Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Akhirnya Bertemu Lagi

“Jangan keluar,” perintah Arya cepat. “Masuk ke ruang belakang, sekarang!”

“Kenapa? Bapak takut?” Alina menatap Arya dengan tatapan menantang. “Bapak yang membawa saya ke dalam permainan ini, sekarang Bapak rasakan sendiri hasilnya.”

Pintu minimarket terbuka. Lonceng berdenting nyaring, memecah kesunyian malam.

“Oh, jadi ini proyek ekspansi yang kamu banggakan, Arya?” Suara Alya menggema, tajam dan penuh sarkasme.

Alya berjalan masuk, matanya menyapu ruangan dengan jijik hingga akhirnya pandangannya terpaku pada sosok yang berdiri di dekat rak kosmetik. Langkahnya terhenti. Wajahnya yang semula penuh kemenangan berubah menjadi pucat, lalu perlahan memerah karena murka.

Ia menatap Alina, lalu menatap Arya secara bergantian.

“Jadi benar…” Alya tertawa sumbang, suaranya bergetar. “Kamu membangunkan istana kaca untuk si pembantu ini? Dan kamu menggunakan namaku untuk tokonya? *A-Line*? Murahan sekali, Arya!”

“Alya, tenanglah. Kita bicara di rumah,” Arya mencoba menengahi, melangkah mendekati tunangannya.

“Jangan sentuh aku!” Alya menepis tangan Arya. Ia berjalan mendekati Alina, yang tetap berdiri tegak meski hatinya gemetar.

Alya berhenti tepat di depan Alina. Dua wajah yang identik itu kini berhadapan dalam jarak beberapa sentimeter. Yang satu penuh polesan kemewahan dan kebencian, yang satu penuh kesederhanaan dan ketegasan.

“Jadi kamu kembaranku yang hilang itu?” bisik Alya begitu rendah, hanya untuk didengar Alina. “Gembel yang mencoba mencuri tunanganku?”

Alina menatap mata Alya. Tidak ada rasa takut di sana, hanya rasa iba yang mendalam. “Saya tidak pernah mencuri apapun darimu, Alya. Termasuk pria ini. Dia yang datang menjebakku di sini.”

*Plak!*

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alina hingga wajahnya terlempar ke samping.

“Alya! Cukup!” bentak Arya, menarik bahu Alya menjauh.

Alina memegang pipinya yang panas. Ia tidak menangis. Ia justru menoleh kembali pada Alya dengan senyum tipis yang menyakitkan.

“Tamparan itu tidak mengubah fakta bahwa dia tidak mencintaimu, Alya,” ucap Alina tenang. “Dan tamparan itu… adalah alasan terakhir saya untuk tidak pernah merasa bersalah saat saya menghancurkan kalian berdua nanti.”

Alya tertegun. Ia melihat sesuatu di mata Alina yang tidak pernah ia sangka: kekuatan seorang petarung yang sudah kehilangan segalanya.

“Pergi kalian berdua dari tokoku,” ucap Alina dingin, meski secara hukum toko itu milik Arya. “Atau saya panggil warga dan bilang ada orang kaya yang membuat keributan di sini.”

Arya menatap Alina dengan rasa bersalah yang amat sangat, sementara Alya menatapnya dengan dendam yang sudah mencapai ubun-ubun.

Malam itu, di bawah lampu neon yang dingin, garis peperangan telah ditarik. Dan Alina tahu, kontrak dua tahun itu bukan lagi penjara baginya, melainkan medan perang untuk menuntut kembali harga diri yang selama ini diinjak-injak.

___

Hening yang ditinggalkan Arya dan Alya setelah pintu kaca itu berdenting tertutup terasa lebih menyesakkan daripada keributan tadi. Alina masih berdiri di posisi yang sama, jemarinya masih menekan pipi kiri yang berdenyut panas. Di permukaan kaca rak kosmetik, ia melihat pantulan dirinya—atau mungkin pantulan Alya. Ia membenci kemiripan itu. Ia membenci bagaimana takdir memberinya wajah yang sama dengan wanita yang memperlakukannya seperti kuman.

“Alina… kamu tidak apa-apa?”

Suara Pak Hadi terdengar dari ambang pintu gudang. Pria tua itu rupanya belum benar-benar pulang; ia kembali karena tertinggal ponselnya dan malah menyaksikan drama yang tak seharusnya ia lihat.

Alina menurunkan tangannya. Ia tersenyum, meski sudut bibirnya terasa kaku. “Hanya tamparan kecil, Pak. Tidak lebih sakit dari mengangkat berdus-dus air mineral.”

Pak Hadi mendekat, wajahnya penuh penyesalan. “Bapak minta maaf. Bapak tidak tahu kalau investor itu… pria yang punya masalah denganmu. Bapak hanya pikir ini jalan keluar untuk kita semua.”

“Bukan salah Bapak,” potong Alina cepat. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. “Pak Arya memang ahli dalam menciptakan jebakan yang terlihat seperti peluang. Sekarang saya mengerti kenapa gajinya besar. Itu bukan gaji, itu uang tutup mulut dan biaya sewa harga diri.”

“Apa yang akan kamu lakukan? Penaltinya sangat besar, Nak.”

Alina menatap lurus ke arah pintu masuk. “Saya akan bekerja. Sesuai kontrak. Dua tahun bukan waktu yang lama jika kita tahu cara menikmatinya. Pak Arya ingin saya di sini? Baik. Saya akan di sini. Tapi dia akan sadar bahwa memiliki tubuh seseorang di bawah kontrak tidak sama dengan memiliki kendali atas hidupnya.”

Di luar, di dalam mobil sport merah yang diparkir beberapa blok dari minimarket, badai belum mereda. Alya mencengkeram dasbor dengan kuku-kuku manjanya, sementara Arya duduk di kursi pengemudi dengan tatapan kosong ke arah setir.

“Jelaskan padaku, Arya! Sejak kapan kamu jadi pahlawan kesiangan untuk gembel itu?!” teriak Alya. Suaranya melengking di ruang kabin yang sempit.

“Dia bukan gembel, Al. Dia manusia. Dan dia bekerja untukku,” sahut Arya datar.

“Bekerja? Kamu membeli toko busuk itu hanya untuk dia! Kamu pikir aku bodoh? Aku melihat caramu menatapnya tadi. Kamu menatapnya seolah dia adalah sesuatu yang berharga, sementara kamu menatapku seperti aku ini beban!”

Arya menoleh, matanya berkilat dingin. “Mungkin karena dia tidak pernah mengancamku dengan modal ayahnya setiap kali ada masalah. Mungkin karena dia punya martabat yang tidak bisa dibeli dengan tas seharga ratusan juta.”

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!