Wanita Kedua
Masuk ICU
"Nizam?" Damar menoleh pada sosok yang telah membuatnya kaget.
"Mar, kamu ngapain di sini?" Pria yang dipanggil Nizam itu celingukan seperti mencari seseorang.
"Istriku di ruang ICU," jawab Damar lirih. Gurat kesedihan tampak begitu nyata di wajahnya.
Nizam membelalakan kedua matanya mendengar jawaban dari teman sekantornya ini. Nizam adalah satu-satunya teman yang tahu dengan kondisi rumah tangga Damar. Sejak awal Nizam sudah mengingatkan pada Damar untuk berpikir ulang sebelum mengambil jalan poligami. Pilihan yang diberikan oleh ibunya yang tak bisa untuk dibantah.
Istri yang mana? Lela atau Tiara?" tanya Nizam.
"Lela. Sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru. Kesadarannya mulai menurun hingga 50 persen kata dokter." Damar mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Nizam menepuk pundak Damar pelan seperti telah memberi dukungan. Meski dia belum menikah, tapi Nizam tahu bagaimana sedihnya melihat orang yang dicintai sakit.
"Sudah berapa hari dia di ICU?"
"Baru tadi. Tapi sudah beberapa hari dirawat. Biasanya setelah kemoterapi kondisinya akan membaik. Tapi kemarin pasca kemoterapi malahakin drop. Dia nggak mau makan sama sekali dan HB-nya kembali turun."
Nizam menyandarkan punggungnya di kursi tunggu. Menatap pintu bertuliskan ICU tanpa kata. Pria itu memilih untuk mendengarkan semua keluh kesah Damar tanpa berniat untuk memotong. Barangkali Damar memang butuh teman berbagi untuk saat ini.
Setelah berbicara banyak, Damar kembali merenung. Mending yang menggelayut di wajahnya semakin tebal. Do'a-do'a pengharapan terus ia lantunkan dalam hati agar sang istri segera melewati masa kritisnya.
"Sebaiknya kamu terus terang pada Tiara kalau kamu juga punya Lela agar tidak menimbulkan maslaah ke depannya jika kamu harus banyak memberikan waktu pada Lela. Bagaimanapun kondisi Lela sudah seperti ini."
"Tiara sudah tahu," lirih Damar.
Wajah pria itu terlihat penuh dengan beban. Nisa hanya bisa menatap iba pada temannya. Dia tahu gambar adalah sosok laki-laki yang bertanggung jawab. Tak hanya itu Damar juga merupakan pria penyayang dan tidak pernah berbuat kasar.
Selama berteman dengannya Nizam belum pernah melihat Damar bersikap kasar pada istri-istrinya. Bahkan ketika ibunya selalu menghina dan memintanya untuk menceraikan Damar tetap teguh pada pendiriannya.
"Lalu bagaimana reaksi Tiara saat tahu kalau kamu memiliki dua istri?" Kini Nizam mengubah posisi duduknya sedikit nyerang sehingga bisa melihat ekspresi Damar saat berbicara.
"Dia marah dan pergi dari rumah," jawabnya lesu.
Tiba-tiba Damar mengingat reaksi Tiara saat dia menerima telepon tadi. Dia bahkan lupa pamitan sama sang istri kalau dia pergi ke rumah sakit untuk menjaga Lela. Mendadak wajah gambar yang semula mendung berubah pucat karena dia tahu setelah ini Tiara akan kembali mendiamkannya. Bahkan lebih parah dia akan pergi lagi.
Belum juga genap satu malam Tiara pulang ke rumah tapi dia sudah kembali menyakiti hatinya. Damar tak tahu harus bagaimana saat ini. Tetap bertahan di sini atau pulang ke rumah. Kalau dia tetap bertahan kekhawatiran dalam hatinya semakin besar. Iya takut Tiara semakin sakit hati dan memutuskan untuk pergi jauh darinya.
Namun jika ia memilih pulang bagaimana dengan Lela? Dia di sini sendirian dalam kondisi kritis. Lelah sudah tidak memiliki keluarga kecuali dirinya. Tidak mungkin Damar tega meninggalkannya begitu saja.
Nizam mengerti kebimbangan dari sahabatnya itu. Berada pada posisi Nizam saat ini pasti tidaklah mudah. Satu istrinya Tengah berjuang melawan maut di ruang ICU sementara istri yang lainnya pergi karena cemburu. Ternyata memiliki dua istri tidak seindah bayangan. Justru yang ada otak selalu berpikir dan kehidupan jadi tak tenang. Terlebih salah satu istri tidak tahu kalau ternyata dirinya memiliki madu.
"Kamu tidak mencarinya?" tanya Nizam lagi. Pria itu merasa perlu tahu dengan kondisi rumah tangga temannya karena merasa kasihan.
"Sudah. Dia baru saja pulang tadi pagi. Tapi ..." Damar memandang pintu bertulis ICU dengan wajah sendu. "Tapi ... saat aku sedang membujuknya untuk menjelaskan semua, mendadak rumah sakit telepon dan mengabarkan kondisi Lela semakin menurun. Terpaksa aku ... meninggalkannya dalam kondisi yang masih salah paham," sesal Damar.
Berulang kali Damar menghirup udara lalu membuangnya. Dia ulang-ulang terus aktivitas itu sampai sesak yang menghimpit dada terasa lebih longgar.
"Aku harus bagaimana, Zam? Aku nggak mau kehilangan Tiara dan Putri kecil kami. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Lela dalam kondisi seperti ini." Damar meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa aku bisa terjebak dalam keadaan seperti ini? Di mana letak kesalahanku sebenarnya?" tanya Damar entah pada dirinya sendiri atau pada Nizam, sahabatnya.
"Apa yang harus aku lakukan, Zam? Apa aku terlalu serakah karena mempertahankan keduanya?" tanya Damar pada sahabatnya dengan tatapan nanar.
Mitra hitam milik Damar tampak berkaca-kaca. Bendungan air mata sudah siap untuk tumpah dalam sekali kedipan saja. Ingin sekali Damar melampiaskan perasaannya saat ini dengan berteriak sekencang-kencangnya lalu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua beban yang membuatnya tak bisa berkutik.
"Tidak ada yang salah dengan poligami, Mar. Karena syariat telah membolehkan seorang pria untuk memiliki istri lebih dari satu. Kesalahanmu hanya tidak jujur dari awal. Meski bagi seorang lelaki menikah lagi dibolehkan tanpa izin istri pertama tapi tetap saja kamu harus jujur pada keduanya agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini." Nizam membesarkan hati Damar yang mungkin saat ini tak memiliki pijakan.
Lelaki memiliki jabatan cukup mentereng yang di perusahaannya itu butuh teman untuk menyelesaikan masalahnya. Selama ini rumah tangganya berjalan baik-baik saja tanpa ada kendala apapun meski berpoligami. Mungkin Allah sengaja hendak membuka tabir ini dan hendak membuatnya berkata jujur pada Tiara sehingga saat itu akhirnya Tiara tahu tentang keberadaan Lela yang selama ini ia sembunyikan.
Bukankah sebaik-baiknya makar manusia masih lebih baik makar Allah? Manusia hanya bisa berencana selanjutnya Allah lah penentu segalanya. Begitupun dengan jalan hidup Damar. Skenario hidupnya sudah ditentukan oleh Allah dan dia tinggal menjalani saja.
"Awalnya aku menikahi Tiara karena dorongan dari Mama. Kamu tahu sendiri aku sangat mencintai Lela, Zam. Tapi semakin lama cintaku pada Tiara juga tumbuh. Bahkan makin subur setelah dia hamil. Sesuatu yang tidak bisa Lela alami. Tanpa mengurangi rasa cintaku pada Lela, aku juga mencintai Tiara sama besarnya. Aku ... nggak mau kehilangan keduanya."
"Kamu memang harus mencintai keduanya karena mereka berdua istri sahmu. Mereka sudah menjadi tanggung jawabmu dan kamu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah nantinya." Nizam dengan sabar meladeni setiap curahan hati Damar. Lelaki yang sudah berteman dengan Damar sejak SMP itu tidak menghujat atau menyalahkan Damar sama sekali atas yang terjadi.
"Sekarang aku harus bagaimana?"