Wanita Kedua
Lebih Lega
Lelah menangis Tiara mengambil air wudhu lalu menjalankan salat. Mengadukan semua keluh kesah pada sang pemilik jiwa jauh lebih menenangkan daripada membuang-buang air untuk merutuki nasib. Tanpa terasa malah menggulung siang, Tiara menunggu sang suami memberi kabar. Sejak kepergiannya yang buru-buru Tiara sempat berpikir bahwa suaminya akan menyesali kebohongan yang telah dia buat. Namun nyatanya hingga saat ini pria yang sudah berkah tadi hatinya itu tidak ada kabar sedikitpun. Damar seolah lupa kalau dirinya masih memiliki hutang penjelasan pada Tiara. Atau mungkin kini kehadiran Tiara sudah tak berarti lagi baginya?
Tiara mencoba untuk menenangkan pikirannya dengan melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Semakin ia memikirkan nasib rumah tangganya semakin sakit hati dibuatnya. Laki-laki yang selama ini selalu membuatnya seperti ratu ternyata memiliki wanita lain yang disembunyikan. Mengingat hal itu hati Tiara kembali tercabik-cabik. Setelah menidurkan Putri kecilnya Tiara duduk di ruang tamu sendirian. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam dan belum ada tanda-tanda suaminya datang. Sengaja ia mematikan lampu agar tetes demi tetes air mata yang selalu keluar tanpa henti tak terlihat oleh siapapun meski saat ini memang sudah tak ada lagi orang yang bisa melihatnya. Tubuh yang lelah ditambah hati gundah membuat mata tak bisa dikompromi. Perlahan tubuh Tiara merosot lalu tergeletak di atas sofa. Kesadaran yang tinggal 50% perlahan ikut terenggut hingga mimpi menyapa.
Kumandang adzan membangunkan Tiara yang tertidur di atas sofa ruang tamu. Perlahan-lahan kelopak mata itu mengerjap mengerjap lalu terbuka sempurna. Suara spatula beradu di dapur memecah kesunyian. Pasti itu pembantu rumah tangga yang sedang membersihkan dapur dan membuat sarapan untuknya. Tiara terduduk lalu memindah sekeliling, ternyata dia tertidur sampai pagi di tempat yang sama ketika terakhir kali wanita itu menunggu kedatangan suaminya.
"Apa dia tidak pulang semalaman?" gumam Tiara.
Tak mau membuat hati semakin gelisah wanita yang sudah menjadi ibu itu akhirnya berjalan menuju dapur lalu bertanya pada sosok yang tengah sibuk mempersiapkan sarapan tersebut apakah semalam suaminya sudah pulang atau belum.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Apa di kamar Tuan tidak adanya, Nyonya?"
Tiara menggeleng. Hatinya kembali digulung-gulung kecewa hingga rasanya tak ingin lagi percaya. Baru kemarin lelaki itu meminta maaf memohon diberi kesempatan tapi nyatanya semua itu hanya omong kosong. Dengan teganya Damar kembali membohongi dirinya bahkan tanpa memberi kabar.
"Masih pantaskah pria yang tidak bisa adil pada istrinya dipertahankan? Apa wanita itu begitu berharga hingga dia melupakan aku dan anaknya?" batin Tiara.
Tak ingin terus larut dalam prasangka Tiara memilih untuk ke kamarnya. Lalu masuk ke kamar mandi mengguyur seluruh badannya agar hati dan pikiran menjadi dingin. Waktu subuh sudah hampir berlalu Tiara segera menunaikan kewajibannya sebelum pagi menjemput. Hari sudah mulai terang ketika Tiara bangkit dari atas sajadah. Wanita itu segera menunaikan kerudung lalu membuka jendela membiarkan udara pagi yang sejuk masuk ke dalam kamar menggantikan kepengapan yang terperangkap semalam.
Wanita beranak satu itu lalu keluar kamar menuju kamar Putri kecilnya. Di sana iya disambut tawar yang arah yang sudah terlihat rapi dan wangi.
"Assalamualaikum cantiknya Mama? Wah sudah mandi ya?" Tiara mengangkat tubuh putrinya lalu mengayun-ayun sembari menciumi wajahnya.
Gadis kecil itu tertawa-tawa gembira merasakan geli ketika mamanya menciumi seluruh wajah. Di saat seperti ini semua beban yang memberati pundak Tiara seolah hilang menguap entah ke mana. Ara, putri kecilnya adalah obat paling manjur atas segala rasa yang mendera. Bersama batita itu Tiara seolah lupa kalau rumah tangganya telah diterpa badai yang siap untuk hancur kapanpun tanpa bisa dinyana.
Pukul 08.00 pagi Tiara mengajak Putri kecilnya jalan-jalan ke sekitar komplek sekedar untuk mengurai penat. Berharap dia lupa dengan masalah yang saat ini dihadapi. Saat pulang ke rumah wanita itu mengira suaminya sudah menunggu di depan rumah. Nyatanya lelaki itu masih belum pulang dan belum ada kabar.
"Apa kamu benar-benar tak ingin memperbaiki rumah tangga kita, Mas? Haruskah aku menyerah untuk berharap?" gumam Tiara.
Wanita itu menarik nafas panjang-panjang lalu membuangnya begitupun seterusnya ia lakukan berulang-ulang untuk mengurai sesak yang menghimpit dada. Ia juga tak berani membayangkan suaminya tengah berduaan dengan wanita lain yang juga berstatus istri. Hingga saat ini Tiara masih belum tahu kalau lelah adalah istri pertama dari suaminya. Prasangkanya masih menganggap bahwa suaminya berkhianat dan mencari istri lain selain dirinya.
"Apa aku saja belum cukup bagimu, Mas? Apakah kehadiran Ara juga tak mampu membuatmu bahagia bersamaku?" Satu bulir bening kembali menetes tanpa bisa dicegah. Tiara kembali merasakan hatinya hancur saat tahu kenyataan bahwa suaminya benar-benar tidak pulang.
Bukankah seharusnya suaminya datang untuk membujuk dirinya? Tapi kenapa lelaki itu seolah tenang-tenang saja telah berbuat curang? Larut dalam pikiran yang terus membuat hatinya tak tenang hingga tanpa sadar Dina sudah berdiri di hadapan wanita itu.
"Hei mau sampai kapan kamu menangisi takdir ini? Aku pikir kamu sudah bisa menerima semuanya. Kenapa kamu terlihat begitu sedih?" Dina duduk di kursi sebelah Tiara.
Tiara hayamnya mana tapi sahabatnya sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke depan. Kita ingin merespon pertanyaan dari wanita yang selalu ada untuk dirinya itu.
"Kalian sudah berbicara? Apa sudah tidak bisa diperbaiki lagi?" tanya Dina menuntut jawaban. Pasalnya sejak kehadirannya di sini Tiara sekolah tidak mempedulikannya.
Tiara menggeleng lemah tanpa mena tap ke arah Dina. Namun Dina bisa memahaminya. Artinya masalah yang menimpa rumah tangga sahabatnya belum menemukan titik terang.
"Dia pergi lagi dan tidak ada kabar," lirih Tiara.
"Tidak pamit?" Dina menatap wajah sahabatnya dari samping. Entah hanya perasaannya saja atau memang benar Tiara bertambah kurus.
Lagi-lagi Tiara hanya bisa menggeleng. Terlalu sakit rasanya dia mengatakan dengan jujur kalau suaminya lebih memilih kabur dari masalah daripada menyelesaikannya.
"Mungkin madumu membutuhkannya," ucap Dina memantik api amarah di hati Tiara.
"Apa Kamu pikir aku tidak membutuhkannya? Apa hanya wanita itu yang berhak menguasai suamiku? Aku juga istrinya, kan?"
Ingin sekali Dina memukul mulutnya yang sudah salah dalam berbicara. Tidak ada niatan dirinya menyakiti hati sang sahabat dengan berkata seperti itu. Dia hanya ingin menunjukkan pada Tiara bahwa saat ini suaminya bukan hanya miliknya. Ada istri lain yang memiliki hak yang sama untuk diurus.
"Bukan seperti itu maksudku, Ra. Bukankah kamu tahu sendiri kalau istrinya yang lain sedang sakit keras? Kenapa kamu tidak coba berdamai dengan keadaan? Siapa tahu dengan begitu hatimu menjadi lebih lega."