Wanita Kedua
Keputusan Tiara
Setelah salat subuh Tiara menyibukkan diri di dapur. Meskipun dia sedang tak ingin berbicara dengan suaminya tapi wanita itu tetap berusaha untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Yang membuat sarapan kesukaan suami dan anaknya.
Setelah semalaman berpikir Tiara memutuskan untuk mencoba menjalani kehidupan ini lebih dulu. Jika dia kuat bertahan maka dia akan terus berada di sisi suaminya tapi jika dia sudah nggak kuat maka dia akan memilih untuk menyerah.
Menu sarapan pagi sudah terhidang di atas meja makan. Damar tersenyum senang melihat sang istri sudah kembali menjalankan rutinitasnya. Rumah yang beberapa hari ini terasa begitu sunyi tanpa kehadiran Tiara sekarang mulai terasa hangat karena wanita yang menjadi ratu di rumah itu sudah kembali.
Damar menatap punggung Tiara dengan perasaan tak menentu. berbagai rasa bercampur aduk di dalam hatinya saat ini. Ingin mendekat tapi ada rasa segan setelah sang istri mengetahui rahasianya. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Damar memilih untuk mendekat dan duduk di salah satu kursi yang berhadapan dengan sang istri.
"Wah, kelihatannya enak," ujar Damar dengan mata berbinar-binar.
Pria itu berusaha bersikap biasa saja agar tidak membuat sang istri kurang nyaman. Menyendok nasi goreng seafood kesukaannya lalu menambahkan satu telor ceplok dan beberapa potong mentimun.
Senyum pria itu mengembang sempurna kala lidahnya dimanjakan oleh rasa nikmat dari makanan buatan sang istri.
"Kamu nggak ikut makan, Sayang? Ini enak sekali loh!" Damar menatap Tiara yang bergeming di hadapannya.
Wanita itu menatap suaminya sekilas. Tanpa ekspresi lembut seperti biasanya. Lalu ia pergi dari ruang makan menuju ke kamar anaknya.
Damar hanya bisa mendesah kecewa. Nyatanya Tiara masih belum benar-benar menerima dirinya. Nasi goreng yang semula terasa sangat nikmat di mulut, mendadak menjadi hambar. Namun pria itu tetap memaksakan diri untuk menghabiskan semua makanan yang sudah berada di dalam piringnya. Bagi lelaki itu pantang membuang-buang makanan karena di luara8sana masih banyak orang yang kelaparan.
Selesai sarapan Damar gegas mencari keberadaan sang istri. Dia merasa meskipun Tiara sudah kembali ke rumah ini tapi wanita yang sangat ia cintai itu menghindari bertatap muka dengannya.
Bagaimana dia mau bicara jika didekati saja Tiara langsung pergi. Sungguh Damar tidak pernah terpikir nasib pernikahannya dengan Tiara akan seperti ini. Kebahagiaan yang dia reguk selama dua tahun belakangan ini seolah menguap begitu saja.
"Dek?" Damar mendekati sang istri yang tengah merajut di taman belakang. Wanita itu tampak fokus membuat jaket kecil untuk putrinya. Musim penghujan sudah mulai tiba dan udara malam kerap kali menusuk tulang.
Lelaki yang terlihat sedikit tak terurus itu mendekati istrinya yang terus menenggelamkan diri dengan rajutannya. Seolah kehadirannya di sana tidak menganggu sama sekal. Tanpa Damar sadari, dalam hati Tiara mati-matian menahan gemuruh dalam dada.
Ada rindu yang tak tersampaikan di sana bercampur kecewa dan kebencian hingga membuat wanita beranak satu itu bingung menentukan sikapnya. Bohong kalau Tiara tak lagi memiliki rasa cinta untuk lelaki yang telah menghalalkannya dua tahun lalu itu.
Sikap manis suaminya selama ini benar-benar membuai Tiara hingga ia jatuh terlalu dalam pada pria tersebut. Tak heran ketika mengetahui pengkhianatan suamiya, hati Tiara begitu sakit.
"Dek, apa yang harus mas lakukan untuk membuatmu kembali seperti dulu?" lirih Damar.
Pria itu tak berani untuk sekadar menyentuh tangan wanita yang mampu membuat hatinya terus bergetar indah setiap kali berdekatan dengannya itu.
"Kaca yang sudah terlanjur pecah tak bisa kembali seperti semula, Mas. Begitu pula dengan hati ini." Tiara berkata lirih tanpa menatap suaminya.
Mendengar jawaban sang istri, denyutan di dalam hati lelaki itu semakin menjadi.
"Maafkan aku, Dek. Kamu boleh marah dan memaki-makiku sepuasmu. Tapi tolong bicaralah. Apapun yang ingin kamu katakan, jangan diam saja seperti ini." Damar mengusap wajahnya kasar.
Tiara masih setia dengan kebisuannya. Wanita itu seolah menganggap Damar tak ada. Mengingat lelaki di samping ini juga mengatakan hal yang sama pada waanita lain rasanya Tiara tak sanggup.
Ingin ia tanyakan sejak kapan suaminya mengkhianati pernikahan ini tapi lidahnya kelu. Nyatanya Tiara masih belum siap mendengar fakta. Hatinya belum sekuat baja hingga tak merasa apa-apa ketika mendengar pengakuan suamiya. Alhasil dia hanya memilih untuk bungkap dan memendam semua perasaan yang menggerogoti hatinya.
Helaan nafas panjang terdengar berkali-kali. Damar seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Dek. Aku tahu kamu pasti terluka. Tapi semuanya sudah terjadi. Tidakkah kita jalani semua ini dengan ikhlas, makan hati kita akan menjadi lapang?"
Tiara akhirnya menoleh. Menatap suaminya dengan mata melotot tak suka.
Damar tersenyum. Setidaknya sang istri sudah mau merespon ucapnya. Itu lebih baik daripada terus membisu hingga membuatnya kebingungan.
"Nasi sudah menjadi bubur. Kenapa tidak dimakan saja sekalian? Toh bubur rasanya juga nikmat. Apa yang terjadi dalam rumah tangga kita sudah takdir, Dek. Daripada kita terus begini, kenaoantidka kita jalani saja dengan ikhlas? Mas percaya, jika kamu mengenal Lela, pasti kalian berdua akan sangat cocok dan bisa menjadi partner yang kompak."
Tiara berdiri dan menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Enak saja kamu bilang begitu, Mas? Kamu pikir hatiku inibterbuat dari apa?" Dada Tiara terlihat na8k turun tak beraturan. Wajahnya sudah memerah dengan kedua tangan mengepal di samping tubuh.
Damar berusaha untuk menenangkan sang istri dengan merengkuh tubuhnya. Namun dengan gerakan cepat Tiara menghindar. Wanita itu terlihat waspada dengan setiap gerakan suaminya.
"Kamu enak bilang seperti itu karena di sini kamu yang sangat diuntungkan. Kamu bisa mendatangi dua wanita secara bergiliran sedangkan kami harus menahan sakit hati atas hal ini. Dasar serakah!" umpat Tiara lalu meninggalkan suaminya yang mematung.
"Salah ngomong lagi?" keluh Damar lalu kakinya menendang-nendang udara seperti ingin melampiaskan amarahnya yang selama ini ia tahan.
Lagipula kenapa lelaki itu harus marah? Bukankah ini yang dia inginkan? Memiliki dua istri yang cantik-cantik?
Damar berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya menyusul sang istri. Dia tak ingin menyerah begitu saja. Tekatnya sudah bulat untuk mempertahankan kedua istrinya apapun yang terjadi. Egois? Mungkin menurut sebagian orang jawabnya iya. Namun lelaki itu meyakini bahwa memiliki lebih dari satu istri bukanlah keharaman.
Bahkan menurut agama, dibolehkan seorang suami untuk memiliki dua, tiga, atau empat orang istri. Lagipula Damar merasa selama ini sudah bisa berbuat adil terhadap dua istrinya tersebut. Terbukti selama dua tahun ini tidak pernah terjadi gejolak apapun sampai Tiara mengetahui kalau dirinya memiliki istri lain selain dirinya.
Di saat ia sudah dengan dekat Tiara, mendadak ponselnya berbunyi. Awalnya dia akan mengabaikannya karena saat ini urusannya dengan Tiara jauh lebih penting. Namun karena dering itu tak berhenti dan terus mengganggunya, mau tak mau dia mengangkat.
Alisnya mengernyit saat melihat siapa orang yang menelponnya di saat seperti ini. Ada keraguan tiba-tiba menyusup dalam hatinya.
Sementara Tiara memperhatikan kebingungan suaminya itu dan menunggu langkah apa yang akan diambil oleh suaminya saat ini. Karena Tiara sudah bisa menebak
siapa yang menelpon suaminya saat ini.