Kini Naura dan Abdi sedang menjadi perbincangan hangat oleh satu rumah sakit mangun kesumo. Mereka bak pasangan yang tak akan terpisahkan, setiap orang yang melihatnya akan dibuat mabuk kepayang oleh keharmonisan mereka, apalagi para kaum jomblo yang melihat bisa dipastikan mereka akan pinsan di tempat.
Drak ....
Drak ....
Ranjang tidur Naura dibawa ke ruang operasi, sepanjang perjalanan Abdi tetap menggengam erat jemari istrinya. "Kau harus kuat, Nau! Mas mohon," ucap Abdi seraya mencium jari jemari wanita cantik yang begitu amat ia cintai.
Naura tak menjawab, kini tubuhnya teramat sakit. Ntah karena efek obat yang ia minum atau karena memang kini tubuhnya mulai merasakan sakit karena penyakitnya? Naura pun tak tahu yang di pikirannya sekarang ialah berhasil atau tidaknya tindakan operasi ini.
Dan sekarang Naura memasuki ruang operasi, ruangan yang amat sangat dingin. Naura mempertaruhkan nyawa di ruangan ini ditemani para dokter dan perawat yang sama sekali ia tak mengenalinya.
Sedangkan Abdi yang menunggu di luar ruangan, hanya bisa berdoa, bibirnya terus menerus merapalkan doa tiada henti untuk sang istri. Sesekali Abdi mengusap tetesan Air mata yang tak sengaja terjatuh.
Kegelisahan Abdi disaksikan oleh para suster dan berhasil membuat para suster pun hanyut dalam ke khawatiran akan keselamatan Naura.
Kini Ibu Abdi pun datang menjenguk menantunya, bukan! Bukan untuk berbela sungkawa atas apa yang menimpa menantunya itu. Tetapi untuk memastikan Menantunya sudah mati atau masih Hidup. Jahat bukan?
"Sudahlah Abdi, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Jika Naura mati kau akan Ibu jodohkan dengan Anak Teman Ibu," ucap wanita paruh baya yang baru saja datang.
Sontak membuat orang di sekitar terbelalak mendengarnya. Termasuk para suster yang baru saja mengagumi keharmonisan sepasangan suami istri itu.
Mereka tak menyangka di balik keharmonisan rumah tangga Abdi dan Naura, ada Mertua yang jahat bak nenek lampir! Para Suster pun bergidik membayangkannya.
"Yah tak kirain hidup Mereka sempurna, suami ganteng, istri cantik. Holang kaya. Romantis pula! Ternyata ada nenek Lampir!" celetuk salah satu suster. Rekan suster yang mendengar perkataan temannya hanya bisa menggelengkan kepala.
Di sisi lain, Abdi yang sibuk sedari tadi berdoa tak mendengarkan celetukan mereka.
Dan Ibunya yang kesal karena merasa perkataanya tak di hiraukan, menampar Abdi dengan tas mewahnya. "Hey Abdi, ayok Kita pulang!" ajak Ibu Abdi dengan nada sedikit keras.
"Hah pulang? Di dalam ruangan itu Istri Abdi sedang mempertaruhkan nyawanya, Buk! Dan sekarang Ibuk nyuruh Abdi pulang?" Abdi mengeraskan suaranya seraya menunjuk ke arah pintu bertuliskan RUANG OPERASI.
"Untuk apa menunggu di sini Abdi? Buang-buang waktu, tidak ada yang berhasil dalam operasi ini percaya dengan Ibuk. Kita persiapkan saja acara Pemakaman untuknya, itu lebih berguna dibanding sibuk menangis!"
"Huuuuhhh, Buk. Abdi mohon. Tolong jangan berbicara seperti itu." Abdi menarik napas panjang dengan bola yang berkaca-kaca.
"Pak, tolong bawa ibuk saya keluar ya," perintah Abdi pada security di sana.
"Kau mengusir Ibuk? Hanya karna perempuan yatim piatu itu?" hardiknya dan menghempaskan lengannya dari cengkrama security.
Abdi tak menghiraukan perkataan Ibunya yang ada di benaknya sekarang, ialah Naura, Naura dan Naura! Abdi mengingat kembali pertemuannya dengan Naura saat pertama kali.
Saat itu Abdi adalah ketua BEM di Kampusnya, mereka sedang melakukan bakti sosial ke salah satu Panti asuhan di kota.
Abdi mengunjungi panti asuhan nusantara, setibanya di sana Abdi melihat sosok perempuan dengan rambut terurai, wajah yang sama sekali tak memakai makeup, namun anehnya gadis itu sangat terlihat cantik.
Gadis itu duduk di depan jendela melihat ke arah mereka, Abdi tersenyum ke arahnya lalu di balas senyuman itu dengan manis. Sejak saat itulah Abdi jatuh cinta pada gadis yang Abdi pun tak tahu itu siapa.
Ke esokan harinya, Abdi mengunjungi panti asuhan itu lagi.
Namun, sayangnya gadis itu tak kunjung terlihat, Abdi memberanikan diri menanyakan ke pengurus panti asuhan Buk Ranti namanya.
"Buk apa ada seorang gadis disini?" tanya Abdi
"Gadis? Hanya ada satu gadis disini. Dia bernama Naura," sahut Buk Ranti keningnya mengerut.
"Naura ... apa aku boleh bertemu Naura, Buk?"
"Tentu saja dong."
Buk Ranti membimbingku berjalan menemui Naura, dari kejauhan Naura sedang duduk melamun di teras belakang. Buk Ranti berkata, Naura adalah gadis yang tertutup. Hidupnya penuh misteri.
Dan benar saja, Abdi yang baru saja bertemu dengannya sudah melihat wajahnya terlalu di tutupi kesedihan. Naura memang tersenyum manis, tetapi sinar matanya menyeroti kenangan pahit yang akhirnya menyelimuti kepedihan di wajahnya.
Mulai dari hari itu, Abdi mulai menghibur Naura. Menjadi teman Naura dan membuat Naura tertawa sampai hilang kisah sedih di hatinya, meski sebenarnya Abdi pun tak tahu kisah seperti apa dan bagaimana? Yang jelas hal terpenting baginya adalah kepedihan itu sirna dari mata Naura.
Bulan demi bulan berlalu, Abdi semakin cinta dan sangat ingin selalu kehadiran Naura. Akhirnya Abdi memutuskan untuk menikahinya.
Namun, sayang restu Mereka terhalang oleh restu Ibu Abdi yang hanya memikirkan harkat martabat dan tahta.
Ibu terlalu egois dan menyampingkan perasaan anaknya, bagi dirinya status sosial itu penting.
Dan Naura ... Ibu anggap hanyalah benalu yang mempermalukan nama baik keluarga besar mereka.
Abdi tahu, hari demi hari Naura hanya menderita hidup dengannya. Meski bisa di bilang materi mereka lebih dari cukup. Tetapi, bagi Naura selama keberadaannya tidak dianggap di keluarga Abdi, itu sama saja menyiksa hati dan batinnya.
Dan kini ... Naura harus terbaring lemah di ranjang operasi dengan nyawa di ujung tanduk.
Abdi mengenang kenangan mereka ... lalu menghapus Air matanya.
Apa kali ini ia harus kehilangan wanita kesayangannya? Yang bahkan membayangkan hidup tanpa Naura pun, Abdi sangat takut.
Suster yang melihat Abdi sangat terpukul, menghampiri Abdi. "Maaf Pak jika lancang, Aku yakin Buk Naura baik-baik saja dan akan lekas sembuh."
"Terimakasih." Abdi tahu suster itu hanya menghiburnya.
****
6 jam berlalu ....
Kini Dokter berlalu lalang keluar. Abdi melihat mereka bingung? Dimana Istriku? Apa ia baik-baik saja? Kata-kata itu yang ingin Abdi ucapkan.
Namun, tak bisa, para dokter itu berlari begitu cepat keluar masuk dari dalam Ruangan operasi.
Abdi yang melihatnya menambah kekhawatiran di hatinya, kali ini jantungnya berdegup kencang saat mendengar ucapan salah satu dokter dari dalam ruangan itu. "Cepat-cepat! Pasien kritis." Semua dokter yang baru saja keluar langsung berlari lagi dalam ruangan.
Tubuh Abdi melemas seketika, hatinya tak terlalu kuat untuk menghadapi kenyataan. "Jangan Pergi, Nau ... Mas mohon, Sayang." Abdi lemah
Brugh! Abdi terjatuh pinsan seketika.
Di sisi lain di dalam ruangan, jantung Naura melemah, dengan alat bantu apapun tak merespon. Saat ini Naura bertemu Ibunya, Ayahnya, Adiknya bahkan Kakaknya.
Mereka berkumpul haru saling berpelukan, "Naura rindu kalian, Naura nggak mau lagi pisah dengan kalian," ucap Naura seraya memeluk keluarganya.
"Kami selalu menyayangimu, Nau. Ini belum waktunya kita berkumpul kembali. Suamimu menunggumu, Nau."
"Tapi, Buk, Pak?"
"Terbanglah bebas, Sayangku. Pergilah dari kandang untuk selamanya dan jadilah seseorang yang Ibu tidak akan pernah bisa," sahut Ibu.
Dittt ... Dittt .... Ditt ....
Monitor jantung kembali normal, kadar oksigen dalam tubuh pun kembali normal. Semua dokter tepuk tangan dengan hasil usaha mereka. Mungkin ini yang dinamakan Mukjizat.
Naura dibawa keluar dalam keadaan belum sadar, "Keluarga Naura?" panggil salah satu perawat.
"Suaminya pinsan, Kak. Tuh lagi di UGD. Sini biar saya aja yang bawa ke kamarnya," jawab salah satu suster di ruang tunggu.
Suster mengantar Naura ke kamar dan tak lama Naura sadar dari biusnya. "Mas? Mas?" panggil Naura.
Dia celingak celinguk Abdi tak ada di sekitarnya. Membuat Naura merasa bersedih, Naura mengira suaminya meninggalkan dirinya saat sedang menjalankan operasi.
"Suami Saya pulang ya Mbak." Tanya Naura pada suster jaga.
"Yah Buk, boro-boro untuk pulang. Makan juga kayanya enggak. Selama 6 jam, Buk. Suami Ibuk nungguin Ibuk."
Jawaban suster itu membuat Naura sedikit tersipu sekaligus bingung.
"Terus di mana suami saya?" tanya Naura heran.
"Pinsan, Buk ... masih di UGD"
"Lah kenapa, Sus? Apa suami saya sakit?"
"Nggak, Buk. Tadi Suami Ibuk panik. Sangking paniknya Eh pinsan!" sahut suster itu dan berhasil membuat Naura cekikikan.
Naura Meraba.
Kini rata ... terlintas kesedihan di benaknya, rasanya ingin menangis dan menjerit sekencang mungkin. Tetapi, semuanya tertahan, Naura ingin Suaminya melihat bahwa Naura baik-baik saja.
"Oke tenang ... tenang ... nggak boleh sedih! Aku ada suami yang sangat mencintaiku. Kurangku apa lagi?" Naura menggerutu menguatkan dirinya sendiri.
Di sisi lain, Abdi terbaring pinsan di UGD. "Pak ... Pak, sudah enakan Pak?" tanya Suster.
"Naura? Ya Tuhan Istriku," rengek Abdi
"Pak, Istri Bapak sudah sadar. Bapak yang dari tadi gak sadar-sadar!" cetus Suster
"Lah apa iya? Alhamdulillah," sahut Abdi sambil menyelonong pergi.
Abdi berjalan setengah berlari, ia tak sabar menemui istri kesayangannya ....
"Nau, Kau baik-baik saja?" tanya Abdi seraya memeluk Naura.
"Arh! Sakit, Mas," Rintih Naura
"Astaga, Nau. Maaf."
Abdi melihat ke arah dada Naura, kini dadanya benar-benar rata. Naura yang menyadari langsung menunduk. "Aku menjijikkan ya, Mas?"
"Ah! Tidak, Nau. Kau malah bertambah seksi!" bisik Abdi.
Naura hanya tersenyum mendengarnya.
"Mas boleh minta tolong? Antarkan Aku ke Toilet." Dan Abdi pun membantu membangunkan Naura.
"Hah? Hah! Kenapa ini?" jerit Naura, Abdi terkejut melihat Naura yang tiba-tiba menjerit histeris.
"Kenapa, Nau?" tanya Abdi panik.
"Kakiku, Mas! Nggak bisa digerakin. Aku kenapa Mas?" ucap Naura menangis. Kini Naura benar-benar takut. Mungkin atas penyakitnya Naura bisa menutupi ketakutannya. Tetapi ... kali ini? Apa ia lumpuh? Apa ia tak bisa bangun lagi? Pikiran Naura mengacau. Tubuhnya gemetar, ia menangis ketakutan.