Wanita Penghibur untuk Suamiku

Mengapa?

"Kamu kenapa, Nak? Merengut seperti orang yang habis kena sial tujuh turunan?" tanya Ibu Abdi yang tidak sengaja berpapasan.

 
"Aku kesel, Buk ... dengan Mbak Naura, selalu aja memerahi Mas Abdi. Kan kasian Mas Abdi." Aqila mengadu dengan mimik wajah yang dibuat seolah dirinya lah yang tidak bersalah.
 
"Memang Anak itu ya, Anak sialan! Anak miskin tidak tahu diri! Kalau bukan Abdi yang membawanya ke rumah ini, mungkin dirinya sudah menjadi gelandangan! Dirinya itu kan anak yatim piatu, tidak punya keluarga dan tidak punya siapa pun di dunia ini." Ibu berkata panjang lebar, di setiap rentetan kata-katanya tidak ada satupun yang tidak menyakiti hati Naura. 
 
Naura tersenyum tipis dipenuhi dendam, sedang menatap mereka diam-diam dari balik pintu kamarnya. Yang mereka tidak tahu adalah, bahwa sebenarnya selama ini Naura hanya berpura-pura belum sembuh. Padahal sebenarnya jauh dari sebelum suaminya mendapatkan wanita penghibur dirinya sudah dinyatakan sembuh total dalam segi apapun.
 
Naura sengaja memalsukan data-data riwayatnya ke pada suaminya sendiri.
 
"Heh." Naura tertawa kecil yang masih tetap menatap mereka.
 
"Kita mulai dari malam ini ya? Mulai dari mana ya kira-kira ... agar ibuku senang di surga?" celoteh Naura dengan sendirinya sembari memegang pisau yang di tusukkan ke pintu.
 
**** 
Di sisi lain Bram dan Zoya masih menatap miris ke depan.
 
 
"Oh iya ... Zoy, Aku akan memberitahumu yang lumayan ngebuat kamu bakal kaget sih," ucap Bram dengan keraguan.
 
"Apa lagi?" sahut Zoya malas. 
 
"Sebenarnya Naura tidak lumpuh! Tadi pagi, saat Aku sedang sibuk menyusuri tubuhnya. Dia dengan reflek bangun mengambil Air dari keran, karna matanya perih terkena sabun katanya." 
 
"Hah? Masa? Terus apa untungnya dia berpura-pura dengan kita ya?" jawab Zoya yang tidak habis pikir dengan sahabat wanitanya itu. 
 
"Naura sih bilang, dia berpura-pura lumpuh agar dendamnya terbalas. Itu salah satu strategi dia dan tadinya sih mau ngomong ke kita, tapi nanti ada waktunya sendiri katanya. Dan dia memohon biar kamu nggak di beri tahu. Takut kamu keceplosan katanya," ucap Bram dengan menjelaskan secara detail.
 
Zoya hanya membenamkan kepalanya di jaket Bram ... dirinya ingin pulang sebentar ... tetapi, takut jika nanti malah dirinya tidak dikabarkan sama sekali kabar dari Naura.
 
"Oh iya ... Zoy, kamu tau panti asuhan tempat Naura tinggal dulu?" tanya Bram.
 
"Jangankan panti asuhannya ... Bram, tempat tinggal Naura yang dulu pun aku tak tahu." jawab Zoya melemah.
 
Bram mengelus bahu sahabatnya itu dengan lembut dan menasihatinya untuk segera pulang. Meski setiap ajakannya selalu ditolak Zoya. Akhirnya Bram berhasil juga untuk mengantarkan Zoya pulang dengan perjanjian jika nanti ada kabar dari Naura. Dirinya harus dikabari. 
 
****
 
 
Pukul 21.48 WIB
 
Naura Tahu, jam segini Mertuanya sudah nyenyak tidur. Dan keadaan saat ini sangat tepat karena kebetulan suaminya dan Aqila tadi berpamitan untuk keluar rumah ntah kemana. 
 
Naura melangkah sangat pelan, jalan menjinjit hampir tidak terdengar suara tapak kaki dengan baju gamis hitam gombrong dan rambut yang terurai. 
 
Cklek ....
 
"Mantap! Pintu kamar Ibu selalu saja tidak terkunci. Dasar Wanita bodoh!" umpatnya. Kini Naura berjalan mengarah pada wanita tua yang terlentang tidur pulasnya. 
 
Naura membiusnya dan menganestesi telapak kakinya, dirinya kini mengeluarkan paku beton yang sedari tadi Naura sembunyikan di dalam saku.
 
Naura menatap paku itu dengan tatapan buas dan puas. "Kau akan menjadi senjata pertamaku untuk pembalasan dendam ini." Naura tersenyum licik.
 
Dengan cepat Naura memaku telapak kaki mertuanya, cipratan demi cipratan yang berwarna merah mengalir dari sana. Lagi-lagi Naura hanya tersenyum, ke arah wanita yang masih tertidur ntah karena pulas atau karena bius yang masih melekat di tubuhnya.
 
Kini Naura melangkah dengan cepat ke arah kamarnya, saat mendengar suara pintu terbuka dari arah lantai bawah. 
 
Dirinya bergegas membuka semua pakaian itu, mencuci tangannya dan tidur kembali ke kasur seolah sedang tidak terjadi apa-apa. 
 
Naura membuka ponselnya, membuat grup yang berisi dirinya, Bram dan Zoya. Lalu mengirim pesan grup. 
 
Misi pertama, Berhasil! 
 
Dengan gamblang Naura menulis itu di grup yang baru dia buat, pesan itu membuat respon cepat dari kedua sahabatnya.
 
"Misi?"
 
"Misi apa?"
 
"Apa rencanamu, Nau? Apa yang sudah kau buat?" rentetetan pertanyaan pesan dari Bram.
 
"Apapun rencananya Aku harap kau akan baik-baik saja sayang." Zoya menimpali pesan itu.
 
"Aku membuat Ibu mertuaku tidak bisa berjalan untuk sementara waktu." Naura membalas pesan grup dengan emoticon tertawa.
 
"Apa maksutmu, Nau? Jangan bertindak emosi. Aku mohon," balas Bram diiringi balasan emoticon terkejut dari Zoya.
 
Kemudian Naura menghapus lagi grup itu, Bram dan Zoya di buat panik dengan sendirinya. Bram menghubungi Naura berkali-kali, akan tetapi panggilan itu dengan cepat di tolak oleh Naura. 
 
"Jangan hubungi Aku sekarang ... Sayang, kumohon." 
 
Bram terkejut membaca pesan dari kontak bernama Naura, "Sayang katanya?" bibir Bram tersenyum reflek. 
 
Cklek! 
 
Naura tahu Bram dan Aqila sedang melangkah masuk ke arah nya, dirinya seolah-olah sedang tidur dengan lelap. 
 
Mas Abdi mencium kening Naura di tengah lelap tidurnya, kini hanya ada perasaan muaklah yang  terlintas di benaknya.
 
"Ingin rasanya kubunuh kalian satu persatu dan mati di tanganku!" umpat Naura di dalam hatinya.
 
Hatinya sudah sangat penuh dengan dendam yang mendalam. Air mata yang sekarang sering terjatuh pun rasanya enggan untuk terjatuh demi pria yang katanya dulu mencintainya. 
 
Dulu pria ini yang sering membawakan sebucket bunga besar di setiap hari ....
 
Dulu bibir pria ini yang sering mencumbunya di setiap malam ....
 
Tetapi ....
 
Itu dulu! 
 
Ntah mengapa semakin membayangkan hal romantis di saat dulu, malah semakin membuat dada Naura semakin sesak.
 
"Aaaaaaaaaaaaaaaa." Tiba-tiba teriakan keras dari sang mertua membuat semuanya panik. 
 
 
Naura yang masih berpura-pura tidur masih dengan posisi yang sama, menahan tubuh untuk berusaha tidak reflek ingin tahu bagaimana respon mereka.
 
Terdengar dari dalam kamar, Ibu menangis dengan sangat kencang. Naura yang senang mendengar tangisan itu, tersenyum kecil dalam mata yang masih terpejam.
 
Tangisan yang dulu sering Naura tumpahkan karena dirinya, kini dirinyalah yang menangis karena ulah Naura, ia masih tertawa kecil dengan alis yang terangkat sekarang.
 
"Nau ... Nau," panggil suaminya menggoyangkan tubuh Naura yang masih dengan berpura-pura untuk terlelap.
 
"Euhhhhmmm." Naura meregang lalu menatap bingung suaminya, seolah tidak tahu apa yang sedang terjadi.
 
"Nau, apa kamu tau tadi ada yang masuk?" tanya Abdi. 
 
Naura hanya mengangkat kedua tangannya, "Memangnya kenapa, Mas?" tanya Naura dengan tatapan heran yang di buat-buat olehnya.
 
"Kau harus lihat Ibu sekarang," sahut suaminya sembari menaikkan Naura ke kursi roda. 
 
Sesampainya di depan kamar, Naura melihat Mertuanya meringkuk menahan kesakitan. Wajahnya pucat seperti kematian akan sangat cepat menyambangi dirinya
 
 
Menyaksikan itu ingin sekali Naura tertawa sangat kencang saat ini.
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!