Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kasihan

"Lalu sekarang, kau mau apalagi ,Nau? Kamu mau menyakiti Ibuk?" tanya Abdi bermonolog.

 
Naura diam membisu, perasaan mual dan pusing melintasi diri. Memegang lehernya, lalu berlari ke arah wastafel dengan terburu-buru. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya yang sedari tadi sudah bergejolak ingin keluar.
 
"Apa aku sakit? Tumbenan mual banget begini." Naura menggerutu dengan sendirinya.
 
Kemudian berlalu lagi ke arah wastafel, dengan perasaan mual selalu datang kembali. Kini jika di hitung Naura sudah hampir 5x hanya untuk mengeluarkan isi perutnya. 
 
"Hah ... hah .... " Dengan tersengal Naura memegang telinga pintu toilet.
 
"Nau ... apa kau sakit?" tanya Abdi menghampirinya.
 
"Ntahlah, aku lemes banget rasanya, Mas." Naura melangkah terhuyung ke arah kasur. 
 
Abdi menghampiri istrinya perlahan, ntah apa yang sekarang harus Abdi lakukan. Setelah tahu wanita di hadapannya saat ini ternyata adalah seorang yang dulu pernah keluarganya tinggalkan, hanya demi uang 23 Miliar untuk operasi pencakokkan hati sang Ibunda.
 
"Nau? Apa kau ingin tahu kronologi yang sebenarnya, tentang kecelakaan itu?" Abdi bertanya dengan penuh hati-hati.
 
Naura hanya mengangguk seolah malas menanggapi pertanyaan Abdi, tetapi di sisi lain ... Naura pun sangat ingin tahu. Apa yang sebenarnya menyebabkan kecelakaan yang begitu sangat tragis di hari itu. Yang membuat Naura harus kehilangan seluruh Anggota keluarganya, benarkah kecelakaan itu murni sebuah kecelakaan? Atau sebenarnya malah ada motif pembunuhan di balik kecelakaan itu?
 
Tetesan air mata tiba-tiba terjatuh dari pelupuk bola mata Naura, setiap hari dirinya seakan dibuat kembali akan kejadian itu. 
 
Mengapa Tuhan?  
 
"Maafkan aku, Nau ... sungguh." 
 
"Jangan pernah meminta maaf ... Mas, maafmu tidak akan pernah mengembalikan apa pun lagi," cerca Naura dengan tatapan kosong mengarah ke depan.
 
"Oke aku akan menceritakan semuanya, Nau ...," sanggah Abdi 
 
Naura hanya berdiam diri dengan jantung yang berdebar ia tahan, sebenarnya dia tidak sanggup menerima penjelasan apa pun lagi, tetapi Naura menguatkan diri. Hanya untuk mengharapkan ketenangan diri, siapa tahu jika Naura mendengarkan penjelasan dari suaminya. Hatinya yang saat ini telah menggebu oleh dendam yang tiada henti, akhirnya bisa luluh juga.
 
"Sebenarnya beberapa tahun yang lalu papahku adalah mantan pembunuh bayaran ... Nau, perekonomian keluarga kami sangat minim. Hanya untuk makanku saja papah harus mengalah seharian tidak makan, agar aku dan adikku bisa menikmati Nasi dan lauk pauk dengan kenyang." Abdi menundukkan kepalanya sembari mengusap air matanya yang terlanjur jatuh dari bola mata indah itu.
 
"Tutup poin aja, aku nggak mau mendengarkan penderitaan kalian." Naura menimpali ketus.
 
Abdi mendongakkan kepalanya ke atas dengan berharap air matanya tidak terjatuh, "Dan di saat perekonomian kami sangat buruk, Bundaku terinfeksi virus yang sangat ganas. Dengan penyebaran yang sangat cepat akhirnya Bunda di vonis dengan diagnosa gagal hati," lanjut Abdi dengan suara yang menahan tangisan, bibirnya gemetar hebat.
 
Naura menatap Abdi dalam ... dan dengan perlahan Abdi menundukkan kepalanya lagi. "Di saat kami sedang sangat sekarat dalam hal apapun, Om Bayu datang bagaikan malaikat saat itu. Om Bayu menawarkan uang 23 Miliar hanya untuk menyingkirkan lawan bisnisnya, yaitu papamu ... Nau."
 
"Papahku yang sebenarnya sudah berhenti dari pekerjaan haram itu, dengan berat hati harus menerima uang itu. Hanya demi kami! Hanya demi Bunda sembuh, Nau!" teriak Abdi dengan terisak.
 
"Dan tepat di hari itu, di saat kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk melakukan perawatan. Papah melihat papahmu sedang mengendarai mobil kalian, dengan nafsu yang menggebu. Akhirnya papah dengan berani nya menyerempet mobil kalian, hingga mobil itu terbentur pembatas jalan. Sumpah demi Tuhan ... Nau, untuk pertama kalinya aku melihat dengan kedua bola mataku sendiri papah tersenyum licik dan melajukan mobilnya kembali dengan cepat." Abdi menarik napasnya berat lalu melanjutkan perkataannya kembali.
 
"Dan beberapa hari kemudian Bundaku dinyatakan berhasil menjalani pencakkon hati, dengan kemungkinan sembuh pun juga sangat besar. Kami bersenang-senang saat itu, menikmati hidup yang belum pernah kami nikmati sebelumnya. Tetapi kesenangan itu hanya sesaat. Saat papahku membaca berita di koran yang ternyata bukan hanya incarannya yang meninggal saat itu. Tapi hampir seluruh Anggota keluarganya!" 
 
"Papahku juga merasakan perasaan bersalah ... Nau! Papahku meninggal di dalam keadaan mengurung diri setelah pemberitaan itu! Dan Bunda ... Bunda memang sembuh hingga saat ini. Tetapi aku tidak lagi menemukan senyum di bibirnya. Maaf ... Nau, maafkan keluargaku. Aku mohon Nau!" dengan tangisan yang meledak Abdi bersimpuh di kedua kaki istrinya itu.
 
Naura kini hanya terdiam membatu, ntah apa lagi yang harus dirinya perbuat. Setelah mendengarkan penjelasan suaminya. Tetapi sebenarnya Naura pun bertanya dengan sebutan Bunda, apa Ibu mertuanya dan Bunda itu berbeda? Naura memikirkan banyak pertanyaan di otaknya.
 
"Bangun lah ... Mas, Aku maafkan," titah Naura, sembari membangunkan suaminya.
 
"O iya mas, Bunda yang Mas maksut itu. Apa orang yang berbeda dengan Ibu?" tanya Naura mengrenyit.
 
Abdi menganggukkan kepalanya. "Bundaku dari saat papah meninggal, kejiwaannya terganggu dan sekarang Bunda di tempati oleh Ibu di rumah sakit jiwa. Adikku jauh sebelum aku mengenalmu, sudah terpasung sendirian di rumah itu oleh Ibu. Ibu adalah istri ke dua papa ... Nau, Ibulah yang menikmati semua sisa uang itu Nau. Bayaran itu hanya kami pakai untuk operasi Bunda, sisanya Ibulah yang menikmatinya." Abdi menangis tersengal-sengal.
 
Kini Naura memeluk suaminya." Maafkan Aku ... Mas, Nau nggak tau ternyata keluarga Mas semenderita itu." Naura memeluk suaminya dengan erat. 
 
"Mas nggak papa ... Nau, Mas maklum. Mas pun jika di posisimu, akan melakukan hal yang sama. Mas sekarang bersyukur akhirnya Mas bisa menebus kesalahan keluarga Mas lewat dirimu. Mas janji akan membahagiakanmu ... Mas janji, Nau!" ujar Abdi dengan tetesan air mata yang berjatuhan di pipinya sedari tadi.
 
"Terus kalo boleh tau, Adik Mas kenapa di pasung Mas?" 
 
"Kata Ibu, si Berlin mengidap ke jiwaan sama seperti Bunda. Tetapi dengan minimnya uang si Berlin akhirnya di pasung sampai saat ini."
 
"Hah? Memang kau tau mas adikmu benar-benar sakit mental?" tanya Naura dengan tatapan nanar.
 
Abdi menggeleng dengan cepat, "Mas nggak tau detailnya ... Nau, Mas hanya sibuk membangun kembali perusahaan papah yang dulu sempat vakum karna ketidak adaannya dana investasi yang masuk. Sebenarnya Mas pun sangat terpukul, apalagi Berlin adalah satu-satu adik Mas." jawab Abdi pelan.
 
"Hah! Satu-satunya? Lalu Bryan, Mbak Nengsi?"
 
"Mereka anak tiri papah ... Nau, Bryan dan Mbak Neng adalah anak bawaan Ibu." Abdi mengusap air matanya kembali.
 
Naura tidak habis fikir serumit ini keluarga suaminya, sampai rumus fisika pun yang Naura fikir sangat rumit. Ternyata ada yang lebih rumit dari itu. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!