Wajah Serupa Takdir Tak Sama

Tempat yang Sederhana

“Maaf, lagi butuh karyawan, Pak?”

Alina berdiri di depan meja kasir, tangannya menggenggam ujung map plastik yang sudah agak kusut.

Seorang pria paruh baya mengangkat kepala dari pembukuan. Menatap Alina sebentar. “Buat posisi apa?”

“Kasir… kalau masih ada atau apapun, Pak”

Pria itu menatapnya beberapa detik lalu menoleh pada rak-rak display yang berjajar. 

“Atau kamu bisa apa saja?” ucap pria itu selanjutnya.

“Apa saja,” jawab Alina cepat. “Saya bisa belajar.”

Hening sejenak. “Pengalaman?”

Alina menarik napas pendek. “Pernah kerja di perusahaan… bagian kebersihan dan bantu operasional.”

Pria itu mengangguk pelan. “Kenapa keluar?”

Alina terdiam sepersekian detik.  “Tidak cocok,” jawabnya akhirnya.

Pria itu menyipitkan mata, seolah tahu ada yang disembunyikan. Tapi ia tidak bertanya lebih jauh.

“Namamu siapa, Nak?”

“Alina, Pak," jawab Alina cepat. 

“Bisa mulai sekarang?”

Alina mengangkat kepala cepat. Tidak terbayang sebelumnya mencari pekerjaan akan semudah ini setelah apa yang terjadi di perusahaan sebelumnya. 

“Se-sekarang, Pak?”

“Kasir saya baru keluar kemarin,” katanya santai. “Kalau kamu mau kerja, langsung saja. Tapi gaji tidak besar.”

Alina menelan ludah. Tidak masalah gaji kecil. Yang penting tetap bisa bekerja untuk menambal kebutuhan sehari-hari. 

“Saya mau, Pak.”

Pria itu tersenyum tipis. “Ya sudah. Saya Pak Hadi. Anggap saja ini tempatmu cari makan, bukan cari masalah.”

Alina mengangguk pelan. Senyumnya mengembang. “Iya, Pak.”

---

“Totalnya dua puluh delapan ribu, Mbak.” Suara Alina terdengar lembut dan ramah.

“Ini uangnya.” Seorang pembeli menyodorkan uang padanya. 

“Terima kasih, silakan datang lagi.”

Hari pertama terasa cepat. Terlalu cepat. Alina berdiri di balik kasir, tangannya bergerak lincah memasukkan barang ke dalam plastik.

“Permen satu, ya, Mbak.”

“Iya, sebentar.” Alina bergerak cepat mengambilkan permen yang dimaksud pembeli. 

“Bisa pakai QR?”

“Bisa.”

Suara beep mesin kasir, bunyi pintu terbuka, dan langkah kaki keluar masuk… semua terasa sederhana. Tidak ada tatapan merendahkan. Tidak ada bisikan. Tidak ada wajah yang… sama.

Alina menghela napas pelan. “Akhirnya…” kedua tangan Alina merentang ke atas. Lalu menggerakkan pinggang ke kir dan kanan. Memutar tubuh hingga berbunyi "krek". 

Ia menunduk, tersenyum tipis. “Tenang.”

 

---

“Mbak, mie instannya di mana, ya?” Seorang pembeli bertanya tanpa ekspresi. 

“Di rak sebelah sana, Pak. Yang warna merah.”

“Oh iya, makasih.”

“Sama-sama.”

Alina berjalan kembali ke kasir. Pak Hadi berdiri di dekat rak minuman, memperhatikannya.

“Kamu cepat tangkap kerjaannya,” katanya.

Alina menoleh dan tersenyum canggung.  “Masih belajar, Pak.”

“Kelihatan,” jawab Pak Hadi. “Jarang ada yang baru masuk langsung rapi begini.”

Alina tersenyum kecil. “Mungkin karena sudah terbiasa kerja.”

“Kerja apa saja sebelumnya?”

“Macam-macam,” jawab Alina singkat.

Pak Hadi mengangguk pelan. “Bagus. Yang penting jujur.”

Kata itu membuat Alina terdiam sejenak.

“Kenapa?” tanya Pak Hadi.

“Tidak apa-apa, Pak,” jawabnya cepat. “Saya cuma… setuju.”

---

Sore mulai berganti malam. Lampu minimarket terasa lebih terang. Suasana lebih sepi. Alina merapikan rak dekat kasir.

“Stok susu tinggal sedikit,” gumamnya.

Ia menoleh ke arah gudang kecil di belakang lalu mendapati bosnya sedang berdiri sambil mengamati rak yang mulai kosong.

“Pak, saya ambil stok di belakang, ya?”

“Iya, silakan.”

Alina berjalan masuk. Gudang itu sempit, tapi rapi. Ia mengambil beberapa kotak, lalu kembali ke depan. Dan saat itulah—“Ini kenapa mahal banget, sih?!”

Suara keras memecah suasana. Alina langsung menoleh. Seorang pria berdiri di depan kasir, memegang botol minuman.

“Ini di rak tertulis dua belas ribu! Kenapa di sini jadi lima belas ribu?!”

Alina meletakkan kotak di samping, lalu mendekat. “Boleh saya lihat, Pak?”

“Ini!” pria itu mengangkat botolnya.

Alina mengambilnya pelan. Mengamati botol itu dan membacanya dengan teliti.

“Sebentar, Pak. Saya cek dulu.”

“Tidak usah dicek! Jelas-jelas di sana dua belas ribu!”

Beberapa pelanggan lain mulai melirik. Pak Hadi juga menoleh dari belakang. Alina menarik napas pelan. Tapi tetap terlihat tenang.

Ia berjalan ke rak yang dimaksud. Melihat label harga. Lalu kembali.

“Pak,” katanya pelan, “yang dua belas ribu itu ukuran kecil. Yang Bapak ambil ini ukuran besar.”

“Ah, alasan saja!” bentak pria itu. “Semua sama saja!”

“Boleh saya tunjukkan?” Alina tetap tenang.

Pria itu mendengus. “Cepat!”

Alina mengambil satu botol ukuran kecil dari rak. Menaruhnya di samping yang besar.

“Ini yang dua belas ribu, Pak,” katanya. “Kalau yang ini memang lima belas ribu.”

Pria itu menatap dua botol itu. Diam beberapa detik. Lalu berkata, “tapi tadi saya lihat—”

“Mungkin tertukar, Pak,” potong Alina pelan. “Kalau Bapak mau, saya bisa bantu ambilkan yang sesuai harga.”

Hening. Suasana tegang mulai mereda. Pria itu menghela napas kasar.

“Ya sudah,” gumamnya. “Ambil yang kecil saja.”

“Iya, Pak.” Alina mengambilkan barangnya, lalu kembali ke kasir.

“Totalnya dua belas ribu.”

Pria itu menyerahkan uang tanpa bicara lagi.

“Terima kasih, Pak.” Tidak ada jawaban.

Tapi pria itu pergi tanpa keributan. Sunyi kembali.

---

“Kamu tidak takut tadi?” Suara Pak Hadi terdengar dari belakang.

Alina menoleh. “Takut kenapa, Pak?”

“Orang seperti itu biasanya cari ribut.”

Alina tersenyum tipis. “Sudah biasa, Pak.”

“Biasa?” Pak Hadi menatap Alina penasaran. 

Alina mengangguk kecil. “Yang seperti itu… masih ringan.”

Pak Hadi menunggu Alina kembali berbicara, tanpa menyela.

“Kerja di tempat lama kamu… berat, ya?”

Alina tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, merapikan struk di meja kasir.

“Cukup untuk bikin saya belajar banyak.”

Pak Hadi mengangguk pelan.

“Bagus. Tapi di sini… kamu tidak perlu menghadapi yang aneh-aneh.”

Alina tersenyum kecil. “Semoga saja, Pak.”

---

Malam semakin larut. Pelanggan mulai sepi. Alina duduk sebentar di balik kasir, meregangkan tangannya.

“Capek?” Ia menoleh.

Pak Hadi berdiri sambil membawa dua botol air.

“Sedikit, Pak.”

“Minum dulu," ucapnya sambil menyodorkan air mineral pada Alina.

“Terima kasih, Pak.”

Alina menerima botol itu. Membukanya Meneguk pelan. Hening. Untuk pertama kalinya hari itu… ia merasa benar-benar bisa bernapas.

“Pak,” ucapnya tiba-tiba.

“Iya?”

“Terima kasih sudah… menerima saya kerja di sini.”

Pak Hadi tersenyum kecil. “Saya butuh orang. Kamu butuh kerja. Sama-sama untung.”

Alina tertawa pelan. “Sesederhana itu, ya.”

“Memang harusnya begitu.”

Alina menunduk. “Iya…”

Tidak ada permainan. Tidak ada prasangka. Tidak ada wajah yang membuatnya kehilangan arah. Hanya tempat sederhana. Dan ketenangan yang… lama tidak ia rasakan.

---

Pintu minimarket berbunyi pelan. Seorang pelanggan masuk. Alina mengangkat kepala refleks.

Dan untuk satu detik—jantungnya berhenti. Langkah itu. Postur itu. Terlalu familiar.

Namun orang itu hanya berjalan ke rak belakang tanpa menoleh. Alina menghela napas pelan.

“Bukan…” Ia menunduk lagi. Tangannya sedikit gemetar. Kenapa ia masih berharap… atau takut? Ia sendiri tidak tahu.

---

“Mbak, ini dibayar.”

“Iya, Pak.”

Alina kembali bekerja. Suara mesin kasir berbunyi. “Totalnya tiga puluh ribu.”

“Ini.”

“Terima kasih.”

Rutinitas kembali berjalan. Seolah tidak ada apa-apa. Seolah dunia di luar sana tidak pernah kacau.

Namun jauh di dalam—Alina tahu.

Ketenangan ini… mungkin hanya sementara.

 

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!