Wanita Kedua

Siapa Sarah?

Udara di dalam kamar itu mendadak terasa berat dan beracun. Bau gas yang menyengat—campuran antara belerang dan sesuatu yang lebih tajam, mungkin bahan kimia pembersih—mulai memenuhi paru-paru Kiara. Di depannya, wanita dengan wajah separuh hancur itu masih mematung, memegang pemantik api yang apinya menari-nari kecil, seolah-olah nyawa Kiara hanya bergantung pada satu jentikan jari.

"Siapa kau sebenarnya?" suara Kiara keluar sebagai bisikan yang tercekik. Ia menekan punggungnya ke lemari kayu, mencari celah untuk lari, namun kakinya terasa seperti jeli.

Wanita itu melangkah maju. Cahaya dari pemantik api membuat bayangannya di dinding tampak seperti monster yang membesar. "Lela selalu merasa berutang pada keluargamu. Dia lemah. Dia memberikan segalanya pada putri dari orang yang telah menghancurkan hidup ayahku di penjara!"

"Penjara?" Kiara mencoba menjernihkan pikirannya di tengah rasa pening yang menghantam. "Ayahku korban kecelakaan! Dia tidak pernah memenjarakan siapa pun!"

"Karena ayahmu adalah saksi kunci!" raung wanita itu. Suaranya pecah, penuh amarah yang telah mengendap bertahun-tahun. "Kesaksiannya yang membuat ayahku, sopir keluarga Anggraini, membusuk di sel sementara tuan besar Anggraini melenggang bebas. Lela mencoba menebus dosa ayahnya padamu, tapi siapa yang menebus nyawa ayahku?"

Klik.

Wanita itu mematikan pemantiknya sesaat, hanya untuk menikmat kegelapan total sebelum menyalakannya lagi. Bau gas semakin pekat. Kiara tahu, satu percikan api yang cukup besar sekarang akan mengubah kamar ini menjadi tungku api raksasa.

"Kiara! Jangan bergerak!"

Suara Damar terdengar dari balik pintu, namun pintu itu ternyata telah diganjal dari luar. Terdengar hantaman keras—Damar mencoba mendobraknya.

"Jangan masuk, Mas! Ada gas!" teriak Kiara. Suaranya berakhir dengan batuk hebat. Oksigen di ruangan itu menipis dengan cepat.

Wanita misterius itu menyeringai. "Selamat tinggal, Nyonya Besar."

Ia melemparkan pemantik api yang menyala ke arah tumpukan gorden satin di sudut ruangan.

 

Wush!

Api menyambar gorden dengan kecepatan yang mengerikan. Sifat gas yang mudah terbakar membuat udara di sekitar mereka seolah-olah meledak dalam gelombang panas. Kiara terlempar ke lantai saat api mulai merambat ke langit-langit.

Wanita itu mencoba melarikan diri melalui jendela balkon, namun ia meremehkan kecepatan rambat api. Sebuah pigura foto besar di dinding jatuh, menghalangi langkahnya dan menjebaknya di sudut yang mulai dikepung api.

"Kiara!"

BRAK!

Pintu kamar hancur. Damar menerobos masuk dengan handuk basah yang melilit wajahnya. Di belakangnya, beberapa petugas keamanan apartemen membawa tabung pemadam api.

Pandangan Kiara mulai menggelap. Ia melihat bayangan Damar yang menerjang melalui tirai api. Rasanya seperti mimpi buruk yang tidak berujung. Ia merasa tubuhnya diangkat, didekap erat ke dada yang bidang dan hangat.

"Aku memegangmu, Sayang. Bertahanlah," bisik Damar. Suaranya parau, penuh ketakutan yang belum pernah Kiara dengar sebelumnya.

"Mbak... Lela..." gumam Kiara tidak jelas. Tangannya masih mencengkeram erat amplop coklat berisi rahasia masa lalu itu, bahkan saat kesadarannya mulai hilang.

Damar membawa Kiara keluar tepat saat plafon kamar runtuh dengan dentuman memekakkan telinga. Di dalam kamar, suara jeritan wanita misterius itu tenggelam oleh deru api dan semprotan powder dari tabung pemadam.

 

Kiara terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di tenggorokannya. Hal pertama yang ia dengar adalah bunyi ritmis dari mesin monitor jantung. Pip... pip... pip...

Ia berada di ruang perawatan VIP. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah gorden, terasa lembut namun menyilaukan. Di samping tempat tidurnya, Damar duduk tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, kepalanya bersandar di pinggiran kasur. Tangannya masih menggenggam jemari Kiara, seolah takut jika ia melepaskannya, istrinya akan menguap menjadi asap.

Kiara mencoba bergerak, dan rasa sakit di dadanya membuatnya meringis.

Damar langsung terjaga. Matanya merah, ada jelaga yang masih tertinggal di garis rambutnya, namun binar lega yang terpancar darinya begitu nyata.

"Jangan banyak bicara dulu," kata Damar cepat, suaranya serak. Ia segera menuangkan air putih ke gelas. "Dokter bilang paru-parumu sempat menghirup terlalu banyak karbon monoksida, tapi kau akan baik-baik saja."

Kiara meminum air itu dengan rakus. Setelah rasa perih di tenggorokannya berkurang, ia menatap Damar dengan mata yang berkaca-kaca.

"Wanita itu... siapa dia, Mas?"

Damar menghela napas panjang, wajahnya mengeras. "Namanya Sarah. Dia putri dari sopir pribadi keluarga Lela dulu. Ternyata selama ini dia menyamar sebagai perawat dengan bantuan Reno. Reno menjanjikannya uang untuk menyingkirkanmu, sementara Sarah memiliki dendam pribadinya sendiri."

"Dia bilang ayahku... ayahku yang membuat ayahnya dipenjara."

Damar terdiam sejenak. Ia mengambil amplop coklat yang ditemukan Kiara semalam—amplop yang masih digenggam Kiara bahkan saat pingsan.

"Lela sudah menceritakan semuanya dalam catatan ini, Kiara. Aku baru membacanya saat kau tak sadarkan diri tadi malam," Damar menunduk. "Lela menyimpan rahasia ini sendirian selama bertahun-tahun. Ayahnya, Tuan Anggraini, memang bersalah. Ayahmu adalah orang jujur yang menolak disuap untuk merubah kesaksian tentang kecelakaan itu. Karena kejujuran ayahmu, ayah Sarah masuk penjara dan keluarga Anggraini harus membayar kompensasi besar yang hampir membuat mereka bangkrut saat itu."

Kiara memejamkan mata. Benang merah itu kini terbentang jelas. Lela bukan sekadar memberikan cinta, ia mengembalikan martabat yang pernah dirampas dari keluarga Kiara.

"Jadi, Mbak Lela menikahimu karena dia ingin berada dekat dengan keluarga Hardian agar bisa mencariku?" tanya Kiara pelan.

"Mungkin," jawab Damar jujur. "Tapi satu hal yang pasti, Kiara. Lela mencintaiku dengan caranya sendiri, dan di akhir hayatnya, dia tahu bahwa hanya kau satu-satunya wanita yang bisa dipercaya untuk menjaga aku dan Ara. Dia tidak hanya menebus dosa ayahnya, dia sedang menyelamatkan kita semua."

 

Seminggu kemudian, Kiara kembali berdiri tegak. Kali ini, ia tidak lagi berada di rumah atau makam. Ia berdiri di kantor pusat kepolisian didampingi oleh tim pengacara Global Group.

Reno telah ditangkap saat mencoba melarikan diri ke Singapura melalui jalur laut. Sarah, sang wanita misterius, selamat dari api namun menderita luka bakar serius dan kini berada di bawah penjagaan ketat kepolisian.

Di ruang interogasi yang dibatasi kaca satu arah, Kiara melihat Reno yang tampak kuyu, tanpa setelan jas mahalnya. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan di wajahnya.

"Kau tidak akan masuk ke sana?" tanya Damar yang berdiri di sampingnya.

Kiara menggeleng. "Tidak ada lagi yang perlu dikatakan padanya. Dia sudah kehilangan segalanya. Kebencian hanya akan membuatku tetap terikat padanya, dan aku ingin bebas."

Mereka berjalan keluar dari gedung kepolisian menuju taman yang luas di depan area perkantoran. Ara, yang dijaga oleh Bi Sumi, berlari ke arah mereka dengan tawa riang. Balita itu tampak tidak terpengaruh oleh badai yang baru saja menerjang orang tuanya.

Kiara menggendong Ara, mencium pipinya yang tembam. Di dalam tasnya, ia membawa satu dokumen terakhir yang ia temukan di kotak jati Lela. Sebuah dokumen yang belum ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada Damar.

Dokumen itu adalah sebuah surat kepemilikan tanah di desa tempat Kiara berasal. Lela telah membeli kembali seluruh lahan pertanian milik ayah Kiara yang dulu disita, dan membangun sebuah yayasan pendidikan di sana atas nama ayah Kiara.

"Untuk Kiara," tulis Lela di nota kecil yang tertempel di sana. "Pulanglah kapan pun kau rindu, tapi hiduplah di sini bersamaku melalui Damar dan Ara."

Malam itu, Jakarta tampak lebih tenang dari biasanya. Kiara dan Damar duduk di balkon apartemen mereka, menyesap teh hangat sambil memandangi kelap-kelip lampu kota yang dulu terasa asing bagi Kiara.

"Mas," panggil Kiara pelan.

"Hmm?" Damar merangkul bahunya, menariknya lebih dekat.

"Tentang pesan anonim itu... yang bilang Lela tidak meninggal secara alami. Apa polisi menemukan sesuatu?"

Damar terdiam cukup lama. Ia memandang ke arah langit yang kelam. "Sarah mengaku dia menyuntikkan sesuatu yang mempercepat kegagalan organ Lela beberapa hari sebelum dia meninggal. Dia melakukannya tanpa sepengetahuan Reno, murni karena dendam."

Tangan Kiara gemetar. "Jadi, Mbak Lela benar-benar dibunuh?"

"Secara teknis, ya. Tapi Lela tahu, Kiara. Dia tahu Sarah melakukannya."

Kiara mengernyit. "Maksudmu?"

"Di buku harian terakhirnya, Lela menulis bahwa dia merasakan tubuhnya menolak obat-obatan dan dia curiga pada perawatnya. Tapi dia memilih untuk tidak melawan. Dia bilang, 'Jika kematianku adalah harga yang harus kubayar agar dendam ini berakhir dan Kiara bisa masuk ke rumah ini tanpa gangguan, maka aku ikhlas'."

Kiara terisak pelan. Kebesaran hati Lela melampaui segala logika yang ia miliki. Wanita itu telah merencanakan kematiannya sendiri sebagai sebuah perisai untuk Kiara.

"Kita akan menjaga warisannya, Mas. Bukan hanya hartanya, tapi kebaikannya," bisik Kiara.

Damar mengecup kening istrinya. "Kita akan melakukannya bersama."

Namun, saat mereka hendak masuk ke dalam, Kiara melihat sebuah kotak kado kecil terletak di depan pintu balkon. Kotak itu berwarna merah marun, tanpa nama pengirim.

Kiara membukanya dengan ragu. Di dalamnya terdapat sebuah kunci kuno dan sebuah koordinat lokasi yang mengarah ke sebuah gudang tua di pelabuhan.

Dan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan yang sangat familiar, namun mustahil. Tulisan tangan yang seharusnya sudah terkubur bersama pemiliknya.

"Ini belum selesai, Kiara. Rahasia ayahku tidak hanya berhenti di kecelakaan itu. Carilah 'Proyek Hitam 1994'. Di sanalah kau akan menemukan alasan mengapa ayahmu sebenarnya harus dibungkam."

Kiara menatap Damar dengan wajah pucat pasi. Tulisan itu... itu adalah gaya tulisan tangan Lela yang asli. Bukan tulisan tangan yang lemah seperti saat dia sakit, tapi tulisan tangan yang tegas dan penuh rahasia.

Apakah Lela masih hidup? Atau apakah ada orang lain yang mengetahui rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar kecelakaan kerja?

Angin malam bertiup kencang, menutup pintu balkon dengan keras, meninggalkan mereka dalam tanda tanya baru yang jauh lebih gelap.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!