Wanita Kedua
Catur Tanpa Raja
Lantai 40 Global Group biasanya bergetar oleh langkah kaki tegap Tuan Hardian yang membuat para staf menahan napas. Kini, keheningan yang berbeda merayap di sana—bukan keheningan karena takut, melainkan keheningan dari sebuah mesin besar yang sedang dibongkar paksa.
Damar berdiri di depan jendela kaca besar, menyesap kopi pahitnya. Tidak ada lagi jas mahal yang kaku; ia hanya mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung hingga siku. Di belakangnya, Kiara sedang sibuk dengan tumpukan berkas dari map hitam yang kini telah berpindah ke dalam tablet digital.
"Mas, audit Sektor 7 sudah keluar," suara Kiara memecah kesunyian. Ia berjalan mendekat, menyodorkan layar tablet. "Total kerugian lingkungan mencapai angka yang... gila. Tapi setidaknya, semua aliran dana itu sudah terlacak kembali ke rekening cangkang milik ayahmu."
Damar menghela napas, uap kopi menerpa wajahnya. "Dan Reno? Dia masih bersikeras bahwa tanda tangannya dipalsukan?"
"Dia tidak hanya bersikeras, Mas," Kiara terkekeh sinis. "Dia sedang di lobi sekarang. Mengamuk karena akses kartu magnetiknya dicabut."
Belum sempat Damar menjawab, pintu jati ruangan itu terbuka kasar. Reno masuk dengan wajah merah padam, diikuti dua petugas keamanan yang tampak serba salah.
"Damar! Apa-apaan ini?" teriak Reno, menepis tangan petugas keamanan. "Kau pikir karena Ayah sudah tidak ada, kau bisa menyingkirkanku begitu saja? Aku pemegang saham sepuluh persen di sini!"
Damar tidak berbalik. Ia tetap menatap dermaga di kejauhan. "Sepuluh persen yang kau dapatkan dari hasil 'mengamankan' limbah Proyek 1994, Reno? Itu bukan saham. Itu bukti kejahatan."
"Kau jangan sok suci!" Reno melangkah maju, memukul meja kerja Damar dengan keras. BRAK! "Kau menikmati fasilitas dari uang itu sejak kecil. Sekolah di luar negeri, mobil mewah, semua itu dari keringat Ayah yang sekarang kau injak-injak namanya!"
Damar perlahan berbalik. Matanya dingin, setajam silet. "Perbedaannya adalah, aku berhenti saat aku tahu itu kotor. Kau? Kau justru ingin menambah lumpurnya agar kau bisa tetap tenggelam di dalamnya."
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan restrukturisasi gila ini," desis Reno, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Aku sudah bicara dengan dewan komisaris. Mereka tidak suka dengan caramu yang 'terlalu bersih'. Bisnis butuh tangan kotor, Damar. Dan kau tidak punya itu."
Kiara melangkah maju, berdiri di samping Damar. Ia melipat tangan di dada, menatap Reno dengan tatapan meremehkan. "Tangan kotor bisa dicuci, Reno. Tapi tangan yang berdarah akan meninggalkan bekas di mana pun ia menyentuh. Dewan komisaris? Oh, maksudmu Pak Baskoro dan kawan-kawannya yang tadi pagi baru saja menandatangani surat pengunduran diri massal?"
Reno tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. "Apa?"
"Baskoro tahu kapan harus melompat dari kapal yang tenggelam," lanjut Damar tenang. "Dia pengacara yang cerdas. Dia tahu semua dokumen di USB yang kuterima tempo hari—yang kau pikir tidak pernah ada—berisi rincian setiap pertemuan rahasiamu dengan kontraktor limbah itu."
"Itu gertakan," suara Reno mulai bergetar. "Kau tidak punya bukti itu."
Damar merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah flashdisk kecil. "Mau kita putar di layar besar ini? Atau kau mau membawanya sendiri ke Kejaksaan?"
Reno terdiam. Ia menatap flashdisk itu seolah-olah itu adalah granat yang siap meledak. Selama ini, ia selalu merasa aman karena Hardian selalu ada untuk membereskan kekacauannya. Tanpa bayang-bayang ayahnya, Reno hanyalah seorang pria kecil yang memakai sepatu yang terlalu besar untuknya.
"Kau... kau menghancurkan keluarga kita sendiri, Damar," bisik Reno, mencoba memainkan kartu emosional yang sudah usang.
"Keluarga kita sudah hancur sejak kebohongan pertama dibuat, Ren," balas Damar datar. "Sekarang, keluar dari kantorku. Sebelum petugas keamanan menyeretmu ke gerbang depan di depan kamera para wartawan yang sudah menunggu di bawah."
Reno menatap Damar dan Kiara bergantian dengan penuh kebencian. "Ini belum selesai. Kalian pikir kalian sudah menang? Dunia bisnis tidak bekerja seperti dongeng. Kalian akan butuh aku saat investor asing mulai menarik diri."
"Kami sudah punya investor baru," sela Kiara dengan senyum tipis. "Seseorang bernama Elena. Dia sangat tertarik dengan proyek pembersihan limbah laut kita."
Mendengar nama itu, tubuh Reno menegang sesaat, namun ia tidak tahu siapa Elena sebenarnya. Dengan dengusan kasar, ia berbalik dan melangkah keluar, menabrak pintu dengan bahunya.
Setelah pintu tertutup, Kiara mengembuskan napas panjang. Bahunya yang tegang perlahan merosot. "Dia tidak akan menyerah secepat itu, kan?"
"Reno adalah tipe orang yang akan membakar seluruh rumah hanya untuk membunuh seekor tikus," jawab Damar. Ia meletakkan kopinya yang sudah dingin. "Tapi dia kehilangan korek apinya hari ini."
Damar berjalan mendekati Kiara, memegang kedua bahu istrinya. "Kau hebat tadi. 'Tangan yang berdarah akan meninggalkan bekas'. Sejak kapan kau jadi puitis sekaligus mengancam?"
Kiara tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Damar. "Sejak aku menyadari bahwa menjadi baik saja tidak cukup untuk menghadapi orang-orang seperti mereka. Kita harus menjadi cerdas."
"Dan berani," tambah Damar, mencium puncak kepala Kiara. "Terima kasih sudah bertahan, Kiara. Aku tahu ini bukan kehidupan yang kau bayangkan saat kita menikah."
"Kehidupan yang kubayangkan terlalu membosankan, Mas," Kiara mendongak, matanya berbinar. "Tapi, apakah kita benar-benar bisa mengubah Global Group? Nama ayahmu sudah hancur di media. Saham kita merosot tajam pagi ini."
"Biarkan saja merosot. Kita akan membelinya kembali saat harganya menyentuh dasar. Kita akan membangun fondasi yang baru," Damar menatap ke arah meja kerjanya, di mana sebuah foto lama mereka berdua—sebelum semua kekacauan ini dimulai—terpajang. "Sore ini, aku ingin kita ke makam. Makam yang sebenarnya."
"Makam siapa?"
"Makam tanpa nama di pinggiran kota. Tempat di mana 'Lela' yang asli seharusnya berada. Aku ingin meminta maaf padanya karena telah membiarkan identitasnya dicuri selama ini."
Matahari mulai condong ke barat saat mereka meninggalkan gedung Global Group. Kota itu tampak berbeda di mata mereka; tidak lagi seperti tumpukan gedung yang menyimpan rahasia, melainkan sebuah kanvas kosong yang siap dilukis kembali.
Namun, saat mereka berjalan menuju tempat parkir bawah tanah yang sepi, langkah Damar terhenti. Perasaannya tidak enak. Suasana terlalu sunyi, bahkan untuk ukuran sore hari di area VIP.
"Mas? Ada apa?" tanya Kiara, menyadari perubahan sikap suaminya.
"Tunggu di sini," bisik Damar.
Ia melangkah beberapa meter ke depan, ke arah jip tua mereka yang terparkir di sudut. Di bawah remang lampu neon yang berkedip, ia melihat sesuatu yang aneh. Sebuah kotak kecil berwarna merah marun terletak di atas kap mesin.
Jantung Kiara berdegup kencang. "Kotak itu... tidak mungkin."
Damar mendekat dengan waspada. Kotak itu identik dengan kotak yang memulai seluruh teror ini. Dengan tangan sedikit gemetar, Damar membuka tutupnya. Di dalamnya tidak ada kunci kuno, melainkan sebuah foto polaroid yang masih basah.
Foto itu diambil dari jarak jauh, memperlihatkan Kiara dan Damar yang sedang berdiri di jendela lantai 40 tadi, hanya beberapa menit yang lalu. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan yang kasar, berbeda dengan tulisan Lela yang anggun.
'Permainan catur belum berakhir hanya karena Rajanya mati. Masih ada Pion yang bisa berubah menjadi Ratu yang mematikan. Sampai jumpa di Sektor 9.'
"Reno?" bisik Kiara, wajahnya memucat.
"Bukan," jawab Damar, matanya menyisir kegelapan tempat parkir. "Ini bukan gaya Reno. Dia terlalu emosional untuk melakukan ini."
Tiba-tiba, suara mesin mobil menderu dari arah belakang mereka. Sebuah mobil hitam dengan kaca gelap meluncur cepat, namun bukan ke arah mereka, melainkan ke arah pintu keluar. Sebelum menghilang, kaca belakang mobil itu turun sedikit, memperlihatkan sesosok pria yang sangat mereka kenal, namun seharusnya sedang berada di balik jeruji besi rumah sakit jiwa kepolisian.
"Itu... dokter pribadi Ayah?" Kiara menutup mulutnya dengan tangan.
Damar menggenggam foto itu hingga remuk. Ia baru menyadari bahwa gurita yang dibangun ayahnya memiliki kaki yang jauh lebih banyak dan lebih panjang dari yang ia duga. Hardian mungkin sudah mati, tetapi sistem yang ia ciptakan memiliki mekanisme pertahanan otomatis yang kini mulai mengincar mereka.
Ponsel Damar bergetar di sakunya. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Ada satu rahasia lagi yang tidak sempat diceritakan Elena padamu, Damar. Tentang apa yang sebenarnya ada di dalam botol vitamin yang diminum ibumu sebelum dia meninggal dua puluh tahun lalu. Datanglah ke Sektor 9, atau rahasia ini akan terkubur bersama ledakan berikutnya.”
Damar menoleh ke arah Kiara. "Kiara, kau harus pergi dari sini sekarang. Bawa mobil ini, pergi ke rumah aman yang sudah kita siapkan."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!"
"Ini berbeda, Kiara. Mereka tidak mengincar harta lagi," suara Damar terdengar parau. "Mereka mengincar sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang bahkan Lela pun tidak tahu."
Di kejauhan, terdengar suara ledakan kecil dari arah tangki penyimpanan bahan bakar di ujung pelabuhan. Asap hitam mulai membubung tinggi ke langit senja. Sektor 9, kawasan industri terbengkalai yang paling beracun di kota itu, baru saja memberikan sinyalnya.
"Siapa sebenarnya 'Elena', Mas?" tanya Kiara tiba-tiba, suaranya bergetar hebat. "Kenapa dia memberiku saham atas nama Elena, bukan Lela?"
Damar terdiam. Ia menatap foto polaroid di tangannya sekali lagi. Di sudut foto itu, ia melihat bayangan seseorang yang berdiri di belakang mereka di dalam kantor tadi—bayangan yang tidak mereka sadari keberadaannya.
Dunia yang mereka kira sudah mulai terang, tiba-tiba kembali tertutup kabut yang lebih pekat.
"Ayo, Kiara," ujar Damar dingin, matanya kini memancarkan tekad yang gelap. "Kita akhiri ini di tempat semuanya dimulai."