Wanita Penghibur untuk Suamiku
Jangan Tinggalkan Aku Lagi 43
3 bulan berlalu
Pengajian bulanan kandungan Naura,
semuanya persis seperti apa yang Naura harapkan. Acara itu sangat mewah dan berjalan dengan lancar.
Tanpa Naura sadari, Bram yang tengah berdiri di sudut ruangan menatap Naura dengan heran. Ia memandangi wanita tercintanya, perut yang semakin membulat membuat Bram semakin mencintai Naura.
"Matamu!!" ucap Abdi dengan telapak tangan yang mengusap mata Bram, karena memergoki Bram mengamati istrinya. Abdi mulai mengakrabkan dirinya pada Bram.
Baginya sekarang, Bram adalah teman baiknya juga. Bram juga sosok yang bisa diandalkan bagi Abdi. Saat dirinya di luar kota, ia selalu meminta tolong untuk menjaga Naura padanya, agar tidak terjadi apa-apa pada Naura.
Memang ... selalu ada perasaan cemburu yang terlintas di benak Abdi, tetapi harus bagaimana lagi. Hanya Bramlah yang mampu diandalkan saat ini.
"Santai aja sih. Oh iya, selamat ya. Si binik udah 3 bulanan aja, bentar lagi nggak berasa kita punya anak," sahut Bram sembari merangkul bahu Abdi.
Dengan konstan Abdi melepaskan rangkulan itu. "Kamu ngomong begini, seakan Kita tuh penyuka sesama jenis! Lagian pake ngomong anak Kita, kagak! Itu anak Gue!" Abdi mendengus kasar.
"Ah elah, Kamu mah kalo sama Aku suka gitu, suka cemburuan. Aku bilang gitu karna aku tuh, sohib nya Naura! Jadi secara nggak langsung anak Naura, anak aku juga!
"Nggak deh, kau cukup jadi omnya aja! Jangan harap untuk jadi Bapaknya anak Gue!" ucap Abdi bergidik.
"Pokoknya, ntar kalo anak kita lahir nih. Aku mau dipanggil, Ayah! Titik!"
Abdi melemparkan bola matanya ke arah lain, seakan malas meladeni pria di hadapannya ini. Jika tidak ingat dirinya sahabat Naura dan kebaikan yang ia perbuat pada keluarganya. Ingin rasanya Abdi menjejali wajah Bram dengan tangan yang mendarat langsung ke mata mesumnya itu!
Bram dan Naura kini memainkan drama yang sangat sukses. Bersikap sangat manis pada seluruh keluarga Abdi, mengaku kedekatan mereka hanya sebatas sahabat dari kecil saja. Siapa pun yang mengetahui hal ini pasti akan geram melihatnya.
Bram melangkah meninggalkan Abdi, ia mengedarkan pandangannya mencari Naura yang telah hilang dari pengamatannya ke semua sudut ruangan.
Ia melangkah mondar mandir dan akhirnya pandangan itu terhenti, menyadari Naura tengah duduk menyendiri di bangku taman saat tamu sedang ramai-ramainya.
"Nau, nggak seharusnya Tuan rumah meninggalkan acaranya begitu saja. Tamu-tamu masih ramai yang berdatangan," ucap Bram sembari mendudukkan dirinya di samping Naura.
"Aku bingung, Bram! Nyampek kapan kita terus menerus kaya gini? Kasian, Abdi. Aku pengen kita putus!" Naura mengatakan itu dengan tegas. Ia beranjak berdiri lalu meninggalkan Bram. Yang masih terperanjak atas ucapan Naura.
Ia terperangah tidak percaya, ia melemparkan kepalanya dan meremas rambutnya dengan pusing.
Ingin rasanya dirinya berteriak kencang, "Aku hanya ingin berada selalu di hatimu, Nau. Itu saja!" Bram menghapus buliran air mata yang tidak tertahan jatuh.
Inikah akhir dari segala cinta Kita, Nau? Pada akhirnya kamulah yang memilih untuk menyerah, sementara diriku masih terus memperjuangkan hidupmu untuk terus bersamaku.
Aku menyampingkan rasa cemburuku untuk mendekati Abdi, Suamimu. Aku menahan semua gejolak yang ada di hatiku meski harus menyaksikan dirimu bersanding bersamanya. Tetapi ... kini? Kau hancurkan begitu saja, Nau.
Seolah semuanya adalah hal yang mudah bagimu, yang bisa dengan cepat kau putuskan begitu saja.
Sementara aku? Seperti yang kukatakan tadi, aku masih memilih mencintaimu dalam diam dan menikmati rasa cinta kita meski perasaan ini salah.
Bram menundukkan kepalanya, hatinya teramat sakit. Dirinya sangat mencintai Naura, ia tidak bisa lagi hidup tanpa Naura, apa lagi harus pergi jauh dari kehidupannya.
Ia beranjak berdiri dari duduknya, lalu melangkah dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Hatinya mencari kekasihnya, meski kini dirinya di putuskan secara sepihak oleh wanita yang sangat ia cintai itu.
Bola matanya langsung tertuju pada Naura, yang tengah menaiki anak tangga menuju lantai atas.
Bram dengan langkah cepat mengikuti Naura tanpa sepengetahuannya. Dan saat Naura masuk ke dalam toilet kamarnya, Bram langsung bergeming di depan pintu menunggu Naura keluar dari dalam toilet.
Klek
Pintu toilet itu terbuka, mata Naura seketika membulat saat mendapati Bram sudah berada di dalam kamarnya.
"Bram, tolong keluar dari kamarku, sekarang!" bentak Naura.
"Nau, aku mohon jangan pernah putuskan hubungan Kita! Apa maumu, Nau? Aku turuti semuanya, aku mohon, Nau!" Bram menjulurkan kedua tangannya sembari menggoncangkan tubuh Naura.
Naura hanya menggeleng cepat, "Maaf, Bram. Aku nggak bisa! Aku harus menyelamatkan rumah tanggaku, aku akan mencintai Abdi seutuhnya. Seperti, Abdi yang sekarang mencintaiku dengan tulus kan?"
Suara Naura bergetar dengan bola mata yang di lemparkan ke arah lain, dirinya seakan tidak mampu untuk menatap wajah pria di depannya itu.
Seandainya, Bram tahu ... hatinya saat ini pun sangat sakit. Harus meninggalkan cinta yang selalu memperjuangkan dirinya.
Tetapi, harus sampai kapan cinta itu memijak di hati yang salah? Meski mereka selalu sukses bermain drama di depan halayak ramai, lambat laun Naura yakin kebusukan ini suatu saat akan dengan cepat pasti terbongkar dengan sendirinya! Itulah yang Naura takutkan saat ini.
Inilah waktu yang tepat untuk diri ini menyudahi permainan mereka, sebelum semuanya terbongkar.
Tiba-tiba dengan gerakan cepat, Bram bersujud di kaki Naura. "Nau, Aku mohon! Jangan pernah tinggalkan aku. Aku mohon Nau, aku sangat mencintai dirimu. Sungguh, Nau!" ucap Bram dengan deraian air mata yang deras, mengalir dari pelupuk matanya yang indah.
Naura bergeming sejenak, ia tidak menyangka seorang dokter muda tampan yang di segani semua orang. Kini bersimpuh di kakinya hanya untuk mengharapkan cinta yang tidak pasti.
Hati Naura semakin teriris melihat adegan di hadapannya, ia mengangkat tubuh Bram dengan perlahan. Mengusap air matanya, kini air mata haru menetes perlahan dari mata Naura. "Bram, aku juga mencintaimu. Sungguh, aku menyayangimu sampai kapan pun. Kau akan selalu ada di hatiku meski kita tidak bersama," ucap Naura pelan menyoroti bola mata Bram yang tengah berkaca-kaca.
"Aku nggak mau, Nau. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi." Bram mengucapkan dengan mata yang memerah.
Naura hanya bisa mengangguk mengiyakan, mau bagaimana lagi? Ternyata hatinya pun tidak sanggup untuk meninggalkan cinta ini.
Bram menarik Naura ke dada bidangnya dan memeluknya dengan erat, tetapi pelukan itu dengan konstan Naura dorong. Saat terdengar bunyi langkah yang samar menghampiri mereka.
Dengan langkah cepat Abdi menghampiri mereka. "Ngapain berduaan di kamar?" tanya sembari Abdi menaikkan alisnya.
"Ya, kau liatnya ngapain? Aku cuma ngasih selamat untuk sahabatku, terharu ngeliat dia sekarang udah hamil. Kau nggak liat mataku merah karna kebanyakan nangis!"
"Dih, diluaran garang nyatanya nangis juga!" Abdi bergidik geli mengangkat bahunya.
Abdi mencoba untuk mempercayakan mereka, meski itu sangat terdengar seperti omong kosong!