Wanita Kedua

Maukah Kamu Berjanji?

Mama Wina langsung memberondong Tiara dengan banyak pertanyaan. Sejak mendengar kabar kalau Tiara sudah tahu rahasia suamiya, wanita paruh baya itu merasa khawatir kalau Tiara meninggalkan putranya. 

"Ara di rumah, Ma. Tadi Tiara pergi ke suatu tempat terus langsung ke sini." Tiara menatap mertuanya dengan tatapan menyelidik. Menerka-nerka apakah wanita yang selalu menyayanginya itu sudah tahu dengan kelakuan putranya yang menikah lagi dengan wanita lain. 

"Ya sudah ayo masuk dulu." Mama Wina menggandeng Tiara dengan penuh kasih sayang. 

Mendadak Tiara memikirkan Lela. Apakah wanita itu juga mendapatkan kasih sayang seperti dirinya dari Mama Wina?

"Bibik, ambilkan minum dan camilan, Bik!" perintah Mama Wina pada salah seorang asisten rumah tangganya. 

Tiara masih belum banyak bersuara. Ia memilih untuk menunggu apa yang akan dibicarakan oleh mama mertuanya ini. 

"Sayang. Bagaimana perasaanmu?" Mama Wina menggenggam tangan Tiara yang berada di atas pangkuan.

"Maksud Mama?" 

Tiara benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh mertuanya itu. Otaknya sedang buntu saat ini. Jadi tidak bisa untuk diajak main teka-teki. 

Terdengar helaan nafas dari Mama Wina. Seolah wanita yang terlihat masih cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu tengah menanggung beban yang sangat berat. 

"Sayang, maukah kamu berjanji sama Mama?" 

"Janji apa, Ma?" Tiara merasa pembicaraan ini semakin berat. Ia tak mau gegabah menjawab apapun yang dipertanyakan oleh Mama mertuanya itu.

"Kamu tahu kan, Sayang. Mama sama Papa sudah menganggapmu seperti anak sendiri."

Tiara mengangguk. Benar, selama ini ia tak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua mertuanya. Mereka memperlakukan Tiara seperti putri mereka sendiri. Terlebih setelah kelahiran Ara, bertambah besarlah kasih sayang yang diberikan oleh kedua mertuanya itu. Karena Ara adalah cucu pertama yang melengkapi kebahagiaan mereka.

"Tiara tahu. Terima kasih ya, Ma. Sudah menerima Tiara sepenuh hati." Wanita berhijab itu tersenyum tulus membalas ucapan mertuanya. 

"Beberapa hari lalu Damar mencarimu ke mari. Dia bilang kamu pergi dari rumah. Apa itu benar, Nak?"

Tiara mengangguk. Dalam hati ia berkata, "apa salah kalau aku tanya sama Mama soal Mas Damar yang memiliki wanita lain?"

"Nak, apapun yang terjadi pada rumah tangga kalian, Mama harap kamu bisa bertahan. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari kehidupan Damar ya, Sayang." Mama Wina menatap Tiara dengan penuh harap. 

Entah mengapa mendadak air mata Tiara kembali berdesakan keluar seolah ingin memberi tahu pada wanita paruh baya di hadapannya ini kalau Tiara sedang tidak baik-baik saja. 

"Apa Mama sudah tahu kalau Mas Damar menikah lagi?" tanya Tiara terbata. 

Hati wanita itu selalu saja ngilu setiap mengingat adegan menyedihkan yang ia lihat di rumah sakit barusan. 

Hembusan nafas kasar kbali terdengar dari mulut Mama Wina. 

"Mama sudah berulang kali meminta Damar untuk menceraikan wanita penyakitan itu!" 

Tiara tersentak mendengar pengakuan dari mertuanya. Itu artinya selama ini Mama Wina sudah mengetahui kalau Damar menikah lagi. 

"Jadi ... Mama tahu kalau Mas Damar ...?"

"Maafkan Mama, Sayang. Mama janji akan membuat suamimu segera menceraikan wanita itu. Mama juga tidak suka padanya. Selain mandul, dia juga penyakitan! Apa yang diharapkan dari wanita yang untuk mengurus dirinya sendiri saja tak mampu?" 

Mendadak Tiara merasa iba pada Lela yang tidak diterima di keluarga ini. Terlebih mendengar kalimat penghinaan dari Mama mertuanya yang begitu jelas. Tiara merasa menjadi wanita paling egois di dunia jika membiarkan hal itu terjadi. 

Sedangkan dirinya mendapat kasih sayang penuh dan bisa melahirkan anak. Kondisinya juga sehat wal Afiat. Berbanding terbalik dengan madunya yang sakit parah dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Bahkan dokter sudah memvonis hidupnya tak lama lagi. Ya, meski soal hidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah. Tapi dengan sakitnya yang demikian parah, tentu prediksi dokter sudah berdasarkan ilmu.

"Ya Allah, apa aku terlalu jahat jika berharap Mas Damar hanya menjadi milikku seperti yang dikatakan oleh Mama Wina?" 

Memikirkan hal itu membuat Tiara tak mampu lagi mendengar perkataan sang mertua selanjutnya. Apa yang terucap dari bibir wanita itu seperti angin yang berhembus lalu hilang begitu saja. Mendadak pikiran Tiara menjadi kosong. 

"Gimana sayang, kamu mau kan janji sama Mama?" 

Tiara gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Demi menghindari desakan dari mama mertuanya, Tiara memilih untuk pamit dengan alasan sudah terlalu lama meninggalkan Ara. 

"Maaf, Ma. Tiara pamit dulu. Assalamualaikum."

"Loh, loh, kok buru-buru, Sayang?" 

"Tiara sudah terlalu lama meninggalkan Ara di rumah, Ma." 

Meski tampak tidak ikhlas, Mama Wina akhirnya mengangguk. Lalu mengantarkan sang menantu tercinta sampai di depan mobil. Namun sebelum Tiara benar-benar pergi, wanita paruh baya itu masih sempat berpesan.

"Ingat kata-kata Mama barusan, Sayang. Mama mendukungmu secara penuh. Nggak ada sedikit pun restu Mama untuk wanita penyakitan itu! Jadi jangan pernah mengalah darinya, ok?" 

Setiap kata yang diucapkan oleh mama mertua barusan terus terngiang di telinga Tiara. Wanita itu tak bisa membayangkan andai dirinya berada di posisi Lela. Di saat ia membutuhkan dukungan untuk menemani hari-hari terakhirnya, justru penolakan dari mertua dan keluarga suaminya. 

Tiara membelokkan mobilnya kembali ke rumah sakit. Alasan terlalu lama meninggalkan Ara hanya alibi untuk bisa terbebas dari mertuanya yang terus menghina dan menjelekkan Lela. Walau dirinya juga masih belum bisa menerima kenyataan tentang rumah tangganya, tapi Tiara mencoba untuk tidak egois.

"Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa berbuat baik padanya. Andai benar ia akan segera menghadap Yang Maha Kuasa, aku bisa memberinya kesan terbaik padanya," gumam Tiara. 

Tiara berjalan dengan langkah berat menuju kamar rawat Lela. Dalam hati ia berdoa semoga suaminya sudah tidak ada di sana karena ia ingin berbicara berdua saja dengan Lela. 

Tepat saat dia berbelok ke lorong yang menghubungkan kamar rawat Lela, lelaki yang sedang dihindarinya baru saja masuk lift. Meski ada perasaan yang berkecamuk, saat melihat punggung pria yang masih sangat dicintai itu, Tiara mencoba untuk membulatkan tekadnya.

Setelah mengetuk pintu dua kali, Tiara membuka pintu perlahan. Sepasang netranya langsung bersirobok dengan mata sayu Lela. 

"Ti-ara?" ucap Lela terbata.

Tiara mengulas senyum terbaiknya. Lalu melangkah pasti mendekati ranjang pasien. Tatapan mereka masih saling mengunci. Dengan bibir pucatnya, Lela tersenyum manis pada Tiara.

"Bagaimana kabarmu, M-mbak?" Tiara tampak kebingungan saat hendak menyapa madunya. 

Dari segi usia, jelas Lela tampak lebih tua darinya. Namun dari segi status, Tiara menganggap dirinya yang lebih tua karena dirinya adalah istri pertama. Walau faktanya sebaliknya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!