Wanita Kedua
Kalah Telak
Malam itu, sesuai rencana Damar, sebuah pertemuan besar diadakan di kediaman utama Tuan Hardian. Ruang makan yang luas itu terasa seperti medan perang. Tuan Hardian duduk di kepala meja dengan wajah kaku seperti patung, sementara Reno duduk di sisi kanan dengan senyum kemenangan yang belum pudar dari wajahnya. Riana juga hadir, duduk bersandar dengan gaya provokatif.
Damar masuk ke ruangan itu dengan langkah tegap, namun yang mengejutkan semua orang adalah sosok di sampingnya. Kiara berjalan dengan dagu terangkat, mengenakan gaun hitam yang elegan dengan syal biru laut milik Lela tersampir di bahunya. Ia tidak lagi tampak seperti gadis desa yang rapuh; ia tampak seperti seorang nyonya besar yang siap mempertahankan wilayahnya.
"Ah, pahlawan kita sudah datang," sindir Reno, matanya berkilat saat melihat map yang dibawa Damar. "Dan dia membawa beban tambahannya. Berani sekali kamu muncul di sini, Kiara."
Kiara tidak membalas. Ia duduk di kursi yang ditarikkan oleh Damar, menatap Reno tepat di matanya dengan ketenangan yang mematikan. Tidak ada lagi Kiara yang lemah dan menurut. Wanita itu seperti terlahir kembali dalam versi yang baru.
"Cukup basa-basinya, Damar," potong Tuan Hardian dengan suara berat. "Berikan surat pengunduran dirimu sebagai Presdir. Skandal pernikahanmu sudah terlalu jauh. Saham perusahaan goyah karena berita Reno."
Damar meletakkan map biru dan coklat itu di meja dengan dentuman pelan. "Aku tidak akan mundur, Ayah. Dan tidak ada skandal. Yang ada hanyalah pengkhianatan dari dalam keluarga sendiri."
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Hardian, keningnya berkerut. Matanya menatap tajam pada Damar.
"Reno menyebarkan berita bahwa aku menjadikan Kiara sebagai alat untuk pewaris secara paksa. Dia menuduhku melanggar wasiat kakek," ujar Damar dingin. "Tapi dia lupa satu hal. Lela tidak meninggalkan kita tanpa perlindungan."
Damar membuka map coklat itu dan mulai membacakan wasiat Lela di hadapan pengacara keluarga yang baru saja tiba. Setiap kata yang meluncur dari bibir Damar seperti peluru yang menghujam kepercayaan diri Reno.
Wajah Reno berubah pucat saat mendengar bahwa seluruh aset pribadi Lela, termasuk saham krusial di Global Group, jatuh ke tangan Ara dengan Kiara sebagai wali sahnya.
"Itu tidak mungkin! Surat itu pasti palsu!" teriak Reno, ia berdiri hingga kursinya terjungkal ke belakang. "Lela tidak mungkin memberikan semuanya pada anak dari wanita ini!"
"Surat ini telah diverifikasi oleh notaris dan saksi-saksi medis sebelum Lela meninggal, Reno," sahut Kiara dengan suara yang tenang namun tajam. "Aku adalah wali sah dari pemilik saham terbesar ketiga di perusahaan ini. Jadi, jika ada yang harus pergi dari meja ini karena masalah integritas, itu adalah kamu."
Tuan Hardian tampak tertegun, menatap Kiara dengan pandangan baru. Ada rasa hormat yang mulai tumbuh di mata pria tua itu. Tatapan meremehkan lelaki tua itu mulai pudar. Jelas sekali kepada siapa dia berpihak selama ini. Tentunya yang paling menguntungkan bagi dirinya.
"Dan satu hal lagi," tambah Damar, ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari sakunya. "Reno, kau pikir aku tidak tahu tentang penggelapan dana di proyek pelabuhan yang kau kelola? Aku sudah memegang semua buktinya. Jika kau tidak menarik semua tuntutanmu dan menghilang dari Jakarta malam ini, polisi akan menunggumu di depan pintu."
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Riana tampak ketakutan dan perlahan menjauh dari Reno. Reno menatap sekeliling, mencari dukungan, namun ia hanya menemukan wajah-wajah dingin.
Setelah pertemuan yang melelahkan itu berakhir dengan kekalahan telak Reno, Damar dan Kiara berjalan menuju mobil mereka. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan beberapa helai rambut Kiara.
"Kita berhasil, Mas," bisik Kiara, merasa beban di pundaknya sedikit terangkat.
Damar memeluk pinggangnya erat. "Terima kasih sudah berdiri di sampingku, Kiara. Lela pasti bangga melihatmu tadi."
Namun, saat mereka hendak masuk ke mobil, Kiara merasakan firasat aneh. Ia menoleh ke arah balkon lantai dua rumah Tuan Hardian yang gelap. Di sana, di balik tirai yang sedikit tersingkap, ia melihat sebuah bayangan berdiri diam.
Bayangan itu tidak tampak seperti Tuan Hardian atau pelayan rumah. Sosok itu tinggi, ramping, dan untuk sesaat, cahaya lampu taman memantul pada sesuatu yang berkilau di tangan sosok tersebut—sebuah botol kecil atau mungkin sesuatu yang lebih berbahaya.
Tiba-tiba, ponsel Damar bergetar hebat. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Damar membukanya, dan wajahnya mendadak pucat pasi. Tangannya gemetar saat menunjukkan layar ponsel itu pada Kiara
Pesan itu hanya berisi satu baris kalimat:
"Kalian pikir kematian Lela adalah akhir? Permainan baru saja dimulai dari tempat yang paling tidak kalian duga. Periksa kembali catatan medis Lela... jika kalian ingin tahu siapa yang sebenarnya membunuhnya."
Kiara membeku. Jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sulit bernapas. Jika Lela tidak meninggal karena kanker secara alami... maka selama ini mereka telah hidup berdampingan dengan seorang pembunuh.
Dan di saat yang sama, suara tangisan Ara terdengar melengking dari dalam mobil, seolah balita itu sedang merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Mas..." Kiara mencengkeram lengan Damar, matanya menatap liar ke arah rumah besar yang kini tampak seperti penjara raksasa. "Siapa yang mengirim pesan itu?"
Sebelum Damar sempat menjawab, lampu seluruh rumah Tuan Hardian tiba-tiba padam, meninggalkan mereka dalam kegelapan total yang mencekam.
Apakah Lela benar-benar meninggal karena sakit, atau ada tangan tersembunyi di balik kematiannya? Dan siapa sosok misterius yang mengawasi mereka dari balkon?