andi.
 
"Ini dok, keponakan Saya udah hamil 3 bulan tapi belum sempat USG, karna nggak selalu sibuk." 
 
Suara Mamah Bram yang sengaja dibuat seksi olehnya.
 
Dokter Andi langsung beranjak dari duduknya, menyuruh Naura menaiki ranjang pasien dan berbaring di atasnya. 
 
Ia mengoleskan cairan berwarna biru ke atas perut Naura dan mendeteksinya lewat alat yang sedang memutari setiap tepi perutnya.
 
"Wah, Buk! Pak! Selamat ya, keponakannya bakal ada anak kembar nih. Ini gerakannya sehat banget, air ketubannya pun cukup, ari-arinya pun bagus," dokter Andi menjelaskan dengan sangat detail.
 
Bram terperanjak, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Wajahnya memerah bahagia, ia melempar senyuman sangat manis ke arah Naura.
 
"Wah kayanya malah, Pak Bram nih yang seneng banget!" dokter Andi menimpali.
 
"Maklum, Dok. Ini sepupu kesayangan, Bram!" sahut Mamah Irna 
 
Dokter Andi hanya mengangguk seolah percaya dengan perkataannya.
 
Mereka pun kini melangkah bersamaan keluar dari poli kandungan, senyuman yang tidak ada habisnya selalu terpancar dari wajah Bram.
 
"Mah ... Mah! Aku bentar lagi jadi Ayah, dengan 2 anak kembar! Mamah sebentar lagi punya 2 cucu kembar sekaligus!" ucap Bram menggebu.
 
"Huh ... tapi percuma, Bram. Semua orang juga nggak tau kan itu cucu untuk Mamah. Ntah deh, Mamah harus seneng atau nggak!" sahut Mamah irna dengan sebal, ia mendorong kursi roda Naura dengan kuat seperti kekesalannya saat ini.
 
Naura yang mendengar ucapan Tante Irna saat ini, hanya bisa menelan ludahnya kasar. Apa yang sebenarnya ia bicarakan juga tidak salah. Tetapi ... mengapa hatinya teramat perih melihat Ekspresi Bram begitu.
 
Naura membalikkan badannya, tatapannya menatap lurus mengarah ke Bram.
 
Kasihan sekali pria itu, sebenarnya Bram tidak perlu untuk tetap terus memaksakan bersama.
 
Bisa saja, ia meninggalkan Naura dan hidup dengan damai mencari wanita lain. Tetapi mengapa? Bram terus menerus mempertahankan hubungan yang amat sulit ini? 
 
"Tante, boleh nggak Naura ngobrol sebentar dengan Bram?" tanya Naura dengan mendongakkan kepalanya ke atas.
 
"Oh .. Sure Naura." sahut Tante Irna dengan memberikan kursi roda itu ke arah Bram.
 
Bram menautkan alisnya menatap Naura dalam, seolah bertanya apa yang ingin Naura pertanyakan.
 
"Bram, lihat ini!" Naura memperlihatkan isi pesan Zoya yang ada di ponselnya.
 
"Hah! Masa iya? Nggak mungkin ah, Zoya begini!" ucap Bram menggeleng cepat sembari mengembalikan ponsel Naura.
 
"Bram, aku perempuan dan Zoya pun sama! Meski kita tahu selama ini Zoya terlihat tidak memperhatikan perasaannya, tetapi sekarang? Itu beda, Bram." Ucap Naura dengan nada sedikit tinggi.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!